
Sejak matahari mulai menampakkan dirinya, Egga meminta Pak Wijaya untuk membawanya keluar dari kamarnya. Ia ingin menikmati udara pagi yang menyegarkan lalu kembali meminta Pak Wijaya untuk meninggalkannya sendirian di taman belakang rumah.
Egga duduk termenung di atas kursi roda nya sembari menikmati angin pagi yang berhembus menyentuh wajahnya.
Meski pandangannya melihat ke arah pemandangan langit namun pikirannya masih tetap berada pada Ratna.
" Pa....". Tara memanggil nya dan membuyarkan lamunan nya.
Egga pun menoleh.
"Iya Tara?".
" Kita sarapan yuk. Om Eggy sama Tante Almira baru saja datang. Mereka ngajakin kita sarapan sama - sama Pa". Tara mendekatinya.
"Sudah, kalian duluan saja sarapan nya. Papa masih belum lapar kok". Egga tersenyum pada Tara.
" Apa nya kau bang. Kau itu enggak boleh menunda makan. Kau masih sakit". Tiba - tiba Eggy muncul mengagetkan mereka.
Egga tertawa kecil melihat Eggy sudah memarahinya.
"Kau lah pulaknya, pagi - pagi sudah merepet kayak emak - emak ha ha ha".
" Hiiist kau itu mesti di repetin dulu baru mau nurut sama aku". Eggy memplototin Egga.
"Ha ha ha. Eh iya, Tara duluan saja sarapan nya, nanti Papa sama Om Eggy nyusul". Egga meminta Tara untuk meninggalkan mereka berdua sebab Egga ingin membicarakan sesuatu padanya. Dengan berat hati Tara beranjak meninggalkan keduanya.
" Kenapa muka kau pakai di tutup - tutupin kayak gitu?". Egga penasaran melihat adiknya mendadak memakai masker tidak seperti biasanya dan Egga pun sempat melihat luka pada pelipis mata Eggy.
"Hemm? Enggak apa - apa, cuma lagi flu saja". Eggy berkata tidak jujur padanya.
"Enggak usah kau bohong sama aku. Kau enggak bisa bohongi aku. Kenapa itu muka?". Egga memutar bola matanya, ia faham sekali kalau adik nya itu tidak pandai berbohong.
"Huh... Kenapa sih kau itu enggak bisa aku bohongin". Eggy ngedumel.
Egga /" Bukan enggak bisa di bohongi tapi memang kau nya saja yang enggak pandai berbohong ha ha ha".
Eggy /"Hmm... Mungkin ini kali ya tanda orang baik itu, karena orang baik itu enggak akan mau berbohong jadi kalau sekalinya dia berbohong itu enggak akan bisa ha ha ha".
Egga /"Hmmp ya ya ya ya. Sudah lah. Jawab dulu, kenapa itu muka kau?".
Eggy /"Hemmmp... Biasa jagoan jadi kalau enggak kayak gini bukan jagoan nama nya ha ha ha".
Egga sama sekali tidak merasa lucu, justru ia bersikap datar bahkan ia terlihat marah pada Eggy.
"Sama Omen? Supaya apa? Ha?". Tebaknya.
Eggy /" Ya... Abis nya aku kesal sama dia, kemarin dia hampir merusak hidup aku sekarang dia mau merusak hidup kau. Apa coba tujuan nya?".
Egga /"Kalau urusan masalah kau sama dia itu aku juga enggak tahu bagaimana. Tapi kalau urusan dia akan menikahi Ratna itu persoalan jodoh, persoalan takdir yang sudah di tetapkan oleh ALLAH untuk mereka. Bisa saja ALLAH memang menjodohkan mereka berdua bukan menjodohkannya dengan aku, jadi kita enggak bisa marah sama siapa pun karena sudah kehendak nya ALLAH".
Eggy /"Iya aku tahu bang, ini semua sudah kehendak ALLAH tapi setidaknya kita tahu kenapa Omen melakukan hal ini ke kita berdua? Jelas - jelas dia tahu betul sama kita. Ya wajar lah aku palak sama dia. Urusan aku sama dia saja belum selesai, ini dia mau nyari masalah lagi sama kau. Apa coba tujuan dia ngelakuin hal ini sama kita berdua?".
Egga /"Entah lah Gy, aku juga enggak tahu harus bagaimana. Aku hanya bisa ikhlas dan pasrah kalau Ratna memang bukan jodoh aku. Tapi pada saat ini aku ingin bertemu dengan Ratna paling tidak hanya sebagai pelepas rindu ku dengannya dan mungkin pertemuan itu akan menjadi pertemuan kami untuk terakhir kalinya". Lirihnya sembari melihat cincin pernikahannya bersama Tari di jari manisnya.
"Jadi kau nyerah gitu saja bang?". Eggy melihatnya dengan lirih.
__ADS_1
Egga menarik nafasnya lalu menghembuskannya dengan panjang.
" Huuuuuh.... Mungkin, tapi mungkin juga lebih tepatnya pasrah dan mencoba untuk ikhlas".
Eggy /"Terus rencana kau apa bang?".
Egga melirik Eggy yang menanti jawaban darinya.
"Hmm... Kalau di izinkan sama ALLAH, aku mau ketemu sama Ratna untuk terakhir kalinya". Jawabnya.
Eggy melihat harapan abang nya begitu besar, itu terlihat jelas dari matanya. Akhirnya Eggy pun memutuskan untuk membawa Egga bertemu dengan Ratna di rumah nya.
Eggy meminta izin kepada keluarga mereka untuk membawa Egga ke rumah sakit, ia tidak memberitahukan yang sebenarnya pada mereka bahwa ia akan membawa Egga bertemu dengan Ratna kecuali Almira. Ia memberitahu Almira kemana mereka akan pergi agar Almira tidak begitu khawatir dan Almira juga dapat meyakinkan yang lainnya.
...
#Ting... Tong... Ting... Tong...
Eggy memencet tombol bel rumah yang terletak pada tiang di sebelah pagar berwarna putih. Mereka cukup lama berdiam diri di depan pagar sembari memencet bel dan mengucapkan salam di bawah teriknya matahari.
"Mungkin lagi enggak ada orang nya nih bang?". Eggy menoleh ke sana kemari dari sudut rumah Ratna sembari menyipitkan matanya karena silau nya matahari.
" Mungkin lah. Mungkin mereka lagi pada sibuk mengurus pernikahannya". Egga merasa kecewa karena tak menemukan Ratna pada saat itu juga.
Eggy /"Jadi gimana? Pulang nih kita?".
Egga mengangguk pelan.
"Ya sudah lah. Mungkin ALLAH memang enggak mengizinkannya. Kita pulang saja yuk". Ia pun berusaha mendorong kursi roda.
Sedangkan keduanya menghentikan langkah mereka lalu menoleh kepada sang pemilik rumah yakni Ratna.
"Um... Bang, kayak nya aku harus ninggalin kau bentar lah, soalnya binik aku nge-wa tadi, dia minta belikan jajan (cemilan) untuk anak aku, tahu lah kalau enggak di turuti secepatnya bisa merajuk (ngambek) anak aku he he he, nanti kalau sudah mau pulang, kau hubungi saja aku, biar aku jemput". Eggy sengaja mencari alasan untuk memberikan mereka ruang untuk bisa berbicara berdua. Ia pun pergi meninggalkan Egga dan Ratna yang masih terpaku.
" Umm... Kamu, silahkan masuk". Dengan rasa canggung Ratna mempersilahkan Egga masuk ke dalam rumah nya. Secara perlahan Egga pun mendorong kursi rodanya memasuki kawasan rumah Ratna. Egga melirik sekitar rumah Ratna yang terlihat sepi. Sepertinya hanya Ratna saja yang berada di rumah.
"Emm... Kamu mau minum apa? Eh... Iya silahkan duduk. Eh.. Aku lupa. Maaf". Ratna menjadi salah tingkah.
Egga hanya diam melihat dirinya yang terihat semakin kurus serta lusuh. Sempat ia melihat satu frame di dinding rumah Ratna tepat di ruangan tamunya dimana frame tersebut terdapat foto pertunangan Ratna dan Omen. Rasa sakit serta cemburu pasti ada namun ia berusaha untuk tetap tegar.
"Kamu apa kabar?". Egga pun bersuara.
" Huh? Aku? Aku sehat kok. Kamu sendiri apa kabar? Aku enggak tahu kalau kamu sudah siuman dan sudah keluar dari rumah sakit. Maaf ya aku enggak sempat menjenguk kamu selama kamu di rawat, soalnya aku sibuk he he he". Ratna berpura - pura tidak melakukan apa - apa selama Egga di rawat.
Rasa nya ia ingin sekali memeluk pria yang sedang duduk di atas kursi roda itu tepat di hadapannya namun apa lah daya, dia harus kuat menahan dirinya serta air mata nya yang ingin pecah.
"Oh iya! Aku jadi kelupaan, aku buatkan minuman dulu untuk kamu. Bentar ya?". Ratna membalikkan badannya untuk beranjak ke dapur.
" Kenapa kamu menyerah Rat?". Pertanyaan Egga menghentikan langkah kaki Ratna, seketika air matanya pun mengalir di pipinya.
"Kenapa kamu menyerah pada ku begitu saja?".
" Apa yang membuatmu menyerah seperti ini?".
Dada Ratna terasa sesak, ia berusaha untuk menahan tangisannya namun ia tak mampu melakukannya. Ia pun enggan membalikkan badannya untuk melihat Egga. Ia tidak ingin Egga melihatnya sudah berurai air mata.
__ADS_1
" Kamu tahu bahwa aku sangat merindukan kamu". Egga berusaha untuk bangkit dari kursi roda nya untuk mendekati Ratna namun Egga melakukan kesalahan yang kedua kalinya, tubuhnya yang masih lemah dan belum mampu untuk berdiri sendiri kini roboh.
Ratna membalikkan badannya dan terkejut melihat Egga sudah terjatuh dan masih berusaha untuk bangkit kembali. Secepatnya Ratna membantunya untuk bangkit.
"Egga, kamu masih lemah. Kamu belum bisa untuk berdiri. Kamu tidak boleh memaksakan diri, kalau kamu memaksanya akan berakibat fatal buat kamu". Tuturnya sembari menopang Egga dan mendudukkan nya di atas kursi rodanya.
Egga menatap mata Ratna yang begitu dekat dengannya. Tanpa berpikir panjang Egga memeluk tubuh Ratna dengan erat dan tanpa penolakan dari Ratna sedikit pun.
"Aku sangat merindukan kamu sayang. Aku enggak bisa menahan rasa rindu ini lebih lama lagi". Tuturnya sembari menciumi pundak Ratna.
Mereka hanya manusia biasa yang tak kuasa menahan rasa rindunya. Rasa rindu terluapkan sudah. Itu pecah bercampur dengan air mata kesedihan mereka.
Egga melepaskan pelukkannya namun tidak melepaskan Ratna di dekatnya. Ia menatap wajah Ratna yang sudah basah karena air matanya begitu pun sebaliknya.
"Kenapa kamu menyerah begitu saja? hu hu hu. Kenapa kamu menyerah sayang?". Egga memegang wajah Ratna dan sesekali mengelusnya dengan jari jempolnya.
" Maaf kan aku hu hu hu. Maaf kan aku hu hu hu". Ratna memohon maaf pada Egga dengan tersedu - sedu karena ia juga tidak tahu harus bilang apa selain kata maaf.
Egga /"Apa ada sesuatu yang membuat kamu menyerah seperti ini? Atau apa karena seseorang?".
Ratna menggelengkan kepala sambil menangis sengkuk - sengkuk.
"Atau karena kamu memang tidak pernah mencintai aku?". Pertanyaan Egga benar - benar menusuk pada keduanya.
Ratna semakin menangis dan menggelengkan kepalanya.
" Hu hu hu hu, tidak. Itu tidak benar hu hu hu. Aku sangat mencintai kamu, hanya saja... Hu hu hu. Hanya saja kita tidak bisa untuk bersama hu hu hu".
"Kenapa? Apa karena perjodohan kamu dan Omen?". Egga menyingkirkan tangannya dari wajah Ratna.
" Dari mana kamu kenal sama dia?". Ratna merasa heran.
"He he he. Omen itu teman aku, lebih tepat nya sahabat nya Eggy. Aku tahu kamu di jodohkan dengan nya dan kalian akan menikah bulan depan". Egga menghembuskan nafasnya karena menahan sesak pada dadanya.
" Huuuuh.... Aku juga enggak tahu harus berbuat apa. Kalau itu memang yang terbaik buat kamu, aku rela kamu bersama dengannya dan aku akan berusaha untuk menerima semua ini dengan lapang dada, asalkan kamu bahagia Huh... Hu hu hu".
Ratna menenggelamkan kepala Egga ke dalam pelukannya.
"Hu hu hu maafin aku Ga. Maafin aku".
Mereka pun tenggelam dalam kesedihan serta meluapkan rasa rindu mereka selama ini yang menggebu - gebu.
Rasanya tak ingin saling melepaskan satu sama lain dari cengkeraman tersebut. Ingin rasanya menghentikan waktu pada saat itu dan melupakan kesedihan yang terjadi walau hanya sebentar saja.
Namun kali ini sejenak mereka meninggalkan kesedihan yang terjadi dan tidak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya.
Pada saat itu yang mereka tahu hanya menikmati rasa rindu mereka yang semakin menjadi - jadi dan sangat menyakitkan.
...
Seperti malam sebelum - sebelumnya, Ratna termenung di dalam kamarnya sembari melihat coretan pertama yang di buat oleh Tara di saat ia bisa menulis. Ia meraba coretan - coretan tersebut sambil menangis.
" Mama sangat merindukan kamu Tara. Maafkan Mama karena Mama melakukan ini pada kalian".
Kemudian Ratna beralih melihat cincin nikah milik Tari yang di berikan oleh Egga untuknya. Ia sudah membuka cincin itu sejak ia memutuskan untuk menerima Omen menjadi calon pendamping hidupnya lalu ia meletakkan cincin itu ke dalam kotak cincin berwarna merah dan menyimpannya ke dalam laci meja riasnya.
__ADS_1
"Maafkan aku Ga karena tidak memberitahu kamu bahwa bukan karena perjodohan itu yang membuat aku melakukan hal ini. Hanya saja aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada kamu karena itu pasti akan membuat kamu semakin sedih. Maafkan aku Ga". Lirihnya dalam hati sembari memegang dadanya yang terasa sesak.