Keikhlasan Hati

Keikhlasan Hati
Chapter 35 #S3


__ADS_3

Flash On...


"Oh ya tadi gimana nak jalan - jalan sama Uwak Uncle, seru enggak?".


Wajah Ghifari mendadak kecewa ketika di tanya soal jalan - jalan bersama Egga.


" Seru sih Mom Dad, tapi karena Uwak Uncle ngajak teman nya ikut jalan - jalan jadi kurang asyik".


Eggy dan Almira mengerutkan dahi nya mendengarkan Ghifari.


"Teman? Jadi tadi kalian pergi nya bertiga?".


" Iya Mom. Ternyata Uwak Uncle memang sudah janjian sama temannya, terus teman Uwak Uncle memang sudah menunggu kami di mall".


"Teman Uwak Uncle cewek atau cowok?". Eggy penasaran.


" Cewek Dad, nama nya Bu Zia, orang nya cantik, putih, tinggi terus rambut nya pendek segini". Jelas nya sembari memperkirakan rambut Zia dengan menyamakan sebahunya.


"Zia?". Almira dan Eggy saling memandang satu sama lain dan sungguh penasaran pada sosok tersebut.


" Tapi Bu Zia orang nya ngeselin. Gara - gara Bu Zia, Ghifari sama Uwak Uncle jadi nanggung main game nya, terus Bu Zia orang nya genit, dia suka pegang - pegang tangan Uwak Uncle gitu. Ghifari enggak suka sama Bu Zia huuuuh".


Eggy dan Almira tertawa kecil mendengar anak nya.


"Sayang, kamu enggak boleh kayak gitu ngomong nya, itu enggak baik". Almira berkata sembari membelai rambut Ghifari.


"Tapi beneran lho Mom, Bu Zia itu benar ngeselin. Terus lagi, kayak nya Bu Zia itu enggak suka kalau Uwak Uncle ngajak Ghifari jalan - jalan sama mereka".


" Eit... Enggak boleh su'udzhon dulu sayang. Belum tentu Bu Zia enggak suka sama kamu. Bisa jadi Bu Zia memang pembawaan orang nya seperti itu. Lagian nih ya Mommy kasih tahu Ghifari, walau pun orang lain merasa tidak senang atau tidak suka dengan kehadiran kita, kita harus nya tidak boleh untuk tidak menyukai orang itu juga. Kita harus bersikap sopan santun dan ramah pada orang tersebut jangan malah sama - sama saling tidak suka. ALLAH paling tidak suka pada hamba nya yang saling membenci satu sama lain apa lagi sesama saudara muslim mereka. Ngerti anak Mommy?". Nasihatnya lalu menarik hidung mancung Ghifari.


"Hmmm... Iya Mommy. Ya sudah kalau gitu biarin saja kalau Bu Zia itu enggak suka sama Ghifari lagian kan yang mendapatkan dosa nya dia bukan nya Ghifari". Cibir nya.


Eggy dan Almira geleng kepala sembari tertawa kecil melihat anak nya.


" Oh ya Dad, tadi kan masa Bu Zia ngira nya Ghifari itu anak nya Daddy sama.... Sama siapa ya nama nya, Ghifari agak lupa nama nya". Ia berusaha mengingat sembari menggaruk kepala nya.


"Sama.... Ha.... Sama Karien".


Sontak membuat Almira dan Eggy saling melirik satu sama lain.


"Terus habis itu Uwak Uncle sama Bu Zia jadi bahas - bahas tentang Karien. Memang nya Karien itu siapa sih Dad? Kenapa Bu Zia ngira nya Ghifari anak nya dia bukan anak nya Mommy?".


Rasa penasarannya membuat Eggy bingung menjawab pertanyaan nya.


"Kamu dengerin pembicaraan orang tua ya?".

__ADS_1


" Gimana mau tidak dengar Dad, rang Uwak Uncle sama Bu Zia nya ngobrol di depan Ghifari, kan Ghifari punya telinga Dad". Jawab nya sembari memegang kedua telinganya.


"Hmm lain kali kamu enggak boleh dengerin pembicaraan orang tua ya sayang. Walaupun Ghifari ada di situ tapi usahakan Ghifari enggak mendengar apapun. Oke? Ya sudah yuk kita siap - siap untuk sholat magrib bentar lagi mau masuk waktu nya". Eggy mengalihkan anak nya untuk tidak membahas soal siapa Karien itu, ia mengajak anak nya untuk sholat magrib di mesjid.


.


.


Di tempat lain...


Egga sedang duduk sembari menunggu kedatangan seseorang di salah satu family caffe di pusat Kota Medan. Egga melirik jam tangan nya dan sesekali ia melirik ke arah pintu masuk caffe tersebut untuk memastikan orang yang ia tunggu itu. Cukup lama ia menunggu orang tersebut dan akhir nya ia pun muncul juga lalu menghampiri dirinya.


Egga tersenyum menyambut orang tersebut ketika ia melihatnya.


"Maaf ya Ga aku telat. Kamu pasti sudah lama nunggu nya?". Wanita yang memiliki lesung pipi itu alias Ratna lah orang yang Egga tunggu sejak setengah jam yang lalu.


" Enggak apa - apa kok Rat. Oh ya kamu silahkan duduk". Dengan santun Egga mempersilahkan Ratna untuk duduk di depan nya.


"Oh ya ngomong - ngomong ada apa ini ngajakin aku ketemuan malam - malam gini?". Ratna bertanya sembari menarik kursi tersebut lalu mendudukinya.


" Pesan dulu makanan atau minuman nya baru kita ngobrol, enggak lagi buru - buru kan? he he he". Egga menyodorkan menu makanan dan minuman di caffe itu pada Ratna.


"He he he iya iya". Ratna mengambil menu tersebut lalu memesan beberapa makanan dan minuman untuk mereka berdua pada sang pelayan yang sudah mereka panggil.


" Jadi apa cerita ini?". Ratna mempertanyakan nya kembali.


"Ya ampun Rat, kenapa kamu nya jadi penasaran kali he he he".


" Iya, soal nya kamu itu bikin aku jantungan kenapa tiba - tiba ngajakin aku ketemuan kayak gini he he he".


Egga terbahak mendengarnya sembari melihat wajah Ratna yang terlihat cemas.


"Ha ha ha, kayak mau di tembak saja kamu nya pakai jantungan segala ha ha ha". Celetuknya.


" Hiiiis bukan gitu lho. Kamu ngajakin aku ketemuan pasti mau ngebahas soal Almarhumah Tari kan? Nah aku tuh tiba - tiba merasa cemas waktu kamu nelpon aku ngajakin ketemuan, aku mikirnya apa ada masalah lain setelah kepergian Tari atau gimana". Ia menjelaskan kecemasannya.


Suasana mendadak lirih, caffe tersebut pun terasa lebih hening dari sebelumnya.


"Hmm... Iya sih, aku ngajakin kamu ketemuan memang karena mau ngebahas soal Tari. Ada sesuatu yang mau aku tanya'in ke kamu, mengingat kalian itu kan saling dekat jadi aku yakin kamu itu pasti mengetahui sesuatu yang enggak aku ketahui selama ini".


" Memang nya apa yang mau kamu tanya'in ke aku?". Ratna memperhatikan wajah yang tertunduk itu lalu mengangkat wajahnya untuk melihat Ratna.


"Gini Rat, aku mau nanya sama kamu. Kamu tahu enggak soal anak jalanan yang sering Tari bantu sejak kami balik dari Jakarta sebelum Tari mengetahui soal penyakit nya beberapa bulan yang lalu?".


" Oh Siboy!". Seru nya dan tahu siapa yang Egga maksud kan.

__ADS_1


"Kamu tahu soal anak itu?".


" Tahu anak nya sih enggak. Cuma Tari pernah cerita ke aku kalau dia punya anak asuh, dia seorang pengamen jalanan yang hidup sebatang kara. Tari membantu nya karena dia sangat kasihan sama anak itu. Memang nya kenapa?".


"Hmm... Iya. Sebelum Tari meninggal, ia sempat cerita juga ke aku kalau dia punya seorang anak jalanan yang enggak sengaja ketemu di tengah jalan, yaaa bisa di bilang anak asuh gitu. Terus karena Tari sangat kasihan sama anak itu jadi Tari memutuskan untuk setiap bulan nya ngasi uang untuk makan anak itu dan menitipkan nya pada Bapak pemilik rumah makan yang ada di depan rumah sakit dan dia juga berniat untuk benar - benar mengadopsi anak itu, tapi karena ALLAH berkehendak lain untuk nya jadi dia berpikir keras supaya anak itu bisa punya keluarga dan enggak hidup di jalanan lagi. Terus akhir nya Tari minta izin ke aku dan minta tolong ke aku untuk mencari dan mengadopsi anak itu, tapi aku belum menemukan juga anak itu dimana dan enggak tahu anak itu seperti apa". Egga berdiam sejenak, sedangkan Ratna hanya mendengarkan nya dengan seksama.


"Awal nya aku enggak setuju dengan permintaan Tari karena kan aku enggak tahu juga bagaimana kelakuan anak itu dan kamu juga tahu kan gimana dengan keluarga aku he he he, tapi paling enggak nya aku berusaha untuk mencari tahu siapa anak ini kalau urusan permintaan Tari untuk aku mengadopsi nya itu urusan belakangan". Egga tertawa kecil mengingat moment itu.


" Hmm iya sih, apa lagi keluarga kamu kan keluarga yang terpandang, sudah pasti akan sulit untuk bisa menerima anak itu".


"Itu dia yang aku pikirkan juga".


" Oh ya kamu sudah nanya sama bapak - bapak pemilik rumah makan di depan rumah sakit mengenai anak itu?".


"Sudah, tapi bapak itu bilang, sudah hampir sebulan anak itu enggak datang ke tempat nya, terus bapak itu mengembalikan sisa uang yang Tari titipkan ke bapak itu. Maka nya lah aku bertanya sama kamu, mana tahu kamu punya petunjuk untuk bisa menemukan anak itu".


Ratna menggaruk pipi nya sembari mengingat yang pernah Tari ceritakan ke dia.


" Aku sih enggak tahu juga, karena Tari cerita ke aku enggak banyak. Oh ya aku ingat! Tari sempat cerita juga kalau anak itu pernah di besarkan di panti asuhan pas di sebelah rumah sakit, karena dia di tuduh mencuri uang teman sekamarnya terus dia di usir dari panti asuhan itu. Coba saja kita tanya ke sana, mana tahu kita bisa menemukan anak itu".


"Oh, ide bagus juga itu. Kemungkinan kita bisa tahu bagaimana orang nya atau punya foto nya dan memudahkan kita juga mencari dia. Eh tapi, kamu mau bantuin aku nyari'in anak itu?".


Ratna tersenyum simpul.


" Ya ampun Ga, tadi kan aku sudah bilang kita, berarti aku pasti akan membantu kamu. Apa pun yang kamu butuhkan aku siap membantu kamu".


"Thanks ya Rat". Ujarnya sembari tersenyum dan tanpa sengaja menggenggam tangan Ratna. Sontak membuat Ratna terkejut sambil melirik tangan nya.


" Eh... Sorry sorry Rat". Dengan cepat Egga menarik tangan nya dan merasa canggung.


"Ha? Iya enggak apa - apa kok he he he". Ratna tertawa salah tingkah.


" Oh ya, aku dengar dari Tari kata nya kamu di paksa ikut perjodohan sama orang tua kamu ya? He he he". Egga mengganti topik pembicaraan mereka.


"Hmm... Iya. Hufft kenapa lah si Tari cerita - cerita ke kamu? Kan aku jadi malu". Ratna tertunduk malu sambil memanyunkan bibirnya.


" He he he. Kenapa mesti malu?". Egga tertawa kecil.


"Ya malu lah, kalau orang lain pada tahu, kan mereka pasti mikir nya aku enggak laku - laku pakai ikut perjodohan segala hufft".


" He he he, maka nya kamu jangan terlalu sibuk sampai lupa sama diri sendiri, kan akhirnya orang tua kamu sendiri yang jadi repot nyari'in kamu jodoh he he he". Egga malah ngecengin dirinya.


"Hmm mau gimana lagi nama nya juga memang tidak ada yang mau sama cewek cupu kayak aku. Jadi dari pada aku mikirin hal itu berlarut - larut mending aku fokus mewujudkan impian aku kan he he he".


" Iya tapi kamu nya kebablasan fokus nya ha ha ha. Lagian, bukan enggak ada yang mau sama kamu tapi kamu nya sendiri yang tidak melihat dan tidak membuka hati kamu untuk orang yang ingin mendekati kamu he he he. Coba deh kamu pikir, mana ada orang yang enggak mau sama wanita yang sukses seperti kamu. Laki - laki, kambing di bedakin saja bakalan mau apa lagi wanita sempurna kayak kamu gini. Nih iris mulut aku kalau memang enggak ada yang mau sama kamu hi hi hi". Ujar sembari memegang bibir nya dan tertawa.

__ADS_1


Ratna tersenyum dan hati nya terasa tersentuh oleh ucapan Egga.


__ADS_2