Keikhlasan Hati

Keikhlasan Hati
Chapter 40 #S3


__ADS_3

Suara decitan dari ban mobil sport berwarna hitam terdengar nyaring di telinga orang - orang yang berada di sekitar rumah sakit.


Tak sedikit yang melihat sang pemilik mobil muncul dari mobilnya, lalu tergesa - gesa berlari ke dalam rumah sakit.


" Egga......". Ketika sang pemilik mobil alias Egga ingin membukakan pintu rumah sakit, tiba - tiba terdengar suara wanita yang ia kenal memanggil dirinya. Ia pun menoleh pada sumber suara di sisi kanannya. Egga menghampiri wanita tersebut secepat mungkin.


"Hey Rat... Gimana? Huh... Huh...". Perlahan ia mengatur nafasnya.


Ratna tersenyum simpul melihat Egga yang seperti habis di kejar - kejar sama orang.


" Atur nafas kamu dulu. Kamu ke sini lari marathon atau gimana sih, kenapa sampai ngos - ngosan gitu nafas nya he he he".


"Huuuuh... Iya, pas kamu kabari tadi, aku langsung cepat - cepat ke sini he he he".


" Ya ampun. Ngapain harus buru - buru. Santai saja kali Ga". Ratna menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah, nih minum". Ia menyodorkan sebotol air mineral pada Egga lalu Egga pun mengambilnya.


" Thank's Rat. Terus gimana ceritanya bapak itu sudah dapat info tentang Siboy?".


"Tadi pas aku ke sini, bapak itu rupanya sudah nungguin aku datang. Terus dia bilang kalau dia sudah tahu dimana Siboy sekarang, dia tahu nya dari teman nya yang sering ngamen sama - sama di lampu merah simpang."


"Bapak itu sudah langsung ngecheck betul atau enggak nya Siboy di tempat itu?".


" Kalau itu aku enggak tahu soalnya belum lagi siap bercakap ehh istri bapak itu manggil. Makanya aku langsung kabari ke kamu jadi biar kita tanya lagi gimana kejelasannya sama bapak itu".


Egga mengangguk pelan.


"Hmm ya sudah. Ayo kita ke tempat bapak itu, biar lebih cepat kita menemukan Siboy karena kan takutnya dia malah kabur kalau tahu kita mencari dia".


" Hmm iya".


Mereka pun bergegas menuju ke rumah makan yang berada di seberang jalan, lalu mereka menemui sang pemilik rumah makan tersebut.


Setelah menceritakan semuanya kepada Egga dan Ratna, bapak paruh baya itu pun turut membantu mereka untuk mencari anak itu sebab satu - satu nya yang mengetahui wajah anak itu ialah beliau.


Mereka segera menuju ke lokasi yang di beritahu oleh teman mengamen Siboy yang pernah di jumpain bapak pemilik rumah makan itu 1 hari yang lalu.


Cukup lama dan lelah mereka mencari nya namun belum juga menemukan wujud nya. Dari sudut tempat yang kumuh hingga ke pinggir jalanan mereka mencarinya, hingga akhirnya mata Bapak itu menemukan sosok yang mereka cari sejak tadi.


Mata bapak itu berbinar - binar ketika melihatnya sedang duduk sendiri sambil memperbaiki alat musiknya.


"Itu dia Pak! Itu yang nama nya Siboy!". Ia menunjukkan ke arah tersebut.


Egga dan Ratna begitu lega serta senang, akhirnya menemukan sosok tersebut. Mereka pun menghampirinya dan mengagetkannya ketika ia menoleh pada mereka.


"Jadi kamu yang bernama Siboy?". Egga membuatnya takut.


Siboy terlihat ketakutan melihat mereka satu per - satu. Tak terkecuali ia melihat bapak pemilik rumah makan, tempat dimana ia selalu makan di sana.

__ADS_1


" I... Iya...".


"Kau kemana saja? Sudah hampir sebulan kau enggak datang makan ke tempat uwak". Bapak pimilik rumah makan bertanya pada Siboy.


"A... Aku. Ti... Tidak apa - apa. Aku tidak mau saja makan lagi ke tempat uwak karena.....". Siboy menjawabnya dengan gugup dan terputus.


"Karena apa?". Mereka bertiga penasaran dengan alasannya.


Sempat ia menelan ludahnya sangkin gugupnya.


" Karena... Karena aku tidak ingin menyusahkan Bu Dokter lagi". Lirihnya.


"Tapi aku enggak melakukan kesalahan apa pun kok, aku juga enggak mengambil apa pun di rumah makan uwak. Benaran".


Egga mendekatinya lalu menepuk bahunya dengan hangat.


" Kamu bisa ikut bersama kami?".


Siboy mengerutkan dahinya dan semakin takut.


"Kemana pak? Aku enggak di bawa ke kantor polisi kan Pak? Aku kan enggak melakukan kesalahan apa pun, jangan bawa aku ke kantor polisi Pak, aku mohon". Ia memohon pada Egga.


" Tenang! Kami tidak akan membawa kamu ke kantor polisi. Nanti kamu juga akan tahu kemana kami akan membawa mu". Egga tersenyum simpul meyakinkannya. Ia pun turut ikut bersama mereka ke suatu tempat.


Siboy semakin bingung ketika mereka sampai ke suatu pemakaman. Ia mengerutkan dahinya sambil melirik ke sekitar kuburan dan mengikuti langkah kaki Egga, tak ketinggalan juga Ratna dan Bapak pemilik rumah makan menyusul keduanya.


Tepat pada pusaran kuburan Tari mereka berdiri.


"Kamu pasti bingung kenapa saya bawa kamu ke sini?".


Siboy mengangguk pelan dan sesekali melirik ke arah batu nisan.


"Ini makam istri saya, Bu Dokter yang selama ini memberi kamu makan setiap hari nya". Egga pun menghilangkan rasa bingung Siboy dan sontak membuatnya terkejut lalu menitihkan air matanya sembari melihat batu nisan tersebut. Ia tidak bisa berkata apa pun, yang ada hanya air mata yang mengalir ke pipinya.


Ia merasa sedih karena sosok yang selama ini seperti ibu nya kini sudah pergi meninggalkannya selamanya. Meski ia sama sekali tidak mengetahui sosok Tari lebih dalam, namun ia sudah menganggapnya seperti ibunya sendiri, bahkan ia juga tidak mengetahui siapa nama Bu Dokter tersebut, yang ia tahu ialah sosok ibu yang sangat ia rindukan selama hidupnya.


Setelah mereka berkunjung ke makam Tari lalu mengantar bapak pemilik rumah makan ke tempatnya, mereka bertiga alias Egga, Ratna dan Siboy pun duduk bersama di salah satu cafe yang terletak di tengah - tengah pusat kota.


Siboy merasa canggung dan minder melihat dirinya yang kucel serta berantakan kini duduk bersama dengan orang yang terpandang di cafe mewah yang sama sekali belum pernah ia kunjungi. Ia melirik pengunjung lain melihat dirinya dengan remeh.


"Kamu mau makan apa Boy?". Ratna bertanya padanya lalu menyodorkan daftar menu kepada nya.


" Ha? Terserah Ibu saja. Aku enggak mengerti lihat - lihat beginian he he he". Ia menolak daftar menu tersebut, dia benar - benar kikuk dan merasa tidak nyaman.


Egga dan Ratna tersenyum padanya dan memahami dirinya yang merasa tidak nyaman.


"Kamu santai saja, enggak usah canggung gitu. Anggap saja tempat ini milik kamu sendiri he he he". Egga berusaha membuatnya santai.


"Aku tidak pernah masuk ke tempat kayak gini Pak, Bu. Aku takut nanti aku di usir sama pemilik restoran ini". Ucapnya polos.

__ADS_1


Keduanya tertawa kecil dengan kepolosannya.


"He he he enggak bakalan ada yang mengusir kamu kok, tenang saja. Lagian, kalau sampai ada yang mengusir kamu, saya akan usir dia balik he he he".


" Memang restoran ini milik Bapak ya?".


Egga terbahak mendengar pertanyaan nya yang lugu.


"Ha ha ha. Bukan".


Ratna menggelengkan kepalanya karena Egga yang seperti membujuk anak nya yang sedang murung.


"Sudah... Sudah... Kamu enggak usah hiraukan orang - orang di sekitar ya Boy. Cuekin saja he he he, sekarang mari kita pesan semua menu makanan yang enak di sini. Oke? He he he".


Siboy akhirnya mengurangi rasa mindernya, ia tersenyum melihat Ratna dan Egga yang menyambutnya begitu hangat.


Selagi menunggu makanan yang mereka pesan datang, mereka meluangkan waktunya untuk mengobrol serta bertanya pada Siboy semasa ia mengenali Tari. Tanpa rasa takut lagi ia menceritakan semuanya dari awal mula ia bertemu dengan Tari, dimana ia sudah menipu Tari dan Almira tempo lalu.


"Aku benar - benar sangat berterimakasi sama Bu Dokter, karena Bu Dokter masih baik sama aku padahal aku pernah menipunya. Aku merasa malu karena Bu Dokter terlalu baik dengan orang seperti aku, padahal Bu Dokter sama sekali tidak mengenali aku, maka nya aku memutuskan untuk tidak datang lagi ke rumah makan Uwak Leman supaya aku enggak merepotkan Bu Dokter lagi. Dan aku juga minta maaf karena aku enggak sempat untuk bilang terimakasi padanya. Walaupun aku hanya sebentar mengenali Bu Dokter tapi aku merasa seperti sudah mengenalinya dari dulu. Aku merasakan sosok seorang mamak yang enggak pernah aku ketahui dari Bu Dokter, aku sangat sedih mengetahui bahwa sosok yang aku anggap seperti mamak ku sendiri sudah pergi meninggalkan ku secepat itu". Perkataannya membuat hati Egga dan Ratna terenyuh.


Ratna langsung menyeka air matanya setelah ia menyadari bahwa air matanya mengalir ke pipinya. Sedangkan Egga, ia harus kuat menahan air matanya dengan senyumannya yang terlihat lirih.


Setelah berbicara panjang bersama Siboy, kemudian mereka mengantarnya kembali ke tempat dimana ia tinggal yakni di emperan yang enggak jelas. Sebenarnya Egga dan Ratna merasa tidak tega harus mengembalikannya ke tempat itu, terlebih lagi Egga. Namun begitu Egga harus perlahan - lahan, ia tidak ingin terburu - buru untuk mengambil suatu keputusan, ia harus mengenali sosok Siboy yang sebenarnya.


Kini Egga bergantian harus mengantar Ratna pulang ke rumah nya. Mereka hening sejenak sembari menikmati jalanan yang sudah mulai sunyi.


"Jadi sekarang gimana? Apa kamu sudah mengambil keputusan bagaimana kelanjutan nasib anak itu?".


Egga melirik Ratna sembari menaikkan bahu nya ketika Ratna bertanya padanya.


" Aku masih belum tahu apa yang harus aku lakukan nantinya. Aku masih bingung. Di satu sisi, jika aku membiarkannya masih tetap tinggal di tempat asalnya, itu sama saja aku tidak menjalankan amanah Tari. Di sisi lain, kalau aku mengadopsi anak itu lalu membawanya, aku enggak tahu bagaimana reaksi keluarga aku dengan keputusan ku ini dan aku juga enggak yakin bakalan bisa membesarkannya sendirian, itu juga sama saja aku membawanya tapi membuatnya tidak bahagia".


Perlahan Ratna menghelakan nafasnya.


"Hmmm... Aku ngerti di posisi kamu. Enggak mudah mengambil satu keputusan. Apa lagi dalam kondisi kamu seperti ini. Pasti kamu bakalan menjalani hidup yang sulit. Tapi bagaimana pun juga, kalau kamu benar - benar yakin kalau kamu bisa dan ikhlas menjalankannya, In Sya ALLAH kamu bisa melewati masa - masa sulit itu. Aku akan terus mendukung dan selalu ada untuk kamu, jika kamu butuh". Lesung pipi Ratna terlihat jelas ketika ia tersenyum melihat Egga.


"Terimakasih ya Rat. Kamu benar - benar teman yang baik. Hmm aku heran, kenapa lah wanita sempurna kayak kamu gini masih saja sendiri. Itu cowok - cowok enggak lihat ya? Apa mereka buta ya? Masa mereka sama sekali enggak ngeliat apa ada wanita sempurna di sini. Mmm.. Mm... He he he". Ejeknya sembari menggeleng - gelengkan kepalanya.


" Hmmp... Mulai.. Mulai.. Bully saja teros... Huffft".


"Wk wkwkwkk". Egga terbahak.


#Bukan perkara mudah untuk mengambil suatu keputusan.


Bukan perkara mudah untuk menerima sesuatu yang menentang hati.


Lalu...


Sesuatu membuat diri harus rela ikhlas menerima hal tersebut.

__ADS_1


Entah itu baik atau buruk.


Yang diketahui hanya bisa berserah diri.


__ADS_2