Keikhlasan Hati

Keikhlasan Hati
Chapter 60 #S3


__ADS_3

Sudah hampir sebulan Egga tak sadarkan diri dan Ratna masih setia menunggu serta menemani nya, ia tak pernah lelah dan bosan. Kali ini ia tidak sendirian, kini ia di temani oleh Tara. Setiap seminggu tiga kali ia membawa Tara menemui Egga.


"Papa... Tara datang lagi nengokin Papa. Hari ini Tara mau ngasi tahu ke Papa kalau Tara sudah bisa menulis nama Papa, nama Mama Ratna dan nama Mama Tari he he he. Nanti kalau Papa sudah bangun, Tara akan tunjuki ke Papa semua tulisan - tulisan Tara he he he". Tara begitu cerdas, ia memahami simulasi orang yang sedang koma itu adalah mengajaknya mengobrol walau pun mereka tidak merespon nya paling tidak mereka bisa mendengarkan nya.


Tara melihat Egga menggerak - gerakan jari - jari nya secara bergantian.


"Ma... Tangan Papa bergerak - gerak Ma. Cepat lihat Ma". Tara memanggil Ratna yang baru menyelesaikan sholat dzuhur nya.


" Ya ALLAH....". Secepat kilat Ratna mendekati Egga dan menyaksikan Egga sedang menggerak - gerakan jari nya. Ratna menangis bahagia.


"Alhamdulillah Ya ALLAH.....!". Ratna segera memencet tombol darurat untuk memanggil Eggy.


" Ya ALLAH sayang". Ratna tidak berani memeriksa kondisi Egga dengan sendiri, ia harus menunggu Eggy segera ke kamar Egga.


Tak butuh waktu yang lama Eggy dan tim medis lainnya pun tiba dengan cemas.


"Ada apa Dok? Apa ada yang salah dengan Bang Egga?". Eggy mendadak panik karena tiba - tiba ada panggilan darurat dari kamar inap abang nya lalu melihat Ratna dan Tara menangis.


"Egga menggerakkan jari - jari nya Dok hu hu hu". Ratna menunjuk kan pada tangan Egga yang masih bergerak.


" Alhamdulillah Ya ALLAH". Eggy melakukan sujud syukur sambil menangis bahagia akhirnya Egga bebas dari masa koma nya.


Eggy secepat nya memeriksa kondisi Egga lebih lanjut, semua kondisi tubuh Egga baik - baik saja. Bahkan Egga juga merespon di saat Eggy menyenterkan mata nya dengan senter kecil khusus memeriksa mata. Bola mata nya mengikuti arah cahaya senter tersebut bahkan merespon nya dengan cepat.


Eggy sudah tidak sabar ingin mengabarkan berita bahagia ini kepada seluruh keluarga nya, setelah ia memeriksa Egga, ia langsung menghubungi orang tua nya serta istrinya.


Mereka sangat bahagia mendengar kabar itu dan langsung bergegas menuju ke rumah sakit.


Mereka menangis bahagia karena Egga pasti akan sembuh. Mereka mendekati Egga namun Eggy melarang nya agar tidak mengganggu sistem saraf Egga yang baru saja bekerja kembali.


"Bang Egga nya jangan di dekati dulu Ma Pa. Karena Bang Egga baru bebas dari masa koma nya jadi sistem saraf dan pembuluh dari nya baru bekerja dengan normal".


Mereka pun menjauh.


" Iya, kita lihat nya dari jauh saja ya kan Ma?".Pak Wijaya berkata pada Bu Hanna sembari menyeka air mata nya. Beliau sangat bahagia dan bersyukur.


"Tar... Tari... Jangan tinggalkan aku lagi, tolong jangan tinggalin aku Tar". Mereka semakin terkejut mendengar Egga bergumam semakin lama semakin jelas. Sepertinya Egga sedang bermimpi bertemu dengan Tari. Mereka semakin cemas lalu berusaha memanggil - memanggil Egga.


Pak Wijaya /" Egga... Egga... Bangun nak, ini Papa dan Mama. Egga... Egga".


Eggy /"Bang bangun bang, ini aku Eggy bang, Tara dan Dokter Ratna juga ada di sini bang, cepat lah bangun Bang. Enggak kasihan kau nengok kami kayak gini? Bangun lah kau bang".


" Pa... Papa... Pa Tari ninggalin Egga lagi Pa... Papa... Tari mau kemana Pa... Papa mau bawa Egga kemana Paaaa ... Papa... Haaaah...". Egga tersentak hingga tubuh nya terangkat. Nafas nya seperti di tarik begitu menyesakkan.


"ALLAHHU AKBAR......". Mereka berseru secara serentak sambil menangis bahagia lalu Bu Hanna spontan memeluknya.


" Ya ALLAH Ga.... Alhamdulillah Ya ALLAH Akhirnya kamu bangun juga nak hu hu hu". Bu Hanna mengusap - ngusap wajah Egga. Sedangkan Egga masih terlihat linglung melihat mereka 1 per 1. Meski terlihat samar namun ia melihat Ratna menangis sambil tersenyum bahagia lalu perlahan melangkah keluar dari kamar itu.

__ADS_1


Eggy dengan sigap memeriksa kembali kondisi Egga. Perasaan bahagia bercampur aduk bersama dengan pecahnya tangisan. Harapan serta doa yang tak berhenti untuk Egga kini sudah di kabul oleh sang Maha Pencipta.


Ratna terduduk lemas sembari menangis bahagia. Ingin sekali ia berada di dekat lelaki yang ia cintai itu lalu memeluknya dengan erat, namun bagi nya itu tidak mungkin, mengingat orang tua Egga sangat tidak menyukai diri nya. Ratna lebih baik menjauh, bagi nya Egga sudah sadar saja sudah cukup membuatnya menjadi manusia yang paling bahagia di dunia.


"Ma... Mama kok keluar dari kamar Papa?". Tara mengejutkan Ratna. Ternyata ia menyusul Ratna keluar ketika ia menyadari bahwa Ratna sudah tidak berada di dalam kamar.


Ratna menoleh pada nya lalu menyeka air matanya.


" Enggak apa - apa sayang. Mama tiba - tiba mual saja maka nya Mama keluar, mungkin Mama kelaparan he he he. Eh kamu kok keluar? Kata nya kamu sudah rindu sekali sama Papa. Sekarang Papa sudah bangun kamu malah keluar, sana gih masuk, nanti Papa nyari'in kamu lho".


Tara /"Mama enggak masuk ke dalam?".


" Nanti saja sayang. Kamu saja yang masuk duluan nanti Mama menyusul". Ratna mendorong tubuh Tara dengan pelan karena menyuruhnya masuk kembali ke dalam kamar. Tara pun menurutinya lalu masuk ke dalam kamar, tapi Tara bukan anak kecil pada umum nya yang percaya di bohongi demi kebaikannya. Ia tahu bahwa Ratna sedang berusaha menjauhi Egga. Setelah ia menutup pintu kamar itu kemudian ia membuka nya kembali untuk memastikan Ratna.


Duga'an nya benar, Ratna sudah tidak berada di posisi nya alias pergi. Tara pun sibuk mencari sosok Ratna namun ia tidak menemukannya.


"Kenapa Mama melakukan ini ke Papa? Kenapa Mama menghindar? Kenapa Mama bohong sama aku?". Pertanyaan itu lah yang ada di dalam benaknya sembari berjalan menuju ke kamar Egga.


Pandangan Egga tertuju pada pintu yang di buka oleh seseorang lalu melihat sosok Tara yang muncul. Senyuman Egga merekah pada bibirnya melihat anak angkat nya itu, kemudian pandangan nya kembali melihat ke arah pintu, ia menanti seseorang yang akan menyusul masuk ke dalam kamar, yang di maksud ialah Ratna. Namun Ratna sama sekali tidak muncul dari balik pintu tersebut.


Ia merasa ada yang salah, ia pun bertanya.


"Mama Ratna mana Tara?".


Tara hanya memandang Egga dengan tampang murung nya dan membuat ia merasa bingung sedangkan yang lain baru menyadari bahwa Ratna memang sudah tidak lagi berada di tengah - tengah mereka.


.


.


Ia pun tiba di rumah nya dan masih menyisakan air mata nya, sehingga membuat Mama nya bertanya pada nya.


"Kamu kenapa Rat? Kamu kok nangis? Tara kemana? Apa terjadi sesuatu pada Egga dan Tara?". Beliau pun menjadi cemas karena melihat anak nya menangis semakin pecah lalu memeluk nya dengan erat.


Ratna /" Hu hu hu hu.... Egga sudah sadar Ma hu hu hu".


Beliau pun terkejut dan turut berbahagia akhir nya calon menantu nya sudah siuman.


"Alhamdulillah Ya ALLAH, terus kamu kok pulang nak? Kenapa kamu enggak berada di samping nya sekarang?".


Ratna melepaskan pelukan nya lalu menggelengkan kepala nya.


" Enggak Ma. Seperti nya Ratna harus mengambil keputusan untuk tidak bersama Egga lagi dan membatalkan rencana pernikahan kami". Tutur nya.


Sontak membuat sang Mama terkejut.


"Apa? Kenapa Rat? Apa orang tua Egga menyuruh kalian untuk berpisah? Atau karena memang Egga nya sudah tidak menginginkan kamu lagi?".

__ADS_1


Ratna /" Enggak Ma. Tidak kedua nya. Ini memang sudah menjadi keputusan Ratna, karena Ratna enggak mau lagi menjadi pembawa sial di kehidupan Egga. Gara - gara Ratna hubungan antara anak dan orang tua menjadi retak, dan kini mereka sudah berkumpul lagi dan Ratna enggak mau merusak nya kembali".


Sang Mama memahami apa yang di maksud dengan anak semata wayang nya itu.


"Terus Tara gimana?".


" Ratna akan menyerahkan Tara bersama Egga, karena pada dasarnya orang tua Tara itu Egga dan Tari bukan Ratna. Ratna hanya menjadi orang tua angkat yang di paksa he he he". Ia kembali meneteskan air mata nya lalu memeluk sang Mama dan mencurahkan semua kesedihan nya.


...


"Mama Ratna kemana Tara?". Egga bertanya pada Tara setelah ia melihat Tara masuk ke dalam ruangan nya tanpa ada nya Ratna.


Tara melirik mereka satu per satu yang juga sama penasaran nya seperti Egga. Sempat ia menelan ludah nya karena bingung harus menjawab apa dan tidak mungkin bagi nya untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Emm.... Em... Tadi kata Mama tiba - tiba dapat panggilan dari asisten Mama karena bentar lagi Mama ada jadwal ngapain (menangani) pasien. Karena buru - buru Mama jadi enggak sempat pamit he he he". Tara terpaksa berkata bohong, ia masih ragu mengatakan yang sebenarnya sedangkan di dalam ruangan Egga ada Pak Wijaya dan Bu Hanna.


"Oh gitu". Egga menaruh curiga melihat tampang Tara yang sedang menyembunyikan sesuatu.


...


Kini ruangan Egga tidak ada lagi siapa pun, kecuali Tara yang menemani nya karena ia menginginkan Tara bersama nya pada malam itu.


Egga memandangi serta mendengarkan Tara mengaji meski ia masih terbata - bata.


Ia tersenyum lalu meminta Tara untuk mendekati nya setelah ia selesai mengaji.


"Tara sudah semakin pintar mengaji nya, Papa bangga sama kamu". Ia memuji Tara sambil berusaha mengangkat tangan nya agar ia bisa mengelus kepala Tara.


Tara /"Terimakasih Pa. Mama yang selalu mengajari Tara cara mengaji setiap hari setelah Tara selesai sholat".


"Ma Sya ALLAH. Oh ya ngomong - ngomong soal Mama kamu. Papa tahu kalau kamu sedang berbohong pada Papa. Ada yang kamu sembunyi kan soal Mama. Betul kan Tara?". Tanpa berbasa - basi ia langsung menanyakan nya pada Tara yang tertunduk bersalah.


Tara menganggukkan kepala nya.


"Iya Pa. Maaf Pa, Tara terpaksa berbohong sama Papa karena Tara tidak ingin Papa kepikiran, apa lagi tadi Oma dan Opa ada di ruangan ini. Tara enggak mungkin mengatakan kalau Mama memang tidak ingin bertemu sama Papa".


" Papa sudah curiga sama kamu dari awal. Terus kalau begitu ceritakan apa yang terjadi sama Mama? Apa Opa sudah melakukan sesuatu sama Mama atau Mama menerima suatu keputusan dari Opa?". Egga justru berprasangka buruk pada orang tua nya.


Tara melihat Egga lalu menggelengkan kepala nya, sempat ia terkejut karena Egga telah menuduh Pak Wijaya yang tidak - tidak.


"Tidak Pa. Bukan seperti itu. Opa sama sekali tidak melakukan apa pun pada Mama atau pun Tara. Cuma... Di saat Papa sadarkan diri, Mama tiba - tiba langsung keluar dari kamar sambil menangis. Pas Tara menyusul Mama keluar, Mama menyuruh Tara masuk lagi ke kamar, dan berkata Mama akan menyusul tapi setelah Tara masuk ke dalam kamar, Tara ingin melihat Mama lagi justru di saat itu tiba - tiba Mama sudah menghilang entah kemana. Sebelumnya Tara melihat Mama menangis tersedu - sedu, entah menangis bahagia karena Papa sudah bangun atau entah karena Mama berusaha untuk menjauh dari Papa".


"Tapi Mama kamu sama sekali tidak berkata apa - apa pada kamu? Dan kamu yakin kalau Opa tidak melakukan apa pun pada kalian?". Egga masih menaruh curiga pada Papa nya.


" Setahu Tara enggak ada Pa. Tapi Tara juga enggak tahu sih apakah Opa sama Mama pernah ngomong (mengobrol) bersama tanpa sepengetahuan Tara. Maaf Pa Tara bukan nya bermaksud untuk melaga (mengadu domba) Papa sama Opa tapi Tara juga benar - benar enggak tahu apa - apa dan bingung. Mudah - mudahan ini bukan karena Opa". Ujar nya sembari memandang wajah Egga yang masih terlihat lesu.


"Hmm... Mudah - mudahan saja tidak seperti apa yang kita pikirkan". Egga tersenyum dan masih berpikir bahwa itu adalah ulah Papa nya.

__ADS_1


" Aku yakin ini pasti ulah nya Papa. Papa pasti akan bertindak lebih pada Ratna dan membuat Ratna menjauh seperti ini. Tapi apa yang terjadi di saat aku koma? Ratna pasti mengalami hal - hal yang sulit pada saat aku enggak bisa berbuat apa - apa untuk nya. Ratna tolong jangan menyerah. Kita sudah sampai sejauh ini, tolong jangan menyerah. Kita sudah berjanji untuk sama - sama berjuang demi cinta kita, demi Tari dan demi Tara juga. Please jangan menyerah begitu saja Rat. Please... Ratna aku sangat merindukan kamu. Kamu dimana Rat? Aku ingin sekali bertemu dan memeluk mu sepanjang waktu". Lirih nya dalam hati dengan mata yang membendung air mata nya (mata yang berkaca - kaca) sembari mengelus kepala Tara dengan lembut.


__ADS_2