Keikhlasan Hati

Keikhlasan Hati
Chapter 6 #S2


__ADS_3

Matahari terlihat berat untuk berganti tugas dengan sang Bulan. Mau tak mau dia harus meninggal kan sepercik cahaya nya yang begitu indah dan membuat siapa pun yang melihat nya pasti terpukau. Suara Air laut yang begemercik dan ombak ombak kecil yang di bawa oleh tiupan angin terdengar begitu syahdu. Warna mega yang di pancar kan oleh sang matahari dan air laut berkilauan bagaikan permata, kedua nya memberikan nuansa romantis bagi sepasang kekasih yang sedang di mabuk asmara.


Mata Almira berbinar binar menatap matahari yang ingin menenggelam kan diri. Jika bisa, tak sedetik pun ia mengedipkan mata nya untuk menikmati indah nya pemandangan yang ada di hadapan nya.


"Kamu senang ke tempat ini?". Ari yang berada di sebelah Almira membuyar kan keheningan mereka yang sejak tiba di tempat itu.


"Hmm . . . Apa lagi kalau lagi moment kayak gini, tapi sayang banyak orang orang perusak di sini, sampah berserakan dimana mana bahkan tega membuang sampah di laut, trus di tambah lagi banyak nya cafe remang remang disana (Almira menunjuk kan di sisi kiri nya), hmm dulu sering kali kesini tapi sejak cafe itu di tegak kan jadi udah malas kesini, kalau lagi kepengen aja baru kesini".


"Ouh gitu, iya sih aku liat nya pun kayak gitu, tempat nya kotor". Ari melirik ke sekitar yang makin ramai pengunjung berduyun duyun berdatangan.


"Iya, ya udah yuk, kita pindah tempat sekalian nyarik mesjid, lagian bentar lagi banyak orang mojok dan berbuat mesum disini". Almira membisik kan ke telinga Ari.


Ari/ "Ya udah enggak apa apa, kita gabung aja sama mereka, sama sama mojok ha ha ha".


"Hmmm ya ya ya, minta di tendang ke laut hah". Almira memplototi Ari yang tertawa ngegoda nya.


"Ha ha ha, bercanda lho yank, ya udah ayok kita let's go".


Ari menghidup kan mesin sepeda motor nya dan mereka berlalu meninggal kan tempat itu.


Setelah singgah ke mesjid untuk sholat magrib dan di lanjuti makan malam di warung bakso.


Almira/ "Besok kita berdua ke berastagi yok". Sambil menikmati semangkok bakso Dan duduk berhadapan dengan Ari.


Ari/ "Emank kamu di kasi, apa lagi pigi berdua".


Almira/ "Masih belum tau sih, besok kita pigi ya?".


Ari/ "Enggak janji".


"Isssh ". Almira memonyongkan bibir nya.


Ari/ "Ehh besok tanggal berapa?


Almira/ "Besok tanggal 2, oh iya pas kita sebulan yank, ayok lah kita pigi yank".


Ari/ "Enggak janji lho".


Almira kembali cemberut.


"Enggak janji karna kan belum tentu di izini sama Ayah, kalau di izini baru kita pigi". Ternyata si Ari menggoda Almira.


"Beneran ya yank yeay". Almira kegirangan.


Ari/ "Ehh kayak anak anak lah kamu yank, kayak enggak pernah jalan jalan aja sama pacar nya kesana".


Almira/ "Emank enggak pernah, pokok nya apa pun yang kita jalanin selama kita pacaran itu untuk pertama kali nya bagi aku".


Ari/ "Jadi apa cerita sama mantan mantan kamu yank?".


Almira/ "hufft pacaran ala anak mall ".


Ari/ "Jadi sama sekali enggak pernah?".


Almira/ "Enggak, mainan nya di mall atau bioskop udah itu aja selebih nya di rumah".


Ari/ "Okey, ntar kalau sama aku enggak bakal aku ajak kamu ke mall".


Almira/ "Jadi kemana?".


Ari/ "Ke hati aku aja".


Almira memutar kan bola mata nya.


Almira/ "Hedeh males banget deh yank".


Ari/ "ha ha ha, jadi kamu males pergi ke hati aku? ".


Almira/ "Hmm enggak perlu pergi ke hati kamu, karna hati kita udah menyatu".


Ari/ "Kalau hati kita menyatu berarti bahaya donk yank".


Almira/ "Kok bahaya?".


Ari/ "Iya lah, karna hati nya menyatu trus salah satu dari kita bakal kekurangan energi pada hati dan resiko kematian meningkat, tapi ya udah deh yank aku ngalah sama kamu, aku rela mati dan hati nya untuk kamu biar kamu bisa ngerawat hati kita sama sama sampek selama nya".


Almira/ "Iih ya enggak lah masa iya aku yang ngerawat sendiri, kita rawat sama sama lah biar pun kita harus berjuang berebut energi pada hati kita, yang penting kita sama sama".


Ari/ "Enggak usah yank, aku rela kok mati demi kamu dan hati kita kamu yang nge jaga, aku rela kok".


Pasangan ini ngomong apa sih?


Ha ha ha ha


.


.


.


Setelah dapat izin dari orang tua Almira, mereka pun meluncur ke Berastagi dengan perlengkapan mereka. Di sepanjang jalan Almira menikmati indah nya pemandangan yang mereka lintasi, udara yang begitu sejuk membuat nafas mereka berasap seperti orang merokok.


Ari yang fokus mengendarai sepeda motor nya namun sesekali menggoda Almira yang berboncengan di belakang nya dengan gombalan gombalan nya serta meletak kan tangan Almira ke pinggang nya (peluk).


Mereka pun tiba di kota Berastagi, mereka singgah ke mesjid terlebih dahulu untuk menunaikan sholat dzuhur sebelum mereka ke tempat wisata. Tak lama Ari membawa Almira ke tempat wisata bernama Gundaling Berastagi.


Ari memarkirkan sepeda motor nya dan mengajak Almira berjalan kaki mengelilingi tempat itu. Tak sedetik pun Ari melepas kan tangan Almira dari genggaman tangan nya menjadi penarik perhatian para pengunjung lain nya.


"Ada yang aneh ya dari kita dua?, kenapa pada ngeliati kita ya?, trus mereka senyum senyum lagi kalau ngeliati kita". Almira merasa risih.


"Mungkin mereka iri sama kita, udah enggak usah di openi". Ari mah santai menggandeng Almira berjalan menikmati indah nya pemandangan dari atas Gundaling.


"Hmm . . .".


"Yank itu gunung sinabung". Ari menghenti kan langkah kaki mereka dan menunjuk kan Gunung sinabung yang berada di hadapan mereka. Jarak nya jauh namun terasa seperti dekat.


Almira menoleh. "Astaghfirullah . . Udah kayak kawah ya yank, tinggal separoh".


Ari/ "Itu yang putih putih di sekitar nya itu desa desa yank, rumah rumah sama perkebunan orang sini".


Almira/ "ya ALLAH tersapu semua gitu kayak abu, gitu lah emank kalau ALLAH udah berkehendak dengan sekejab aja ALLAH melenyap kan nya, jadi merinding".

__ADS_1


Ari/ "Iya . . . Kamu sering kesini?".


Almira/ "Baru kali ini".


Ari/ "Iya baru kali ini sama pacar kan?, maksud aku selain sama pacar".


Almira/ "Enggak pernah, baru kali ini pertama kali nya".


Ari/ "Berarti banyak tempat yang belum kamu datangi lah ya?".


Almira/ "Iya . . . aku tuh pengen banget naik ke gunung sibayak".


Ari/ "Kenapa pengen kesana?".


Almira/ "Ya karna enggak mungkin kan ke gunung sinabung yang ada aku nya tinggal nama aja ha ha ha ".


Ari/ "Kalau itu aku tau sayang (menarik hidung Almira), maksud aku apa alasan nya pengen kesana?".


Almira/ "Ya pengen aja, karna aku iri sama orang orang yang udah kesana, trus liat postingan postingan mereka kayak nya tempat nya cantik, apa lagi pas liat matahari terbit".


Ari/ "Hmm iya tempat nya cantik, aku sih udah sering kesana, malah ampir sebulan sekali kesana, kasian banget lah pokok nya kalau yang belum pernah kesana". menyindir Almira.


Almira/ "Iya udah tauuuk, enggak usah pamer".


Ari/ "ha ha ha, ya udah yok kita kesana . . ".


Almira/ "Kesana?, sekarang?".


Ari/ "Iya kenapa?".


Almira/ "Apa enggak siang kali ya yank, ntar mau jam berapa lagi kita pulang nya".


Ari/ "Hmm iya juga sih, dari sini kesana satu jam trus mendaki nya ampir satu jam juga ini udah jam 2 hmm, ya udah deh lain waktu aja deh kita buat rencana kesana".


Almira/ "hmm okeh . . .".


Ari/ "In Sya ALLAH aku janji bakal bawa kamu kesana". Senyum.


"Thank you".


"You' re welcome".


.


.


Mereka pergi meninggal kan Gundaling dan menuju Pasar Buah Berastagi. Mereka berjalan memasuki dan melewati beraneka ragam pedagang buah buahan tak lupa mereka membeli kan beberapa macam buah untuk di jadi kan oleh oleh.


Di saat mereka keluar dari tempat penjualan buah, mata Almira tertarik pada satu tempat yang sudah rame di krumuni anak anak kecil, yakni tempat penjualan kelinci, hamster, marmut, dan lain nya.


Almira mendekati tempat itu, mata nya berbinar bahagia mengelus kelinci kelinci yang imut dan menggemas kan.


Ari/ "Kamu mau?".


Sentak Almira menoleh Ari yang berdiri di samping nya.


"Enggak". Masih mengelus ngelus kelinci.


Ari/ "Bukan nya kamu pengen punya kelinci putih".


"Dari mana tau?".


Ari tak menjawab pertanyaan Almira dan mengobrol dengan Bapak penjual nya.


"Berapa sepasang pak?".


Penjual/ "150 ribu bang".


Ari/ "Ya udah sepasang ya bang, yang warna putih dua dua nya, yang cantik dan bersih ya bang".


Ari dan Penjual sibuk mencari kelinci yang di maksud sedang kan Almira hanya diam tak berbuat apa apa dan masih berpikir dari mana si Ari tau soal dia pengen punya kelinci putih.


Kelinci pun terpilih, yang jantan warna putih utuh dan sedikit corak coklat di atas kepala nya sedang kan yang betina warna putih utuh dan sedikit corak hitam di sekitar mata nya.


Usai mempacking sepasang kelinci pilihan Ari dan membayar nya. Ari menggendong kotak berisi kelinci dan berjalan mengajak Almira makan namun langkah kaki nya di henti kan Almira.


"Kamu tau dari mana kalau aku suka dan pengen punya kelinci putih?". Almira mengulangi pertanyaan nya karna penasaran.


"Dari situ". Ari menunjuk kan ke arah dada Almira alias hati Almira.


Spontan Almira menutupi dada nya dengan tangan nya/ "Seriusan lho yank".


"Ffuuuhht . . . Ya dari Dp dan status kamu lah". Ari mengingat kan Almira.


Almira/ "Tapi kan itu status dan dp nya udah lama kali, bahkan dari sebelum kamu nyapa aku".


Ari/ "Emank iya".


Almira/ "Jadi pas aku buat dp dan status itu kamu sempat liat?".


Ari/ "Emank iya".


Almira/ "Jadi dari pertama kali kita berteman di BBM' an kamu udah merhatiin aku".


"Emank iya". Ari sadar terasa di jebak.


Almira tertawa di kulum kulum melihat wajah Ari.


"Ciye ciye yang ternyata dari dulu suka merhatiin ha ha ha".


"Udah udah . . Enggak usah ke geeran, perasaan kali". Ari berjalan meninggal kan Almira.


"Eeeh kok di tinggalin?". Almira mengejar langkah kaki Ari yang semakin cepat.


Ari/ "Cepat jalan nanti aku tinggalin nih". Teriak nya sembari senyam senyum melece.


.


.


Tepat jam 8 malam mereka tiba di rumah Almira.

__ADS_1


Ari/ "Yank aku langsung pamit pulang aja ya, udah enggak tahan kali ini badan udah lengket".


Almira/ "Ya udah, masuk lah".


Ari berjalan memasuki rumah Almira untuk menemui orang tua Almira.


"Om . . . Saya langsung pamit pulang ya, maaf Almira nya saya bawa pergi jauh tadi he he". Ari mencium tangan Ayah Almira.


Ayah/ "Iya tapi jangan sering sering".


"he he he iya om". Ari cengengesan dengan tampang nya sedikit pucat pasih dan di lanjut mencium tangan Mamak Almira.


.


.


Ari/ "Aku pulang ya".


"iya, hati hati ". Almira mengantar nya di depan pagar.


"Iya . . . Oh ya lupa". Ari teringat sesuatu dan merogoh kan kantong nya, mengeluar kan dompet.


"Ini . . .". Menyodor kan kelopak besar yang di simpan.


"Oh iya, he he bentar ya . . ". Almira bergegas masuk ke dalam rumah mengambil kelopak kecil yang dia simpan di dalam dompet nya.


Dan mereka pun menukar nya mengingat di tanggal itu tepat mereka satu bulan jadian.


Alay ya?, banget. Ha ha ha . . .


.


.


Almira masuk ke dalam rumah dan membongkar apa saja yang dia bawa untuk ole ole keluarga nya. Almira membuka bungkusan goni beras besar berisi aneka macam buah buahan, terdapat marquisah, jeruk, terong belanda, salak dan strawberry yang berat nya masing masing 5 kilo dan hanya strawberry berat nya 2 kilo.


Mamak/ "Banyak kali yang di beli?". Terpelongo bawaan anak nya segitu banyak nya.


Almira/ "Hmm dia bingung terakhir dia beli sebanyak ini".


Kak Aira/ "Macam mau jualan kelen, trus tadi gimana bawa nya?".Timpal nya sembari membantu Almira membongkar.


Almira/ "Rempong lah bawa nya, di ikat sana sini".


Mamak/ "Untuk keluarga si Ari udah ada?".


Almira/ "Belum mak, ini semua nya".


Mamak/ "Ya udah lain kan untuk keluarga si Ari, masa dia yang beliin untuk keluarga nya enggak di kasi".


Almira/ "Iya mak, Rara tau lagian tadi kan si Ari nya langsung pulang jadi mana lah sempat nak bongkar bongkar nya, paling besok ntar suruh dia ngambil kesini".


Mamak/ "hmm . . Pilih yang bagus bagus". "Iyaaaa".


"Trus ini apa yang di dalam kotak?". Ayah menunjukan kotak beras yang berada di samping Almira.


Almira pun menoleh melihat wajah Ayah nya dengan tampang cengengesan.


"he he he kelinci Yah hee".


"Haiiih carik kerjaan aja, berapa ekor itu". Si Ayah menepuk jidad nya dan mengecap pinggang nya.


"Sepasang Yah". Almira pun membuka kotak tersebut dan terlihat lah sepasang kelinci putih yang Ari beri kan untuk nya.


Ayah/ "Ya udah biari mamak sama kak Aira yang ngurusi buah buah nih, kamu langsung masuk kan ke kandang bekas ayam dulu di belakang, jangan lama lama letak sini nanti tembus kencing nya, bernajis kemana mana". Perintah nya.


"Siap boooos". Almira bangkit dari duduk nya dan membawa kotak berisi kelinci tersebut ke belakang.


Ayah/ "Carik kerjaan aja ini anak". Sembari mengunyah jeruk yang sudah beliau kupas.


Sedang kan Almira di belakang tepat nya di dapur masak.


"Hallo Aie Iea selamat datang di rumah baru kalian, sekarang kalian di dalam kandang ini dulu ya sementara, besok kakak siap kan kandang kalian yang bersih dan cantik, kalian yang betah ya disini sama kakak, ya udah kakak tinggal dulu ya, daaa Aie Iea". Almira berbicara pada kelinci tersebut. Entah ngerti entah tidak tuh kelinci kelinci ha ha ha.


.


.


Flash back. . .


Di perjalanan mereka menuju pulang . .


Almira/ "Cocok nya di kasi nama apa ya untuk kelinci kelinci kita?".


Ari/ "Kelinci kita?, kelinci kamu kali he he".


Almira/ "Yeee kan kamu yang beliin jadi itu kelinci kita".


Ari/ "Iya deh iya kelinci kita".


Almira/ "Jadi kasi nama apa donk?".


Ari/ "Hmm ya enggak tau, terserah kamu aja di kasi nama apa".


Almira/ "hmm sama sama mikir juga donk yank kamu nya".


Ari/ "Aku terserah, aku ngikut aja apa pun itu aku suka".


Almira/ "Hmm apa ya?, (berpikir), oh iya gimana kalau Aie dan Iea?".


Ari/ "Aie Iea?".


Almira/ "Hu uh, Aie itu di ambil dari nama kamu, kalau Iea itu nama aku, Ari jadi Aie, Ira jadi Iea, gimana?".


Ari/ "Boleh juga, lucu, tapi kayak nya lebih lucu itu di jadiin panggilan sayang kita deh ketimbang jadi nama kelinci nya ha ha".


Almira/ "Ha . .?, iya juga sih, ya udah kalau gitu itu nama kelinci kita sekaligus nama panggilan sayang kita juga".


Ari/ "Masa iya kita di samain sama kelinci sih yank".


Almira/ "Ya kan enggak apa apa, lagian kan biar kita enggak mencolok juga kalau pakek panggilan itu, paling enggak nya mereka mikir nya kita nyebuti nama kelinci kita bukan panggilan sayang kita, kamu kan tau keluarga aku gimana kalau hal yang gitu gituan".

__ADS_1


Ari/ "Hmm okeh lah kalau begitu, Aie mah ngikut Iea aja ha ha ha".


"ngeledek . . .". Almira memukul pelan pundak Ari yang masih tetap fokus mengendarai sepeda motor nya meski dia juga fokus pada Almira dan barang bawaan yang mereka bawa begitu banyak.


__ADS_2