
Flash back...
Suasana begitu sepi bak tak berpenghuni, yang ada hanya suara - suara dari bunyi alat - alat medis yang membantu para pasien yang sedang berjuang demi mempertahankan hidup pasien - pasien yang di ambang kematian di ruang ICU.
Egga yang selalu berada di sisi Tari terpaku memandangi diri nya yang berbaring tak berdaya, sempat ia meneteskan air mata nya lalu menyekanya kembali.
Perlahan Tari mencoba untuk melepaskan alat bantu pernafasan nya agar ia bisa berbicara dengan mudah pada Egga.
Egga sempat melarangnya untuk membuka alat bantu pernafasan tersebut, namun Tari menggelengkan kepala nya dengan perlahan.
"B..Beib a..ku m...mau ce..ri..ta sa..ma ka..mu". Ucapnya dengan terbata.
Secepatnya Egga mendekatkan dirinya pada tubuh Tari.
" Iya beib. Kamu mau cerita apa? Aku siap kok mendengarkannya". Ujarnya sembari tersenyum.
"B...Be...ib... a..ku be.. lum sem...pat ce..ri..ta ke ka..mu, ka..lau a..ku pu..nya se..o..rang a..nak".
Mata Egga terbelalak melihat Tari.
" Anak? Maksud kamu anak kita? Tapi kan kamu enggak...". Ia merasa bingung sembari menatap wajah tak berdaya milik Tari.
Tari menyunggingkan senyum nya lalu tertawa kecil sembari menepuk - nepuk bahu Egga dengan tenaga nya yang sangat terbatas.
"He he he, bu..kan a..ku be..lum si..ap ngo..mong. Mak..sud a..ku, a...ku pu..nya a..nak a..dop..si". Dan Tari menceritakan dari awal ia bertemu dengan bocah jalanan yang bernama Siboy itu, ia menceritakan semuanya kecuali perilaku buruk Siboy yang di tuduhkan oleh orang lain.
Egga melagakan jidadnya ke jidad Tari dengan pelan.
"Oh Ya ALLAH, aku sudah mikir entah kemana - mana jadi nya he he he. Tapi kok kamu baru sekarang bilang nya ke aku?".
" I...ya, ma..af. Ka...re..na kon..di..si a..ku se...per..ti i..ni a...ku ja..di lu..pa de...ngan nye..ri..tain nya ke ka..mu. Se..be..nar..nya a..ku be..lum me..nga..dop..si a..nak i..tu ka..re..na a..ku ha..rus mi..nta i..zin du..lu sa..ma ka..mu, ta..pi ka..re..na a..ku nya la.. gi ka..yak gi..ni ma..ka..nya be..lum ju..ga ter..wu..jud..kan ni..at a..ku i..tu. A..ku pun su..dah la..ma ti..dak me..nge..ta..hui ka..bar a..nak i..tu ba..gai..ma..na. Ja..di a..ku ma..u min..ta i..zin sa..ma ka..mu. Ka..mu ma..u kan ka..lau ki..ta me..nga..dop..si a..nak i.. dan ka..mu men..ja..ga a..nak i..tu u..ntuk a..ku?". Meski terbata dan perlahan namun pasti ia menceritakan niat nya itu.
Egga sempat merasa ragu dengan permintaannya tersebut.
"Kita enggak usah mikirin hal ini dulu ya sayang. Nanti kalau kamu sudah sembuh, aku janji kita akan mengadopsi anak itu dengan secara resmi". Tuturnya sembari tersenyum dan mengusap kepala Tari.
Tari menggelengkan kepalanya.
" A...ku ma..u ka..mu jan..ji nya se..ka..rang un..tuk me..ne..ri..ma dan men..ja..ga a..nak i..tu un..tuk a..ku, de..mi a..ku".
Egga menarik nafasnya dengan dalam lalu menghelakannya dengan perlahan. Mau enggak mau ia harus menuruti permintaan sang Istri yang hanya memiliki sedikit waktu yang tersisa. Egga mengangguk pelan sembari tersenyum.
"Iya, aku janji, aku akan menerima dan menjaga anak itu untuk kamu, demi kebahagiaan kamu".
.
.
Flash On.
Di sebuah caffe terdapat Egga dan Ratna tengah duduk berdua sembari menikmati makan siang mereka yang sudah mereka pesan sebelumnya. Suasana caffe tersebut cukup ramai pengunjungnya karena pengunjung rata - rata dari kalangan pekerja atau pegawai yang sedang makan siang.
"Oh ya.. Jadi gimana soal perjodohan kamu yang di buat orang tua kamu". Egga membuka pembicaraan sembari mengunyah makanan yang ia suapkan ke dalam mulutnya.
"Emm... Ya gitu lah". Ratna menaikkan kedua bahu nya seperti tidak ingin membicarakannya.
"Gitu lah gimana? Itu sih bukan jawaban nama nya hmm".
Sempat ia menggaruk kepalanya.
" Emm... Gimana ya? Soalnya aku juga bingung gimana mau ceritanya, jadi ya enggak gimana - gimana".
"Hmmp, kayak nya kamu enggak suka ya sama cowok yang mau di jodohkan ke kamu itu?".
Ratna menaik turunkan kedua alisnya dengan lemas.
__ADS_1
" Gimana mau suka coba, rang tuh cowok gaya nya enggak banget. Masa iya dikit - dikit nelpon emak nya, apa - apa emak nya. Yang parah nya lagi dia ngajakin aku nonton bareng ehh dia malah bawa emak nya terus aku nya di kacangin, huffft".
"Ha ha ha, itu tanda nya dia sayang kali sama emak nya. Berarti dia cowok yang berbakti pada orang tua. Bagus lah itu".
" Bagus apa nya, masa ia kemana - mana dia ngintilin emak nya terus. Belum lagi dengan tingkahnya yang manjanya minta ampun, anak mami banget. Iiiiih pokoknya enggak banget deh Ga, cocoknya dia jadi adik bayi aku bukan pasangan yang mau di jodohi ke aku".
"Ha ha ha, terus kamu sudah menolak perjodohan ini?".
" Belum sih. Aku masih bingung gimana bilang nya ke mama. Pasti mama bakal marah besar kalau aku menolak lagi laki - laki yang ia cari untuk aku". Ratna menundukkan kepalanya.
"Ya.. Mau gimana lagi Rat, mau enggak mau kamu harus cerita ke mama kamu. Memang sungguh mulia kalau kita menuruti permintaan orang tua kita dan membahagiakan mereka tapi itu tidak harus membuat kita yang menjadi tidak bahagia. Coba deh kamu bicarakan dengan baik - baik pasti mama kamu akan mengerti sama perasaan kamu. Terus kamu bilang juga ke mama kamu kalau nyariin cowok untuk kamu itu yang agak normalan dikit ha ha ha".
"Ha ha ha, iya itu benar. Semuanya enggak normal yang mau di jodohin ke aku. Enggak paham mama aku ini gimana selera anak nya, hmmmm".
" Ha ha ha, maka nya kamu itu orang nya harus terbuka, jangan diam - diam saja. Kamu keluarkan ekspresi kamu jadi biar semua orang itu tahu seperti apa diri kamu yang sebenarnya dan tahu apa yang kamu inginkan. Dari dulu kok enggak berubah - ubah sih Rat.. Rat he he he". Egga tertawa kecil sembari menggelengkan kepalanya.
"Hufft... Enggak penting juga kalau aku terbuka, karena sudah pasti tidak ada yang peduli".
" Siapa yang bilang? Kamu itu ya... Suka kali berpikiran seperti itu. Kamu enggak boleh pesimis terus, aku pikir makin ke sini kamu itu makin berubah, lebih banyak cerita, lebih banyak interaksi sama orang lain tapi kenapa kamu masih pesimis juga sih seperti dulu?".
Ratna melihat kedua mata Egga yang nyaris membuat nya terpesona. Sempat ia menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan dirinya.
"Kamu itu yang enggak pernah berubah".
Egga mengerutkan dahinya sembari menunjukkan dirinya.
" Aku? Memang nya aku kenapa?".
Ratna tersenyum simpul melihatnya. Belum sempat ia menjawab, tiba - tiba seorang wanita menghampiri meja mereka lalu menyapa Egga.
"Egga....".
Egga dan Ratna menoleh pada wanita tersebut yaitu Zia yang baru tiba di caffe tersebut dengan tidak sengaja. Zia langsung menyambar Egga lalu mencium pipi kanan dan pipi kiri Egga, sedangkan Egga tersenyum getir dengan munculnya Zia dengan kebetulan. Tanpa mempedulikan Ratna, ia langsung duduk di samping Egga dan memepetnya.
"Kok kita bisa kebetulan banget ya ketemuan di sini. Kamu kok tumben enggak ngantor?". Zia bertanya sembari meletakkan tas nya di atas meja.
Zia menoleh melihat Ratna dengan wajah tidak senangnya. Sedangkan Ratna tersenyum ramah sembari mengulurkan tangan nya ke hadapan Zia.
"Ratna".
" Zia". Sambutnya dengan nada datar lalu beralih melihat Egga.
Ratna tersenyum melihat gelagat Zia, ia mengetahui bahwa Zia menyukai Egga dan tidak senang ia berada bersama Egga.
"Oh ya! Tapi kata nya kamu pagi ini balik ke Singapore, kenapa kamu masih di sini?". Egga merasa heran.
" Iya, tiket aku di koyak'in sama Papa aku. Gara - gara aku nolak lagi perjodohannya tadi malam terus Papa aku marah besar makanya tiket aku di koyak beliau dan melarang aku balik lagi ke Singapore sampai aku nikah dengan pilihan mereka huffft". Zia menceritakan keluh kesah dengan tampangnya yang sedikit murung.
"Ha ha ha ha". Egga terbahak cukup keras sembari melirik keduanya dan membuat keduanya sontak terkejut melihat Egga.
" Kamu kok ketawa Ga? Pasti kamu ngetawain aku kan?". Zia langsung mempertanyakannya.
"Ha ha ha ha bukan. Bukan itu ha ha ha... Aku ketawa kerana aku merasa lucu, soalnya sekarang ini dengan kebetulan aku lagi di hadapkan sama kedua wanita jomblo yang mengeluh karena di jodoh - jodohin sama orang tua nya masing - masing ha ha ha ha". Egga merasa benar - benar geli sehingga ia mengeluarkan air matanya menertawakan hal itu.
" Ya ALLAH... Yang satu ngeluh karena mama nya sibuk menjodohkan dengan cowok yang bukan tipenya. Yang satu nya lagi ngeluh karena papa nya ngelarang balik ke Singapore gara - gara nolak perjodohannya. Ha ha ha sebenarnya mau kalian itu apa sih? Sampai segitunya, ingat umur kalian lho, kalian itu bukan remaja lagi ha ha ha". Egga melirik mereka secara bergilir. Mereka tertunduk malu.
"Hufffttt... Apa beda nya sama kamu coba? Kamu kan jomblo juga". Zia mencibir, sedangkan Ratna hanya menatap Egga dengan sinis.
" Ya beda lah. Memang sekarang ini aku jomblo tapi paling enggak nya aku pernah merasakan nya lweek 😜 ha ha ha".
"Hmm iya lah, sombong mentang - mentang sudah pernah hufft". Kali ini Ratna menimpalnya dengan nada yang menekankan kalimat yang di ucapkannya, sontak membuat Egga terdiam melihat Ratna. Egga merasa tidak enak hati karena sudah menertawakan mereka.
" He he he, sorry aku cuma bercanda saja. Aku enggak ada maksud nyingung perasaan kalian kok. Beneran deh". Egga tertawa getir sembari mengangkat kedua jari nya ✌ kehadapan kedua wanita yang ada di depannya, sempat ia melirik Ratna.
"Hmm iya iya aku tahu, lagian apa yang kamu bilang ada benarnya juga sih. Coba saja, laki - laki yang di jodohkan Papa untuk aku itu kamu, kan jadi enggak susah payah seperti ini kejadiannya". Tanpa rasa malu Zia mengungkapkan harapannya di hadapan Ratna dan Egga. Sontak membuat keduanya saling melirik satu sama lain.
__ADS_1
Perlahan Zia meraih tangan Egga dan sudah semakin tidak menghiraukan Ratna. Egga terkejut lalu berusaha menarik tangannya.
"Egga, kalau Papa kita menjodohkan kita berdua kira - kira kamu mau enggak nerimanya?".
Ratna tercengang melihat Zia yang berbanding terbalik dari dirinya yang lebih memilih memendam perasaannya ketimbang mengungkapkan langsung. Sedangkan Egga benar - benar kikuk menghadapi Zia yang agresif.
"Kamu ada - ada saja Zia, mana mungkin itu. Enggak mungkin kamu di jodohkan sama aku he he he mengada - ngada kamu ngomong nya he he he". Egga berhasil menarik tangannya dari genggaman Zia.
" Ya kan mana tahu. Lagiankan Papa kita sudah berteman lama, mana tahu mereka merencanakan itu untuk kita, bisa jadi memang sejak dulu mereka sudah buat rencana itu tapi karena kamu sudah punya pilihan sendiri maka nya rencana itu enggak ada". Zia benar - benar terlalu terobsesi pada Egga untuk menjadi pasangannya.
Ratna mulai merasa canggung dalam situasi seperti ini. Pelan - pelan Ratna beranjak dari posisinya tanpa mengganggu keduanya.
"Rat... Kamu mau kemana?". Ternyata Egga menyadari itu lalu menghentikan langkah kaki Ratna dan tertangkap basah.
" Ha? Aku habis dapat chat dari asisten aku di minta untuk ke rumah sakit sekarang juga soalnya tiba - tiba ada pasien yang mau lahiran. Aku mau pamit ke kalian tapi karena kalian lagi ngobrol serius, aku takut ganggu kalian he he he. Kalian lanjut saja lagi ngobrolnya aku mau balik duluan ya he he he".
"Ya sudah yuk, aku antar kamu balik ke rumah sakit". Egga pun berdiri.
"Enggak usah Ga, aku bisa sendiri kok. Kalian ngobrol saja he he he". Ratna melirik Zia.
Egga beralih melihat Zia yang tidak menginginkan Egga untuk pergi mengantar Ratna.
"Zia maaf ya. Aku harus mengantar Ratna balik ke rumah sakit, lagian bentar lagi aku juga ada briefing sama staf aku. Lain waktu saja ya kita ngobrol lagi?".
Zia memanyunkan bibirnya.
" Iiih kamu, aku kan belum siap mengobrolnya sama kamu".
"Lain waktu saja ya Zia. Ya sudah aku balik duluan ya". Egga menepuk pelan bahu Zia lalu berjalan menghampiri Ratna.
Dengan berat hati Ratna berpamitan pada Zia.
" Aku duluan ya Zia. Maaf gara - gara aku, kalian jadi tidak bisa melanjutkan mengobrolnya". Senyumnya.
"Hmmmpt". Sesingkat itu ia merespon Ratna dengan sinisnya.
Mereka pun berlalu meninggalkan Zia sendirian.
Pusat kota terlihat ramai kendaraan berlalu lalang dan tak jarang membuat daerah tersebut menjadi macet. Mobil Egga terpaksa terjebak di tengah - tengah kemacetan tersebut dan harus bersabar.
"Kayaknya Zia suka sama kamu Ga". Ratna mulai membuka suara demi menghilangkan rasa bosan karena kemacetan.
Egga meliriknya.
" Hmm iya aku tahu".
"Kamu tahu?".
" Iya, sudah lama Zia ngejar - ngejar aku dengan terang - terangan makanya aku tahu kalau dia suka sama aku, terus dia sempat menghilang ketika dia tahu aku akan menikah dengan Tari. Dan saat ini tiba - tiba dia muncul kembali setelah dia mengetahui kalau Tari sudah meninggal".
"Hmm... Berarti Zia memang benar - benar menunggu kamu tuh Ga".
" Nunggu apanya?". Egga mengerutkan dahinya melihat Ratna.
"Yaa memang nunggu dudanya kamu ha ha ha".
" Hiiiist berarti dia doa'in aku donk selama ini? Ada - ada saja kamu he he he".
"He he he. Ya sudah, apa lagi Ga? Mungkin Zia itu memang jodoh kamu kali hi hi hi, lagian kalian kan memang sudah lama saling kenal, apa lagi Zia orang nya cantik, pintar terus sama - sama pemilik perusahaan lagi, jadi kalau ada apa - apa kalian pasti bakalan nyambung. Klop banget deh he he he".
Egga memutar bola mata nya sambil menggelengkan kepalanya.
"Ada - ada saja kamu Rat. Yang sama itu belum tentu klop. Buktinya aku sama Tari beda tapi kami bisa berjodohkan, walaupun jodoh kami hanya di beri dengan waktu yang singkat".
" Iya juga sih. Hmm... Jadi enggak kebayang gimana bakal jodoh aku nantinya. Apa dia juga dokter sama kayak aku atau enggak ya?".
__ADS_1
Egga melirik dirinya yang sedang memalingkan wajahnya pada mobil - mobil yang berjajar menanti kemacetan berakhir.