
Egga mengerutkan dahi nya melihat suasana kantor nya begitu menegangkan. Para karyawan nya berkumpul di depan pintu ruangan nya sambil tertunduk takut namun sesekali meliriknya.
"Ada apa ini? Kenapa kalian pada ngumpul di depan ruangan saya?". Ia bertanya karena sangat penasaran sembari melirik mereka satu per satu.
" Enggak ada yang berani jawab pertanyaan saya?".
" P... P Pak. Tadi pagi Pak Wijaya datang dengan marah - marah mencari Bapak dan...". Asistennya memberanikan dirinya untuk membuka suara.
"Dan apa?". Egga meliriknya.
" Dan mengatakan akan menutup perusahaan ini". Sambungnya.
"Iya Pak. Apa itu benar? Kalau perusahaan ini di tutup bagaimana dengan nasib kami Pak".
" Iya Pak".
Karyawan yang lain menyambung pembicaraan tersebut dan membuat sedikit keriuhan.
Egga memejamkan matanya sejenak, ia tahu kenapa Papa nya melakukan hal tersebut.
"Kalian tenang saja, perusahaan ini enggak akan di tutup. Perusahaan ini akan terus berjalan. Kalian enggak perlu khawatir, kalian kembali bekerja".
" I.. Iya Pak. Baik".
"Terimakasih banyak Pak".
" Alhamdulillah Ya ALLAH, perusahaan ini enggak di tutup".
Egga melihat karyawan - karyawan nya begitu senang mendengar bahwa perusahaan nya tidak akan di tutup bahkan Egga terharu melihat salah satu karyawan nya sampai sujud syukur karena sangkin senangnya.
"Saya mau keluar sebentar, tolong kamu urus pekerjaan saya di kantor. Saya masih ada urusan". Ia memerintahkannya pada asistennya.
" Baik Pak".
Dengan hati yang sedikit membara ia bergegas menuju ke kantor perusahaan Papa nya, tanpa segan ia menerobos masuk ke ruangan Pak Wijaya dan tidak peduli dengan tamu beliau yang sedang membicarakan proyek kerja sama mereka.
Pak Wijaya dan rekan kerja nya terkejut melihat Egga dengan raut wajah nya yang begitu datar.
"Ehh ada calon mantu he he he". Salah satu rekan kerja Pak Wijaya yang sangat kebetulan ialah orang tua Zia, menyapa Egga lalu bangkit dari duduknya untuk mendekati Egga.
Egga terlihat acuh, pandangan nya tetap fokus pada Pak Wijaya yang sedang tertawa getir. Beliau tahu apa maksud dan tujuan Egga menerobos masuk ke ruangannya, namun ia hanya berpura - pura tidak tahu.
"Calon mantu ayo sini kita duduk sama - sama, kebetulan kami sudah selesai rapatnya he he he". Beliau menarik tangan Egga dan menyuruhnya duduk di sampingnya.
" Waah beruntung sekali ya Bapak akan mendapatkan menantu setampan dan sukses seperti Egga. Salah nya saja anak saya masih kecil kalau tidak kita bisa saingan ha ha ha". Yang lainnya memujinya setelah bertemu dengan Egga.
__ADS_1
"Aah Bapak bisa saja. Tapi walau pun kita bersaing tetap saja anak saya yang akan memenangkan hati nya Egga ha ha ha". Beliau begitu percaya diri.
" Ha ha ha, iya deh iya, saya mengaku kalah kalau bersaing sama Bapak ha ha ha. Oh ya seperti nya saya harus pamit duluan karena mungkin akan mengganggu kalian, kalian pasti akan membicarakan soal pernikahan Egga dan Zia kan ha ha ha. Kita lanjuti rapatnya lain waktu saja he he he". Ia bangkit dari duduknya dengan sungkan.
"Eh... jangan pergi dulu Pak, duduk saja dulu, bapak sama sekali tidak mengganggu kok he he he".
Pak Wijaya dan Papa nya Zia berusaha menahan nya pergi.
"Tidak perlu Pak. Saya tidak lama kok ke sini, Bapak tidak perlu sungkan dan menunda rapat kalian. Saya ke sini bukan untuk membahas soal pernikahan karena itu tidak perlu membahas nya lagi".
Mereka bertiga terdiam mendengar Egga akhirnya membuka suara. Pak Wijaya khawatir Egga akan membeberkan apa yang terjadi kemarin malam.
"Saya cuma sebentar saja di sini. Saya hanya mau bilang ke Papa saya, jangan ikut campur urusan perusahaan saya dan jangan mencampuri urusan pribadi dengan urusan professionalisme". Tatapan Egga begitu tajam, walau ia berkata dengan lembut namun nyelekit ke hati.
" Saya permisi". Egga pun pamit pada mereka dan meninggalkan rasa bingung pada kedua rekan kerja Pak Wijaya terutama Papa nya Zia, ia begitu penasaran kenapa Egga berkata seperti itu.
Pak Wijaya nyaris malu. Mata nya memerah ingin memarahi anak sulung nya yang bersikap kurang ajar pada dirinya di depan rekan kerja nya.
Sore nya setelah semua pekerjaan telah selesai, Pak Wijaya memutuskan untuk menghampiri Egga di rumah nya. Beliau tampak emosi di tambah lagi ia melihat Egga sedang bermain bola bersama Tara di halaman belakang rumah nya.
"Wah... Kayak nya ada yang sudah mahir nih berperan menjadi seorang Ayah". Tuturnya dan membuat Egga dan Tara menoleh pada beliau.
" Tara... Kamu masuk ke kamar dulu ya, soal nya Papa mau bicara sama Opa". Bisiknya pada telinga Tara dan bocah itu menuruti Egga, ia tertunduk ketika ia berjalan melewati Pak Wijaya yang acuh padanya.
" Ck... Restu? Kamu pikir Papa akan merestui hubungan kalian? Di tambah lagi tadi kamu tiba - tiba datang menerobos ke ruangan Papa dan bersikap kurang ajar lalu membuat Papa malu di depan Papa nya Zia". Pak Wijaya mulai bernada tinggi sambil berjalan mendekati Egga yang berdiri di tengah - tengah taman.
"Huh... Papa yang membuat Egga menjadi kurang ajar. Kalau Papa tidak mencampuri urusan pribadi kita sama urusan perusahaan, mungkin Egga enggak akan bersikap kurang ajar seperti tadi. Kalau pun Egga mau, di depan mereka Egga sudah mengatakan soal pembantalan perjodohan Egga dan Zia bahkan kalau Egga mau, Egga sudah mengatakan kalau Egga akan menikahi Ratna dan... Kalau saja Papa mau mendengarkan penjelasan Egga sekali saja, mungkin kita tidak akan pernah bertengkar seperti ini". Egga meneteskan air mata nya, ia merasa sedih karena untuk pertama kali nya ia bertengkar pada sang Papa dan terpaksa bersikap kurang ajar pada beliau.
Agrumen anak beranak ini terdengar oleh Tara lalu membuat nya turun kembali dari kamar nya dan dengan diam - diam ia menguping pembicaraan mereka dari balik pintu.
Pak Wijaya pun tak kuasa membendung air mata nya namun masih terlihat gengsi.
Egga menangis sejadi - jadi nya, bahkan ia sampai berlutut di depan Papa nya.
"Pa... Tolong maafin Egga Pa. Egga tidak ingin kita seperti ini. Egga mohon sama Papa dan Mama untuk bisa menerima Ratna dan Tara. Pa... Egga sangat mencintai Ratna seperti Egga mencintai Tari. Egga enggak bisa memaksakan perasaan Egga ke Zia, itu sama saja Egga melukai perasaannya Pa".
" Tok.... Tolong jangan marah lagi sama Papa Tok, Tara mohon". Tiba - tiba Tara berlari lalu berlutut juga di hadapan Pak Wijaya sembari memohon dan menangis. Sontak membuat Egga dan Pak Wijaya terkejut.
"Tok... Atok jangan marah sama Papa dan Mama. Kalau Atok mau marah, marahi saja Tara Tok. Karena Tara tahu diri kalau di sini Tara bukan siapa - siapa hu hu hu, yang salah itu Tara bukan Papa dan Mama hu hu hu". Tara menangis tersedu - sedu.
Pak Wijaya tidak bisa berkata apa - apa melihat bocah kecil namun sudah bisa berpikiran dewasa. Beliau melihat kesedihan pada mata anak malang tersebut dan merasa iba. Beliau pun pergi meninggalkan mereka begitu saja.
"Pa.....". Egga berteriak memanggil beliau lalu membangkitkan tubuh Tara.
" Tara... Tadi kan Papa sudah bilang ke kamu untuk masuk ke dalam kamar, tapi kenapa kamu tiba - tiba turun dan mengikuti Papa berlutut?".
__ADS_1
"Tara enggak mau Papa sama Mama di marahi lagi sama Atok. Tara sedih, gara - gara Tara Papa jadi berantem sama Atok hu hu hu".
Egga kembali meneteskan air matanya karena pembelaan serta kasih sayang Tara padanya dan Ratna. Egga memeluk bocah itu dengan erat.
" Kamu jangan sedih dan jangan nangis lagi ya. Ini semua bukan gara - gara kamu kok. Semua nya akan baik - baik saja". Tuturnya dengan lembut sembari mengusap kepala Tara.
Egga termenung di dalam kamarnya sembari memandangi foto Tari.
#Triiing...
Egga meraih ponsel nya lalu melihat pesan WhatsApp dari Ratna.
#Ratna /" Assalamualaikum Ga. Maaf ya baru ini ngabari ke kamu. Soal nya aku lagi sibuk kali di rumah sakit 😔. Kamu lagi ngapain? Sudah makan? Tara gimana kabar nya? Dia sudah makan juga apa belum? Terus belajarnya tadi gimana? Sekarang Tara nya lagi ngapain?".
Egga tertawa kecil mendapatkan pertanyaan yang bertubi - tubi dari Ratna.
#Egga /"Nanya nya satu satu sayang ha ha ha 😚".
#Ratna /" Hmm... Iya 😞".
#Egga /"Tara baik - baik saja kok, dia sudah makan dan juga sudah belajar, sekarang dia lagi tidur. Kalau aku sudah makan, sekarang lagi ngejawab pertanyaan - pertanyaan dari calon istri aku yang segudang he he he 😘🥰"".
#Ratna /"Alhamdulillah kalau gitu. Aku jadi tenang 😌".
#Egga /"Kamu sendiri sudah makan belum?".
#Ratna /"Ini baru siap makan makan hi hi hi".
Egga melirik jam dinding nya, itu menunjukkan jam 10 malam.
# "Jam segini kamu baru makan?".
#Ratna /" Iya. Soal nya tadi enggak ada kesempatan untuk makan bentar, entah kenapa hari ini banyak sekali pasien yang mau lahiran 😫🥴".
#Egga /"Kamu yang semangat ya 😘🥰😍. Tapi walau pun begitu kamu jangan sampai lupa untuk makan, kamu harus mengusahakan meluangkan waktu kamu untuk makan. Kalau kayak gini terus - terusan bisa - bisa nanti kamu yang jadi pasien 😔".
#Ratna /"In Sya ALLAH enggak. Tapi aku janji ini untuk terakhir kali nya. Lain kali aku akan usahakan walau pun cuma 5 menit 🖐😁".
#Egga /" 😘🥰".
Dan bla... Bla... Bla... Bla...
Sampai akhir nya Egga di tinggal tidur oleh Ratna. Egga meletak kan kembali ponsel nya di atas tempat tidur lalu kembali memandangi foto Tari.
"Beib... Apa ini? Setelah kamu pergi, hidup ku menjadi berubah. Aku seperti hilang arah. Rasa nya aku ingin sekali menyudahi ini semua dan menyerah saja tapi itu tidak mungkin. Beib aku rindu sama kamu. Aku ingin sekali bertemu dengan kamu walau hanya di dalam mimpi ku. Lirihnya lalu mencium foto tersebut.
__ADS_1