Keikhlasan Hati

Keikhlasan Hati
Chapter 42 #S3


__ADS_3

Egga dan Pak Wijaya berjalan menyusuri salah satu restoran mewah di kota Medan. Ia sengaja ke restoran tersebut atas permintaan sang papa, alias Pak Wijaya. Tak banyak pengunjung yang datang ke restoran tersebut sebab hanya orang - orang tertentu saja yang bisa menikmati tempat itu.


Egga menghampiri salah satu meja yang sudah di reserved oleh Pak Wijaya sebelumnya.


Ketika mereka duduk, tiba - tiba beberapa orang yang mereka kenal menghampiri mereka.


Egga melihat sosok Zia bersama Papanya yang menghampiri mereka lalu duduk bersama. Seperti pertemuan yang memang sudah di rencanakan sebelumnya.


Egga sama sekali tidak mengetahui soal pertemuan ini, sebab Pak Wijaya belum membicarakan padanya.


"Hai...". Zia menyapanya dan tersenyum.


Egga hanya membalas dengan senyumannya.


Mereka sangat menikmati pertemuan tersebut dengan mengobrol ringan tentang bisnis mereka.


" Wah... Sepertinya kalian ini benar - benar cocok ya. Enggak salah Papa dan Om Wijaya berencana untuk menjodohkan kalian berdua he he he". Papa dari Zia, yakni Pak Hakim membuat Egga terkejut.


"Apa?". Mata Egga terbelalak bahkan nyaris tersedak.


" Iya Ga, maksud dari pertemuan ini. Papa sama Om Hakim ingin menjodohkan kamu dengan Zia, karena kamu juga enggak mungkin terlalu lama hidup sendirian dan kalian sudah saling kenal sejak lama, jadi kami pikir untuk melakukan perjodohan ini. Papa juga sudah cerita pada Zia, dan Zia setuju dengan perjodohan ini. Tinggal kamu nya saja, tapi Papa yakin kamu juga sama seperti Zia". Pak Wijaya juga menambah inti dari pertemuan tersebut.


Egga benar - benar bungkam, ia tidak tahu harus berkata apa. Ia melihat raut wajah mereka yang terlihat bahagia serta antusias atas rencana itu.


Sedangkan Zia, harapannya tercapai sudah. Ia pun semakin enggan untuk kembali ke Singapore dan ia benar - benar bahagia atas rencana kedua orang tua mereka yang tanpa sengaja mengabulkan doa - doanya.


Egga terdiam menatap foto nya bersama Tari yang terletak di atas meja kantornya. Ia mengusap - ngusap bagian Tari dan tanpa sadar ia meneteskan air matanya.


"Aku rindu kamu beib". Lirihnya.


#Triing...


Egga meraih ponselnya lalu melihat pesan yang baru terkirim pada WhatsApp nya.


#" Hai Ga. Lagi ngapain? Aku ganggu kamu enggak?". Ternyata pesan tersebut dari Zia.


Egga meletakkan kembali ponselnya di atas meja tanpa membalas chat dari Zia. Ia kembali memandangi foto dalam bingkai tersebut.


#Triiiing... Triiing.. Triiing...


Egga memejamkan matanya sejenak, dengan malas ia meraih kembali ponselnya.

__ADS_1


#"Assalamualaikum Ga. Aku mau nanya. Kamu ada lihat buku aku enggak sewaktu kita pergi kemarin? Soalnya aku baru sadar kalau buku aku hilang. Mana tahu bukunya jatuh di mobil kamu atau enggak sengaja terbawa sama kamu".


Egga pikir bunyi notification tersebut pesan dari Zia lagi, ternyata pesan dari Ratna.


#Waalaikumsalam. Aku tidak pernah melihat buku itu apa lagi sampai membawanya. Tapi nanti aku coba periksa di mobil aku, mudah - mudahan jatuhnya di mobil aku". Egga pun membalasnya.


Ratna #"Iya, mudah - mudahan, karena gawat juga kalau buku nya sampai enggak ketemu".


Egga #"Memang itu buku apa?".


Ratna #" Itu cuma buku catatan biasa saja kok he he he. Terimakasih ya Ga".


Egga #"Oh...! Belum lagi ketemu sudah bilang terimakasi, he he he".


Ratna #"Ya... Terimakasih karena sudah niat mau bantu nyariin he he he".


Egga #"Hmm iya iya. Oh ya, kamu lagi ngapain?".


Dan bla... Bla... Bla.... (Chat - chatan berlanjut terus dan tak menghiraukan pesan dari Zia)


Egga segera memeriksa mobilnya setelah ia selesai chat bersama Ratna. Tak butuh waktu lama ia mencari, buku tersebut benar ada nya di dalam mobilnya. Kini buku bersampul kulit serta di ikat dengan tali rami itu sudah di tangan Egga. Ia langsung mengambil ponsel nya untuk menghubungi Ratna.


Belum sempat ia menghubungi Ratna, tanpa sengaja ia melihat sesuatu di cover bagian belakang buku tersebut. Ia melihat sesuatu yang tak asing baginya, yakni selembar kertas kecil yang berisi kata - kata puitis.


"Dia masih menyimpannya? Padahal sudah lama sekali". Egga tertawa kecil melihat kertas tersebut yang sengaja Ratna tempelkan di cover belakang buku tersebut.


Egga mengurungkan niatnya untuk menghubungi Ratna, ia memutuskan untuk menemuinya secara langsung besok pagi.


Esoknya, Egga sudah tiba di depan rumah Ratna tanpa menghubunginya terlebih dahulu.


"Waaah... Kayak nya aku enggak lagi pesan taksi online deh he he he". Ratna sengaja meledeknya ketika ia melihat Egga berdiri di hadapannya.


Egga tertawa.


" Ha ha ha, memang. Karena tukang taksi online ini khusus untuk wanita sempurna yang satu ini he he he". Egga berbalas meledeknya.


"Ha ha ha. Sudah ah. Kamu kok enggak bilang dulu kalau mau ke sini?".


" Iya, karena aku pikir kamu memang lagi ada di rumah jadi ngapain aku repot - repot nelpon kamu lagi, mending samperin langsung kan? Oh ya. Ini...". Egga menyodorkan buku yang ia cari dari kemarin.


"Alhamdulillah!". Serunya dengan mata berbinar - binar.

__ADS_1


" Benarkan tebakan aku, pasti bukunya ada di kamu". Ia pun mengambil buku tersebut.


"Iya. Buku nya ada di bawah jok mobil".


" Oh. Terimakasih banyak ya Ga, untung saja ketemu he he he".


"Iya sama - sama. Oh ya! Aku enggak sengaja ngeliat cover belakang bukunya. Kalau boleh tahu kenapa kamu menempel kertas itu di belakangnya?".


Ratna pun membalikkan bukunya dan memperlihatkan kertas itu.


"Oh ini... Iya, ini surat kaleng pertamaku dari seseorang. Lebay ya kan? he he he. Walau pun aku enggak tahu surat kaleng ini dari siapa tapi aku akan tetap menyimpannya sebagai kenang - kenangan. Kekanak - kenakan bukan? He he he". Ia tersipu menjawabnya.


" Jadi dia sampai sekarang enggak tahu kalau surat itu dari aku?". Egga bertanya dalam hatinya sembari tersenyum melihat Ratna yang begitu polos.


Flash back...


#Sosok pendiam yang membuatku sangat penasaran padanya.


Tak pernah ku berhenti memperhatikannya.


Engkau sosok yang berbeda dari yang lainnya.


Membuatku semakin ingin mendekatinya.


Hai....!


Semoga harimu menyenangkan..!


Kata - kata itu di tuliskan oleh Egga dalam selembar kertas kecil berwarna putih polos untuk teman sekelasnya yang selama ini ia kagumi yakni Ratna. Kemudian ia meletakkan kertas tersebut di atas mejanya sebelum sang pemilik meja masuk ke dalam kelas.


Kini Egga kembali duduk ke semula agar tidak ada yang curiga pada dirinya, lalu bel pun berbunyi dan membuat siswa yang lainnya berlarian masuk ke dalam kelas.


Egga melirik sosok itu muncul di tengah - tengah mereka yang berebut ingin duduk pada kursi masing - masing.


Ratna mengerutkan dahinya ketika ia melihat secarik kertas berukuran 5 cm x 5 cm yang berisi kata - kata tersebut yang sengaja di selipkan di buku catatan miliknya. Sempat ia melirik ke sekitar kelas dan memperhatikan teman sekelasnya satu per satu, namun tidak ada yang mencurigakan sama sekali.


Egga mencuri - curi pandangannya ke arah meja Ratna, ia menahan senyumnya ketika melihatnya sudah menerima kertas tersebut dan ia merasa senang melihat nya tersenyum ketika membaca isi dari kertas tersebut.


Flash on...


Egga kembali terdiam sembari mengingat pada saat ia sekelas dengan Ratna di masa SMA, sempat ia menyunggingkan senyuman nya saat ia mengingat bahwa kejadian masa lalunya sungguh lucu.

__ADS_1


"Kalau di ingat - ingat ternyata lucu juga pada saat itu, kalau di pikir - pikir juga ternyata cintaku tidak bertepuk sebelah tangan he he he, cuma aku nya saja yang enggak berani mengungkapkan identitas pengirim surat itu tapi kalau tidak seperti itu mungkin takdir akan berbeda lagi. Haaah benar - benar lucu hidup ini he he he". Egga tertawa sendiri di dalam kamar nya lalu memandangi fotonya bersama Tari.


__ADS_2