
Suasana rumah sakit terlihat riuh. Eggy yang baru tiba pun langsung di sibukan dengan keriuhan tersebut, dimana tiba - tiba ada kejadian kecelakaan beruntun yang tragis pas di persimpangan yang tak jauh dari rumah sakit nya. Semua para korban langsung di larikan ke rumah sakit nya. Kecelakaan itu benar - benar tragis, itu memakan korban yang cukup banyak dan luka parah bahkan ada beberapa korban yang tewas.
Eggy begitu sibuk mondar - mandir memeriksa kondisi korban secara bergantian.
" Coba cek pasien yang itu".
" Cepat ambilkan gunting".
" Pasien yang itu belum di bersihin luka nya, cepat bersihkan nanti infeksi".
" Siapkan ruang operasi dan minta keluarga nya menandatangani berkas - berkas nya, pasien ini tidak bisa menunggu lama lagi, harus segera di operasi".
Eggy dan dokter lain nya benar - benar hampir kualahan di ruang UGD. Dari pagi hingga siang hari mereka masih menangani pasien - pasien itu secara bergantian. Mereka pun sampai tidak bisa menyisipkan waktu nya untuk makan siang. Prinsip mereka pantang makan sebelum pasien di tangani dengan benar.
Mereka yang memiliki profesi para medis, author acungi semua jari - jari author untuk mereka. Tanpa kenal lelah mereka berjuang keras untuk keselamatan pasien yang tidak mereka kenal. Mereka enggak pernah takut pasien seperti apa dan memiliki penyakit apa yang mereka hadapi, yang mereka tahu hanya demi keselamatan sang pasien.
Untuk para medis Terimakasih.
.
.
#Mommy... Daddy nelpon. Mommy... Daddy nelpon.
Almira mengambil ponselnya yang ada di atas meja ketika ia mendengar suara nada dering khusus untuk Eggy. Ia langsung menjawab panggilan itu.
Eggy# "Assalamualaikum Ist ku".
Almira# " Waalaikumussalam Suam".
Eggy# /"Masih ngambek enggak nih sama Suam nya? He he he".
Almira# "Enggak usah mulai ya Suam".
Sebelum nya Eggy sudah membuat Almira ngambek, pasal nya karena pagi - pagi tetangga sebelah sudah ramah pada Eggy dan Eggy terpaksa menanggapinya sebab ia menghormati wanita yang sudah menjadi janda itu. Memang tetangga nya itu sudah lama keganjenan sama Eggy sejak mereka pindah. Dulu nya Almira biasa saja menanggapi tingkah tetangga nya itu. Tapi, sejak ia hamil kedua ini, Almira berubah menjadi super duper cemburuan, bahkan rasa nya ia ingin sekali menerkam tuh tetangga ganjen.
Eggy# " Ehe he he iya iya Suam enggak mulai lagi. Lagian, enggak kayak biasa nya cemburu sama Kak Devi, biasanya enggak peduli kalau Kak Devi negur Suam pakek genit he he he".
Almira# "Awas saja kalau Suam juga ikut - ikutan genit". Almira merapatkan gigi nya.
Eggy# " Ha ha ha, enggak lah. Suam kan genit nya cuma sama Ist seorang hi hi hi. Oh ya maaf ya Suam baru ngasi kabar ke Ist, karena baru sempat megang hp Suam nya".
Almira/ "Iya, enggak apa - apa kok sayang. Suam sudah makan malam?".
Eggy/ "Belum sayang, ini saja Suam baru bisa lengah sedikit maka nya Suam langsung nelpon Ist, Ist dan Ghifari sudah makan?".
Almira/ " Kami sudah makan kok, Suam enggak boleh gitu lah, sibuk boleh tapi jangan lupa makan, harus di sempatkan Suam, walau cuma sesuap. Masa dokter melanggar nasihat nya sendiri (maksud nya hidup sehat)".
Eggy/ "Iya Ist, tadi beneran enggak bisa di tinggalin untuk makan karena banyak kali pasien nya di sini soal nya tadi pagi ada kecelakaan beruntun di simpang itu".
Almira# " Innalillahi. Kecelakaan sama apa Suam? Terus gimana korban - korban nya?".
Eggy# "Awal mula nya dari motor truck, truck nya kencang kali abis itu hilang kendali terus nambrak trotoar dan 3 orang penyebrang jalan, rupa nya ada pula lagi 2 orang yang naik kereta dan 1 mobil taxi online di belakang nya, mereka enggak bisa ngelak, jadi lah mereka juga nabrak kayak magnet. Yang kasihan nya yang sama penyeberang sayang, 3 - 3 nya mati kontan di tempat, kalau yang lain luka parah terus supir truck nya kaki nya mesti di amputasi karena sudah hancur terjepit".
Almira# "Ya ALLAH seram nya. Ya ALLAH merinding Ist jadi nya ini Suam. Brrrrrrrr Shh. Dari situ Suam juga harus hati - hati ya sayang, seburu - buru apa pun, jangan lah kita pakai ngebut - ngebut, ngeri kali yang nama nya kecelakaan itu. Bukan kita saja yang rugi tapi orang lain juga. Memang qadarallah tapi kan kita harus hati - hati".
Eggy# "Iya Ist. Suam pasti hati - hati kok. Mudah - mudahan kita selalu di lindungi oleh ALLAH dari mara bahaya apa pun, Aamiin".
Almira/ "Aamiin ya ALLAH. Ya sudah lah, selagi ini ada waktu, Suam makan lah. Makanan ada enggak di sana? Apa perlu Ist ke rumah sakit bawain makanan untuk Suam?".
Eggy# "Enggak usah Ist, tadi Suam sudah nyuruh orang OB nya belikan makanan untuk Suam".
Almira# " Hmm, beli apa rupa nya Suam?".
Eggy# "Beli sate he he he".
Almira# " Issss tuh kan, sudah ketebak sama Ist nya, Suam beli makanan apa, bukan nya beli nasi malah beli sate hufft". Ia mengomelin Eggy.
Eggy# / "He he he, Suam enggak selera sayang kalau beli nasi malam - malam gini".
Almira# "Maka nya biar Ist antar saja makanan nya ke sana ya?".
Eggy# " Enggak usah sayang, ini sudah tengah malam, apa pulak malam - malam gini Ist ke sini, di tambah ini lagi banyak kali pasien dengan berbagai penyakit nya".
Almira# "Suam ngelarang Ist karena banyak penyakit atau karena lagi banyak cewek cantik di situ?".
Eggy# " Laaah mulai lagi nih nampak nya, kok jadi lari ke situ sih Ist?".
Almira# "Ahh entah lah, Assalamualaikum". Almira memutuskan panggilan nya secara sepihak. Ia membuat Eggy merasa bingung, kenapa tiba - tiba Almira menjadi curiga dengan nya seharian ini.
#Triiiing...
Pesan dari Eggy# " Sayang kok di matiin sih telpon nya? Beneran lho, di sini lagi banyak pasien nya, kan tadi Suam sudah cerita sama Ist soal kecelakaan tadi pagi , kenapa Ist tiba - tiba jadi curigaan sih sama Suam, enggak kayak biasa nya lho ðŸ˜. Oh ya malam ini Suam enggak bisa tidur bareng sama kalian, soal nya Dokter yang lain nya pun pada sibuk, maka nya Suam yang ngehandle di UGD. Tapi kalau Suam memang sudah selesai, Suam pasti langsung pulang kok, Suam enggak jadi tidur di sini".
Almira tidak memjawab pesan itu, ia hanya membaca nya saja. Entah kenapa rasa curiga dan kesal terhadap Eggy pun muncul tiba - tiba.
Eggy# "Sayang...". " Ist...". "Kok di baca saja sih sayang?". Namun masih centang dua berwarna biru.
Eggy mengusap wajah nya sembari melihat wa nya tidak berbalas.
" Kenapa laaah binik ku hari ini cemburuan nya kebangetan kali? Huft".
.
__ADS_1
.
Keesokan nya, ternyata Eggy masih di rumah sakit, ia tidak bisa pulang karena masih sibuk di UGD, ia masih stand by di station nya. Eggy meregangkan semua otot - otot pada tubuh nya yang terasa pegal.
" Dok, keluarga pasien yang tewas dalam kecelakaan meminta surat hasil autopsy beserta tanda tangan dokter, karena mereka ingin secepatnya mengklime asuransi jiwa mereka agar mereka bisa membayar administrasi rumah sakit karena mereka tidak sanggup membayar administrasi rumah sakit di luar asuransi itu". Tiba - tiba asisten nya menghampiri diri nya lalu menyerahkan surat tersebut yang harus Eggy tanda tangani.
"Coba tanya sama keluarga pasien, itu asuransi mandiri atau dari perusahaan nya?". Eggy mengambil berkas itu dan mengecheck kembali.
" Kata nya, itu asuransi dari perusahaan nya, kalau tidak secepatnya di urus, perusahaan nya tidak akan mengklime asuransi korban". Ia sudah mempertanyakan nya sebelumnya kepada pihak keluarga yang bersangkutan.
Eggy mengenduskan nafas nya, ia faham betul trik - trik perusahaan, mereka tidak akan pernah rela mengeluarkan hak pegawai nya dengan begitu mudah, bahkan mereka tega mempersulit pegawai nya dan tidak membayar mereka.
Eggy menandatangani surat - surat itu setelah ia membaca nya ulang dan menyerahkan nya kembali pada asisten nya.
"Bilang sama pihak administrasi, untuk korban kecelakaan yang tewas kemarin jangan memungut biaya sepeser pun sama pihak keluarga mereka. Cukup minta tanda tangan mereka saja. Ngerti?". Perintah nya.
Sang asisten sempat tercengak, lalu ia mengangguk.
" I... Iya.. Baik dok. Saya permisi dulu".
" Oh ya, tunggu dulu. Coba kamu check jadwal dokter hari ini, siapa yang bertugas. Terus kamu pinta sama perawat di station data - data hasil pemeriksaan kemarin, terus suruh mereka kasih ke dokter yang bertugas hari ini, soal nya saya mau pulang karena saya mau ngantar abang saya ke bandara. Dan kalau sudah siap, kamu sudah boleh pulang, kamu hari ini istirahat saja enggak usah balik lagi ke rumah sakit sampai besok karena dari kemarin kamu belum ada istirahat". Eggy memang benar - benar dokter yang pengertian, biar sedikit galak tapi tidak membuat nya acuh pada pegawainya.
"Ba... Baik dok. Terimakasih dok". Asisten nya jadi baper karena pengertian serta perhatian Eggy kepada nya.
Eggy pergi meninggalkan rumah sakit dan memberikan jejak pada tubuh Eggy, yaitu bau berbagai macam obat dan lain nya. Ia tidak langsung pulang ke rumah nya, melainkan ke rumah orang tua nya, sebab mereka sudah berkumpul di sana termasuk anak dan istri nya yang sudah di jemput oleh Egga dan Tari.
"Assalamualaikum". Eggy mengucapkan salam kepada keluarga nya yang sudah siap - siap menunggu nya di depan pintu gerbang.
Mereka pun menoleh sembari menjawab salam nya.
" Waalaikumussalam".
"Lama kali kau Gy, sudah hampir kering kami nungguin kau". Egga menepuk bahu Eggy.
" Hmm ya maaf nama nya juga orang sibuk, sudah cepat lah bawa barang - barang nya ke dalam bagasi mobil aku".
"Ya elah, dia yang telat dia pulak yang sewot". Egga menjitaki kepala Eggy, lalu mengangkat koper - koper mereka ke mobil Eggy.
Eggy menghampiri kedua orang tua nya lalu mencium tangan kedua nya.
"Ma.. Pa..".
Eggy melirik Almira yang masih merajuk pada diri nya, lalu menghampiri Ghifari.
" Kamu dari rumah sakit langsung ke sini Gy? Bau obat badan kamu, hufft". Bu Hanna mencium aroma obat pada tubuh Eggy.
"Iya Ma, soal nya enggak sempat lagi mau pulang. Tapi bang Egga sudah nelponi terus. Maka nya Eggy langsung ke sini". Eggy pun membuka jaket dokter nya.
" Aduuh paling enggak nya kamu ganti dulu baju kamu, enggak tahan kali nyium aroma nya. Mama ngerasa kamu bawa rumah sakit nya kemana - mana. Lagian enggak kasihan apa sama anak dan istri kamu nyium aroma nya". Bu Hanna menutup hidung nya sedang kan yang lain tertawa kecil kecuali Almira yang sebenarnya juga menahan mencium aroma tubuh Eggy yang menyengat.
" Kalau bisa mandi sekalian, biar kami tunggu". Egga meneriakin Eggy yang sudah berlari masuk ke dalam rumah.
"Iyaaaa". Sahut nya.
Tak butuh waktu yang lama Eggy pun keluar dari rumah dengan penampilan yang lebih fresh dari sebelum nya. Eggy mendekati anak dan istri nya, sesekali ia melirik Almira yang tampak cuek.
" Jadi Mama dan Papa enggak ikutan ngantar mereka nih?". Eggy bertanya kepada orang tua nya.
"Enggak Gy, Mama lagi kurang sehat kaki nya, payah kalau banyak jalan". Yang menjawab Pak Wijaya.
Eggy melihat kaki sang Mama yang sudah tak kokoh lagi sejak beliau mengalami struck ringan beberapa tahun yang lalu.
" Hmm ya sudah mama istirahat saja. Jangan lasak - lasak lagi. Kalau bisa jangan ikut Papa lagi kalau Papa keluar kota".
"Gy... Gy... Kau pun lucu, mana mau Mama di pisahkan sama Papa walau pun karena kerjaan. Sudah jelas lah mama bakalan ikut terus kemana pun papa pergi. Memang nya kau saja yang mau nempel terus sama Almira ha ha ha". Egga malah meledek Eggy.
Yang lain tertawa kecil.
" Bukan gitu bang, masalah nya beda. Mama tuh harus nya sudah enggak boleh lagi lasak kemana - mana. Mama itu mesti banyak istirahat dan rutin ikut therapy".
"Sudah... Sudah... Kalian cepat berangkat sana, entar ketinggalan pesawat lho". Bu Hanna langsung mengalihkan mereka.
" Ya sudah Ma Pa, kami berangkat ya. In Sya ALLAH secepat nya kami balik lagi ke sini". Egga pun pamit pada orang tua nya dan Tari menyusul dirinya.
"Iya, kalian hati - hati ya. Kalau sudah sampai di Jakarta, kalian langsung telpon ke sini".
" Iya Ma, In Sya ALLAH".
"Ma Pa kami juga pamit, sekalian kami juga pamit langsung pulang setelah ngantar mereka". Eggy menciumi tangan kedua orang tua nya, begitu pun juga dengan Almira dan Ghifari.
" Lho, kalian enggak singgah lagi ke rumah?". Pak wijaya menepuk pelan lengan Eggy.
"Enggak Pa, soal nya Eggy mau istirahat, dari kemarin Eggy belum ada tidur. Nanti hari minggu In Sya ALLAH kami ke sini he he he". Wajah Eggy memang terlihat lusuh dan kurang tidur.
" Ya sudah, kalian hati - hati di jalan ya. Jangan ngebut - ngebut kamu Gy bawa mobil nya".
"Iya Ma. Kami berangkat, Assalamualaikum".
" Waalaikumussalam".
Mereka pun berlalu meninggalkan Pak Wijaya dan Bu Hanna di kediaman nya. Setelah mengantar Egga dan Tari ke bandara, Eggy, Almira dan Ghifari pun kembali ke rumah mereka.
Sejak dari rumah orang tua nya hingga sampai saat di rumah pun Almira masih mendiamin Eggy, tapi tidak membuat Almira lupa dengan kewajiban nya, ia masih tetap mengambil pakaian ganti untuk Eggy selepas ia mandi dan menyiapkan makan siang mereka lalu makan bersama dengan suasana yang hening.
__ADS_1
Setelah makan siang, Eggy menemani Ghifari bermain di halaman belakang rumah nya, tapi Almira tidak mau ikut bermain dengan mereka, ia lebih memilih nonton tv di ruang tv dan masih tetap cuek pada Eggy.
Eggy menaikan alis mata nya sebelah, ia berpikir mencari cara bagaimana cara nya membuat istri nya itu berhenti merajuk pada nya. Ia membisikkan sesuatu pada anak nya dan Ghifari pun menyetujui rencana Daddy nya.
" Aduuuuuuuuuh". Eggy berteriak keras, merintih kesakitan sembari memegang kaki nya dan sesekali melirik ke dalam rumah.
"Daddy...... ". Ghifari pun ikut menjerit dan memainkan akting mereka. Sebenarnya Almira mendengar teriakan tersebut tapi Almira masih tidak peduli dan beranggapan mereka sedang bermain.
" Ghifari, kamu lari ke dalam, bilang ke mommy kalau kaki Daddy berdarah, terus kamu bilang nya pakek nangis. Cepatan". Eggy membisikkan nya ke telinga Ghifari.
"Tapi Ghifari enggak bisa nangis lah Daddy". Ghifari jadi bingung.
Eggy menepuk jidat nya.
" Ya sudah, kamu pura - pura saja. Kalau enggak Ghifari pura - pura terkejut atau takut saja. Cepat masuk, bilang ke Mommy. Tapi jangan sampai ketahuan rencana kita".
"Iya Daddy. Huuuh... Mommy..........". Ghifari mulai, ia berteriak dengan kencang sambil berlari masuk ke dalam rumah menghampiri Almira.
" Mommy.... Mommy..... Daddy, Mommy, Daddy....". Ghifari memasang wajah kepanikan agar Almira yakin dan percaya pada rencana mereka.
"Kenapa Daddy kamu?". Almira masih bertanya dengan acuh.
" Kaki Daddy berdarah Mommy, banyak kali darah nya. Tadi Daddy terpeleset terus kaki Daddy tertusuk besi bekas kandang snow. Cepat mommy...". Ghifari menarik tangan Almira.
Mata Almira terbelalak dan sudah masuk ke dalam rencana mereka berdua. Ia ingat kalau bekas kandang snow sudah rusak dan berkarat.
"Ya ALLAH. Ada - ada saja lah, main kok bisa sampai terpeleset. Enggak mau hati - hati". Kepanikan sudah merambat pada diri Almira, meski begitu ia masih tetap bisa ngedumel.
Mereka berlari menghampiri Eggy. Eggy pun sudah berakting kesakitan sambil memegang kaki nya yang sudah berlumuran darah palsu yang sudah ia tuangkan ke kaki nya sebelumnya.
" Aduuuuuh Ya ALLAH... Sakit kali Ya ALLAH, Astaghfirullah". Teriak nya.
"Kenapa bisa terpeleset? Main kok enggak hati - hati?". Almira memarahi Eggy sembari melihat kaki nya. Sebenarnya ia tidak tega melihat Eggy merintih kesakitan dan enggak kuat menahan air mata nya.
" Sudah di bilangin kalau main tuh hati - hati". Ia masih mendumel tapi kali ini air mata nya mengalir melihat kaki Eggy lalu meletakkan kaki nya di atas paha Almira agar memudahkan nya untuk mengobati kaki Eggy.
Eggy sedikit merasa bersalah karena rencana tipuan nya membuat Almira jadi nangis sedih. Eggy dan Ghifari saling pandang - pandangan. Mereka kasihan melihat Almira yang sedih. Sempat Ghifari mengguit tangan Eggy, ia memberi isyarat untuk menyudahi akting mereka. Eggy pun mengangguk pelan dan ingin mengakui nya, tapi...
Almira mengerutkan dahi nya dan berhenti menangis. Ia heran darah sebanyak itu tapi kenapa sama sekali tidak ada luka di kaki Eggy di saat ia membersihkan nya. Akhirnya Almira sadar bahwa ia sudah di kerjain sama anak dan suami nya. Almira melirik kedua nya dengan sinis dan kedua nya tersenyum getir karena sudah ketahuan duluan sebelum mereka mengakuinya.
Almira melipat kedua tangan nya sambil memandangi kedua nya secara bergilir dengan mata tajam nya.
"Ghifari sudah pandai ya ngebohongi Mommy kayak gini?". Ia memandangi Ghifari, Ghifari pun tertunduk.
" Maaf Mommy, kata Daddy, Mommy satu harian ini ngediamin Daddy terus. Maka nya Daddy dan Ghifari buat rencana ini, biar Mommy enggak merajuk lagi sama Daddy". Jawab nya dengan jujur.
Almira melirik Eggy yang juga tertunduk. Sebenarnya Almira faham maksud Eggy, tapi apa boleh buat, rasa kesal sudah di ujung kepala. Almira menarik nafas nya dalam - dalam lalu menghelakan nya. Almira mengusap kepala Ghifari dengan lembut.
"Ghifari enggak boleh kayak gitu lagi ya? Perbuatan seperti itu tidak baik, karena bisa membuat orang lain di rugikan atau yang lebih parah nya lagi bisa ngebuat orang lain dalam bahaya. Memang Ghifari mau Mommy jadi sakit jantung karena panik kayak tadi?". Almira melirik Eggy, ia bermaksud sekalian menyindir Eggy.
Sedangkan Eggy masih terdiam kikuk dan sesekali melirik Almira.
"Iya Mommy. Ghifari janji enggak bakal kayak gitu lagi. Tapi Mommy janji, Mommy enggak merajuk lagi ya sama Daddy". Ghifari meraih tangan Almira dan tangan Eggy, lalu ia menyatukan tangan kedua nya. Mereka sempat beradu mata, lalu beralih melihat Ghifari.
" Iya sayang, Mommy enggak merajuk lagi kok sama Daddy. Sekarang Ghifari cuci tangan, cuci kaki dan cuci muka sana. Abis itu tidur siang. Okay?". Almira tersenyum.
"Okey Mommy. Sudah Daddy minta maaf sana sama Mommy".
Eggy mengangguk sambil mengedipkan mata nya. Ghifari pun masuk ke dalam kamar nya untuk tidur siang. Sedangkan mereka berdua masih berdiam.
" Ist... Suam minta maaf ya, sudah ngerjain Ist sampai nangis". Eggy mulai membuka suara. Almira hanya melirik sinis.
"Ist... Jangan lah diamin Suam kayak gini. Suam paling enggak bisa kalau Ist marajuk kayak gini. Ist.....". Eggy merengek.
Almira menatap nya dan spontan memukuli badan Eggy.
" Enggak tahu apa orang panik nya bukan main. Rasa nya mau copot jantung nya ngeliat kaki Suam sudah berdarah separah itu, enggak tahu nya cuma ecek - ecek saja. Ngajarin anak nya berbohong lagi. Enggak mikir apa orang khawatir, bisa - bisa kena sakit jantung istri nya. Enggak tahu apa sangkin panik nya istri nya hampir terpeleset ngejarin Suam, kalau Ist benar - benar jatuh gimana?". Almira meluapkan emosi nya sambil menangis.
Eggy semakin merasa bersalah dan memeluk tubuh Almira dengan erat.
"Maafin Suam ya sayang. Suam enggak ada maksud kayak gitu. Maaf ya Sayang". Ucapnya sambil membelai rambut Almira, dan tangisan Almira pun semakin pecah.
Malam nya suasana sudah tidak seperti tadi siang, walau pun masih sedikit kesal. Almira kembali dari kamar anak nya setelah anak nya tertidur. Ia melihat Eggy sudah terlelap tanpa mengucapkan sepatah kata pun bahkan ia tidak sempat meminum air jahe hangat yang sudah Almira siapkan untuk nya. Ia benar - benar merasa lelah.
Almira melihat wajah lelah yang terlelap namun masih terlihat tampan yang di miliki oleh Eggy. Almira mendekat tanpa suara.
"Dasar, ngeselin". Almira merapatkan gigi nya memandangi wajah Eggy lalu tertawa kecil.
Tiba - tiba Eggy menarik tangan Almira sehingga membuat Almira terkejut dan jatuh menimpa tubuh nya.
" Ngeselin kayak gini tapi ngangenin kan". Eggy menyambung ucapan Almira.
"Kira' in sudah tidur. Ternyata pura - pura tidur". Almira memukul dada Eggy.
Mata Eggy masih terpejam, ia merasakan detak jantung dan nafas Almira seperti menyatu pada diri nya.
" Tadi sudah tidur. Tapi karena Ist bising kali, jadi terbangun Suam nya". Eggy mempererat lingkar tangan nya pada tubuh Almira.
"Hufft... Benar - benar ngeselin kali ya Suam ini, Suam mau Ist merajuk lagi?". Ancam nya.
Secepat kilat Eggy mencium Almira. "Jangan". Ia memejamkan mata nya kembali.
"Maka nya jangan ngeselin".
__ADS_1
Eggy mencium nya lagi. " Ok". Dan kali ini ia benar - benar memejamkan mata nya alias benar - benar tertidur kembali.
Almira tertawa kecil melihat tingkah Eggy yang hampir sama ngegemesin nya seperti Ghifari. Almira menyandarkan kepala nya ke dada Eggy lalu memejamkan mata nya.