Keikhlasan Hati

Keikhlasan Hati
Chapter 22 #S3


__ADS_3

Flash back...


Suara dari alat - alat medis terdengar nyaring di telinga orang - orang yang berada di dalam ruangan. Di ruangan itu terdapat sosok Tari yang berbaring lemah di atas tempat tidur pasien yang di temani oleh Egga di sisi nya. Tari meminta Egga untuk berbaring di samping nya dan Egga pun menuruti nya.


Tari membelai rambut Egga dengan lembut.


"Beib... Kamu mau enggak berjanji sama aku?". Dengan lemah nya ia berkata - kata.


" Janji apa?".


"Janji dulu".


Egga memiringkan badan nya sehingga ia bisa melihat wajah Tari. Ia menatap wajah pucat dan tak berdaya itu. Egga menarik nafas nya lalu mengangguk pelan.


"Iya, aku mau, aku janji bakal nurutin apa kata kamu".


Tari menyunggingkan senyuman nya memandangi wajah Egga. Perlahan Tari meraih tangan Egga lalu meletakkan nya ke wajah nya yang terasa sedikit dingin.


"Karena kamu sudah janji sama aku, jadi kamu harus nepati janji itu ke aku".


Egga mengangguk pelan sembari mengedipkan mata nya. Ia mengelus wajah itu dengan mata yang berkaca - kaca.


" Iya Beib, aku janji bakal nepati nya ke kamu".


"Nanti setelah aku di panggil sama ALLAH...".


Egga langsung menutup mulut Tari sehingga terputus lah ucapan Tari. Egga menggelengkan kepala nya.


" Sstt ssst... Kamu enggak boleh ngomong kayak gitu Beib. Kamu pasti bisa sembuh. Kamu masih punya banyak waktu".


Tari tersenyum, lalu menurunkan tangan Egga dari mulut nya.


"He he he, aku kan belum siap ngomong, kenapa di potong? Lagian kamu kan sudah janji sama aku, jadi kamu harus dengari aku dulu".


Mata Egga terasa panas, telinga nya seperti tidak ingin mendengar ucapan Tari selanjut nya, tapi karena ia sudah berjanji maka terpaksa ia harus mendengar kan sesuatu yang pahit bagi nya. Tanpa kata Egga pun mengangguk, kali ini air mata menetes seketika.


Tari tersenyum.

__ADS_1


"Aku boleh lanjutin lagi beib?". Egga hanya mengangguk.


" Hmmmpt... Nanti kalau aku sudah enggak ada, kamu harus janji sama aku, kalau kamu enggak akan sedih - sedih, kamu harus tetap bahagia melanjut kan hidup kamu meski tanpa aku, kamu juga harus mencari dan ngedapati pasangan hidup kamu lagi yang jauh lebih baik dari aku, yang bisa memberikan keturunan untuk kamu, yang bisa memberi kan cucu untuk Mama Papa dan Ayah he he he. Pokok nya kamu harus mewujud kan impian kita bersama meski kamu mewujudkan nya bukan bersama aku. Kamu harus janji ya beib?".


Air mata Egga tak terbendung lagi, mereka mengalir ke pipi. Hati Egga terasa sesak, memandang wajah Tari serta mendengar permintaan Tari. Egga langsung memeluk Tari sembari menangis tersedu - sedu. Ingin sekali rasa nya membagi penyakit itu ke tubuh nya agar ia juga merasa kan apa yang di rasakan oleh Tari.


"Jujur aku enggak mau buat janji seperti ini Beib. Aku enggak mau. Aku enggak sanggup kalau aku harus kehilangan kamu, aku enggak bisa tanpa kamu beib. Aku yakin kamu pasti bisa sembuh. Kamu pasti sembuh". Lirih nya.


" Kamu harus bisa beib, kamu pasti bisa. Tolong.. Ikhlas kan aku".


Air mata Tari pun juga mengalir membasahi pundak Egga, sebenar nya dia lah orang yang paling sedih di sini, dimana dia yang merasa kan dahsyat nya rasa sakit yang ia derita, dan yang paling menyakit kan bagi nya ialah ia harus meninggalkan duka yang begitu dalam untuk lelaki yang paling ia cintai. Meski ia merasa tak sanggup namun ia harus menerima kehendak Sang Maha Pencipta.


.


.


Flash on...


Egga menarik nafas nya yang dalam lalu menghelakan nya dengan relax. Ia mengusap foto nya bersama dengan Tari di saat mereka jalan - jalan ke Singapore.


"Aku janji beib akan mewujud kan impian kita. Tapi mungkin, itu akan membutuh kan waktu yang lama. Aku juga enggak tahu sampai kapan. Aku berharap kamu lah jodoh ku nanti nya di akhirat".


Egga tersenyum menatap mereka, yakni keluarga dari pihak Tari, keluarga pihak dari nya tak terkecuali dengan Almira serta para asisten rumah tangga nya.


"Terimakasi ya semua nya sudah mau ngebantuin Tari he he he".


" Ngapain kamu bilang terimakasi ke kami, lagian ini sudah kewajiban kami kok ngelakuin ini". Tante dari pihak keluarga Tari menjawab nya.


Egga tersenyum, kemudian ia pamit untuk keluar ke teras belakang rumah nya. Mereka menatap langkah kaki nya yang terasa sedikit melayang alias tidak semangat. Almira pun bangkit dari duduk nya menuju ke dapur, ia berinisiatif ingin membuatkan air jahe hangat untuk Egga agar dia segar kembali.


Almira menghampiri Egga dengan membawa kan segelas air jahe yang ia buat kan sebelum nya.


"Bang...". Ia mengaget kan Egga yang tengah duduk melamun sendirian di teras.


" Ehh.. Ra". Ia pun menoleh.


Almira menyodor kan air jahe hangat tersebut pada nya.

__ADS_1


"Ini Ra buat kan air jahe hangat untuk abang, biar abang agak segeran, biar enggak lemas kayak gini he he he".


Egga menyambut nya sembari tersenyum.


" Terimakasi banyak ya Ra, nanti pasti abang minum kok". Ia meletak kan minuman itu di atas batu yang sudah di design seperti meja tepat di depan nya.


"Hmm ya sudah, Ra masuk ke dalam lagi ya bang?".


" Ra tunggu". Ia menghentikan langkah kaki Almira.


"Kamu bisa temani abang duduk di sini?".


" Huh? Bi.. Bisa bang". Almira pun duduk berjarak satu meter di samping nya.


"Ghifari enggak ikut ke sini?". Egga melirik Almira yang terasa sedikit canggung.


"Enggak bang, dia sekolah. Tapi nanti habis sekolah dia langsung ke sini kok, nanti Suam eh maksud nya Eggy yang ngejemput Ghifari".


" Hmmpt... Eggy masih sering susah ngebagi waktu nya ya untuk kalian?".


"Mmm... Enggak sih bang, sudah berkurang, dia sekarang lebih banyak nuruti apa kata Ra, kalau Ra bilang enggak usah ke rumah sakit, dia enggak pergi, kalau Ra bilang pulang nya cepat, dia pulang cepat tapi kalau lagi ada darurat di rumah sakit baru Ra nya sendiri yang harus ngertiin Eggy he he he. Tapi sejak Ra hamil kedua ini, kadang Ra suka enggak ngertiin dia sih he he he enggak tahu entah kenapa bawaan nya kayak gini he he he".


"Biasa itu kalau lagi hamil memang kayak gitu he he he. Oh ya teringat abang sudah berapa bulan kehamilan kamu Ra?". Egga melirik ke arah perut Almira yang belum terlalu membuncit.


"Alhamdulillah sudah 16 minggu bang".


" Uhmm... Sudah tahu jenis kelamin nya apa?".


"Belum sih bang, soal nya Eggy enggak mau tahu dulu jenis kelamin nya apa, padahal dokter Ratna sudah mau ngasi tahu apa jenis kelamin nya, Eggy bilang anak yang kedua kali ini harus ngasi surprise he he he".


" Memang lah itu anak ha ha ha. Jadi Dokter kamu Dokter Ratna?". Egga terkekeh karena tingkah adik nya.


"Iya bang, kan dari dulu waktu hamil Ghifari kan memang sama Dokter Ratna juga, cuma waktu itu Dokter Ratna masih jadi Dokter baru tapi kerjaan nya enggak di ragu kan lagi he he he, maka nya Dokter Ratna sekarang yang paling di percaya di rumah sakit".


" Hmm... Iya Dokter Ratna enggak jauh beda dari Tari. Mereka sama - sama yang terbaik dalam bidang nya. Enggak salah mereka bisa jadi bersahabat, mereka sama - sama memiliki sifat yang cerdas dan sama - sama mengutamakan keselamatan orang lain".


Almira melihat wajah Egga.

__ADS_1


"Berarti abang kenal dekat lah ya sama Dokter Ratna?".


"Kenal dekat sih enggak. Selain karena Tari dan Ratna bersahabat, dulu waktu SMA abang sekelas dengan Ratna, walau pun enggak akrab. Maka nya abang agak terkejut juga waktu tahu ternyata orang itu bersahabat he he he. Abang ngerasa kayak sempit kali dunia ini he he he". Egga tertawa kecil. Almira hanya tersenyum.


__ADS_2