Keikhlasan Hati

Keikhlasan Hati
Chapter 28 #S2


__ADS_3

"Saya terima nikah nya Aira Syarif binti Muhammad Syarif dengan mas kawin tersebut di bayar tunai". Terdengar suara lantang milik suara Ryan yang sedang mengucapkan ijab qabul di depan Pak Syarif dan Pak penghulu, di sertai para saksi dan para tamu.


"Sah??". Pak penghulu bertanya oada saksi.


"Sah . . .". Seru mereka dengan semangat.


"Alhamdulillah . . .". Terucap secara serentak.


.


.


Flash back . . .


Setelah berpikir keras pada akhir jya Ryan mendapati keputusan yang terbaik untuk diri nya dan Aira. Ryan mendatangi ke kediaman Pak Syarif, bukan bermaksud untuk wakuncar (waktu kunjung pacar he he he), melainkan untuk meminta restu kepada Pak Syarif dan Buk Imah untuk melamar Aira anak sulung mereka.


Semua orang berkumpul duduk di ruang tamu, tak terkecuali Almira yang duduk bersebelahan dengan Buk Imah. Aira sama sekali tidak mengetahui maksud dari kedatangan Ryan kali ini, sebab Ryan tidak memberitahu nya sebelum nya.


Ryan yang sudah terlihat gugup dan panas dingin, ia menarik nafas nya agar bisa relax.


Minuman serta cemilan sudah tersaji di atas meja, mereka hanya tinggal menunggu Ryan berbicara.


"Om, Buk . . . Maksud kedatangan Ryan kali ini, bermaksud untuk memberitahu pada kalian tentang hubungan Ryan dan Aira mau di bawa kemana".


Keluarga Syarif penuh tanda tanya dan mendengarkan Ryan dengan serius.


Ryan merogohkan kantong jaket nya yang sebelah kanan dan mengeluarkan sesuatu.


"Ryan ingin melamar Aira". Ryan pun menyodor kan ke arah mereka sebuah box kecil berisi cincin mas london yang berat nya kira - kira sekitar 10 gram.


Air mata Aira tumpah seketika, mereka menetes ke pipi nya. Bukan karena dia merasa sedih, bukan. Melainkan dia menangis karena bahagia.


"Kalau om tergantung Aira nya saja. Gimana Aira?". Pak Syarif melirik Aira yang sedang mengusap air mata nya. Aira mengangguk pelan dengan tersipu malu.


.


.


"Alhamdulillah . . . ". Raut wajah mereka terpancar kebahagiaan.


Almira memeluk kakak nya dan sesekali menciumin pipi kanan dan pipi kiri Aira yang merah merona karena blush on nya.


"Barakallah ya kakak ku tercintaaaaa". Tutur nya.


Aira merasa terharu hingga meneteskan air mata nya ke pipi.


"Ummm . . .".


"Jangan nangis kak, entar make up nya luntur, he he he he". Dengan lembut Almira mengelap air mata Aira. Almira melihat wajah kakak nya begitu cantik dengan memakai baju kebaya pengantin berwarna putih serta make up yang menambah tingkat kecantikan nya bak putri kerajaan.

__ADS_1


Sejak acara di mulai hingga siang hari, Almira tak henti nya mondar - mandir ke sana ke mari karena sibuk nya menyambut serta melayani para tamu undangan.


Meski wajah nya terlihat lesu karena rasa lelah yang telah menghinggapi tubuh nya, tapi itu tidak membuat rasa bahagia nya redup. Senyuman masih terukir di bibir nya.


"Ehh . . . Itu anak nya si Syarif yang paling kecil kan?". Seorang wanita paruh baya alias saudara jauh dari Pak Syarif bertanya pada teman nya yang duduk di sebelah nya ketika melihat Almira melewati mereka.


"Iya kayak nya. Tapi kok beda kali ya sekarang?, apa lagi penampilan nya itu lho, kayak orang - orang jalan gajah itu, pakek jilbab besar - besar". Timpal nya.


"Hmm . . . Iya, aku rasa, sudah kawin anak nya itu. Mungkin dapat suami orang jalan gajah maka nya penampilan nya berubah gitu".


"Mungkin lah ku rasa. Tapi kalau dia udah nikah masa iya kita enggak di undang sama si Syarif".


"Hmm iya juga ya, mungkin dia enggak buat acara kali tuh, tau lah orang - orang alim kayak gitu mana mau buat pesta - pesta, paling dia cuma akad nikah aja, maka nya enggak ngundang - ngundang kita".


"Bisa jadi".


2 wanita ini asyik banget membicarakan Almira dari belakang dan berasumsi yang belum tentu benar dengan kenyataan nya.


"Imah . . . ". Salah satu dari mereka memanggil Bu Imah alias orang tua dari Almira dan Aira. Bu Imah pun menoleh serta tersenyum menghampiri mereka.


"Ehh . . . Kak Tuti dan Kak Lia, udah makan kak?". Bu Imah mencium pipi kanan dan pipi kiri mereka secara bergilir.


Lia/ "Udah, kami baru aja siap makan, sangkin sibuk nya ya sampai enggak mau datangi kami he he he".


Bu Imah/ "Ya ALLAH kak, bukan enggak mau ngedatangin, beneran Imah enggak tau kalau kalian udah datang he he he. Sangkin banyak nya tamu kak, tau sendiri lah kakak he he he".


Bu Imah pun menoleh ke arah Almira. /"Oh . . . Iya kak, itu si Almira".


Tuti/ "Udah nikah dia ya?".


Bu Imah/ "Fu fu fu . . Belum kak, masih gadis dia".


Tuti/ "Aku pikir udah kawin dia, soal nya ku tengok penampilan nya berubah drastis gitu, udah kayak orang jalan gajah".


Bu Imah tersenyum getir /"He he he, iya kak. Alhamdulillah dia baru hijrah menjadi yang lebih baik dari sebelum nya kak".


Tuti/ "Ehh . . . Enggak takut apa, entar dia enggak bakalan laku karena penampilan nya kayak gitu. Tau lah di zaman sekarang itu laki - laki nyarik cewek yang normal - normal aja penampilan nya, bahkan penampilan yang lebih terbuka pun mau nya mereka. Yang kayak Almira gitu cewek yang paling mereka takuti. Bilang ke Almira enggak usah lah penampilan nya kayak gitu kali, balik aja kayak penampilan nya yang sebelum nya, kan masih berhijab juga, masih terlihat alim juga. Kalau kayak gitu entar dia enggak laku - laku, lagian dia masih muda, jadi ngapain pakek jilbab panjang kurang panjang kayak gitu, nampak tua dia. Akak aja yang sudah tua, sudah punya cucu malah enggak mau berpenampilan kayak gitu, entar nampak makin tua".


Wajah Bu Imah berubah menjadi tidak senang mendengar orang lain bakal berkata seperti itu tentang anak nya. "Kak . . . Bentar ya kak, Imah ke situ bentar, soal nya tamu dari keluarga Ryan datang, Imah harus menyambut nya, enggak enak kalau enggak du sambut. Imah tinggal dulu ya kak". Tanpa menjawab mereka, Bu Imah beralasan untuk menjauh dari mereka karena tak ingin merusak suasana hati nya di hari bahagia anak sulung nya.


Tuti/ "Hmm . . . Itu dia pasti carik alasan aja, karena enggak mau nanggapi kita". Cibir nya sembari melihat Bu Imah berjalan menuju ke depan untuk menyambut tamu yang baru datang.


Lia/ "Iya tuh, aku rasa gitu juga, soal nya ku tengok, wajah nya berubah pas kau bilang tadi, mungkin dia tersinggung".


Tuti/ "Ya kan aku cakap nya betul, aku cuma mau ngasi tau dan ngingetin dia. Ngapain pulak dia tersinggung sama apa yang aku bilang".


Lia/ "Ya tak tau lah aku kak, orang kan beda - beda hati nya".


"Heemm . . .".

__ADS_1


Pokok nya dua wanita ini merasa omongan nya lah yang paling benar.


Tak lama dua wanita paruh baya tersebut pun pamit untuk pulang dan mengucapkan selamat kepada keluarga Pak Syarif terutama Aira dan Ryan.


"Eh . . . Kau Almira anak si Syarif yang paling kecil kan?". Salah satu wanita tersebut alias Tuti menyapa Almira usai mereka bersalaman pada Aira dan Ryan. Almira pun tersenyum ramah pada kedua wanita tersebut.


"Ehe . . . Iya wak". Almira mencium tangan kedua wanita itu dengan santun.


"Iiih . . . Sudah besar ya kamu, makin cantik lagi". Ujar wanita yang satu nya dan memuji diri Almira.


"He he he makasi wak". Almira tersipu malu.


Tuti/ "Oh ya . . ., kau kok berubah kali penampilan nya?, ikut - ikut kajian mana kau?, hati - hati lho, entar terikut aliran sesat pulak kau".


Lia/ "Iya, betul itu, di zaman sekarang kan udah banyak kali aliran sesat gitu. Kamu apa enggak takut?, terlebih lagi kamu cantik, apa enggak takut entar enggak laku karena penampilan kamu seperti sekarang gini?". Timpal nya.


Tuti/ "Iya . . . Mending penampilan kau kayak dulu aja, lebih cantik uwak lihat kau kayak dulu ketimbang sekarang. Entar payah dapat jodoh nya kau kalau penampilan kau bikin cowok takut kayak gini".


Almira sudah tahu, dia pasti akan mendengarkan cibir - cibiran seperti ini dari orang - orang yang enggak faham. Almira hanya tersenyum mendengarkan mereka dengan seksama. Sedang kan dari kejauhan Bu Imah alias mamak nya melihat bahwa dua wanita nyi - nyir itu sedang mengobrol pada Almira. Dengan cepat Bu Imah menghampiri mereka, sebab beliau tahu apa yang di buat oleh dua wanita tersebut terhadap anak nya.


Lia/ "Iya betul itu Almira".


"Jodoh itu enggak mandang penampilan kak". Bu Imah mengagetkan mereka. Sentak mereka menoleh, terlebih lagi kedua wanita itu spontan kikuk.


"Kalau jodoh memandang penampilan, mungkin Almira yang bakal nikah lebih dulu dari anak - anak Kak Tuti dan Kak Lia. Lagian, Kak Tuti dan Kak Lia enggak perlu pusing - pusing mikirin jodoh Almira atau penampilan nya, karena itu sudah menjadi kewajiban kami yang mengurus nya. Kak Tuti sama Kak Lia tenang aja yang penting kalau jodoh Almira sudah datang, In Sya ALLAH, kami bakal ngundang Kak Tuti dan Kak Lia sekeluarga kok, kami enggak akan lupa ngundang kalian". Dengan lembut serta bijak dan tegas Bu Imah berhasil membuat kedua wanita nyi - nyir tersebut tak bisa berkata - kata lagi. Dengan rasa malu mereka pamit untuk pulang.


Bu Imah merasa puas dan tersenyum kemenangan. Sedang kan Almira tersenyum bangga terhadap Mamak nya itu. Almira memeluk Bu Imah dengan hangat dan penuh kasih sayang. "Makasi banyak mak . . . ". Ujar nya.


#Dia mencoba untuk memperbaiki diri nya.


Dia yang berhijrah dari menutup aurat dengan hijab yang jauh dari kata syar' i dan memulai menutup aurat dengan hijab yang terjulur panjang sesuai syari' at islam.


Dia yang masih merangkak dalam hijrah, dia yang masih mengais ilmu agama, dia yang masih berusaha melawan nafsu dunia, dia yang masih menyeimbangkan akhlak dan hijab nya. Dia . . . Dia . . . Dan dia yang telah berusaha menjalan kan kewajiban nya sebagai wanita muslimah.


Apakah dia begitu salah di mata mu, sampai kau habis - habis 'an menghujat diri nya?.


Apakah sudah tak ada lagi yang lebih berhak untuk kau kritik di banding kan dia yang sudah mencoba untuk memperbaiki diri nya?.


Bahkan kau sampai tega menghujat nya sebagai wanita munafik, Astaghfirullah.


Tolong hargai lah . . .


Jangan memandang kekurangan nya, sebab dia tak akan bisa menjadi sempurna.


Ambil yang baik dari nya. Jangan mencontoh yang tak baik dari nya dan jangan pula menghina diri nya.


Hanya ALLAH yang lebih berhak menilai, ALLAH yang lebih tahu bagaimana usaha nya dalam memperbaiki diri nya.


#(Orang - orang jalan gajah yang di maksud itu orang - orang jamaah tabligh. Maaf saya sebagai author enggak ada bermaksud untuk mencela atau menghina, akan tetapi memang seperti itu lah anggapan orang - orang awam terhadap orang - orang yang seperti Almira. Saya salah satu korban dari mereka, jiaaaah curhat autor nya hi hi hi hi hi hi hi 😊😂).

__ADS_1


__ADS_2