Keikhlasan Hati

Keikhlasan Hati
Chapter 47 #S3


__ADS_3

Di tempat lain, lebih tepatnya di rumah sakit dimana tempat Siboy di rawat.


Egga dan Ratna duduk berdiam diri sembari memandangi Siboy yang sedang tertidur pulas. Egga sempat melirik wajah Ratna yang terlihat murung dan tertunduk.


"Kamu kenapa? Kok murung gitu?" Ia bertanya karena penasaran.


Ratna menoleh sekilas lalu menunduk kembali.


"Aku merasa kesal sama diri aku. Untuk yang kedua kali nya aku tidak bisa menyelamatkan seseorang terlebih lagi orang - orang yang kalian sayangi".


Egga hanya terdiam mendengarkannya dengan seksama.


" Pertama, aku enggak bisa menyelamatkan Tari dan kali ini aku enggak bisa menyelamatkan anaknya Dokter Eggy. Aku kesal sama diri aku". Nada bicara Ratna sedikit berbeda dari sebelumnya, kini terdengar sedikit tersendat karena menahan tangisannya.


Perlahan Egga memegang pundak Ratna dengan hangat.


"Ini semua bukan salah kamu Rat. Ini memang sudah kehendak nya ALLAH, itu sudah memang waktu nya mereka. Kamu tidak boleh menyalahkan diri kamu sendiri". Egga menatap mata Ratna yang juga menatapnya.


Mereka hanyut dalam keheningan sembari menikmati tatapan satu sama lain. Jantung mereka berdegup begitu kencang.


" Ehh... Sorry... He he he". Egga tersadar lalu dengan tersipu ia mengalihkan pandangannya ke arah Siboy yang masih tertidur.


Sedangkan Ratna pun tertunduk malu sembari meletakkan tangannya pada dadanya dengan sembunyi untuk merasakan detak jantungnya yang tidak terkontrol.


Mereka mendadak canggung dan sesekali mereka melirik secara bergantian.


"Oh ya, Siboy sudah menceritakan sama kamu soal apa yang terjadi sama dirinya?". Ratna membuka suara kembali setelah mereka hening sejenak.


" Belum. Lagian aku juga belum mempertanyakannya soal itu. Rencananya nanti akan aku tanyakan setelah ia keluar dari rumah sakit. Kalau aku tanyakan sekarang mungkin akan menimbulkam efek trauma atau dia sama sekali tidak akan menceritakannya sama aku sampai kapan pun. Aku tunggu sampai dia benar - benar tenang". Jawabnya.


"Iya sih. Karena anak seumuran dia pasti rentan dengan rasa trauma. Aku berharap secepatnya ini akan berakhir. Bahkan aku mau nya kita enggak usah memperpanjangnya lagi, maksud aku ya kita biarkan saja itu berlalu, karena itu akan membahayakan Siboy lagi".


" Enggak bisa gitu Rat, karena orang - orang seperti mereka harus kita beri pelajaran. Kalau kita masih tetap diam, kemungkinan mereka akan mengulanginya lagi. Bukan hanya Siboy saja mungkin banyak anak - anak lain mereka celakai demi keuntungan mereka sendiri". Eggy melirik Ratna sembari tersenyum padanya.


Ratna mengangguk pelan.


"Mudah - mudahan kita selalu di lindungi oleh ALLAH dan tidak akan terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan. Aamiin". Harapnya dengan cemas.


" Aamiin".


.


.


#Jantung pun berdetak, saat engkau ada di dekatku.


Mungkinkah diriku telah jatuh cinta pada dirimu.


......


Terdengar suara musik lagu Kehadiranmu dari Vagetos membuat Ratna terlena mendengarnya. Tak seperti malam biasanya ia yang selalu sibuk berkutat pada laptop nya alias pada pekerjaannya, kali ini ia hanya terdiam duduk manis di atas tempat tidurnya mendengarkan lagu favorite nya sejak pertama kali lagu itu muncul di ranah musik Indonesia.


Bayangan Egga masih menghantui dalam pikirannya sehingga membuat dirinya senyum - senyum sendiri dan tersipu malu.


"Kenapa aku kepikiran Egga terus ya?". Ratna mengusap wajahnya dan menyadari sesuatu yang enggak mungkin.


" Enggak... Enggak... Enggak... Ratna... Kamu enggak boleh macam - macam. Egga itu Suami almarhumah sahabat kamu dan sekarang ia akan menikah lagi dengan wanita pilihan orang tuanya. Kamu enggak boleh yang aneh - aneh, Egga itu teman kamu enggak lebih, jangan kamu rusak hubungan baik ini". Ratna beragrumen pada dirinya sendiri, kini hatinya mendadak merasakan hal yang berbeda jika berada di dekat Egga. Seperti rasa yang pernah ia rasakan di saat pertama kali ia mendapatkan surat cinta pertamanya.


#Tring...


Nada notiv pesan WhatsApp berdering pada ponsel Ratna yang tergeletak di sampingnya. Secepat kilat ia menyambar ponselnya itu.


#" Assalamualaikum Rat... Besok kamu sibuk enggak?". Ternyata Egga yang mengirim pesan tersebut.


Spontan wajah Ratna memerah serta tersenyum membaca pesan dari lelaki yang baru saja ia pikirin sejak tadi. Ia pun segera membalas pesannya.


Ratna #"Waalaikumsalam. Enggak begitu sibuk, paling cuma ada jadwal medical check up pasien di jam 9 pagi. Kenapa?". Send.


Ratna semakin bersemangat ketika pesannya langsung di baca oleh Egga dan bertanda Egga sedang mengetik balasannya.

__ADS_1


Egga #" Oh. Besok kan Siboy keluar dari rumah sakit, maksud nya aku minta tolong sama kamu untuk bersama dengannya sebentar soalnya besok pagi dan siang aku lagi ada jadwal meeting sama client aku. Tapi kalau sudah selesai pekerjaannya, aku langsung ke rumah sakit kok. Gimana, bisa enggak Rat?".


Ratna #"Ohmm... Memang Siboy jam berapa katanya keluar dari rumah sakit?".


Egga #"Tadi sih kata Eggy sekitar jam 10 pagi gitu, sedangkan aku meetingnya jam 9 pagi, abis itu lanjut lagi meeting sama client yang lain di jam 12 siang. Mau minta tolong sama Eggy enggak mungkin, dia kan masih berduka mungkin pun besok dia masih nemeni Almira dan belum bisa ke rumah sakit. Makanya aku minta tolong nya sama kamu. Aku takut nanti Siboy kebingungan kalau dia sendirian".


Ratna #Emm... Ya sudah, besok aku akan menemaninya. Lagian besok aku siap nya sekitar jam segitu juga kok kalau pasiennya enggak banyak he he he. Nanti kalau kamu kelama'an, aku bawa saja Siboy ke rumah aku".


Egga #"Enggak usah Rat. Nanti Mama kamu marah kalau kamu bawa Siboy ke rumah kamu. Kalian ke rumah aku saja, biar enggak ada yang salah faham".


Ratna #"Lah... Bukannya semakin menimbulkan salah faham ya Ga kalau kami ke rumah kamu. Apa lagi di rumah kamu tidak ada siapa - siapa".


Egga #"He he he. Kamu tenang saja, lagian di rumah aku ada asisten rumah tangga aku dan security nya kok, nanti aku kasih tahu ke mereka kalau kalian mau datang ke rumah".


Ratna #"Huuummm... Oke deh. Awas nanti kalau jadi bahan fitnah para tetangga kamu, aku gorok leher kamu 😤".


Egga #"Ha ha ha. Kamu tenang saja, In sya ALLAH kita terhindari dari fitnah itu 😘".


Ratna terdiam melihat emoji yang di kirim oleh Egga.


Egga #"Ehh sorry Rat, aku salah emoji he he he harusnya emoji ini 😇 tapi aku salah mencet he he he 🤦".


Ratna #"Ha ha ha iya enggak masalah Ga, biasa itu kalau jari nya suka kepleset ha ha ha 😂".


Egga #"He he he, sorry ya Rat 🙏".


Ratna #"Iya. Ya sudah, kita sambung lagi besok ya? Soalnya aku sudah mulai ngantuk ini".


Egga #"Oh.. Iya iya Rat. Maaf ya sudah mengganggu malam kamu. Ya sudah kamu istirahat gih. Selamat malam. Wassalamualaikum".


Ratna #" Iya enggak masalah. Kamu juga jangan lama - lama tidurnya. Selamat malam juga Waalaikumsalam".


Egga #"Iya ini aku juga mau istrihat kok he he he".


Mata Ratna sudah tidak bisa tertahan lagi, ia langsung terlelap tanpa membaca pesan terakhir dari Egga.


.


.


Ratna berlari menuju ke ruangan pendaftaran lalu melaporkan pada petuganya.


"Jam 8 pagi jadwal Dokter apa hari ini?". Tanya nya pada wanita berparas oriental dengan matanya yang sipit.


" Bentar Dok saya check dulu". Jawabnya sembari memeriksa daftar jadwal para Dokter.


"Sepertinya Dokter Eggy Dok, tapi karena Dokter Eggy sedang berhalangan kemungkinan Dokter Eggy mengosongkan jadwalnya beberapa hari ini".


" Oh... Ya sudah kalau gitu tolong ubah jadwal saya hari ini di jam 8 dan jangan terlalu banyak menerima pasien soalnya saya lagi buru - buru karena ada urusan keluarga".


Wanita itu menganggukkan kepala nya lalu mengubah daftar tersebut.


"Baik Dok. Dokter mau ngebatasi berapa pasien yang medical check up?".


Ratna sempat berpikir sejenak.


"Sekitar 20 orang saja karena jam 9 saya harus sudah selesai".


" Baik Dok. Kok tumben Dokter yang ngatur? Biasanya asisten dokter yang ke sini, mengatur jadwal dokter".


Ratna tersenyum menanggapinya.


"Iya. Asisten saya sudah izin ke saya kalau hari ini dia sedikit terlambat datangnya karena dia ada urusan keluarga". Ia sengaja tidak mengatakan yang sebenarnya bahwa sang asisten memang sering terlambat datang, bukan karena urusan keluarga melainkan karena kecerobohannya yang selalu bangun kesiangan. Ratna tidak mengatakannya sebab ia tidak ingin asistennya terlihat buruk di depan orang lain.


"Oh... Enak kali ya yang jadi asisten dokter Ratna, sudah gajinya gede ehh kerja'an nya sedikit. Enggak kayak saya, sudah kerjanya menumpuk malah gajinya dikit huffft". Keluhnya meratapi nasibnya dan iri terhadap nasib orang lain.


Ratna kembali tersenyum sambil menggeleng - gelengkan kepalanya.


"Kamu enggak boleh ngeluh kayak gitu. Rezeky dan nasib orang berbeda - beda. Mau banyak atau sedikitnya kita harus mensyukuri apa yang di berikan ALLAH untuk kita".

__ADS_1


Wanita itu tertunduk malu sembari tersenyum getir.


"Iya Dok".


Ratna tersenyum simpul melihatnya.


" Sudah di ubah jadwal saya?".


"Sudah Dok".


" Terimakasih ya. Ya sudah kalau gitu saya permisi dulu".


"Iya Dok sama - sama".


Ratna pun pergi meninggalkannya lalu berjalan menuju ke ruangannya. Ia tersenyum lebar ketika ia melihat asistennya sudah tiba di ruangannya.


" Kamu sudah tiba Ki?". Pertanyaannya membuat asistennya yang bernama Kiki terkejut dan mendadak menjadi gugup sehingga kertas yang ia pegang berhambur ke lantai.


"E.. Eh.. I.. Iya Dok. Ma.. Maaf Dok". Ia pun membungkuk untuk memungut kertas - kertas tersebut. Ratna sudah merasa tidak heran lagi dengan sifat ceroboh asistennya itu. Ia membiarkannya lalu duduk di kursinya.


" Hari ini saya cuma sampai jam 9 saja dan saya juga cuma menerima 20 orang pasien. Kamu jangan lupa mencatat laporan kerja saya hari ini lalu kirim ke email saya. Dan nanti kamu coba tanya ke bagian lab, apa sudah siap hasil yang saya pinta kemarin, kalau sudah siap, letakkan saja hasil labnya di dalam laci saya, besok akan saya check".


"Hah? Apa Dok?". Hanya itu yang bisa ia respon dengan tampang telmi (telat mikir) nya. Ratna menghembuskan nafasnya sambil memutar bola matanya. Sebenarnya ia ingin sekali menggantikannya dengan orang lain tapi apa lah daya, Ratna merasa kasihan pada asistennya itu ketika ia mengingat latar belakang keluarga nya yang sangat miskin, dan hanya dia satu - satu nya tulang punggung di keluarganya sejak ia dan adik - adik nya di tinggal pergi oleh kedua orang tuanya.


Ratna mengusap wajah nya dan bersabar menghadapinya.


"Huh! Hari ini saya hanya sampai jam 9 saja, setelah itu kamu temenin saya ngurusi sesuatu dan lagi usahakan besok kamu datang jangan terlambat ya". Tuturnya dengan lembut.


" Ba... Baik Dok". Wanita itu menganggukkan kepalanya.


1 jam pun telah berlalu dan Ratna juga usai menangani 20 orang pasien yang ia batasi sebelumnya lalu ia dan asistennya berlari ke ruangan Siboy dan menghandle semua persyaratan agar Siboy keluar dari rumah sakit secepatnya.


Setelah semua telah selesai, ia langsung membawa Siboy ke rumah Egga sesuai perintahnya dan menyuruh asistennya kembali ke rumah nya alias pulang. Ratna melirik Siboy dari kaca spion mobilnya. Sejak tadi ia melihat Siboy hanya diam dan menuruti apa kata Ratna.


"Boy? Kamu baik - baik saja kan?".


"Baik Bu". Jawabnya singkat.


" Dari tadi saya lihat kamu cuma diam saja, makanya saya tanya he he he".


"Aku enggak apa - apa kok Bu Dokter. Oh ya ini kita mau kemana Bu? Kenapa arah jalannya bukan ke arah gubuk aku?". Siboy merasa heran melihat jalanan yang asing bagi dirinya.


" Oh iya, saya lupa memberitahu kamu. Pak Egga nyuruh saya membawa kamu ke rumah nya. Pak Egga enggak bisa bawa kamu langsung karena dia ada kerjaan sedikit".


"Emm... Tapi kenapa aku di bawa ke rumah Pak Egga Bu?".


" Kalau itu nanti Pak Egga sendiri yang akan ngasi tahu ke kamu".


Siboy tak lagi bertanya pada Ratna alias ia terdiam seribu bahasa hingga mereka sampai di rumah Egga. Siboy tercengang dan merasa terpukau melihat rumah besar nan mewah tersebut, ia berpikir itu bukan lah rumah melainkan sebuah istana seperti yang ada di dalam cerita dongeng. Matanya begitu liar melihat ke setiap sudut rumah tersebut.


"Boy... Kamu duduk saja dulu. Kamu belum boleh terlalu lelah". Ratna memintanya untuk duduk di sofa yang terlihat empuk. Dengan rasa canggung perlahan ia duduk pada sofa tersebut. Ia merasakan betapa empuknya sofa itu sembari melihat - lihat seisi ruangan tamu bahkan ia melihat beberapa foto Egga dan Tari terpajang di dinding.


"Kamu jangan segan - segan Boy. Santai saja he he he". Ratna mengejutkannya karena tiba - tiba muncul dengan membawa secangkir teh hangat.


" Ini kamu minum teh hangat nya biar makin enakan badan kamu". Ia menyodorkan cangkir teh tersebut.


"Iya Bu Dokter. Terimakasih". Jawabnya lalu menyambutnya.


" Assalamualaikum". Terdengar suara seseorang mengucapkan salam dan membuat keduanya melihat pada pintu dengan bersama'an.


"Waalaikumussalam".


"Kamu kenapa enggak ngabari aku sih Rat, kalau kalian sudah sampai di rumah? Aku khawatir lho". Egga berjalan menghampiri mereka dengan wajah cemasnya.


" He he he. Ya maaf. Soalnya aku takut ngeganggu kamu kerja makanya aku pikir enggak usah ngasi tahu ke kamu lagi".


"Hufft tapi aku cemas mikirin nya. Aku tadi langsung ke rumah sakit karena aku pikir kalian pasti masih di sana, pas aku ke sana eh mereka bilang kalian sudah pulang sejak sejam yang lalu makanya aku cemas. Pikiran aku sudah entah kemana - mana jadinya, kira'in kalian kenapa - kenapa".


" Maaf 🙏 he he he". Ratna menyatukan kedua telapak tangannya di hadapannya sembari nyengir dan menyipitkan matanya.

__ADS_1


"Kamu lagi ada tamu Ga?". Tiba - tiba Zia muncul dan membuat mereka terkejut lalu menoleh ke arahnya secara serentak.


__ADS_2