Keikhlasan Hati

Keikhlasan Hati
Chapter 63 #S3


__ADS_3

Akhirnya Pak Wijaya dan Bu Hanna dapat bernafas lega karena Egga sudah bisa kembali ke rumah.


Mereka memutuskan untuk membawa Egga ke kediaman Wijaya alias orang tua nya.


"Alhamdulillah kamu bisa pulang ke rumah juga Ga". Bu Hanna berkata sembari menggapai tangan Egga yang sama - sama memakai kursi roda seperti nya.


"Iya Ma, Alhamdulillah". Jawabnya sembari menyunggingkan senyuman nya dan meminta Bu Diah untuk berhenti mendorongkan kursi roda nya.


"Oh ya mereka kok belum sampai juga? Padahal kan mereka duluan yang bergerak dari rumah sakit tapi malah kita yang duluan sampai". Egga merasa heran karena Eggy, Almira serta Ghifari dan Tara belum juga sampai di tempat.


Pak Wijaya /"Emm... Mungkin mereka singgah entah kemana dulu. Tahu lah si Eggy itu kan enggak pernah puas kalau enggak beli cemilan di luar walau pun banyak makanan di rumah he he he".


Egga /"Hmm bikin cemas saja".


Kini mereka sudah berada di ruang keluarga untuk bersantai sejenak selagi menunggu Eggy dan yang lain nya tiba.


Bu Hanna /"Kamu enggak istirahat saja Ga? Kamu kan baru pulang dari rumah sakit jadi kamu harus banyak - banyak istirahat nak".


"Enggak Ma, lagian Egga sudah capek istirahat teros (mulu) di rumah sakit, apa lagi Egga sudah tertidur hampir sebulan masa Egga harus tiduran lagi he he he". Jawabnya sembari tertawa kecil.


"He he he iya. Hmm... Kalau ingat itu rasa nya Mama mau meninggal Ga, Mama merasa sedih sekali hiks hiks hiks". Bu Hanna pun terlihat sedikit sedih mengingat di saat Egga koma.


" Sudah lah Ma, enggak usah di bahas lagi dan kita enggak usah sedih - sedih lagi. Sekarang kan Egga sudah di sini, Egga sudah sehat juga, bahkan ada hikmah nya juga kan, Egga jadi tinggal sama Mama dan Papa lagi di sini seperti dulu he he he". Ia tidak ingin yang lainnya masih mengingat kejadian itu.


Pak Wijaya dan Bu Hanna hanya tersenyum sembari menatapnya dengan mata yang berbinar - binar.


"Oh ya Ga. Papa minta maaf atas kesalahan Papa waktu itu, karena Papa lebih percaya sama orang lain ketimbang kamu. Eggy sudah menceritakan semuanya sama Papa tentang hubungan kamu, Ratna dan Tara. Papa sudah tahu kalau apa yang kalian lakukan ini demi menjalankan amanah dari Almarhumah istri kamu, Tari. Dan Papa juga tahu kalau kamu sama Ratna kini saling mencintai satu sama lain. Papa menyesal karena lebih memilih Zia untuk menjadi calon istri kamu, Zia yang sama sekali tidak memiliki akhlak yang baik. Dan yang paling Papa sesali itu Papa sudah menyakiti perasaan Ratna, Papa sudah menyakiti perasaan calon menantu Papa hu hu hu". Air mata yang beliau tahan kini mengalir ke pipi nya dan mengakui kesalahannya terhadap anak sulung nya.


Egga mendekati Sang Papa lalu mengusap punggung beliau.


"Pa... Sudah lah, semua nya sudah berlalu. Egga juga minta maaf sama Papa karena Egga bertindak kurang ajar sama Papa, bahkan kemarin Egga sempat berprasangka buruk ke Papa karena Ratna tidak pernah datang pada Egga. Egga pikir Ratna menjauhi Egga karena ulah Papa. Egga minta maaf ya Pa hu hu hu". Egga menundukkan kepalanya sembari memegang kedua tangan Pak Wijaya seperti orang yang sedang sungkeman. Sedangkan Bu Hanna hanya menatap keduanya sembari menitihkan air matanya.


"Iya... Iya... Papa paham dan ngerti sama posisi kamu. Siapa saja pasti akan berpikir dan melakukan hal yang sama seperti kamu. Sudah sekarang kita enggak usah sedih - sedih lagi. Sekarang yang kita pikirin kesembuhan kamu terlebih dahulu". Ujarnya sembari membelai rambut Egga lalu menggeserkan tubuh Egga kembali ke posisi semula.


"Iya Pa" . Jawabnya sambil mengangguk kan kepala nya dan tersenyum.


Pak Wijaya /"Kemarin Papa ngajak Ghifari dan Tara jalan - jalan ke wahana bermain. Ternyata benar apa yang di bilang Ghifari kalau Tara itu anak nya pemalu dan tidak banyak bicara. Terus setiap di suruh ambil saja apa yang dia mau, dia malah nolak. Papa jadi bingung he he he".


"Iya benar sekali. Dia pun kayak merasa minder gitu". Bu Hanna menyambung.


Egga /" He he he. Iya Pa Ma, mungkin karena Tara belum terbiasa akrab sama Papa dan Mama. Kadang sama Egga pun dia masih malu - malu he he he".


"Assalamualaikum". Tak lama seruan salam pun terdengar secara serentak lalu membuat obrolan ketiga nya terhenti dan menoleh ke arah pusat suara.

__ADS_1


Eggy dan yang lainnya pun akhirnya muncul lalu menghampiri mereka dengan membawa banyak nya barang - barang yang di pegang.


Sedangkan ketiga nya merasa lega namun terheran - heran melihat barang bawaan mereka.


"Lama kali kelen. Buat cemas saja". Egga langsung ngedumel ketika mereka tiba.


Eggy /" Ya maaf tadi banyak kali persinggahan kami he he he".


Ghifari berjalan cepat mendekati Egga lalu menunjukkan sesuatu yang ia bawa.


"Uwak Uncle, lihat deh! Ghifari baru adopt kucing baru. Terus Bang Tara juga di belikan kucing sama Daddy, sepasang lagi". Dengan antusias ia memamerkan kucing persia berbulu abu - abu yang berada di dalam per cargo berwarna biru. Mereka melirik ke arah Tara yang malu - malu sembari mengenteng (meninting) pet cargo berwarna hijau milik nya yang berisi sepasang kucing persia.


Egga pun melihat nya dengan seksama. Lalu meminta Tara untuk mendekatinya.


" Wah... Alhamdulillah, padahal Papa memang mau beli untuk kamu tapi karena Papa lagi kayak gini jadi nya tertunda eh enggak tahu nya sudah di belikan sama Om Eggy he he he". Ia melirik Eggy yang sedang tersenyum melihat mereka.


Eggy /"Iya Bang, aku sama Almira kemarin memang ada rencana mau adopt kucing lagi biar ada kawan untuk Si Snow maka nya tadi singgah bentar ke pet shop, kalau singgah nya pas pulang, takutnya pet shop nya sudah tutup. Terus karena aku tahu Tara suka juga sama kucing, jadi ya sekalian saja he he he".


"Thanks bro".


Eggy hanya menaikkan kedua alis nya.


" Ya sudah sekarang ayo minta izin dulu sama Opa dan Oma boleh enggak kucing - kucing nya nginap di sini sementara". Ia melirik Pak Wijaya dan Bu Hanna.


"Opa, Oma. Boleh enggak kucing nya di sini? Kalau kucing Ghifari cuma bentar saja, paling sampai nanti sore. Tapi kalau kucing Bang Tara sampai Uwak Uncle sembuh nginap nya. Boleh Enggak Opa, Oma". Ghifari membujuk Opa dan Oma nya.


"Iya sayang. Mau selama nya nginap di sini juga enggak apa - apa kok he he he. Opa dan Oma ngizini he he he" . Beliau pun menyetujuinya.


"Ghifari dan Tara sini dekat Opa". Pak Wijaya meminta kedua nya untuk mendekati nya, Ghifari langsung menghampirinya sedangkan Tara masih enggan dan malu, sempat ia melirik Egga lalu Egga memberinya kode untuk segera mendekat.


Dengan perlahan ia mendekati Pak Wijaya. Kemudian beliau memangku kedua nya di atas paha nya.


"Ghifari dan Tara adalah cucu - cucu kesayangan Opa dan Oma. Dan kamu Tara! Kamu enggak usah malu - malu lagi atau pun minder sama diri kamu sendiri. Kamu sekarang sudah menjadi bagian dari keluarga ini, kamu sudah menjadi anak nya Papa Egga otomatis kamu itu cucu nya Opa dan Oma terus kamu juga sudah menjadi sepupu nya Ghifari dan keponakan Om Eggy dan Tante Almira. Opa minta maaf karena Opa sudah berburuk sangka sama kamu". Dengan lemah lembut Pak Wijaya bertutur kata kepada Ghifari dan Tara sembari mengelus kepala kedua nya secara bergantian.


Tara tidak bisa berkata apa - apa, ia hanya menganggukkan kepalanya dengan air mata nya yang mengalir ke pipinya. Ia merasa bahagia akhir nya ia memiliki keluarga meski ia masih merasa kekurangan yaitu Ratna.


Begitu pun juga Egga, ia juga merasakan hal yang sama, bahkan ia semakin merasa kehilangan sosok Ratna di sisinya.


"Assalamualaikum". Tiba - tiba terdengar kembali suara seruan dari seorang wanita.


" Waalaikumussalam". Jawab mereka secara serentak. Alis mata mereka menyatu karena penasaran siapa yang sedang bertamu.


"Eeeh... Hai semua nya". Sosok itu pun menghampiri mereka lalu menyapa mereka satu per satu dan membuat mereka terheran - heran menatap nya yang tak lain ialah Zia.

__ADS_1


" Hai Egga. Akhir nya kamu siuman juga, aku rindu sekali sama kamu". Zia langsung menyambar tubuh Egga.


Egga mendorong tubuh Zia sembari tertawa getir.


"He he he, iya Alhamdulillah".


"Kamu mau ngapain lagi ke sini Zia? Bukan kah kamu sudah di larang sama Papa kamu untuk menemui Egga lagi?". Pak Wijaya angkat bicara soal kejadian di rumah sakit. Sedangkan Egga merasa bingung, apa yang sedang terjadi.


" Fu fu fu. Ah Om. Waktu itu kan bercandaan nya Papa saja kok Om. Lagian Papa enggak seriusan kok bilang kayak gitu malah Papa sendiri yang nyuruh aku datang ke sini. Apa yang di bilang Papa kemarin itu cuma ke khilafan semata saja kok Om fu fu fu". Zia menyangkal nya.


Egga /"Maksud nya apa Pa? Egga sama sekali enggak ngerti".


Eggy mengambil alih untuk menceritakan yang terjadi pada saat itu dan sesekali ia melirik Zia dengan sinis.


"Gini lho bang, waktu kau koma, si Zia sama keluarga nya buat keributan di rumah sakit bahkan di depan kau pun Bang. Dia mencaci maki Ratna dan Tara lalu menyalahkan mereka berdua atas penyebab koma nya kau, terus pada saat itu juga Zia sudah mengakuinya kalau dia sudah memfitnah Ratna dan yang paling penting lagi, orang tua nya si Zia ini memutuskan perjodohan kalian dan melarang Zia untuk ketemu sama kau, karena kau sudah tidak ada harapan lagi untuk hidup bahkan mereka juga bilang mereka akan mencarikan pasangan yang jauh lebih dari kau untuk wanita yang sempurna ini".


Sindirian telak untuk Zia, sempat ia mengepalkan tangannya karena merasa kesal lalu ia bertingkah seolah - olah ia merasa menyesal.


"Maafin aku Ga. Tapi beneran itu semua kemauan nya Papa ku, aku sama sekali tidak menginginkan perjodohan kita di batalkan. Papa ku juga merasa menyesal karena sudah mengecewakan kalian. Please maafin aku sama Papa ku". Zia langsung bertekuk lutut di hadapan Egga bahkan ia sempat bersujud di atas kaki Egga, sontak membuat yang lainnya terkejut melihat aksinya itu.


Egga berusaha mengundurkan kursi roda nya namun Zia menahannya.


Eggy /"Sudah lah Zia, enggak perlu kau sampai bersujud seperti itu, toh enggak ada guna nya juga. Yang ada cuma mempermalukan diri kau saja. Kau enggak malu di lihatin sama anak kecil hah?".


Zia melirik mereka satu per satu tak terkecuali Tara yang duduk di samping Pak Wijaya. Ketika ia melihat Tara, ia langsung mendekati Tara lalu bersujud di hadapan nya.


"Tante minta maaf ya Tara. Tante menyesal karena sudah menghina kamu pada saat itu hu hu hu". Mereka semakin terkejut terlebih lagi Tara menyaksi kan akting Zia sungguh bagus, namun begitu tidak membuat mereka tersentuh sedikit pun justru malah menertawakan nya.


" Zia lebih baik kamu pulang saja dan turuti apa mau nya orang tua kamu. Percuma kamu di sini, toh Egga memang tidak bisa menerima kamu". Pak Wijaya masih bersikap lembut menghadapinya.


"Ha ha ha ha ha ha". Tiba - tiba Zia tertawa seperti mengejek mereka sembari mengangkat kan kepalanya lalu berdiri.


" Ha ha ha ha. Oke! Walau pun Egga tidak bisa menerima aku setidak nya enggak ada satu pun yang bisa menggantikan Tari, baik aku atau pun Ratna ha ha ha. Tak satu pun dari kami yang menjadi pasangan hidup kamu Ga ha ha ha".


Kening mereka mengerut, mereka menafsirkan apa yang di maksud dengan Zia, bahkan Egga sempat berpikir apakah karena Zia, Ratna menjauhi nya.


Zia menunjukkan ke arah Egga, ia seperti orang yang sedang depresi berat.


"Kamu sudah mencampakkan aku lalu kamu di campakkan oleh Ratna ha ha ha".


Egga /" Apa maksud kamu?".


"Ha ha ha. Lho kamu belum tahu ya? Kamu belum tahu berita nya? Atau jangan - jangan kalian semua memang belum tahu ya? ha ha ha. Bentar ya... aku akan menunjukkan sesuatu sama kalian. Sesuatu yang akan mengejutkan kalian terutama kamu Ga ha ha ha". Zia memandang Egga dengan tampang kasihan. Mereka menunggu apa yang akan ia tunjuk kan pada mereka.

__ADS_1


Tanpa berlama Zia pun mengeluarkan ponselnya dan menyodorkan ponsel nya pada Egga lalu di sambut oleh Egga.


"Ratna akan menikah bulan depan bersama laki - laki pilihan Mama nya yang kebetulan laki - laki itu adalah sahabat adik kamu heh...". Ia melirik Eggy dengan senyuman nya yang bermakna sedang mengejek atau menertawakan mereka.


__ADS_2