Keikhlasan Hati

Keikhlasan Hati
Chapter 76 #S3


__ADS_3

"Kau jangan sampai kecapekan lagi ya Bang. Kau itu harus banyak istirahat. Katanya sudah rindu berat sama kantor nya tapi tetap saja enggak nurut apa kata ku". Eggy mengomeli Egga setelah ia memeriksa kesehatan Egga.


" Hemm... Iya Pak Dokter yang cerewet yang hobi nya merepet kayak emak - emak he he he". Egga malah meledeknya.


"Hemp melece (meledek) lah kau Bang. Salah nya saja kau lagi sakit kalau enggak sudah aku ajakin berantem kau ini". Eggy mengepalkan tangannya berlagak seperti pemain tinju.


" Ha ha ha, berantem sekarang pun enggak apa - apa nya. Aku layani sini ha ha ha". Egga menantangnya.


"Banyak kali gaya kau ha ha ha".


#Daddy ada telpon... Daddy ada telpon.


Tiba - tiba ponsel Eggy berdering, ia pun segera melihat ponselnya.


" Dokter Richard?". Ucapnya dalam hati, sempat ia melirik Egga.


"Bang aku keluar dulu, mau ngangkat telpon, biasa dari rumah sakit he he he". Eggy mencari alasan agar ia bisa menjauh dari Egga.


"Hmm iya".


Eggy pun keluar dari kamar Egga lalu mencari tempat yang tidak bisa di dengar oleh siapa pun.


" Iya halo Dok? Ada apa? Ha... Serius Dok? Alhamdulillah Ya ALLAH. Ya sudah kalau gitu kita harus secepatnya melakukan transplantasi jantung itu pada Dokter Ratna karena kemarin saya melihat hasil pemeriksaan Dokter Ratna semakin hari semakin menurun, jadi kita harus secepatnya mengambil tindakan sebelum terlambat. Iya, sekarang saya akan ke sana. Iya". Eggy sangat senang dan bersemangat mendapatkan kabar gembira dari Dokter Richard bahwa ia sudah menemukan pendonor untuk Ratna.


Mata Eggy terbelalak ketika ia membalikkan badannya. Ia melihat Egga dan Tara sudah berada di belakangnya sembari menatapnya.


"Eh... Kalian sudah lama di sini? Kau kok keluar dari kamar sih Bang? Kan aku bilang kau harus banyak - banyak istirahat, enggak boleh keluar - keluar dulu". Eggy bersikap aneh.


Sebelumnya....


Setelah Eggy keluar dari kamarnya, Egga meminta Tara untuk membawa nya keluar dari kamar, ia ingin merasakan udara pagi di halaman belakang rumah.


Namun tiada sangka, kedua nya sudah mendengar pembicaraan Eggy.


Egga menatap Eggy begitu serius.


" Apa maksud pembicaraan kau di telpon tadi? Transplantasi apa yang kau maksud? Ada apa dengan Ratna?".


Eggy bingung harus menjawab apa.


"Um... Itu. Maksud nya... Umm... Um...".


"Apa Ratna orang nya? Apa Ratna yang sudah mendonorkan jantung ini?". Egga berteriak sembari memegang dadanya yang tiba - tiba terasa nyeri.


" Om... Apa benar itu?". Tara pun menambah pertanyaan untuk Eggy.


Eggy tidak punya pilihan lain selain mengatakan yang sebenarnya dengan berat hati.


...


Egga berusaha mendorong kursi roda nya sendiri setiba nya mereka di rumah sakit sehingga Eggy menjadi kualahan mencegahnya.


"Bang... Sini biar aku saja yang mendorong kursi roda nya. Nanti kau bisa jatuh Bang".


Egga tidak meresponnya, ia semakin berusaha hingga akhirnya mereka tiba di depan kamar Ratna.


Tanpa rasa ragu Egga langsung menerobos masuk ke dalam kamar tersebut.


" Egga".


Sontak membuat Ratna dan Omen terkejut atas kedatangannya. Egga tidak mempedulikan ada nya Omen di sisi Ratna.


Ia berusaha keras untuk bangkit mendekati Ratna.


"Bang... Jangan kau paksain kayak gini nanti kau bisa kolaps Bang". Eggy langsung mengejarnya kemudian membantu nya untuk berdiri.


" Egga tolong, dengerin apa kata Dokter Eggy. Kamu enggak boleh memaksakan diri kamu sendiri". Ratna pun membujuknya, ia sudah meneteskan air matanya melihat kegigihan Egga yang berusaha untuk bangkit lalu berada di sampingnya.


Sedangkan Omen pun melangkah mundur dari mereka.


" Kenapa kamu ngelakuin ini semua? Kenapa? Enggak seharusnya kamu ngelakuin ini. Kenapa kamu ngelakuin ini? Hu hu hu hu". Egga bertanya pada Ratna sembari menangis tersedu - sedu.


Ratna tak bisa berkata apa - apa, ia hanya menangis sambil menyentuh wajah Egga yang sudah basah karena air matanya.


Eggy mengajak Omen untuk keluar meninggalkan mereka berdua agar mereka bisa berbicara dengan nyaman.


"Kenapa kamu ngelakuin ini? Aku selama ini sudah salah paham sama kamu. Kenapa Rat? Hu hu hu".


Perlahan Ratna mengangkat tangannya lalu menempelkan nya pada dada Egga. Ia merasakan detak jantung nya bekerja dengan normal.


Egga pun memegang tangan Ratna.


"Jantung ini enggak akan berfungsi dengan normal jika pemiliknya membiarkan hidupnya seperti ini. Jantung ini akan terus berdetak kalau kita sama - sama berjuang. Jantung ini tidak bisa berdetak tanpa kamu begitu juga dengan aku yang tidak bisa hidup tanpa kamu".


Ratna menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Jantung ini harus terus menjaga kamu meski aku tidak bersama mu lagi. Meski aku sudah tidak bersama mu lagi tapi aku selalu ada bersama mu di setiap detak jantung ini. Kamu harus sembuh".


" Enggak, aku enggak mau sembuh kalau aku harus kehilangan kamu, aku enggak mau hu hu hu. Kamu harus kuat sayang. Kita masih punya banyak harapan. Kamu pasti sembuh sayang, kita pasti bisa sembuh hu hu hu".


Tangisan mereka pecah dan sama - sama merasakan sakit pada jantung mereka.


...

__ADS_1


"Egga kenapa sampai bisa tahu secepat ini soal kondisi Ratna? Bukan nya kau bilang akan memberitahunya kalau dia sudah sembuh?". Omen membuka pembicaraan setelah lama mereka duduk berdiam di kursi yang terletak di koridor.


" Hmm mau nya begitu. Tapi ALLAH berkata lain. ALLAH mau Egga mengetahuinya secepat ini dengan cara nya sendiri". Eggy menjawabnya sambil memandangi kakinya yang bergoyang - goyang.


"Kenapa? Kau enggak terima karena Egga bisa tahu secepat ini? Hm?". Eggy meliriknya.


Sontak membuat Omen terbahak.


" Apa? Ha ha ha apa pulak aku enggak terima. Cuma kan mikir saja gimana kondisi nya Egga setelah dia tahu soal ini semua".


"Hmm... Entah lah. Mudah - mudahan saja enggak terjadi apa - apa sama keduanya. Tapi kau tenang saja, kau enggak perlu cemburu melihat mereka berdua. Ratna tetap jadi calon binik kau kok, cuma aku minta sama kau untuk membiarkan mereka seperti itu dulu, kalau pun kau merasa cemburu, kau harus menahan rasa cemburu itu, paling enggak sampai operasi transplantasi jantung Ratna selesai ". Eggy mengeratkan kedua tangannya lalu sikunya bertumpu pada kedua pahanya.


Omen /"Transplantasi? Memang kalian sudah menemukan pendonor itu?".


" Alhamdulillah sudah, tapi aku belum memastikannya secara langsung karena baru tadi pagi Dokter Richard memberitahu ku berita itu. Paling setelah aku mengantar Bang Egga pulang baru aku akan memastikannya dan mudah - mudahan kabar baik yang kita terima". Jawabnya kemudian ia bangkit dari duduknya.


...


"Kamu harus kuat sayang karena Eggy sudah menemukan pendonor itu untuk kamu. Kamu pasti sembuh". Tuturnya sembari mengusap wajah Ratna.


" Aku enggak yakin aku masih punya tenaga lagi atau tidak untuk bertahan. Aah... Aku minta maaf sama kamu karena sudah melukai perasaan kamu dan membuat kamu salah paham sama aku. Kamu harus sembuh, kamu enggak boleh menyia - nyia kan pengorbanan ku untuk mu he he he". Ratna sudah hampir kehabisan nafas karena menahan rasa sakitnya semakin dahsyat, namun ia masih bisa untuk tertawa kecil.


"Sayang... Kamu harus kuat, kamu enggak boleh memejamkan mata kamu. Buka mata kamu sayang. Sayang....". Egga menjadi panik, ia berusaha meraih tombol darurat untuk memanggil para pihak medis namun sulit bagi nya untuk menggapainya mengingat kakinya sama sekali tidak bisa di gerakkan.


" Aaah... Kamu harus kuat. Kamu yang sabar. Aaaah...". Semakin keras ia berusaha semakin terasa rasa sakit pada jantungnya.


Sedangkan Ratna sudah tak sanggup menahannya lagi kemudian ia sudah tak sadarkan diri.


Mata Egga terbelalak serta mengeluarkan air matanya.


"Sayang.... Sayang... Bangun sayang... Buka mata kamu...". Egga berteriak memanggil Ratna lalu berteriak meminta tolong.


" Tolong.... Tolong.... Eggy... Siapa pun yang ada di luar tolong.... hu hu hu".


...


"Aku harus balik ke dalam. Aku khawatir mereka akan kenapa - kenapa kalau di tinggal terlalu lama". Eggy beranjak setelah Omen manggut - manggut melihat nya.


Beberapa perawat berlarian di koridor menuju ke ruangan Ratna. Mata Eggy terbelalak dan langsung berlari menyusul mereka.


Mata Eggy semakin terbelalak karena terkejut melihat abang nya sudah jatuh pingsan di lantai sedang kan Ratna tak sadarkan diri di atas tempat tidur.


"Abaaaaaang". Teriaknya dan sigap mengejarnya.


Untung nya para perawat begitu sigap. Secepatnya mereka membawakan tempat tidur untuk Egga serta peralatan medis Eggy. Eggy pun berusaha menggendong Egga dan meletakkannya di atas tempat tidur tepat di samping Ratna.


Tak lama Omen pun menyusul masuk ke dalam ruangan, ia pun sama terkejutnya melihat mereka.


" Ratna".


Tangan Eggy mendadak gemetar, ia benar - benar panik, siapa yang harus ia tangani terlebih dahulu mengingat keduanya sama - sama sekarat.


"Baik Dok".


Eggy /" Tolong periksa denyut nadi Dokter Ratna".


"Baik Dok. Denyut nadi Dokter Ratna semakin lemah Dok, bahkan hampir tidak terasa". Ia pun memeriksa denyut nadi Ratna, ia pun panik.


Eggy memejamkan matanya sejenak dan seketika air matanya mengalir karena denyut nadi Egga pun juga melemah.


Sedangkan Omen hanya bisa terdiam melihat mereka karena ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia pun sangat khawatir kepada keduanya.


"Pak maaf, lebih baik bapak menunggu di luar saja. Biar kami yang akan menangani nya". Seorang perawat menyuruh Omen untuk keluar dari ruangan itu. Omen pun menurutinya.


Setelah Dokter Richard tiba, ia langsung menangani Ratna lebih intensive.


"Dok, sepertinya kita harus secepatnya melakukan transplantasi jantung itu".


Eggy /" Apa Dokter sudah menghubungi pihak pendonor?".


Dokter Richard /"Sudah Dok. Pasien sedang menuju ke sini bersama Dokter Zein".


Eggy /" Syukur lah kalau begitu".


Mereka pun langsung membawa Ratna ke ruang operasi setelah si pendonor tiba bersama dengan Dokter Zein, kerabat dekat Dokter Richard yang tempo lalu telah mengabarinya tentang si pendonor melalui paket yang ia kirim.


Kini mereka benar - benar merasa tegang. Ratna di tangani oleh Dokter Richard dan Dokter Zein, sedangkan Egga di tangani oleh adik nya sendiri bersama dengan tim medisnya.


Pihak keluarga pun datang ke rumah sakit setelah Omen mengabari mereka atas perintah Eggy.


Mereka tampak panik, terutama Bu Wardah, Mama nya Ratna, beliau menangis histeris ketika di kabarkan berita buruk telah menimpa anak semata wayangnya.


"Man... Gimana kondisi Ratna? hu hu hu. Kenapa kamu baru ngasi tahu Ibu sekarang? Ha?". Bu Wardah memarahi Omen sembari memukuli nya.


Omen hanya pasrah di pukuli oleh calon mertuanya itu.


" Kenapa Ratna bisa jadi kayak gini? Kenapa kamu enggak ngasi tahu Mama, Rat? Hu hu hu".


Bu Hanna dan Almira juga sama sedih nya seperti Bu Wardah namun mereka bisa mengontrol emosi mereka.


Sedangkan Pak Wijaya ikut andil dalam penangan mereka. Meski beliau tidak begitu mengetahui ilmu medis, setidaknya ia bisa membantu mereka.


"Gimana kondisi Abang ipar mu Al? Apa Eggy ada cerita ke kamu?". Bu Hanna bertanya pada Almira. Tubuhnya tampak lemas sehingga hingga menggenggam tangan Almira untuk menguatkan dirinya.

__ADS_1


" Almira juga enggak tahu Ma gimana kondisi nya Bang Egga. Karena Eggy tidak bilang apa - apa di saat ia menelpon Almira". Jawabnya.


"Kenapa kita terus - terusan mengalami hal seperti ini? Hu hu hu". Bu Hanna meratapi nasib hidup mereka sembari menangis.


Almira mengusap punggung Bu Hanna.


"Mama enggak boleh ngomong kayak gitu. Itu sama saja Mama marah sama ALLAH. Kita enggak punya hak untuk marah. Kita harus sabar menjalankan cobaan dan ujian ini Ma". Ia pun menitihkan air matanya.


Bu Hanna semakin menggenggam tangan Almira.


" Mama yang sabar ya. Kita doa kan saja semua nya akan baik - baik saja". Lirihnya yang tak kuasa menahan air matanya.


Berjam - jam mereka menanti salah satu dari mereka keluar dari salah satu ruangan yang ada di depan mereka.


Omen dan Almira pun sudah berhasil menenangkan kedua wanita paruh baya tersebut.


Tak lama Pak Wijaya keluar dari ruangan tempat Egga di tangani.


Bu Hanna langsung menyuruh Almira untuk mendekati beliau.


"Bang... Gimana kondisi Egga? Semuanya baik - baik saja kan?". Bu Hanna sudah tidak sabar lagi menanti jawaban Pak Wijaya.


" Alhamdulillah Egga sudah tidak apa - apa. Jantung nya pun sudah berdetak dengan normal". Beliau memberikan kabar baik untuk mereka.


"Alhamdulillah ya ALLAH". Secara serentak mereka berseru.


" Terus kondisi nya anak saya gimana Pak?". Bu Wardah tiba - tiba menyambar pembicaraan mereka.


Wajah Pak Wijaya menjadi murung, beliau pun sempat menundukkan kepalanya.


"Mereka belum juga berhasil melakukan transplantasi jantung tersebut dan kondisi Dokter Ratna kemungkinan tidak ada harapan lagi".


Bu Hanna /" ALLAHHU AKBAR".


Almira /"Innalillahi".


" Apa? Hu hu hu hu Ratna hu hu hu". Bu Wardah semakin meraung dan lemas sehingga beliau pun jatuh pingsan.


Dengan sigap Omen dan Pak Wijaya menggotong tubuh Bu Wardah lalu membawa nya ke UGD.


...


"Dok... Tekanan darah pasien menurun drastis dan detak jantung nya pun berhenti". Dokter Zein berkata setelah ia memeriksa kondisi Ratna.


Eggy pun berpindah ke ruang operasi usai ia menangani abang nya.


"Siap kan alat defibrillator". Perintahnya.


" 1 2 3".


" 1 2 3".


Berulangkali tubuh Ratna terangkat karena energi listrik dari alat pemacu jantung tersebut.


Dokter Richard, Dokter Zein dan juga Eggy hampir putus asa karena alat tersebut sama sekali tidak membuat detak jantung Ratna kembali.


"Sekali lagi". Eggy berusaha mengulanginya lagi sembari menangis.


" 1 2 3".


Namun tetap saja hasil nya masih sama. Mereka menjadi lemas dan sedih karena mereka telah gagal. Terlebih lagi Eggy, ia sangat terpukul karena ia tidak bisa menepati janjinya kepada abang nya sebelum ia masuk ke ruang operasi.


"Maafin aku bang, maafin aku". Batinnya meraung menyesali kegagalannya.


Flash Back...


Segala usaha telah di perbuat Eggy untuk menangani abang nya hingga akhirnya ia pun tersadarkan.


Perlahan Egga membuka matanya.


" Gimana kondisi nya Ratna? Apa kalian sudah menangani nya?". Egga bertanya sembari berusaha membuka alat bantu pernafasannya.


Eggy mencegahnya melakukan itu.


"Sudah Bang. Aku sudah menangani Dokter Ratna dengan baik. Kau tenang saja. Dokter Ratna baik - baik saja kok".


Egga memejamkan matanya sejenak.


" Alhamdulillah, aku lega mendengarnya. Aku tadi bermimpi bertemu dengan Tari, dia cantik kali pakai setelan syar'i warna putih, terus dia tersenyum sama aku, abis itu dia pergi. Tapi dia pergi tidak sendirian, dia pergi sama seorang wanita yang bersetelan sama seperti nya, tapi aku enggak bisa melihat siapa yang dia gandeng, karena wanita itu membelakangi aku yang aku lihat cuma cahaya saja yang ada di tubuh wanita itu. Menurut kau itu kira - kira siapa ya yang menggandeng Tari?".


Eggy menelan ludahnya dan menaruh rasa khawatir ketika Egga menceritakan pengalaman dalam mimpinya.


"Mungkin malaikat itu, lagian sudah lah Bang, enggak usah kau pikirin kali itu. Itu kan cuma mimpi saja. Mimpi adalah bunga tidur he he he. Ya sudah kalau gitu aku keluar dulu ya Bang, aku mau nyuruh Papa sama Mama ke sini dan bilang ke mereka kalau kau sudah bangun. Bentar ya Bang".


"Eggy". Ia menahan langkah kaki Eggy.


" Tolong kau sembuhkan Ratna ya Gy".


Hati Eggy terasa sesak mendengar permintaan abangnya. Ia berusaha menahan rasa sedihnya kemudian ia membalikkan badan nya sembari tersenyum.


"In Sya ALLAH Bang. Aku janji bakal berusaha untuk menyembuhkan Dokter Ratna dan kau juga Bang. Dan aku yakin semua nya akan baik - baik saja".


" Terimakasih ya Gy".

__ADS_1


Senyuman Egga merekah setelah mendengar ucapan Eggy yang memberikan harapan besar padanya.


__ADS_2