
" Agung tolong minta kan semua laporan pasien sama setiap Dokter, kalau kamu tidak mendapatkan laporan itu langsung dari Dokter nya, kamu pinta saja sama asisten mereka. Oh ya pintakan sekalian hasil lab nya juga. Kalau sudah dapat semuanya langsung letakan di atas meja saya". Eggy menyuruh asisten nya sembari ia melihat berkas - berkas yang bergeletakan di atas meja nya. Kini ia sudah kembali pada aktivitasnya setelah berlibur selama 2 hari.
"Baik Dok". Asistennya pun segera melaksanakan perintah atasannya itu. Ia segera mendatangi ke setiap ruangan Dokter yang sedang bertugas pada saat itu.
" Mbak... Saya ke sini karena di suruh Dokter Eggy untuk meminta semua laporan pasien Dokter Richard. Apa saya boleh mendapatkan laporan itu sekarang juga?". Ia bertanya pada asisten Dokter Richard dan kebetulan Dokter Richard sedang tidak ada di ruangannya.
"Oh iya ini sudah akhir bulan ya? Sebentar ya. Saya ambil terlebih dahulu berkas - berkasnya". Wanita berparas oriental itu pun segera masuk ke ruangan utama Dokter Richard lalu mengambil apa yang di minta oleh Agung.
" Iya mbak".
"Ini. Ini semua laporan pasien Dokter Richard untuk bulan ini". Ia menyodorkan setumpuk berkas yang baru ia ambil dari atas meja Dokter Richard.
Agung pun menyambutnya.
" Terimakasih ya mbak. Saya permisi".
"Ehh tunggu dulu". Ia menahan kepergian Agung.
Agung mengerutkan dahinya.
" Ya mbak? Apa ada yang ketinggalan?".
"Enggak ada yang ketinggalan kok. Cuma saya mau nitip sesuatu sama kamu he he he". Ujarnya sembari berlagak kecentilan.
" Nitip apa mbak?".
"Nitip salam untuk Dokter Eggy fu fu fu". Jawabnya dengan mata yang berkedip - kedip.
Agung nyaris tercengang melihat nya.
" He he he... I.. Iya mbak. Nanti saya akan sampaikan salam nya. Ya sudah saya permisi dulu ya mbak". Ia pun secepatnya keluar dari ruangan Dokter Richard karena ia merasa geli melihat kecentilan asisten Dokter Richard.
"Kamu kenapa senyum - senyum gitu?". Dokter Richard terheran ketika ia kembali ke ruangan nya lalu melihat asistennya senyum - senyum enggak jelas.
" Ehh.. Enggak apa - apa kok Dok he he he". Ia pun sadar lalu kembali bekerja.
"Semua berkas - berkas yang ada di atas meja saya kemana? Kok enggak ada?". Dokter Richard sibuk mencari berkas - berkas yang baru di serahkan nya kepada Agung.
" Oh itu. Sudah saya kasi Dok sama asistennya Dokter Eggy karena Dokter Eggy minta berkas - berkas itu sekarang juga". Jawabnya.
Dokter Richard mengusap wajahnya karena ia lupa memisahkan berkas laporan medis milik Ratna.
"Astaga! Kenapa kamu enggak telpon saya dulu baru kamu serahkan ke Dokter Eggy? Di situ ada berkas pribadi saya. Berkas itu di luar dari pekerjaan di rumah sakit ini".
" Ya... Mana saya tahu Dok. Lagian kan memang setiap bulannya seperti itu, jadi saya pikir Dokter sudah menyiapkan semuanya makanya sudah terletak di atas meja, maka nya saya langsung kasi saja sama dia". Ia tertunduk bersalah namun tidak mau di salahkan.
Dokter Richard bergegas mengejar Agung untuk mengambil kembali berkas itu. Ia mencari Agung sekeliling rumah sakit namun ia tidak menemukannya sempat ia bertanya pada perawat - perawat yang kebetulan sedang melewatinya, namun mereka pun tidak melihatnya.
Agung sudah menyerahkan semua berkas - berkas yang Eggy pinta termasuk salah satu nya adalah berkas laporan milik Dokter Richard.
Eggy sempat terkejut melihat berkas - berkas itu menumpuk di atas meja nya. Ia berpikir bahwa tidak mungkin ia menyelesaikan memeriksa berkas tersebut di rumah sakit, hingga akhirnya ia memutuskan untuk membawa nya pulang ke rumah nya.
"Agung, kita bawa saja semua berkas - berkas ini ke dalam mobil saya. Soalnya biar saya memeriksanya di rumah saya saja. Kalau saya memeriksanya di sini bisa - bisa saya enggak pulang - pulang he he he". Ia memerintahkannya kembali.
" Baik Dok. Oh ya Dok, apa saya harus ikut juga ke rumah Dokter? Biar pekerjaan Dokter segera selesai". Agung berinisiatif untuk meringankan pekerjaan Eggy.
"Enggak usah, kamu pulang saja, lagian ini sudah sore dan ini memang sudah menjadi tugas saya sendiri he he he". Eggy sempat melirik pada jam tangannya.
" Iya Dok". Agung menganggukkan kepalanya. Kemudian mereka pun keluar dari rumah sakit dengan membawa tumpukan berkas tersebut.
Kini Eggy sudah berlalu meninggalkan Agung yang masih berdiri di tempat parkiran mobil khusus untuk Dokter Eggy.
"Agung.... Huh huh huh". Akhirnya Dokter Richard pun menemukannya lalu berlari mendekatinya. Alis mata Agung menyatu ketika ia melihat Dokter Richard memanggilnya dengan nafas yang tidak teratur (ngos - ngosan).
"Ya Dokter Richard? Apa ada yang bisa saya bantu?". Melihat Dokter Richard seperti itu, sepertinya beliau membutuhkannya, pikirnya.
" Apa kamu sudah memberikan semua berkas - berkas yang kamu pinta sama asisten saya kepada Dokter Eggy? Huh huh". Ia langsung bertanya sembari mengatur nafasnya.
"Sudah Dok, baru saja di bawa Dokter Eggy berkas - berkas nya ke rumah nya karena beliau ingin memeriksanya di rumah nya saja. Memang nya ada apa ya Dok?". Agung menjadi penasaran.
Ia menggelengkan kepala.
" Tidak. Tidak ada apa - apa, hanya saja ada berkas yang belum saya siapkan, asisten saya tidak soal nya makanya ia langsung ngasi saja ke kamu. Ya sudah nanti saya kirim saja sisa nya melalui fax. Kalau gitu saya permisi dulu". Ia enggan memberitahu Agung kemudian pergi.
"I.. Iya Dok. Aneh. Kalau memang cuma karena itu saja, kenapa Dokter Richard nampak panik begitu? Kan Dokter Richard bisa menghubungi Dokter Eggy langsung". Ia berpikir sepertinya bukan itu alasannya serta ia berprangka buruk pada Dokter Richard.
" Apa jangan - jangan Dokter Richard sudah melakukan kecurangan sama Dokter Eggy dan rumah sakit ya? Terus berkas - berkas nya enggak sengaja tergabung di berkas lainnya. Waah kalau memang seperti itu, bisa tamat riwayat karir Dokter Richard. Aah bodo amat lah, bukan urusan ku juga". Ia bergumam sendiri bersama dengan asumsinya.
Dokter Richard mengusap wajahnya, ia terlihat frustasi.
__ADS_1
"Haduh bisa gawat kalau Dokter Eggy mengetahui soal Ratna. Haduuuh kenapa bisa jadi kayak gini sih? Apa aku bilang saja ya sama Ratna kalau ini sudah ketahuan sama Dokter Eggy? Ahh nanti saja lah, tunggu Dokter Eggy benar - benar sudah memeriksa berkas itu. Atau aku ke rumah Dokter Eggy terus bilang ada berkas yang harus aku perbaiki? Ahh nanti Dokter Eggy malah curiga sama aku. Haduuuuh gimana ini?". Dia beragrumen sendiri sembari mondar - mandir di dalam ruanganya.
"Dokter kenapa gelisah kayak gitu?". Tiba - tiba asistennya muncul dan heran melihat Dokter Richard sedang mondar - mandir.
Sontak membuat Dokter Richard terkejut lalu menoleh ke arah pintu.
" Lain kali kalau mau masuk, ketuk pintu terlebih dahulu. Jangan asal nerobos saja". Ia mengomelinya.
"Maaf Dok. Abisnya dari tadi saya bel Dokter tapi enggak ada jawaban dari Dokter jadi saya pikir saya langsung masuk saja".
Dokter Richard melirik ke arah tombol alarm yang bertanda warna merah, itu untuk memanggilnya di saat ia berada di dalam ruangan sendiri dan itu di buat khusus untuknya dan asistennya agar tidak mengganggu pekerjaannya.
"Huuuh... Ya sudah. Memang nya ada apa?".
"Ini ada paket untuk Dokter dan surat untuk Dokter". Ia menyodorkannya.
Dokter Richard mengambilnya lalu melihat pengirimnya.
" Dokter Zein?". Batinnya.
"Ya sudah, kalau gitu kamu boleh keluar. Oh ya kamu jangan pulang dulu saya masih ada yang harus saya siapkan".
" Baik Dok". Jawabnya dengan nada lemas karena ia harus pulang terlambat alias lembur.
Dokter Richard dengan segera membuka paket tersebut setelah asistennya benar - benar sudah keluar dari ruangannya. Mata nya terbelalak ketika ia menemukan sesuatu yang mengejutkan di dalam paket tersebut dan langsung bergegas keluar ruangannya dan tak lupa membawa semua barang - barangnya termasuk paket yang ia terima barusan.
"Cici, kita batalkan saja lembur kita hari ini. Soalnya saya ada urusan lain dan kamu boleh pulang". Secepat kilat ia memberitahu asistennya itu kemudian ngacir meninggalkannya.
Sedangkan sang asisten hanya bisa terheran - heran melihat Dokter nya itu.
" Hedeh... Memang kebiasaan kali lah Dokter Richard ini, sebentar lembur, sebentar enggak. Nanti yang mendadak kerja lah di saat libur. Hufft". Ia menggerutu sendiri.
...
Sejak Eggy pulang dari rumah sakit, ia pun sudah sibuk memeriksa laporan - laporan tersebut.
Almira yang selalu pengertian pada dirinya langsung menyuguhinya minuman hangat dan beberapa cemilan untuknya. Dengan manjanya Almira sedikit mengganggu Eggy ketika ia melihat Eggy sudah terlihat kelelahan. Almira melingkarkan tangannya pada leher Eggy dari belakang lalu menempelkan pipinya pada pipi Eggy.
"Um... Istirahat dulu Suam, jangan di porsir kali".
"Belum bisa sayang. Karena Suam harus selesaikan malam ini juga meriksanya". Ia masih fokus pada pekerjaannya.
Eggy tersenyum mendengarnya lalu menarik tangan Almira dan mendudukkannya di atas pangkuannya.
" He he he, iya Ist ku sayang. Ist enggak usah khawatir. Lagian kalau Suam sakit kan Suam sudah ada obatnya. Obat yang paling ampuh yang tidak di miliki oleh siapa pun selain Suam hi hi hi". Ia mencoba menggoda Almira kemudian menciumnya.
Almira tersipu malu menatap wajah Eggy.
"Dasar tukang gombal". Ia memukul bahunya.
Eggy /" Ha ha ha. Ya sudah! Kalau gitu, kalau Ist enggak mau Suam jatuh sakit jadi Ist harus nemeni Suam mengerjakan ini semua seperti ini".
"Iih apaan! Lagian mana bisa Suam bekerja sambil memangku Ist seperti ini. Yang ada nantinya Suam enggak bakalan bisa konsentrasi karena melihat kecantikan Ist". Almira berlagak sok cantik.
" Ha ha ha, ini saja sudah enggak konsen Suamnya, rasanya pengen di lahap saja ini istrinya Suam. Ngaaaap! Ha ha ha". Eggy memangapkan mulutnya seolah - olah ingin menyantap makanan yang lezat.
"Memangnya Ist makanan".
" Memang iya. Makanan yang paling lezat yang Suam punya ha ha ha. Ya sudah ahh, nanti enggak siap - siap kerjaan Suam". Eggy kembali pada pekerjaannya sambil memangku Almira.
"Kenapa mesti Suam sendiri sih memeriksanya? Kenapa enggak suruh orang saja yang memeriksanya?". Almira merasa heran pada rutinitas Eggy pada akhir bulan yang mengharuskan ia sendiri yang mengerjakannya.
"Enggak bisa sayang. Karena sudah enggak ada yang bisa di percaya lagi sejak kejadian waktu ada staf pegawai main curang untuk keuntungannya sendiri".
Almira /" Oh yang waktu itu? Yang laporan pasien dia jual sama Dokter dari rumah sakit lain?".
"Hu uh. Makanya harus Suam sendiri yang mengerjakannya biar Suam sendiri juga yang mengetahui langsung ada kecurangan lagi atau tidak".
Almira manggut - manggut sembari memonyongkan bibirnya. Eggy tertawa melihatnya kemudian secepat kilat ia menciumnya. Almira sempat memukul bahu Eggy, wajahnya mendadak merah padam di buatnya.
"Sekali lagi lah, biar hilang capek nya terus terisi lagi batrenya he he he". Eggy kembali menciumnya kali ini lebih lembut dan lama.
" Nah! Sekarang jadi makin semangat Suam kerjanya ho ho ho". Wajah Eggy nampak lebih fresh dari sebelumnya dan dengan semangat ia kembali bekerja.
Namun seketika wajah Eggy berubah dan alis matanya menyatu ketika ia melihat satu laporan milik Dokter Richard. Dengan teliti ia membaca laporan tersebut.
"Kenapa Suam? Apa ada yang salah ya?". Almira melihat perubahan wajahnya.
" Jadi yang ngedonor jantungnya Bang Egga itu Dokter Ratna!". Ujarnya setelah ia membaca isi laporan tersebut.
__ADS_1
Almira pun terkejut.
"Apa? Ah enggak mungkin lah Suam. Rang Dokter Ratna sehat - sehat saja kok waktu itu bahkan Dokter Ratna ada di saat Bang Egga selesai operasi. Mana mungkin Suam, kan harusnya kalau operasi jantung itu terlihat jelas tidak sehatnya jangankan operasi jantung, operasi apa pun pasti begitu dan butuh istirahat yang ekstra. Enggak mungkin lah itu, Ist ingat kali waktu itu Dokter Ratna ada di samping Bang Egga".
Eggy pun berpikir yang sama.
"Suam juga mikirnya seperti itu. Bagaimana mungkin kalau pendonor itu Dokter Ratna".
" Tuh kan. Lagian bukannya kalau pendonor jantung itu harus yang sudah mendekati ajalnya ya? Bahkan orang yang baru meninggal. Betul enggak tuh Suam?". Almira bertanya mengenai apa yang ia ketahui.
"Harusnya begitu. Tapi di zaman yang sudah canggih seperti saat ini, orang yang masih hidup pun bisa mendonorkannya walau pun resikonya lebih tinggi. Tapi kalau di pikir - pikir lagi sepertinya mungkin Ist, karena waktu Dokter Richard ngasi tahu ke Suam bahwa ada seorang pendonor untuk Bang Egga, Dokter Richard bilang kalau si pendonor enggak mau ngasi tahu identitasnya bahkan Suam pun enggak boleh ikut turun tangan dalam operasi itu. Terus lagi, Suam juga hampir sering melihat Dokter Ratna datang ke rumah sakit menemui Dokter Richard". Eggy baru menyadari hal itu.
"Hmm... Bisa saja Suam kalau Dokter Ratna memang mau konsultasi sama Dokter Richard terus ini laporan medis yang lain". Almira masih tidak yakin bahwa pendonor itu adalah Dokter Ratna.
"Enggak Ist. Suam yakin kalau ini laporan yang sama di saat Dokter Richard menunjukan laporan pemeriksaan jantung si pendonor". Justru Eggy lebih yakin.
" Nanti Suam bakal tanya kan langsung pada Dokter Richard mengenai ini karena kalau ini memang benar, kita harus segera ngasi tahu soal ini sama Bang Egga. Biar Bang Egga enggak salah paham selamanya sama Dokter Ratna".
Almira /"Iya Suam. Tapi Suam harus memastikannya betul - betul, jangan sampai salah informasi".
" Iya sayang". Eggy mengangguk pelan dan masih memandangi laporan medis tersebut.
...
"Agung... Semalem (kemarin) pas kamu minta laporan medis punya Dokter Richard, yang ngasi laporan nya, Dokter Richard nya langsung atau asisten nya?". Setiba ia di rumah sakit, ia langsung bertanya pada Agung.
"Mamp*s! Tuh kan, betul tebakan aku. Pasti ada apa - apa nya ini. Dokter Richard pasti bakalan terkena masalah". Justru batin Agung yang berkata.
" Sama asistennya Dok, kebetulan Dokter Richard lagi keluar. Memang nya kenapa Dok? Apa ada yang salah ya Dok?". Jawabnya dan ingin mengetahui apa yang terjadi.
Eggy sempat terdiam sejenak lalu menggelengkan kepalanya.
"Enggak. Enggak ada masalah apa - apa. Cuma laporan Dokter Richard ada yang kurang saja, maka nya saya bertanya. Mungkin asisten Dokter Richard lupa mengonfirmasikan sama Dokter Richard maka nya laporannya ada yang kurang he he he". Eggy tidak ingin orang lain mengetahui soal ini sebelum ia mendapatkan bukti soal si pendonor itu.
"Ya sudah, kamu balik bekerja lagi. Oh ya! Sebentar lagi saya mau keluar dan enggak balik lagi ke rumah sakit. Nanti kalau ada yang nyariin saya atau minta informasi apa pun tolong jangan kasi tahu dan bilang sama orang itu kalau saya sedang ada urusan keluarga".
" Baik Dok". Agung pun manggut - manggut memahami perintahnya.
"Oh ya satu lagi. Nanti kalau kamu pulang, pasti kan ruangan saya seluruhnya terkunci".
Agung /" Iya Dok, saya akan mengerjakan apa yang Dokter katakan. Oh ya Dok, semalam tak lama Dokter pulang, Dokter Richard menghampiri saya dan bertanya soal laporan medis pasien - pasien nya, Beliau pun bilang ada laporan medis yang masih belum lengkap terus Beliau juga bilang akan mengirimkan laporan itu melalui fax".
"Oh... Oke. Terimakasih, nanti akan saya pinta langsung sama Dokter Richard. Ya sudah, saya masuk dulu". Ia yakin itu pasti alasan Dokter Richard saja. Ia pun berjalan menuju ruang utama nya dan mengambil semua laporan medis Egga dan si pendonor. Tak lama ia pun bergegas pergi dari rumah sakit.
"Iya nih! Pasti dugaan aku betul ini. Pasti ada apa - apa nya sama Dokter Richard. Dokter Eggy enggak mau cerita ke aku itu pasti karena aku masih orang baru di rumah sakit ini dan enggak mungkin Dokter Eggy langsung bisa percaya sama aku walau pun aku asistennya. Kalau tidak, kenapa Dokter Eggy mendadak ada urusan di luar rumah sakit". Setelah ia melihat kepergian Eggy, ia masih tetap menduga - duga serta penasaran apa yang terjadi sebenarnya bahkan ingin rasanya ia menghampiri asisten Dokter Richard hanya untuk mendapatkan informasi yang membuatnya penasaran.
...
"Eggy". Seseorang menyapanya di tengah ia sedang berjalan menuju ke parkiran mobil nya.
Eggy pun menoleh dan alis matanya menyatu melihat orang yang telah memanggilnya kemudian mendekati Eggy.
" Maaf! Anda siapa ya?".
"Aku Rania". Ia mengulurkan tangannya sembari tersenyum namun Eggy menolak uluran tangan wanita blasteran itu.
" Aku rekan kerja kamu sesama model brand yang kontrak kerjanya kamu putuskan secara sepihak waktu itu he he he". Ia pun menyimpan kembali tangannya.
Eggy masih tidak mengingatnya namun ia yakin ini pasti ada hubungannya dengan Pak Suwandi.
"Oh". Jawabnya singkat.
" Kita memang belum berkenalan secara langsung tapi aku kenal kok sama kamu he he he".
Eggy masih tidak paham apa maksud dan tujuan Rania menghampirinya.
"Em... Maaf sebelumnya, anda ke rumah sakit ini memang ada perlu sama saya atau memang lagi mau jenguk seseorang yang sedang sakit di rumah sakit ini?".
Rania menepuk jidat nya /" Eh iya, aku ke sini memang sengaja mau ketemu sama kamu soalnya ada yang mau aku bicarakan sama kamu".
"Em... Tapi maaf saya tidak bisa karena saya harus buru - buru. Mungkin lain waktu saja kita bicaranya. Sekali lagi maaf, lain kali kamu harus buat janji terlebih dahulu sama asisten saya. Ini kartu nama asisten saya, nanti kamu bisa tanya kan saja padanya kalau mau buat janji ketemu sama saya. Saya permisi dulu". Eggy pun bergegas meninggalkannya tanpa mendapatkan respon dari Rania.
Rania sempat jengkel pada Eggy yang terlihat mengacuhkannya.
"Huuh...! Songong amat tuh orang. Kau pikir aku ke sini karena aku suka sama kau. Ha?". Dumelnya.
Kemudian ia menepuk jidatnya.
" Oh iya, aku sampai lupa jadi nya. Aku kan mau minta nomor hp si Omen sama dia tadi. Hiiiis...! Nyebelin banget tuh orang". Ia menghentakkan kakinya ke tanah karena merasa sedikit kesal kemudian ia pun pergi dari parkiran rumah sakit itu.
__ADS_1