
Tak terasa waktu terus berjalan, semakin hari kondisi Tari semakin melemah. Meski Egga sudah mengetahuinya namun ia berusaha menguatkan diri nya untuk berpura - pura tidak tahu, padahal rasa nya ia ingin sekali memikul semua yang Tari rasa kan.
Diam - diam Egga pergi ke rumah sakit untuk menemui Astri dan kebetulan Tari sedang tidak bertugas di rumah sakit pada saat itu. Egga ingin mengetahui semua nya dari Astri dan ia yakin tidak ada yang di tutupi dari Tari ke Astri.
"Astri". Egga memanggil nya ketika ia masuk ke dalam ruangan Astri tanpa permisi. Astri pun menoleh terkejut.
" Eh... Sorry. Aku main nyelonong saja". Egga sedikit kikuk melihat Astri sedang menangani pasien nya.
"Eh kamu Ga. Bentar ya Ga, kamu silah masuk, kamu duduk saja dulu". Astri melanjutkan tugas nya dan mempersilahkan Egga duduk.
Tak lama Astri pun selesai dengan tugas nya dan pasien nya pun keluar beserta yang lain nya, tak lupa juga Astri menyuruh perawat dan asisten nya untuk tidak masuk ke ruangan nya sebelum ia panggil. Astri menghampiri Egga yang duduk gelisah.
"Apa kabar kamu? Tumben kamu main ke rumah sakit? Tari kan enggak lagi bertugas hari ini".
" Aku mau nanyak sama kamu soal penyakit Tari. Apa benar Tari mengidap sakit kanker rahim?". Tanpa menjawab pertanyaan Astri dan tanpa basa - basi ia mempertanyakan hal itu.
Sontak membuat Astri terkejut dan bingung harus menjawab apa, mengingat ia sudah janji pada Tari tidak akan memberitahu Egga soal ini.
"Astri! Aku tahu kalau kamu mengetahui soal ini. Jadi tolong, kasi tahu aku yang sebenar nya. Apa benar penyakit itu ada di dalam tubuh Tari?". Egga mengulang pertanyaan nya lagi. Wajah nya terlihat cemas, panik, sedih dan kebingungan.
Sedangkan Astri benar - benar bingung, wajah nya terlihat pucat dengan situasi seperti ini, namun pada akhir nya ia terpaksa mengatakan yang sebenarnya pada Egga sebab ia juga enggak tega melihat Egga. Astri menelan ludah nya, kemudian ia mengangguk pelan.
Tubuh Egga terasa lemas ketika ia mendapatkan jawaban yang sebenarnya. Mata nya terasa panas dan ingin mengeluarkan air mata, lalu ia mengusap wajah nya.
Astri pun turut prihatin.
"Sorry Ga. Sebenarnya aku sudah janji sama Tari kalau aku enggak akan memberitahu siapa - siapa soal ini terutama sama kamu. Dia enggak mau kalau kamu sedih dan terbebani karena penyakit nya. Tapi aku terpaksa ngasi tahu ini ke kamu karena aku enggak sanggup lagi melihat Tari menderita sendiri melawan penyakit nya. Tari tidak mau mengikuti pengobatan atau kemo therapy karena dia takut menghadapi nya dan takut ketauan sama kamu. Jadi, Semakin hari kanker nya semakin meningkat lebih cepat, sekarang ia sudah berada di stadium 4".
Egga enggak bisa berkata apa - apa lagi. Air mata nya pun sempat menetes namun ia langsung menyeka nya. Setelah puas mendapatkan semua jawaban dari Astri, Egga pun berpamitan untuk pulang dan berpesan pada Astri untuk tidak memberitahu soal pertemuan ini.
Masih terngiang di telinga nya semua apa yang di jelaskan oleh Astri. Ia pun mengingat kejadian di malam mereka nginap di rumah orang tua nya, dimana Tari meminta nya untuk menikah lagi. Perasaan Egga menjadi hancur lebur dan sangat sedih. Ia sampai tidak bisa konsentrasi dalam kerjaan nya. Semua nya nge - blank.
Sering kali Egga melihat Tari sedang diam - diam bersembunyi untuk merintih kesakitan karena rasa sakit yang tak tertahankan oleh nya. Tubuh Tari semakin lama semakin kurus dan lemas, setiap kali Egga berpura - pura bertanya mengenai kesehatan nya, Tari hanya menjawab kalau dia sedang masuk angin atau kecapekan karena kerja.
Kali ini Egga benar - benar sudah tidak tahan lagi melihat Tari semakin melemah. Ia membawa Tari ke rumah sakit dengan paksa. Tari sering menolak ajakan Egga untuk periksa ke dokter dan Egga menuruti nya, tapi kali ini Egga tidak peduli. Dia tetap memaksa nya untuk ke rumah sakit.
Tanpa ke ruang UGD dan tanpa konsultasi, Egga langsung membawa nya ke ruangan specialis kanker. Tari terkejut Egga membawa nya ke ruangan itu.
" Dok, tolong tangani istri saya". Egga menggendong Tari kemudian merebahkan nya di atas tempat tidur.
"Eh.. Pak Egga dan Dokter Tari he he he". Dokter specialist yang biasa di kenal Dokter Lala terkejut karena Egga langsung nyelonong masuk ke ruangan nya.
Tari sudah tidak bisa berbuat apa - apa lagi, tubuh nya lemas tak berdaya, dia hanya bisa pasrah.
" Sudah cepat periksakan istri saya". Perintah nya dan sedikit bernada tinggi.
Egga begitu panik.
Dokter Lala pun mengecheck kondisi Tari.
" Pak Egga, kita harus cek darah dulu untuk mengetahui Dokter Tari sakit apa".
Egga mengusap wajah nya, ia merasa tidak sabar.
" Kamu pergi panggil dokter Astri kemari. Sekarang!". Egga menyuruh asisten dokter Lala dan tidak mempedulikan dokter Lala.
Dokter Lala mengerutkan dahi nya, ia merasa bingung, pertama kenapa Dokter Tari langsung di bawa ke tempat nya, kedua apa hubungan nya dengan Dokter Astri.
Tak lama Dokter Astri pun tiba, ia sempat terkejut melihat Egga apa lagi melihat Tari sudah terbaring lemas di atas tempat tidur.
"Tari..". Ia mendekati Tari.
" Stri... Tolong kamu jelas kan sama Dokter Lala soal Tari". Egga langsung to do poin.
__ADS_1
Astri menelan ludah nya, ia merasa tidak enak harus memberitahu soal Tari di depan Tari nya sendiri, sempat ia melirik Tari yang memberikan ia kode untuk tidak memberitahu apa pun dan Egga melihat kode itu.
"Astri". Tegas nya.
" Eh iya. Gini Dok, sebenarnya pasien yang dokter Lala tanya beberapa bulan yang lalu, yang hanya hasil lab nya saja yang ada tapi orang nya enggak ada, yang atas nama Rita itu sebenarnya hasil lab punya Dokter Tari". Astri terpaksa memberitahu nya.
Tari memejamkan mata nya sejenak, ia hanya bisa pasrah. Ia pun melihat raut wajah Egga yang tegang di barengi dengan cemas. Akhir nya Tari ngerti kenapa Egga langsung membawa nya ke sini, ternyata Egga sudah mengetahui soal penyakit nya sebelum nya.
" Ya Tuhan. Jadi, itu hasil lab punya Dokter Tari?". Dokter Lala merasa shock, ia menutupi mulut nya serta mata yang terbelalak. Ia melirik prihatin pada Tari.
"Iya Dok, jadi tolong tangani Dokter Tari sesegara mungkin dan lakukan yang terbaik". Astri memohon pertolongan pada Dokter Lala.
Dokter Lala mendekati Tari, kemudian memegang tangan nya.
" Aku akan melakukan yang terbaik untuk dokter Tari, dan aku pasti kan Dokter Tari akan segera sembuh". Lirih nya.
Air mata Tari tak terbendung lagi, mereka mengalir ke pipi nya. Ia menggenggam tangan Dokter Lala semampu nya sambil mengangguk pelan.
Sedang kan Astri dan Egga tak kuasa menahan air mata nya, terlebih lagi dengan Egga yang membalik kan badan nya karena enggak kuat melihat sang istri tercinta harus mengalami seperti itu.
Tari mengikuti segelintir pengobatan dan rutin untuk kemo therapy demi kesembuhan nya. Egga selalu setia berada di sisi nya dan ia rela meninggalkan perusahaan nya demi sang istri. Tak lupa Egga segera memberitahu kabar buruk itu kepada keluarga nya di Medan sehingga membuat mereka semua terkejut berat dan berupaya untuk ke Jakarta namun Egga melarang nya karena Egga berencana untuk membawa Tari ke Medan dan di rawat di sana setelah Tari melakukan operasi pengangkatan rahim nya.
Egga menyeka keringat yang membasahi wajah Tari yang sudah tirus sehingga tulang pipi nya terlihat dengan jelas. Kecantikan fisik Tari sudah habis di lahap penyakit itu. Tubuh nya hanya tinggal tulang yang di lapisi dengan kulit. Rambut nya pun semakin tipis akibat kemo therapy yang ia jalani.
Perlahan Tari mengangkatkan tangan nya untuk meraih tangan Egga, respon Egga begitu cepat, ia langsung mewujudkan keinginan Tari lalu menggenggam tangan nya.
"Kenapa beib?". Egga membisikkan nya pada telinga Tari.
Pendengaran Tari sudah mulai terganggu dan Tari pun sudah sulit untuk berkomunikasi.
" A... Ku... Eng... Gak.. Ma.. u.. Di.. O.. pe.. ra.. si.. A.. Ku.. Ta... Kut". Pinta nya dengan terbata - bata.
Egga menarik nafas nya yang terasa sesak.
Tari menggeleng pelan.
" A.. Ku. Eng.. Gak.. Ma.. U.. Ka.. Re.. Na.. A.. Ku.. Su.. Dah.. Ti.. Dak.. Pu.. Nya.. Wak. Tu.. La.. Gi..". Air mata nya mengalir ke pipi nya menatap Egga.
Egga langsung menghapus air mata Tari.
" Enggak Beib, kamu pasti sembuh. Kita masih punya banyak waktu untuk bahagia bersama - sama. Kamu harus kuat sayang". Lirih nya dan Air mata nya pun jatuh.
Tari menggeliatkan badan nya karena rasa sakit nya.
" A.. Ku.. Su.. Dah.. Ti... Dak.. Ku.. At.. La.. Gi.. A.. Ku.. Ma.. U.. Pu.. Lang.. Ke.. Me.. Dan.".
"Iya Beib, kita akan pulang ke Medan tapi setelah kamu di operasi".
" A.. Ku.. Eng.. Gak.. Ma.. U.. A.. Ku.. Ma.. U.. Pu.. Lang.. Se.. Ka.. Rang.. A.. Ku.. Rin.. Du.. Sa.. Ma.. A.. Yah.. A.. Ku.. Ma.. U.. Ke.. Te.. Mu.. Sa.. Ma.. A.. Yah..". Tari menangis histeris.
"Iya beib.. Iya. Kita pulang ke Medan ya? Kita ketemu sama Ayah. Tapi kita harus minta izin dulu ya sama Dokter Lala. Kan kita enggak boleh main langsung pulang saja. Ya?". Egga terpaksa menuruti Tari.
Egga benar - benar enggak kuat menahan rasa sedih nya. Egga terpaksa kuat untuk memberi semangat pada Tari. Egga selalu menangis pilu dengan sembunyi - sembunyi agar tidak kelihatan oleh Tari.
Ia berusaha memaksa Dokter Lala untuk meminta izin agar ia bisa membawa Tari pulang ke Medan. Awal nya Dokter Lala tidak mengizinkan nya mengingat kondisi Tari sudah tak larat lagi untuk di boyong kemana - mana, namun ketika ia melihat wajah Tari mendadak hati nya luluh dan sedih, ia pun mengizinkan mereka untuk balik ke Medan dan di rawat di sana.
Segala persiapan sudah di atur. Mereka pun berangkat ke Medan pada hari itu juga di malam hari nya dan tentu nya di dampingi oleh Dokter Lala dan Dokter Astri.
Bagaikan pesawat milik pribadi, tidak ada penumpang kelas bisnis dalam penerbangan saat itu kecuali hanya ada mereka berenam, Egga, Tari, Dokter Lala, Dokter Astri berserta asisten kedua nya.
Sesampainya di bandara, mereka sudah di sambut oleh pihak kedua keluarga kecuali Ayah Tari yang tidak bisa ikut karena kondisi nya yang sudah renta. Dari pihak keluarga Tari hanya Om dan Tante nya saja yang hadir menjemputnya. Sedang kan dari pihak keluarga Egga, semua nya berkumpul termasuk sang Mama yang rela menjemput mereka meski beliau harus memakai kursi roda.
Dari bandara, Tari langsung di lari kan ke rumah sakit milik mereka. Dan mendapatkan pengobatan secapat mungkin agar tidak terjadi hal yang buruk.
__ADS_1
Mereka bersedih ketika melihat Tari yang hanya bisa berbaring di tempat tidur, ia sudah tak berdaya lagi. Tari langsung di larikan ke ruang ICU karena kondisi nya tiba - tiba ngedrop. Mereka panik dan sibuk memberikan pertolongan pada Tari. Pak Wijaya pun turut sibuk menghubungi Dokter terbaik di setiap rumah sakit milik nya tak ke tinggalan beliau menghubungi adek nya Maya.
Sedang kan Bu Hanna tak sanggup menahan air mata nya, beliau menangis melihat kondisi Tari, kemudian Eggy menghampiri Mama nya lalu membisik kan sesuatu pada nya sembari mengusap lengan beliau.
"Ma... Mama jangan sedih. Kasihan Bang Egga nya kalau mama nangis kayak gini. Bang Egga saja sudah berusaha untuk enggak terlihat sedih atau pun nangis di depan Kak Tari. Jadi kita harus ngelakuin hal sama seperti Bang Egga, biar mereka semangat. Kita harus ngasi kekuatan ke Bang Egga terutama ke Kak Tari. Ya Ma?".
Bu Hanna mengangguk pelan sembari menyeka air mata nya.
"Mama sedih kali Gy. Kenapa lah berat kali ujian untuk mereka. Hu hu hu ".
" Mama enggak boleh ngomong nya kayak gitu. Itu berarti Mama marah sama ALLAH. Ini semua sudah takdir ALLAH untuk mereka Ma. Semua nya pasti ada rencana lain untuk mereka di balik ujian ini. Mama jangan sedih lagi ya. Kita doa kan saja yang terbaik untuk mereka".
Bu Hanna sedikit lebih tenang karena mendengar ucapan Eggy.
" Ya sudah Ma, Eggy nyusul ke dalam ya? Eggy mau bantuin mereka menangani Kak Tari".
Bu Hanna mengangguk.
"Sayang. Suam minta tolong jagain Mama di sini ya? Suam mau masuk ke dalam. Kalau enggak, Ist bawa saja Ghifari sama Mama ke ruangan Suam biar enak Ghifari nya tidur, kasihan Ghifari tidur kayak gitu terus nanti Ist capek, biar Mama bisa tenang juga". Eggy beralih ke Almira yang duduk tak jauh dari nya sembari memangku Ghifari yang sudah terlelap.
"Iya sayang. Ya sudah, Suam masuk lah ke dalam. Tolong bantu - bantu Bang Egga dan Kak Tari".
Eggy mengusap kepala Almira yang berlapis hijab nya.
" In Sya ALLAH ".
Eggy pun beranjak meninggalkan mereka di ruang tunggu tepat nya di depan ruang ICU.
" Ma.. Kita ke ruangan Eggy mau?". Almira mendekati Bu Hanna.
"Enggak usah deh Ra, Mama mau di sini saja, mama enggak bisa tenang. Tapi kalau kamu mau bawa Ghifari ke ruangan Eggy, ya sudah enggak apa - apa. Mama enggak apa - apa di sini sendiri. Lagian kasihan Ghifari". Bu Hanna menolak ajakan nya.
Mana tega Almira meninggalkan mertua nya menunggu sendirian di depan ruangan ICU terlebih lagi itu sudah tengah malam. Almira pun tidak beranjak dari tempat itu menunggu kabar kondisi Tari.
Tak lama pihak keluarga Tari pun tiba sehabis menjemput Ayah nya di rumah. Beliau terkulai lemas dengan menggunakan kursi roda nya dan tabung oksigen yang berada di sebelah nya untuk membantu pernafasan nya yang sesak parah dan beliau pun sudah nyaknyok (pikun, linglung dan semacam nya).
Almira mendorong kursi roda mama mertua nya dan meninggal kan Ghifari berbaring di atas kursi karena mama mertua ingin menghampiri besan nya. Meski sang besan sudah tidak mengenali siapa pun lagi tapi beliau masih bisa merespon siapa yang menegur nya.
"Pak". Bu Hanna menegur besan nya itu. Perlahan beliau melirik ke arah Bu Hanna dan Almira. Beliau hanya menggerak kan tangan nya dengan perlahan dan tidak menjawab sapaan nya sebab beliau sedang menggunakan selang oksigen pada hidung dan mulut nya. Sungguh sangat memprihatin kan.
Sebenar nya mereka tidak tega membawa beliau ke rumah sakit, tapi karena permintaan mereka satu sama lain, maka nya mereka terpaksa membawa beliau ke rumah sakit.
Tak lama Egga pun keluar dari ruang ICU, wajah serta mata nya terlihat sembab. Ia keluar karena adik ayah mertua nya alias Om nya Tari sudah memberitahu nya bahwa mereka sudah tiba di depan ruang ICU bersama Ayah mertua nya.
Egga menghampiri sang Ayah mertua lalu mencium tangan beliau.
"Yah... Tari anak Ayah sangat rindu sama Ayah". Egga sedikit terbata membisik kan pada telinga beliau, Egga pun berdiri dan membawa Ayah mertua nya masuk ke dalam ruang ICU.
" Egga bawa Ayah dulu ke dalam ya Om, Tante. Kita enggak boleh masuk ramai - ramai soal nya ada pasien yang lain juga sedang sekarat". Tutur nya bernada lemas.
"Iya Ga, masuk lah. Kami enggak apa - apa nunggu di luar kok".
Egga pun membawa beliau menemui putri nya yang nafas nya sudah satu - satu. Egga mendekatkan beliau pada bagian kepala Tari, lalu berbisik pada Tari.
" Beib, ini Ayah sudah datang mau ketemu sama kamu. Buka lah mata nya. Ini Ayah ada di sini beib".
Perlahan Tari membuka mata nya, ia berusaha untuk melirik Ayah nya lalu memejam kan mata nya kembali. Tari benar - benar sudah di ambang sakratul maut nya. Semua orang yang berada di situ turut bersedih, apa lagi Eggy dan Pak Wijaya yang berdiri di sisi kiri Tari.
Nafas Tari semakin lama semakin tidak dapat di rasa kan lagi alias sebentar ada sebentar hilang. Egga kembali bergegas membisik kan lafaz ALLAH ke telinga Tari.
"Laa ilaa haillaallah... Laa ilaa haillaallah... Laa ilaa haillaallah". Egga menuntun nya dengan berlapang dada serta menahan tangis nya agar Tari bisa kembali dengan tenang. Semua anggota tubuh Tari sudah dingin dan sama sekali tidak merespon lagi kecuali telinga dan lidah nya yang berusaha mengikuti ucapan Egga.
Egga menuntun nya hingga hembusan nafas terakhir nya. Dan.....
__ADS_1
#Innalillahi wainna ilaihi rojiun