Keikhlasan Hati

Keikhlasan Hati
Chapter 79 #S3


__ADS_3

Senyuman Egga tak pernah lepas memandangi wajah Ratna yang masih terlihat pucat pasih dan genggaman tangan mereka pun enggan untuk melepaskan satu sama lain.


Kini Ratna di nyatakan bebas dari masa kritisnya, kondisi tubuhnya pun dalam keadaan normal terutama pada jantung nya.


Ratna tersenyum sambil meneteskan air matanya. Ia menangis bahagia karena akhirnya mereka bisa bersatu kembali.


"Selamat ya untuk kalian". Omen mendekati keduanya dan mengucapkan rasa bahagia nya terhadap mereka.


"Terimakasih Men kalau bukan karena kau mungkin ini enggak akan terjadi he he he". Egga menambahnya.


Omen menganggukkan kepalanya dan berusaha menahan air matanya dengan tertawa kecil.


"He he he, kalian enggak perlu berterimakasih sama aku. Apa pulak ini karena aku, ada - ada saja kau he he he. Ini semua karena ALLAH. ALLAH yang sudah mengatur rencana indah ini untuk kalian, bukan karena aku. Sekali lagi aku mengucapkan selamat ya untuk kalian, semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warrahmah, Aamiin". Omen mengulurkan tangannya namun Egga menariknya lalu memeluknya sembari menepuk punggungnya.


"Aamiin, terimakasih atas doanya ya Men. Kau memang teman yang sangat baik. Enggak heran kalau Eggy lebih sayang sama kau ketimbang aku he he he". Tuturnya.


Air mata Omen mengalir seketika lalu secepatnya ia menghapusnya dan melepaskan pelukan mereka.


"He he he, aku bukan orang yang baik Ga. Bahkan aku saja sempat mengkhianati kalian, buktinya saja sampai sekarang adik kau itu sudah membenci ku dan mungkin enggak akan pernah memaafkan aku he he he". Ia melirik Eggy yang sedang mengobrol bersama dengan Dokter Richard dan Eggy pun meliriknya juga meski ia tidak mengetahui kalau Egga dan Omen sedang membicarakannya.


...


Omen pun pamit pulang bersama dengan keluarganya. Tak sedikit pun mereka menyisakan rasa kecewa serta sakit hati kepada keluarga Ratna dan keluarga Wijaya atas kejadian hari ini.


Mereka sangat berbesar hati menerima keputusan yang di buat oleh Omen.


"Men...". Eggy memanggil nya dan menghentikan langkah kakinya.


Omen menoleh kebelakang dan melihat Eggy. Ia pun meminta keluarga nya untuk pulang terlebih dahulu, ia berpikir Eggy pasti ingin berbicara padanya.


Eggy mengajak nya untuk keluar dari rumah sakit lebih tepatnya mengajak nya minum kopi bersama di tempat biasa mereka meluapkan keluh kesah hidup mereka masing - masing.


"Kemana rambut jagung kau itu? Hm? Kenapa berubah hitam jadi kayak sapu ijuk gitu? Hm?". Eggy membuka pembicaraan mereka sembari melirik rambutnya yang sudah berubah dari image nya.


" Ha? Iya. Di paksa Mamak ku mengubahnya karena lamaran kemarin he he he". Omen menjawab nya dengan rasa canggung.


"Haah! Bukan gaya kau kali kayak gini. Kau jadi keliatan makin jelek dengan penampilan seperti ini". Eggy menatapnya sinis lalu menarik tubuh Omen dan memeluknya dengan erat sembari tertawa kemudian menangis.


" Iya bukan gaya ku kali ini ha ha ha". Omen sempat terkejut karena Eggy memeluknya.


"Iya, makin bertambah kadar jelek kau kayak gini ha ha ha. Maafin aku Men". Tuturnya.


Omen pun pecah di pelukan Eggy.


"Ha ha ha. Hu hu hu, aku yang minta maaf sama kau. Aku yang salah gara - gara ego aku, kita jadi kayak gini. Maafin aku hu hu hu".


Eggy menepuk punggung Omen berulang kali.


"Hu hu hu iya kau yang salah. Kau yang harusnya minta maaf duluan sama aku bukan nya aku. Dasar sompret kau! Ha ha ha. Minta maaf kau sekarang juga sama aku hu hu hu". Ia pun melepaskan pelukan mereka.


" Ha ha ha iya koplak aku minta maaf. Sekarang kau maafin aku enggak nih?". Omen bernada nyolot sembari meliriknya dengan tajam.


Eggy merapatkan giginya kemudian menjambak rambut Omen.


"Kayak gitu cara kau minta maaf sama aku? Hm? Enggak ada otak nya, sudah dia yang salah dan mau minta maaf malah dia pulak yang ngomong nya ngegas. Kurang ajar ha ha ha. Enggak mau aku maafin kau kalau kayak gitu cara kau minta maaf sama aku ha ha ha".


Omen terbahak namun air mata nya tak henti mengalir.


" Ha ha ha. Sudah lah, sekarang kau maafin aku enggak nih? Kalau kau enggak mau maafin aku ya sudah, yang penting aku sudah minta maaf sama kau ha ha ha".


Eggy kembali menarik rambut Omen.


"Enggak ada otak kau ha ha ha. Sudah! Kau balikan rambut jagung kau yang dulu. Enggak suka aku nengok kau kayak gini. Kayak anak paok (bodoh) kau kayak gini ha ha ha".


Omen /" Ha ha ha, nanti Mamak aku merepet sama aku kalau aku balikan lagi rambut jagung ku. Tahu lah kau kalau Mamak aku merepet gimana, bisa pekak (tuli) kuping aku dengarnya, belum lagi nanti bengek'an nya (sesak nafas) kumat. Pening (pusing) lah kepala ku ha ha ha".

__ADS_1


Eggy /"Ha ha ha betul juga kau itu. Tapi aku enggak suka kali nengok gaya kau kayak gini. Kau bujuk lah Mamak kau dulu, mana tahu habis ini Mamak kau itu ngizinin ha ha ha".


Omen /"Nanti lah aku bujuk Mamak ku. Ah kurang ajar nya air mata ini, entah apa dia pakai keluar hu hu hu, makin hancur kejantanan aku jadi nya ha ha ha".


"Enggak ada akhlak kau ngomong kayak gitu ha ha ha". Eggy menjitak kepalanya sembari terbahak.


Amarah serta ego mereka runtuh sudah. Tak ada lagi rasa sakit hati atau semacamnya. Kini mereka seperti biasanya.


Seperti apa yang di iri kan oleh Egga kepada mereka selama ini, yakni persahabatan.


...


Hati Omen akhirnya bisa tenang. Bukan hanya bisa menyatukan Ratna dan Egga saja melainkan persahabatan nya bersama Eggy pun telah kembali seperti dulu.


Ia berjalan memasuki area studio nya yang terlihat sepi, mengingat cuti kerja yang di buat oleh Imam dengan cara sepihak.


"Lho Bang! Kok kau ke sini? Bukan nya kau bakalan nikah sama Kak Ratna ya hari ini?". Imam terkejut melihat Omen datang ke studio.


" Batal". Jawabnya.


"Ha? Yang betul lah kau Bang? Aku serius nanya nya lho. Mana mungkin batal. Kau ecek - ecek (bercanda) kan bang?". Imam mulai kepo.


Omen memutar bola matanya /"Hmm enggak percaya ya sudah. Pernikahan nya enggak batal tapi nikah sama aku nya yang batal".


Imam semakin terkejut.


" Ahh kau bercanda kan Bang? Serius lah kau Bang. Kau ngomong enggak pernah serius lah, enggak suka kali lah aku nengok kau".


Omen menarik rambutnya.


"Aku sudah ngomong serius paok. Ratna enggak jadi nikah sama aku, dia sudah nikah sama Egga".


Imam mengerutkan dahinya.


" Egga? Maksud nya Bang Egga abang nya Bang Eggy ya Bang?".


"Iyaa! Sudah, kau enggak usah banyak nanya lagi, aku mau istirahat bentar. Kau kunci pintu studio biar enggak ada yang datang ke sini. Terus kau juga jangan ganggu - ganggu aku lagi istirahat. Kalau kau mau keluar, kunci saja pintunya dari luar". Omen berjalan menuju ke ruangannya yang menjadi tempat tinggal nya selain rumah orang tuanya.


"Iyaaaa. Kau enggak mau istirahat saja di kamar aku?". Ia menawarkan kamarnya sebab ia tahu bahwa di ruangan Omen sama sekali tidak ada tempat tidur, yang ada hanya sofa.


Omen /" Enggak mau aku. Kamar kau bau. Parfume ruangan kau bikin aku mau muntah. Mending aku di ruangan aku saja. Kau ganti itu aroma parfume nya, entah macam apa wanginya". Ia berkata sembari berjalan.


Imam /"Hmm... Wangi enak gitu di bilang bau dan bikin dia muntah. Dasar si Omen aneh. Eh... Tapi benar enggak sih yang di bilang nya tadi? Kalau dia enggak jadi nikah sama Kak Ratna terus Kak Ratna nikah nya sama Bang Egga. Tapi kalau memang benar, apa masalahnya ya? Haiiih jadi kesal aku karena enggak di ajak tadi pagi Huffft". Ia sangat penasaran apa sebenarnya yang terjadi pada pernikahan sepupunya itu.


Sejak kedatangan Imam merantau ke Medan, Omen sudah tidak sendiri lagi di saat ia menginap di studio. Sebab Omen memberikan Imam kamar untuk nya tinggal serta fasilitas di dalam studio itu tanpa membayar uang sewa sedikit pun bahkan Omen juga mempekerjakan nya di studio itu sebagai asisten pribadinya dan sekalian menjaga - jaga sstudio nya di saat ia pulang ke rumah nya.


Omen membuka kemeja putih nya lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa.


"Fuuuht... Ya ini lah yang terbaik untuk aku. Hmm! Hey wahai jodoh ku dimana lah kau berada? Aku sudah hampir tua menunggu mu di sini. Mudah - mudahan kita segera di pertemukan Aamiin. Kalau bisa Tamara Geraldine ya ha ha ha". Ia menghelakan nafasnya sembari meletakan tangannya ke atas kepala nya kemudian ia memejamkan matanya.


...


" Terimakasih ya sayang karena kamu sudah bangun. Aku sangat bahagia akhirnya kita dipersatukan kembali walau kita harus bersusah payah menjalankan cobaan serta ujian yang ALLAH berikan. Aku janji, aku enggak membiarkan kamu berjuang sendiri. Kita harus sembuh bersama, terus bahagia bersama dan membesarkan Tara beserta anak - anak kita yang nya nanti". Egga berkata sembari mencium tangan Ratna lalu tangan kirinya mengelus pipi Ratna yang terasa dingin.


Ratna tersenyum menatapnya lalu berusaha mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah Egga.


Keluarga mereka sengaja membiarkan mereka berdua saja berada di dalam kamar ruangan vvip yang ada di rumah sakit itu.


Meski begitu namun tetap saja mereka mengawasi keduanya dan tidak meninggalkan mereka berdua.


Almira dan Eggy memutuskan untuk menjaga mereka dari ruangan yang terpisah, yakni di ruangan Eggy dan tak lupa mereka mengaktifkan CCTV di kamar Vvip itu sebagai alat untuk memantau mereka jika terjadi sesuatu.


Ratna menggeserkan tubuh nya lalu memberikan ruang untuk Egga agar bisa berbaring di samping nya lebih dekat.


Egga berusaha keras untuk mendekati Ratna.

__ADS_1


Eggy dan Almira melihat apa yang Egga lakukan, sontak membuat Eggy ingin menghampiri mereka.


Namun Almira melarangnya.


"Biar kan Bang Egga berusaha sendiri sayang".


" Tapi itu sangat berbahaya sayang. Suam sengaja menyatukan tempat tidur mereka biar mereka bisa tidur berdampingan bukan berarti sudah bisa satu tempat tidur seperti itu". Eggy merasa khawatir dan Almira memahami itu.


"Sudah lah Suam. Suam ini menganggu saja lah. Tenang saja Bang Egga enggak akan kenapa - kenapa kok, tuh lihat!". Almira menunjukkan layar CCTV, itu terlihat bahwa Egga berhasil berada di samping Ratna.


Eggy menghelakan nafasnya setelah melihat itu.


" Memang lah, dasar enggak sabaran kali lah si Egga itu mau dekat - dekat sama Kak Ratna". Ia menggerutu.


Almira tertawa sembari melihatnya lalu mencubit kedua pipinya.


"Suam harusnya ngaca. Kayak Suam sabar saja. Ingat enggak waktu Ist kecelakaan dulu? Sangkin enggak sabar nya Suam sampai lupa kalau Ist masih berdarah. Hm?".


Eggy menggaruk telinga nya dan berpura - pura lupa sembari menahan senyumnya.


" Mana ada. Ahh perasaan Ist saja itu".


Almira meliriknya dengan tajam.


"Hmm... Iya lah tak ada itu, berarti kemarin itu cowok lain bukan Suam".


Eggy langsung tidak terima jika Almira mengatakan kata cowok lain atau semacam nya.


" Iih apa pulak itu cowok lain. Itu Suam ya Ist. Sama lakik sendiri lupa".


Almira terbahak.


"Apa? Ha ha ha. Kan Suam sendiri yang lupa dan bilang itu cuma perasaan Ist saja. Ini Suam malah bilang Ist yang lupa ha ha ha. Memang lah si Eggy ini semakin tua semakin konslet ha ha ha". Ia mengejek Eggy sedikit tidak sopan.


Mata Eggy terbuka lebar.


" Omak... Lakiknya sendiri di bilang konslet. Istri macam apa kamu ini? Ah...". Eggy berlagak seperti pemain theatre sembari memegang dadanya seolah - olah tersakiti.


"Ha ha ha Suam lebay". Almira menutup wajah Eggy dengan telapak tangannya kemudian Eggy memeluk tubuh nya dengan erat.


Eggy /" Ya sudah, yuk kita tidur. Hari esok sedang menanti kita".


Almira menganggukkan kepalanya.


"Hu uh. Ya sudah, enggak usah di tengok - tengok lagi orang itu lagi ngapain. Kalau bisa di matikan saja layar nya". Tangan Almira meraih tombol on off layar CCTV tersebut.


Eggy mencegahnya.


" Eit jangan. Kalau di matikan sama saja kita enggak menjaga mereka".


"Iih kalau mereka lagi ngapa - ngapain gimana? Itu sama saja kita kayak nonton film biru". Almira menepis tangan Eggy yang mencegah tangannya untuk mematikan layar itu.


" Ha ha ha, ya enggak mungkin lah sayang. Lihat donk kondisi mereka berdua. Aneh lah Ist ini. Lagian mereka juga tahu kalau mereka sedang di awasi sama kita, jadi enggak mungkin mereka macam - macam. Lihat! Mereka sudah tertidur kan? Pikiran Ist saja yang sudah kotor ha ha ha. Kalau kita iya bisa ngapa - ngapain karena enggak ada orang lain selain ALLAH yang mengawasi kita fu fu fu". Eggy menggoda Almira sembari menggelitiki pinggang Almira.


"Jangan macam - macam ya Suam. Ini di rumah sakit. Ha ha ha geli lho Suam". Almira berusaha mengelak.


" Kenapa rupanya kalau ini di rumah sakit. Lagian ini pun ruang pribadinya Suam kok. Siapa yang berani masuk dan melarang kita? Hm? ALLAH saja enggak melarang". Eggy mendekati wajahnya pada wajah Almira.


"Iya, masalah nya Suam harus mengalah sama si bulan". Almira menutup wajah Eggy mencegahnya untuk menciuminya.


"Si Bulan? Siapa bulan?". Alis mata Eggy menyatu.


Almira melirik ke bawah dan Eggy pun melirik ke bawah juga kemudian ia menepuk jidatnya, mendadak ia di buat kesal setelah melihat ke bawah.


" Haiiiih memang lah kau bulan, datang nya enggak pernah tepat. Suka kali kau ya bulan bikin aku kesal. Awas lah kau, seminggu ini aku ngalah lah sama kau. Nanti habis ini enggak ku kasi kau numpang lewat selama sembilan bulan. Huuuft". Eggy marah - marah enggak jelas sembari melihat ke bawah.

__ADS_1


Ia merasa kesal karena Almira saat ini sedang berada di fase haidnya alias datang bulan.


Almira terbahak melihat suaminya itu sembari geleng - geleng kepala.


__ADS_2