
Riuh ramai nya menggema di sebuah gedung bisa di bilang tempat hiburan nya anak muda zaman now. Suara musik yang cukup memekak di telinga serta asyik nya para muda mudi menikmati riuh nya tempat itu, ada yg berjoget bagai orang yang kehilangan akal, ada juga yang duduk santai mengobrol sembari menikmati alunan musik.
Ari dan Lana yang baru tiba langsung menemui orang yang sudah mengundang mereka ke tempat itu yang kebetulan sedang mengadakan birth day party.
Sebelum nya Lana meminta Ari untuk masuk terlebih dahulu karena dia ingin ke toilet.
"Happy birth day ya Cha . . ". Ari mengucap kan selamat ulang tahun pada teman nya Icha sang pemilik party. Tak lupa memberi nya cium pipi kanan cium pipi kiri (Cipika cipiki).
Wanita cantik bertubuh tinggi semampai itu pun senang dengan kehadiran nya.
"Thank You verry much beib, kamu sama siapa kesini?". Teriak nya ke telinga Ari mengingat suara musik begitu kencang.
Ari/ "Sama teman".
Icha/ "Teman apa teman?". Mata nya memandang sinis.
Ari/ "Ha ha ha iya teman untuk berbagi kasih".
Icha/ "Sompret lu ha ha ha".
Ari/ "ha ha ha oh ya yang lain mana?".
Icha/ "Itu di tengah, mereka lagi asyik tuh". Ia menunjuk kan ke arah sekumpulan orang - orang yang berjoget riang.
Ari/ "Emank lah mereka ini, enggak tobat tobat ha ha ha".
Icha/ "Pigi lah sana, gabung sana sama mereka".
Ari/ "Enggak lah, kamu kan tau kalau aku enggak suka, ini karna kamu aja nya maka nya aku terpaksa kemari".
Icha/ "Jadi kamu terpaksa nih?".
"Ha ha ha sikit, ya udah lah aku duduk di situ lah ya, capek aku berdiri ha ha ha". Ari menunjukan sofa yang ada di sisi kiri mereka.
Icha/ "Ya udah, kalau kamu mau pesan sesuatu silah kan aja, bebas, nikmati aja pesta nya". Ia menepuk lengan Ari.
Ari/ "Iyeeee beres, gampang itu he he he ".
Ya meski pun Ari termasuk cowok yang bebas, gaul, banyak teman, banyak wawasan tapi dia tidak suka mendatangi tempat - tempat seperti yang dia datangi sekarang ini.
Demi teman dekat nya, ia terpaksa harus menghadiri nya dan menikmati nya dengan duduk santai sembari melihat teman - teman nya udah entah kayak apa wujud nya.
Di antara mereka ada salah satu Seorang cowok manis bertubuh tinggi sedang mengkode Ari untuk menghampiri nya tapi Ari menolak nya dengan memberi nya kode balik. Cowok itu yang tak lain adalah Putra menghampiri nya mencoba untuk menarik nya ikut bergabung.
"Ayoook lah bro, sesekali ". Putra memaksa nya.
"Enggak mau aku, aku ngeliatin kelen aja dari sini". Tolak nya mendorong tubuh Putra.
Putra/ "Enggak asyik kali kau padahal sesekali aja nya, percuma kau udah di sini tapi cuma duduk aja".
"Aku cariin ternyata kamu di sini?". Tiba - tiba Lana muncul mengaget kan 2 sekawan itu.
Putra melihat sosok Lana dengan tatapan bingung dan penasaran nya.
Ari/ "Iya, kamu kok lama kali ?".
Lana/ "Rame kali tadi di toilet".
Ari/ "Ouh, oh ya ini kenalin sahabat aku Putra, Put ini Lana".
"Lana" "Putra". Mereka saling berjabat tangan. Namun masih ada rasa penasaran di hati Putra.
"Kamu enggak turun?". Lana menunjuk kan ke arah pusat ke gilaan tempat itu dan Pertanyaan itu membuat Ari kaget.
"Enggak, kamu kalau mau ikut gabung, ya udah pigi lah". Ari mencoba mengetest nya.
"Ya udah aku tinggal bentar enggak apa - apa kan?, soal nya pas banget musik nya, musik favorit aku he he he". Jedeeeer di kepala Ari. Ternyata . .
"Iya enggak apa apa". Ari tersenyum getir. Dengan semangat Lana ikut bergabung dengan mereka yang berjoget riang.
Putra masih diam dan stay di situ.
"Kau ya mentang - mentang si Rara enggak mau ke tempat beginian kau bawa cewek lain yang mau. Dia siapa?".
Ari/ "Pacar aku". Jawab nya singkat.
__ADS_1
"Iya pacar di saat nemeni kau di sini kan?". Putra memutar bola mata nya.
Ari/ "Enggak, aku udah enggak lagi sama sepupu kau, kami udah putus".
Putra/ "Apa?, kok bisa?, cak kau cerita kan dulu sama aku". Terkejut.
Ari/ "Hufft . . . (mencerita kan semua nya)". Dengan tampang bersalah nya.
"Sia**n kau, sampek hati kali kau buat sepupu aku kayak gitu". Putra sedikit kesal pada sahabat nya itu.
Ari/ "Iya aku tau, aku salah, aku khilaf".
"Kalau enggak mikir aku kau itu siapa nya aku udah aku hajar kau sampek habis di sini". Sebenar nya Putra sudah hampir ingin menghajar wajah Ari namun di urung kan nya.
Ari/ "Sorry lah bro, kalau kau mau pukul aku, enggak apa - apa kok, aku siap nerima nya".
Putra/ "Kau minta maaf nya sama si Rara bukan sama aku, lagian ya . . Enggak sampek mikir lah aku, kau sampek tega kayak gitu. Kau kan tau dia itu cewek baik - baik, setia, penyabar, pokok nya udah langka lah dapati cewek kayak gitu, ini malah kau sia - sia 'in demi cewek yang kayak gitu?, adoooh broo broo". Putra menunjuk kan ke arah Lana yang sedang asek menikmati musik nya.
Ari/ "Huh . . . Iya bro aku tau itu, itu lah bodoh nya aku. Entah syetan apa yang masuk ke tubuh aku, Aku betul - betul nyesal, aku udah pernah ketemu sama dia dan mau minta kesempatan kedua sama dia, tapi jangan kan di kasi kesempatan kedua, nengok mukak aku aja dia enggak mau, malah dia bilang enggak kenal sama aku".
Putra/ "Iya lah, dia pasti sakit kali itu, aku tau dia gimana, dia kalau udah cinta sama orang udah sama orang itu aja, bahkan dia lebih cinta sama tuh orang dari pada sama diri nya sendiri, dia tipe setia dan susah mau ngelupain orang, apa lagi perbuatan kau, udah pasti dia enggak bakalan lupa. Penyesalan datang nya telat bro, aku gitu tau kelen jadian terkejut dan senang kali aku dengar nya, karna kelen orang nya punya sifat yang sama, trus Rara pantes ngedapati kau yang baik enggak kayak yang lain nya berselamak peyak maka nya aku enggak pernah mau ngenalin dia sama orang - orang itu, begitu juga sebalik nya dengan kau. Ehh enggak tau nya jadi kayak gini cerita nya, sama aja kau kayak cowok - cowok breng**k lain nha".
Ari/ "Hmm . . . Mungkin aku bukan cowok yang baik untuk dia, dan aku enggak pantas untuk dia, ALLAH kan punya rencana nya sendiri. Dan mungkin ini karma atau hukuman buat aku karna udah ngebuat dia terluka dan mudah - mudahan cowok itu lah pilihan ALLAH yang terbaik untuk dia".
Putra/ "Hmm . . . Iya lah, mau macem mana lagi, apa lagi nak kita buat udah terjadi juga".
Ari/ "Iya Bro . . .".
Putra/ "Ya udah lah, sebagai hukuman kau dari aku, sekarang kau ikut turun sama aku gabung kesana, aku enggak mau tau itu ha ha ha".
Ari/ "Enggak lah bro aah".
Putra/ "Enggak ada penolak kan, enggak kau tengok tuh cewek kau itu sor kali dia".
Mereka melihat ke arah Lana yang mengkode Ari untuk bergabung.
Sedang kan Ari hanya tersenyum getir.
Setelah di paksa dan di tarik - tarik, akhir nya Ari menyerah juga dan terpaksa ikut bergabung dengan mereka. Lana selalu membimbing nya dengan gerak gerakan yang tak di mengerti. Untuk pertama kali nya dia merasa kan tertawa gembira yang sesaat itu menikmati petcaaaah nya malam anak muda mudi di tempat hiburan tersebut.
.
.
"Jadi ini pertama kali nya untuk kamu". Tergopoh - gopoh dia menopang tubuh Ari.
Ari/ "Iya . . . Rasa nya happy, ternyata seperti ini rasa nya pantesan aja orang - orang pada doyan kesini he he he".
Lana/ "Udah tau baru pertama kali nya, kamu malah banyak kali tadi minum nya".
Ari/ "He he he iya, tapi ini cukup sekali, ini kali pertama dan terakhir, enggak lagi - lagi". Ia menggoyang kan tangan nya ke kanan ke kiri menanda kan enggak.
"Dan kamu . . . Juga enggak boleh lagi ke tempat kayak gini, pokok nya ini terakhir untuk kamu, karna enggak bagus, ngerti?". Kali ini dia menunjuk kan ke arah pipi Lana dan memandang nya dengan mata yang kreyep - kreyep.
"hmm iyaaa . . . Ya udah yok kita pulang, kamu udah gawat kali ini". Lana menuntun nya menuju ke arah mobil jazz merah milik nya yang terpakir rapi di parkiran.
"Ini udah jam berapa?". Ari melihat ke arah jam tangan nya namun pandangan nya suram.
"jam tangan aku udah rusak ya?, kok jarum nya berputar enggak jelas?".
Lana/ "Ini udah jam 3 pagi yank". Ujar nya sembari berusaha memakai kan sit belt pada Ari. "Diam bentar napa sih yank, aku enggak bisa ini makek 'in sit belt kamu".
"He he he he ". Ari memandangi wajah Lana. Terlintas wajah Almira.
"Kamu makin cantik aja yank". Ia memegang wajah Lana.
"Aku minta maaf sama kamu, tolong Maafin aku, maafin aku, maafin aku Iea ku". Ari pun padam dengan kalimat terakhir nya.
Lana shock mendengar ucapan Ari yang seperti nya menyimpan sesuatu dari nya.
Dia berpikir apa ada wanita lain selain diri nya.
Karna penasaran serta curiga, Lana mengambil hp Ari yang ada di dalam saku celana nya. Dengan cepat dia memeriksa semua isi hp itu tanpa pengecualian.
Mata Lana terbelalak ketika dia mendapati satu album foto yang tersembunyi di dalam folder ada folder lagi dan ada folder lagi berlapis hingga 5 lapisan. Folder album itu berisi foto - foto kenangan Ari bersama Almira.
__ADS_1
"Siapa cewek ini?, apa selingkuhan nya". Dia memeriksa detail di setiap foto. Foto - foto itu menunjuk kan itu foto 1 dan 2 tahun yang lalu. Akhir nya Lana sadar siapa wanita itu.
"Apa ini mantan nya ya?, tapi kenapa dia masih nyimpan foto - foto ini?".
Lana melirik Ari yang sudah tak berdaya.
.
.
Semua terlihat samar ketika Ari membuka mata nya. Ia mengedap - ngedip kan mata nya sembari melirik seluruh ruangan yang tak di kenal oleh nya.
"Shhh au . . .". Rintih nya karna sakit nya kepala akibat ulah nya tadi malam sembari bangkit dan duduk. Mata nya terbelalak melihat diri nya tanpa busana nya alias hanya mengena kan celana boxer nya.
"Ini dimana?, kenapa aku bisa di sini?". Ari melihat ke sekeliling tak ada siapa pun, yang ada fasilitas kamar bernuansa serba girly dan ia melihat terpampang jelas foto sang pemilik kamar.
"Selamat pagi sayang ". Lana tiba - tiba muncul mengaget kan Ari yang masih terbodoh. Ari melihat Lana yang sedang mengena kan baju tidur tali satu yang panjang nya selutut dan diri nya tanpa busana membuat dia takut dan bepikir bahwa mereka . . .
Ari/ "Kenapa aku bisa ada di sini?".
Lana/ "Kamu lupa ya sama kejadian tadi malam?".
Ari/ "Lupa apa?, kejadian apa?". Semakin takut.
Lana/ "Tadi malam kan kamu banyak minum trus enggak sadar kan diri, berhubung karna udah jam berapa trus dengan kondisi kamu yang enggak memungkin kan untuk pulang ke rumah kamu ya jadi nya aku bawa aja kamu ke rumah aku yang kebetulan Papa sama Mama lagi di luar kota". Jelas nya.
Ari/ "trus kenapa aku tanpa pakaian kayak gini?".
Lana/ "ya ampun sayang, kan kamu sendiri yang ngebuka pakaian kamu. Aku aja sampek kwalahan gara - gara kamu".
Ari/ "Jadi . . . Tadi malam kamu sama aku tidur sama di sini . . .?".
Lana/ "Iya . . . Masa iya mau tidur di kamar Papa Mama aku he he he aneh deh kamu".
"Jadi kita tadi malam udah ngelakui hal itu ?". Spontan Ari berdiri.
"Pppfftt ha ha ha ha, jadi kamu mikir nya kita macem - macem?, ya enggak lah, emank kita tidur sama di dalam kamar ini tapi kita enggak ngapa - ngapain. Rang kamu nya udah enggak berdaya gitu. Di sentuh aja kamu kagak sadar gimana mau macem - macem ha ha ha lagian aku tau batasan nya". Lana tertawa geli dengan prasangka Ari.
Ari merasa lega/ "Tapi tetap aja kita enggak boleh kayak gini meski kita enggak macem - macem".
"Maka nya nikahi aku secepat nya biar kita boleh kayak gini bahkan boleh macem - macem". Lana mendekati tubuh Ari membuat nya kikuk menelan ludah.
"Baik nya aku pulang, enggak enak kalau di lihat tetangga kamu kalau tau kita berdua semalaman mengingat Papa Mama kamu enggak ada di rumah". Ari menjauhi Lana sembari memungut pakaian nya.
"Issh kamu ini lah, peduli kali apa kata orang". Dumel nya.
"Emank kita enggak perlu terlalu perduli apa kata orang lain tapi kita harus menjaga agar kita enggak menjadi fitnah bagi orang lain, oh ya lain kali jangan pernah kita lakuin hal kayak gini lagi, cukup ini yang terakhir". Kini Ari sudah lengkap dengan pakaian nya.
Lana/ "Kan enggak apa - apa yank, kamu kan pacar aku jadi ya kita enggak masalah kayak gini".
Ari/ "aku ini pacar kamu bukan suami kamu, pacar kamu bukan milik kamu seutuh nya".
"hmm iyaa". Singkat nya.
Ari/ "ya udah aku pulang".
"Nanti dulu napa sih yank . . . Paling enggak nya sarapan dulu gitu, aku udah buati sarapan untuk kamu". Rengek nya sembari manarik manja tangan Ari.
"Enggak, aku sarapan nya di rumah aku aja, kamu sarapan gih sana, aku pulang ya daaaaa". Ari pun pergi meninggal kan Lana sendiri di dalam kamar.
.
.
"Iea . . . Iea . . . Maafin aku Iea . . . Iea . . . Tolong dengerin aku dulu, Iea . . . . ".
Igauan Ari slalu terngiang di telinga Lana dan membuat nya penasaran plus kesal.
"Aku mesti cari tau si Ari apa masih berhubungan dengan mantan nya itu atau enggak". Ujar nya sembari menyomot sepotong roti untuk sarapan pagi nya.
.
.
Sedang kan Ari yang terdiam di dalam kamar nya sedang berusaha mengingat yang terjadi pada nya malam itu di tempat hiburan itu. Ia mengusap wajah nya dan mengacak rambut nya. "Aaaaaaaaaaaaaaaaaaarggt". Frustasi.
__ADS_1