Keikhlasan Hati

Keikhlasan Hati
Chapter 44 #S3


__ADS_3

Tak seperti biasanya, Egga melirik sekitar kantornya ada yang aneh, ia melihat staf - staf nya pun bertingkah aneh. Ia merasa mereka sedang berbisik - bisik membicarakannya lalu berhamburan ketika ia berjalan melewati mereka.


Eggy sempat mengerutkan dahinya dan bertanya - tanya dalam hatinya "Apa terjadi sesuatu di sini?". Kemudian ia membuka pintu ruangannya dan melihat sosok wanita yang sangat ia kenal yakni Zia. Setelah melihat Zia berada di dalam ruangannya ia pun menyadari mengapa para staf nya sempat riuh sebelum ia masuk ke dalam kantor.


"Zia? ". Sapa nya.


Zia pun menoleh kearah Egga yang masih berdiri di depan pintu. Zia tersenyum lalu menghampirinya.


" Hai... Maaf ya. Aku pasti mengagetkan kamu pagi - pagi gini sudah ke kantor kamu he he he".


Egga tersenyum getir.


"Memang ada apa kamu pagi - pagi gini ke sini?".


Zia menarik tangan Egga lalu menyuruhnya duduk di kursinya.


" Aku ke sini karena aku mau sarapan bareng sama kamu he he he. Aku sudah siapkan makanan kesukaan kamu yaitu nasi goreng daging sapi". Ia berkata sembari membukakan kotak bekal yang ia bawa khusus untuk Egga, lalu ia menyodorkannya pada Egga.


"He he he, kamu enggak perlu repot - repot Zia sampai bawakan aku sarapan seperti ini". Ujarnya, sempat ia melirik nasi goreng buatan Zia untuk nya.


" Ah... Aku enggak merasa di repotkan kok, justru aku senang. Lagiankan nanti aku bakalan setiap hari juga nyiapin sarapan untuk kamu he he he".


Ucapan Zia sontak membuat Egga merasa canggung dan mengingat soal perjodohan mereka. Egga semakin tidak berselera untuk mencicipin nasi goreng tersebut.


"Zia....".


Egga ingin mengatakan pada Zia bahwa ia tidak setuju soal perjodohan tersebut, namun Zia langsung memotong ucapan Egga.


" Enggak nyangka ya, ternyata kita berjodohnya dengan cara seperti ini. Aku awalnya benar - benar tidak tahu kalau Papa kita punya rencana ini untuk kita, terus aku sangat terkejut setelah mengetahui bahwa laki - laki yang ingin di jodohkan sama Papa itu kamu. Rasanya seperti mimpi, baru saja aku berharap bahwa kita itu di jodohkan ehh ternyata harapan aku itu terkabulkan secepat itu he he he. Aku senang kalau laki - laki itu adalah kamu Ga".


Egga mengurungkan niatnya untuk mengatakan isi hatinya yang sebenarnya setelah melihat wajah Zia yang berbinar - binar bahagia karena dirinya. Egga hanya bisa tersenyum hingga menunggu waktu yang pas untuk mengatakannya.


Setelah Zia pergi, Egga kembali pada pekerjaannya dan sering kali ia tidak fokus karena memikirkan perjodohan tersebut.


Terdengar suara nada dering dari ponselnya. Egga langsung mengambil ponselnya yang tergeletak di atas mejanya lalu melihat sang penelpon.


"Hallo Assalamualaikum. Iya Rat, ada apa? Apa? Ya sudah aku segera ke sana ini".


Wajah Egga berubah menjadi pucat setelah menerima panggilan dari Ratna, kemudian ia berlari secepat kilat menuju mobilnya dan berlalu. Sesampainya di tempat tujuan yakni rumah sakit milik keluarganya, ia berlari tergesa - gesa menuju ke ruangan UGD. Dengan nafas yang tersengal - sengal ia melihat Ratna dan adik nya Eggy sedang menangani seseorang yakni Siboy, anak kecil yang Tari sayangi.


"Gimana keadaannya?". Egga mendekati mereka dengan tampang paniknya.


" Dia sudah enggak apa - apa bang, cuma tulang kaki kanan nya ada keretakan dan lukanya cukup dalam karena sepertinya dia mengalami kecelakaan yang cukup parah, tapi kami sudah mengambil tindakan operasi secepat mungkin dan Alhamdulillah enggak apa - apa, kita tunggu saja ia bangun, karena obat biusnya membuatnya jadi tertidur". Eggy menjawab pertanyaannya, ia melihat abang nya itu tidak sekhawatir itu pada orang lain apa lagi sama orang asing.


"Ehh.. Kau kenal sama anak ini bang? Apa jangan - jangan kau ya bang yang enggak sengaja nabrak ini anak terus lari".


Egga meliriknya sinis lalu menarik rambut Eggy, sempat ia merintih.


"Hiiiis kok aku malah di jambak. Memang nya pertanyaan aku salah?". Cibirnya sembari mengusap kepalanya.


" Sudah ahh bising kali kau, sekarang anak ini gimana? Apa enggak langsung di pindahin ke ruangan saja?". Egga mengalih pertanyaan Eggy.


"Sabar napa kau. Lagian perawatnya kan lagi nyiapin ruangannya". Eggy memberengi matanya melihat Egga.


" Hmmm".


"Eh iya, aku balik ke ruangan aku dulu ya? Soalnya bentar lagi jadwal aku". Ratna mencelah di tengah - tengah keduanya.


Pandangan Egga mengarah ke arah Ratna.


" Iya Rat, terimakasih ya kamu sudah menghubungi aku soal ini".


Ratna tersenyum sembari menyipitkan matanya.


"Iya sama - sama Ga. Ya sudah aku duluan ya. Gy..?". Pamit nya dan sempat ia melirik Eggy.


" Oh iya, dok". Eggy menjawab dengan singkat.


Ratna pun berlalu meninggalkan keduanya yang masih menunggu Siboy akan di bawa ke ruangan. Eggy melirik wajah kekhawatiran yang masih melekat pada wajah Egga. Ia masih penasaran dengan abang nya.


"Sebenarnya anak ini siapa sih bang? Kenapa kau segitu khawatir nya?". Ia pun bertanya kembali.


Egga menghembuskan nafas nya agar bisa relax lalu perlahan ia menceritakan apa hubungannya dengan anak ini alias Siboy.

__ADS_1


" Terus rencana kau gimana bang nanti nya? Kau kan tahu pasti bakalan banyak yang menentang soal ini". Eggy melipat kedua tangannya sembari memandangi wajah Egga.


"Iya aku tahu itu. Aku juga sudah memikirkan nya sebelumnya, tapi mau bagaimana pun aku harus menunaikan amanah dari Tari. Melihatnya seperti ini, aku jadi berkeinginan untuk mengadopsinya secepatnya, bahkan aku berpikir setelah ia keluar dari rumah aku langsung membawa nya pulang bersama". Pandangan Egga hanya memandang wajah lusuh Siboy, ia sama sekali tidak memandangi Eggy.


"Ya, aku tahu bang niat kau itu baik. Tapi apa enggak terlalu terburu - buru? Terlebih lagi aku dengar dari Mama kalau kau mau menikah sama Zia. Memang aku enggak tahu karakternya Zia, tapi kan kau harus mikirin juga, apa dia mau menerima atau enggak soal kau mau ngadopsi anak ini". Sontak membuat Egga meliriknya ketika ia menyinggung soal perjodohan itu.


"Belum pasti nikah. Papa sama Papa nya Zia hanya berusaha untuk menjodohkan kami. Lagian aku belum mau menikah kok. Kalau pun aku sama Zia berjodoh, sudah pasti Zia akan menerimanya. Kalau dia enggak mau menerimanya, ya sudah gampang, tinggal dia pilih saja, mau menerima Siboy atau kehilangan aku".


" Sekarang kau bisa ngomongnya kayak gitu bang. Kau pikir enak kali memutuskan sesuatu dengan sepihak. Enggak bisa kau egois kayak gitu. Kau pikirkan juga perasaannya".


"Sudah aahh. Enggak usah bahas ini dulu. Yang penting Siboy sehat dulu. Kalau itu belakangan". Egga mengusap wajahnya.


" Hmm... Aku pikir kau bakalan sama Dokter Ratna ehh enggak tahu nya sama si Zia - Zia itu. Ya sudah lah aku mau balik ke ruangan bedah dulu, bentar lagi aku ada operasi pasien". Eggy menepuk punggung Egga.


"Hmmp iya. Suruh perawatnya lebih cepat lagi nyiapin ruangannya, jangan bertele - tele".


" Iya iya. Ya sudah aku tinggal".


"Hmm".


Eggy beranjak meninggalkannya. Tak lama kemudian beberapa perawat datang menghampiri mereka lalu membawa Siboy ke ruangannya, Egga pun mengikuti mereka dari belakang menuju ruangan kelas 1 di rumah sakit itu.


Mereka dengan lihay nya menangani bocah cungkring itu sedangkan Egga hanya mengamati kerja mereka. Tak butuh waktu yang lama, setelah selesai perawat - perawat tersebut pamit pada Egga.


"Permisi Pak".


" Iya, Terimakasih ya Sust".


"Sama - sama Pak".


Setelah mereka keluar meninggalkan Egga bersama dengan Siboy yang masih tertidur dengan pulas akibat obat bius yang di suntik kan sebelum melakukan operasi pada kaki nya. Egga duduk di sampingnya sembari memandangi wajah penuh kasihan itu.


#Kletek....


Suara pintu mengagetkan Egga dan ia pun menoleh. Matanya tersenyum ketika ia melihat wanita yang telah mengejutkan nya itu.


"Eh kamu Rat. Aku pikir perawatnya lagi he he he. Bukannya tadi kamu bilang, kamu ada jadwal menangani pasien ya?".


" He he he, iya asisten aku salah ngebuat jadwal untuk aku, jadwal untuk besok malah di buat untuk hari ini. Harusnya hari ini aku kosong".


"Ya ALLAH, untung saja asisten kamu itu dapat atasannya sesabar kamu. Kalau dia dapat dokter lain hmm bisa - bisa dia di marahin habis - habisan itu he he he".


" Ahh berlebihan kamu Ga he he he". Ratna sedikit tersipu malu.


"Oh ya, terimakasi banyak ya kamu sudah ngasi tahu aku langsung soal kecelakaan ini dan membawa Siboy ke sini".


" Ah... Mau berapa kali sih kamu ngucapin terimakasih nya sama aku. Menolong sesama itu kan wajib. Lagian kita sudah berteman, dalam hubungan pertemanan atau persaudaraan tidak boleh mengucapkan terimakasi he he he".


"Mana bisa gitu. Mau bagaimana pun juga kita harus berterima kasih agar kita bisa saling menghargai dan mengingatkan kita untuk bersyukur".


" Hmm iya iya deh. Aku kalah deh kalau urusan beginian he he he".


Seketika mereka hening sejenak memandangi Siboy, hingga akhirnya Ratna kembali membuka suara.


"Huuuh... Kalau ingat melihat kondisinya tadi, rasa nya jantung aku mau copot".


Egga meliriknya dan mendengarkan nya dengan seksama.


"Kalau aku enggak kebetulan lewat dari jalan itu, mungkin kita enggak tahu Siboy mengalami seperti ini". Ratna mendekati Siboy lalu menyentuh tangannya yang terdapat beberapa luka lebam.


" Memang dia kecelakaan nya sama apa? Terus orang yang nabrak kemana? Dari tadi aku enggak ngeliat batang hidungnya". Dari awal Egga sudah penasaran dengan kronologi kejadiannya.


Ratna terdiam sejenak, sempat ia menelan ludahnya karena sedikit merasa takut untuk menceritakan yang sebenarnya.


"Rat... Kok diam? Ceritain ke aku gimana kejadiannya?".


" Huuuh.... Sebenarnya Siboy bukan di tabrak sama orang, tapi dia di kroyok sama beberapa berandalan yang umurnya jauh di atas nya". Pelan - pelan Ratna mengatakannya.


"Apa? Di kroyok? Terus kamu melihat siapa yang mengroyoknya?". Mata Egga terbelalak dan memerah mendengarnya.


"Aku enggak begitu melihat mereka dengan jelas, tapi kalau aku ketemu lagi sama mereka mungkin aku akan mengenali mereka. Pas aku melewati jalan itu, mereka menghajarnya habis - habisan bahkan ada yang menggunakan benda untuk memukul kakinya makanya ada keretakan pada tulang kaki nya. Terus di saat aku mendekati, mereka sudah pergi meninggalkan Siboy tergeletak di pinggir rel, makanya aku langsung bawa dia ke sini".


"Orang sekitar enggak ada yang melihatnya? Dan menolongnya".

__ADS_1


"Kebetulan saat itu sunyi, yang ada orang yang berkendaraan berlalu lalang. Kalau pun mereka melihatnya mungkin mereka enggak akan berani atau enggak peduli".


Egga mengusap - ngusap wajahnya dan bangkit dari duduknya. Ia merasa geram dan ia mengepalkan tangannya karena ia ingin menghajar dinding.


Secepatnya Ratna mendekatinya lalu mengusap pundak Egga dengan lembut dan menyuruhnya untuk duduk kembali.


"Yang sabar Ga. Kamu enggak boleh emosi kayak gitu. Kita tanyakan dulu sama Siboy bagaimana bisa dia di hajar seperti ini".


" Ini enggak bisa di biarin Rat. Kita harus mencari berandalan - berandalan itu, kita masukkan mereka ke penjara langsung. Ini nama nya kriminal". Egga masih tampak geram.


"Iya aku tahu itu. Tapi kita harus menunggu sampai Siboy bangun baru kita mulai mencari mereka. Kita enggak boleh terburu - buru emosi".


Egga berusaha menenangkan dirinya, berulang kali ia menarik nafas nya dengan dalam lalu menghelakannya kembali.


" Eggy tahu soal ini?".


"Enggak, aku enggak memberitahu nya soal ini. Aku hanya bilang dia korban tabrak lari. Makanya tadi sewaktu kamu datang ke sini, dia nuduh kamu yang menabrak Siboy".


" Huuh... Syukur lah kalau begitu. Kalau bisa jangan sampai ada yang tahu soal ini. Dan lagi, kamu juga enggak boleh ikutan soal ini". Egga melirik Ratna.


"Tapi Ga....".


Ucapan Ratna terputus karena Egga spontan memegang tangan Ratna.


" Aku enggak mau kamu terlibat dan kenapa - kenapa soal ini. Ini pasti sangat berbahaya buat kamu. Jadi, kamu jangan pernah berkeinginan untuk ikutan berurusan tentang ini. Biar aku saja yang membereskan semua ini".


Ratna terpaku menatap wajah Egga yang juga menatap diri nya. Kemudian ia mengangguk pelan dan tersenyum.


"Ya sudah, tapi kamu juga enggak boleh membuat diri kamu terancam bahaya. Kamu juga harus hati - hati. Karena aku tahu mereka pasti sangat berbahaya".


" Iya, kamu tenang saja, aku pasti hati - hati". Egga menyungging senyumannya. Lalu memperhatikan Siboy kembali dan duduk di samping tempat tidur dimana Siboy terbaring.


"Kamu kok tumben secepat itu emosi nya? Biasanya kamu lebih tenang kalau mendapatkan kabar buruk". Ratna meliriknya.


"Hmm... Ada saat nya aku bisa tenang dan ada saat nya juga aku langsung emosi ketika mendapatkan berita seperti ini. Tapi ini benar - benar kelewatan makanya aku langsung emosi, karena ini menyangkut nyawa orang, walau pun kita enggak tahu kejadian sebenarnya bagaimana dan kita juga enggak tahu siapa yang salah, tapi tetap saja ini perbuatan kriminal".


"Iya sih. Mudah - mudahan saja ini segera selesai, Aamiin".


" Aamiin. Sekali terimakasih ya Rat, kamu selalu ada untuk ku".


Ratna menepuk punggung Egga sedikit keras sembari merapatkan giginya.


"Sudah aku bilang jangan terus - terusan ngucapin terimakasi sama aku".


" He he he, iya iya. Galak amat neng". Egga tertawa kecil sambil memandangi senyuman Ratna yang di hiasi dengan kedua pipi bolong nya itu.


Seketika Ratna menepuk jidatnya.


"Ehh iya hampir saja aku lupa. Ngomong - ngomong bentar lagi kamu mau nikah ya sama Zia?".


"Kamu tahu dari mana soal itu?".


"Dari Zia nya langsung. Dia nge dm aku di instagram terus ngasi tahu aku soal rencana pernikahan kalian".


"Hiiish... Entah supaya apa lah tuh cewek ngasih tahu ke kamu". Ia menggelengkan kepalanya.


"Ya mungkin karena kan dia tahu kalau aku teman kamu jadi enggak ada salahnya kan dia ngasi tahu berita bahagianya sama teman calon suaminya. Ehh jadi apa yang di bilang Zia itu benar, kalian mau nikah?".


Sempat Egga mengendus keras sembari melipat kedua tangannya.


"Huffft... Di bilang benar iya, di bilang enggak benar juga iya".


Ratna mengerutkan dahinya, ia merasa bingung apa yang di maksud oleh Egga.


"Maksudnya gimana sih? Enggak ngerti aku nya".


" Sebenarnya rencana itu bukan rencana aku dan Zia yang buat. Tapi itu rencana Papa aku dan Papa nya Zia. Mereka berencana untuk menjodohkan aku dengan Zia". Sedikitnya ia menjelaskannya.


"Wah..! Berarti doa Zia di saat aku pertama kali ketemu di caffe itu terkabulkan donk he he he".


" Ha ha ha, iya Rat, secara enggak langsung doanya terkabulkan. Tapi aku masih belum yakin soal rencana mereka, karena aku masih belum mau menggantikan posisi Tari sama wanita lain. Aku cuma bisa mengikuti jalannya saja seperti bukan pria sejati". Egga menunduk kan kepalanya.


Ratna memperhatikan wajah yang tertunduk itu. Ia sangat mengerti apa yang di rasakan oleh Egga, itu tidak mudah untuk Egga bisa menggantikan sosok Tari yang sangat ia cintai dengan orang lain.

__ADS_1


__ADS_2