
Sesuai dengan janjinya kepada Omen. Kini Eggy berada di studio usai ia berurusan dengan kesibukannya di rumah sakit. Kali ini suasana studio tidak begitu ramai seperti di saat ia datang ke studio beberapa hari yang lalu. Studio terlihat bagaikan tak berpenghuni, yang ada hanya Omen yang sedang sibuk dengan kameranya.
"Jadi gimana? Sudah di izini sama binik kau apa belum soal kerja samanya?". Omen merasa tidak sabar menanti jawaban Eggy.
"Belum. Aku belum nanya lagi sama binik aku". Jawabnya sembari menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi yang ia dudukin.
" Jiiiiah.... Ku pikir sudah dapat izin makanya kau ke sini".
"Jadi mesti sudah dapat izin dulu baru aku boleh ke sini?". Eggy memberengi matanya melirik Omen.
" Ya enggak juga sih, cuma kan tahu lah kau itu kan super sibuk, jadi mesti ada hal yang penting dan mendesak dulu baru kau paksa'in ke sini".
"Hmmpt. Oh ya kemarin waktu aku mau jumpain kau tapi enggak jadi itu karena aku enggak sengaja jumpa sama Lana, mantan binik si Ari".
" Terus, jadi gara - gara dia? Ku pikir kau enggak jadi jumpain aku karena binik kau atau karena banyak pasien. Ehh enggak tahunya karena mantan binik orang". Omen masih bersikap biasa dan tidak melihat Eggy.
"Iya, awalnya kami cuma tegur sapa doank, malah aku berusaha secepat mungkin untuk enggak berlama - lama mengobrol dengannya, tahu lah kau kalau di rumah sakit itu gimana kalau mereka ngegosipin aku. Terus pas aku sudah pamit ehh dia nya malah nahan dengan nanya ke aku, apa si Ari sering ketemu sama Almira, gara - gara pertanyaan itu lah yang ngebuat aku enggak jadi ke sini".
" Ya terus kenapa juga dia nanya nya kayak gitu?".
"Hmmm... dia bilang kalau perceraian mereka itu gara - gara binik aku, makanya aku langsung ngajak dia keluar dari rumah sakit biar aku tahu gimana bisa dia bilang kayak gitu".
" Lah... Memang binik kau sudah ngelakuin apa rupanya sama orang itu? Perasaan, binik kau enggak ada ngapa - ngapain lah, karena aku tahu kali kalau kau kan selalu sama binik kau terus jadi mau ngelakuin apa binik kau sama orang itu sampai orang itu cerai". Omen mengerutkan dahinya.
"Itu lah, aku saja sempat naik pitam gitu dengarnya karena memang binik aku enggak ada ngapa - ngapain kan. Awalnya aku gitu juga responnya ke Lana, terus dia langsung ngeralat ucapannya. Maksudnya bukan karena gara - gara yang seperti kita pikirkan, maksud dia gara - gara si Ari masih cinta sama binik aku. Jadi si Lana sudah enggak tahan makanya minta cerai".
"Ya kalau gitu itu berarti bukan gara - gara binik kau. Memang si Ari nya saja yang enggak bisa move on sama binik kau. Bahaya juga kalau si Lana cerita - cerita ke orang lain soal penyebab perceraian mereka, itu bisa di bilang fitnah namanya".
" Hmmpt. Tapi, yang buat aku kepikiran terus sama peringatan si Lana". Eggy duduk sembari menyilangkan kakinya dan melipat kedua tangannya.
"Peringatan apa?".
" Dia nyuruh aku untuk berhati - hati, aku jangan sampai lengah terhadap Almira karena sewaktu - waktu si Ari akan mendekati Almira bahkan ia sanggup merebutnya dari aku".
"Aah gila saja dia. Enggak mungkin lah. Memang nya kayak sinetron, yang bisa ngerebut binik orang seenaknya saja ha ha ha". Omen terbahak geli.
" Yaa kita kan juga enggak tahu Men. Awalnya aku juga ngerasa kayak nya enggak mungkin, tapi kalau aku ingat - ingat lagi kejadian di rumah sakit, ingatan itu ngebuat aku jadi sedikit khawatir. Kau kan lihat juga waktu itu bahkan kau juga dengar kan pas si Ari nahan Almira pergi?".
Omen mendekati Eggy lalu menepuk pundaknya.
"Hmm... Sudah lah, enggak usah kau khawatirin kali. Kau percayakan saja sama binik kau. Lagian kan itu cuma peringatan si Lana doank belum tentu terjadi. Kau kan tahu kalau mantan itu selalu berpikiran buruk mengenai mantan nya. Bisa jadi si Lana masih enggak terima rumah tangganya hancur".
" Iya sih. Mudah - mudahan saja Si Ari enggak akan ngelakuin hal itu dan enggak akan aku biarkan juga itu terjadi". Gigi Eggy gemeretuk geram sembari mengingat kejadian di rumah sakit.
"Hmm.. Ya sudah, sekarang gimana ini soal kerja sama nya? Kapan mau kau tanya lagi sama binik kau? Pak Suwandi sudah nanyain aku terus ini". Ia mengalihkan topik pembicaraan mereka.
" Iya, nanti aku tanyain lagi sama Almira. Sibuk kali kau. Kalau kau mau cepat, kau sendiri lah sana yang ngebujuk binik aku". Eggy memutar bolanya.
"Ya sudah, kalau gitu ayok lah kita ke rumah kau. Biar aku bujuk dulu binik kau". Omen menarik tangan Eggy agar ia beranjak dari duduknya, namun Eggy mengeraskan badannya karena enggan untuk bangkit.
" Semangat kali kau mau jumpain binik aku". Eggy menoyor kepalanya sambil merapatkan giginya.
"Ha ha ha, iya sekalian juga aku mau minta tolong sama binik kau".
" Minta tolong apa?".
"Minta tolong cariin aku cewek yang kayak dia ha ha ha".
Eggy terpelongo menatap Omen yang tersipu.
__ADS_1
" Sudah move on rupanya kau?".
"Sudah lah. Dari awal aku memang sudah move on. Masa seorang Omen enggak bisa move on, apa lagi patah hati sampai berlarut - larut terus stres. Aaah bukan gaya aku kali lah, apa lagi sampai nangis - nangis gara - gara cewek ha ha ha".
Eggy kembali memutar bola matanya.
" Iya iya, yang sudah move on, yang enggak patah hati, yang enggak nangis - nangis gara - gara cewek. Tapi mau bunuh diri gara - gara cewek iya kan? Wkw kwkw kakkwkk".
"Iih mana ada, gilak kau. Nangis saja enggak apa lagi mau bunuh diri. Enggak lah yaw..".
" Ha ha ha ha. Iya iya enggak ada".
Eggy membuatnya teringat kejadian di malam Omen putus dengan Widya, di saat itu ia merasa benar - benar frustasi sehingga ia ingin bunuh diri tanpa kesadarannya alias dalam keadaan mabuk.
Setelah menepati janji nya kepada sahabatnya itu. Akhirnya Eggy tiba di rumahnya. Seperti malam sebelumnya, Eggy terlihat diam sembari melihat sapu tangan milik Ari yang belum juga ia kembalikan.
"Suam...". Terdengar suara Almira memanggil dirinya, secepat kilat ia memasukkan sapu tangan tersebut ke dalam saku celananya. Kemudian ia menoleh dan tersenyum melihat Almira berjalan mendekatinya.
" Di sini ternyata Suam". Almira pun duduk di samping nya dan langsung menyandarkan kepalanya pada bahu Eggy.
"Kenapa Ist?". Eggy memandangi wajah Almira yang terlihat tertunduk sembari mengusap pipinya.
" Enggak apa - apa. Ist cuma mau nempel saja sama Suam". Almira berlaku manja sembari mengeratkan lingkaran tangannya pada pinggang Eggy dan melupakan rasa mualnya ketika berada di dekat Eggy.
Eggy tersenyum simpul.
"Nanti mual karena meluk - meluk Suam kayak gini".
Almira menggelengkan kepalanya dan menenggelamkan wajahnya pada dada Eggy.
"In Sya ALLAH enggak. Justru kali ini Ist mau nya nempel terus sama Suam he he he".
Almira mengangguk pelan.
"Gimana kabar anak Daddy yang kedua ini? Sehat?". Tangan Eggy beralih mengelus perut Almira.
" Alhamdulillah sehat Daddy". Almira menjawabnya.
"Alhamdulillah, jagain Mommy ya nak, bentar lagi kita ketemu, ketemu sama Mommy Daddy, Abang Ghifari, Atok Nenek, Opa Oma dan yang lainnya he he he. Daddy sudah enggak sabar mau jumpa kamu nak". Eggy berbicara lembut pada calon anaknya itu lalu mengecup perut Almira.
Almira tersenyum melihatnya.
"Suam sudah dapat nama untuk anak kita?".
" Belum sayang he he he. Tahu lah kan akhir - akhir ini kondisi kita gimana, jadi Suam belum sempat mikirin nyari nama nya. Maafin Daddy ya sayang, In Sya ALLAH secepatnya Daddy cari nama yang bagus untuk anak Daddy. Mmmuaach". Ia mengecup kembali perut Almira.
"Iya Daddy. Oh ya gimana soal kerja sama yang Suam bilang kemarin? Jadi?".
Pertanyaan Almira mewakilin pembahasan yang ingin Eggy tanyakan padanya.
"Baru Suam mau cerita ke Ist, eh Ist nya sudah duluan yang nanya he he he. Belum Ist, soalnya tergantung izin Ist". Eggy tersenyum sembari menyipitkan matanya.
Almira mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Eggy.
" Lah, kan Ist sudah bilang ke Suam. Kalau Ist izin - izin saja, tergantung kerja samanya jangan merugikan Suam. Terus Suam juga bilang kemarin kalau Suam kurang berkenan untuk bekerja sama. Ya kan?".
"Iya sih. Entah kenapa Suam ngerasa enggak srek saja sama Pak Suwandi itu, soalnya orangnya songong kali. Hendak kali rasanya ngejitak kepala nya. Iiiiih". Eggy mengepalkan kepala lalu merapatkan giginya mengingat Pak Suwandi yang ngeselin.
" Terus? Jadinya gimana? Mau Suam terima atau enggak?".
__ADS_1
"Menurut Ist gimana? Harus di terima atau enggak?".
Almira melepaskan eratan tangannya dan memandang wajah Eggy.
" Jiaaaaah.... Ist yang nanya ehh Suam malah balik nanya haiiiiht". Almira menggelengkan kepalanya.
"Ha ha ha, abisnya Suam bingung. Satu sisi Suam malas kali sama Pak Suwandi, sisi lainnya Suam enggak enakan sama Omen karena kan ini proyek dia, kalau Suam tolak kasihan Omennya, bisa terancam juga reputasi dia. Haaah...! Membingungkan sekali". Eggy menghembuskan nafasnya lalu meletakkan kepalanya di atas pundak Almira.
Almira mengangkat tangannya lalu menyentuh wajah Eggy dengan lembut.
"Suam harus ngikuti apa kata hati Suam. Kalau bisa Suam sholat istikharah. Kalau memang niat Suam ingin menolong Bang Omen, Suam harus hilangin rasa yang ngebuat Suam enggak enak, enggak usah pedulikan betapa ngeselinnya bapak itu yang penting Suam ikhlas menjalankannya, In Sya ALLAH enggak akan kenapa - kenapa ke depannya dan kerja sama nya pun berjalan dengan lancar".
"Jadi, Suam terima nih?".
Almira mengangguk pelan sembari tersenyum.
" Hu uh. Sekalian nyenengin hati Bang Omen biar dia enggak galau - galau lagi hi hi hi".
"Ah... Dia mah mau di buat cemana pun tetap galau - galau juga nya dia. Eh iya, baru ingat Suam! Dia pun mau minta carikan cewek sama Ist".
" Masa sih? Kenapa mesti minta carikannya sama Ist? Bukannya Bang Omen itu punya banyak teman dan kenalan kan? Jadi ngapain repot - repot minta carikan, malah mintanya sama Ist lagi. Ha ha ha ada - ada saja Bang Omen itu".
"Iya, dia mau dapati cewek yang kayak Ist gini, jadi biar enggak main - main lagi. Kalau pun sudah ada, dia mau langsung nikahi saja, enggak mau pacaran - pacaran lagi".
" Oh.. Bagus lah itu niat nya. Tapi masalahnya Ist kan sudah tidak punya teman lagi dan mungkin teman - teman Ist sudah pada nikah semua nya, jadi mau sama siapa nak di jodohkan sama Bang Omen".
Eggy menaikkan kedua bahunya.
"Hemm... Suam juga enggak tahu. Sudah lah, enggak usah kita pikirin, nanti juga akan datang sendiri jodohnya".
" Hmm iya mudah - mudahan secepatnya. Oh ya, itu nanti photo shoot nya Suam sendiri atau ada model lain lagi?".
"Masih belum tahu Suam. Memangnya kenapa?". Eggy menaikkan alis kanan nya.
"Hmm biasanya kan kalau jadi model brand parfume itu kan rata - rata pasti ada model perempuannya juga yang jadi pasangan Suam". Almira memanyunkan bibirnya, ia sudah membayangkan yang tidak - tidak, sebab ia tahu kalau membintangi produk parfume itu pasti bertema membuat wanita tergoda dan sudah pasti ada lawan jenis nya yang akan berpasangan dengan Eggy.
Eggy tertawa kecil melihat kecemburuan Almira. Secepat kilat Eggy menyambar bibir Almira yang sedang manyun itu.
"He he he, istrinya Suam cemburu ya?". Eggy mengeratkan lingkaran tangannya membubuhi tubuh Almira.
" Ya wajar lah kalau istri nya cemburu. Karena Ist tahu kalau jadi model parfume itu gimana hufft".
"He he he, ya sudah, kalau gitu Ist saja yang jadi model cewek nya, gimana? Biar Suam bicarakan dengan mereka". Usulan itu terlintas di benaknya.
Almira menepuk tangan Eggy.
" Iih.. Enggak mau. Kalau Ist mau, enggak akan Ist tinggalkan dunia modeling Ist yang dulu".
Eggy menarik hidung Almira dengan gemas.
"Iya iya.... Jadi kalau gitu nanti jangan ada pakai cemburu - cemburuan ya Ist sayang. Ist harus percaya sama Suam".
" Ummm... Enggak janji. Sekarang kan tergantung gimana kondisi nya. Kalau Suam di pegang - pegang sama mereka atau sebalik nya, Suam yang megang - megang mereka, terus Ist enggak boleh cemburu gitu?".
"Ha ha ha ha, tenang sayang. Suam pasti tahu porsinya dan Suam enggak akan membuat Ist cemburu atau pun marah".
" Benar ya? Awas kalau ingkar, enggak akan Ist izinkan Suam tidur sama Ist". Almira mengarahkan jari telunjuk mengarah ke wajah Eggy.
"Iya, janji sayang ku, cinta ku. Muaccch muaccch muaccch he he he". Eggy tersenyum menatap mata Almira begitu dalam lalu melagakan dahi nya pada dahi Almira.
__ADS_1