Keikhlasan Hati

Keikhlasan Hati
Chapter 48 #S3


__ADS_3

"Kamu lagi ada tamu Ga?". Zia muncul dan bertanya setelah melihat mereka berdua. Secara kebetulan Zia datang bersama'an dengan Egga.


Sontak membuat mereka melihat ke arah pusat suara. Ratna tersenyum melihatnya namun Zia hanya membalasnya dengan senyuman getirnya.


" Anak ini siapa Ga? Kok mereka berdua bisa langsung masuk ke rumah kamu sebelum kamu ada di rumah?".


"Iya. Aku yang meminta mereka untuk ke rumah aku, lagian kan enggak masalah, aku mau meminta siapa saja untuk datang ke rumah aku. Dan soal anak ini.....". Egga memandangi wajah Siboy yang lusuh dan membuat ucapannya terhenti sejenak.


" Dia Tara, anak aku dan Ratna". Ucapnya secara gamblang.


Ratna, Siboy apa lagi Zia, mereka benar - benar terkejut mendengar ucapan Egga.


"Apa? Anak kamu dan Ratna? Bagaimana bisa? Kamu bercanda kan Ga?". Sulit di percaya untuk Zia, air matanya nyaris jatuh menatap Egga.


" Aku enggak bercanda. Dia anak angkat aku dan Ratna, nama nya Tara. Sudah dari beberapa bulan yang lalu kami mengadopsinya bersama tapi baru kali ini dia di bawa ke rumah aku karena sebelum - sebelumnya aku terlalu sibuk di kantor dan rencananya dia akan tinggal bersama aku di sini".


"Oh... Ehh.. Wait..! Apa? Kamu mau anak ini tinggal sama kamu?". Mata Zia terbelalak, ia sedikit keberatan dengan rencana Egga.


" Iya. Kenapa?".


"Kamu enggak salah Ga? Kamu harus pikirin dulu sebelum merencanakan sesuatu. Lagian kita kan enggak tahu juga wujud asli anak ini seperti apa. Bisa saja dia punya niat jahat sama kamu di balik tampang polosnya. Biasanya kan kayak gitu kalau mengadopsi anak yang kurang jelas asal usulnya pasti dia punya tipu muslihat sama kamu. Lagiankan anak ini anak angkat Ratna juga, harusnya anak ini kan tanggung jawab kamu juga Rat jadi lebih baik dia tinggal di rumah kamu saja Rat, enggak usah tinggal di sini". Zia memandang Siboy dengan remeh lalu melirik Ratna.


Siboy hanya bisa tertunduk sambil mendengarkan mereka, sedangkan Ratna, ia bingung harus berkata apa.


"Jaga ucapan kamu Zia! Kamu jangan sembarangan menuduh Tara seperti itu. Walaupun aku baru kenal sama Tara tapi dia tidak seperti yang kamu pikirkan dan dia sudah menjadi seperti anak kandung ku sendiri. Jangan bahas tanggung jawab Zia, karena mereka berdua itu tanggung jawab aku. Dan juga, ini bukan urusan kamu dimana Tara akan tinggal. Ngerti?". Tegasnya.


"Iya... Iya.. Maaf. Aku salah". Ia memutar bola matanya dan merasa tidak senang.


"Oh ya! Aku lupa, aku ke sini cuma mau ngasi ini ke kamu". Zia menyodorkan sebuah buku katalog bersampul mewah serta berwarna gold.


Alis mata Egga mengerut melihat katalog tersebut.


" Apa ini?".


"Itu katalog wedding planner untuk pernikahan kita nanti. Aku mau kamu saja yang memilihkannya, karena apa pun pilihan kamu, aku pasti suka hi hi hi". Zia berantusias dengan rencana yang di buat dengan secara sepihak itu.


" Apa? Pernikahan?". Mata Egga terbelalak lalu melirik Ratna dan Siboy yang masih terdiam melihat mereka. Egga langsung menarik tangan Zia lalu membawanya keluar dari rumahnya.


"Kamu apa - apa'an sih Zia? Kita sama sekali belum ada membicarakan soal pernikahan, kenapa kamu tiba - tiba datang bawa - bawa beginian?". Matanya memerah memandangi mata Zia.


" Lho..! Kan memang sudah jelas kalau kita sudah di jodohkan, kalau sudah begitu, sudah pasti kita akan menikahkan? Jadi aku enggak salah donk".


Egga mengenduskan nafasnya sembari mengusap wajahnya, ia merasa stres.


"Sudah! Lebih baik kamu pulang saja. Nanti kita bicarakan soal ini, aku masih punya urusan lain yang lebih penting dari ini". Ia berusaha meredam amarahnya.


" Jadi kamu ngusir aku? Aku ini calon istri kamu lho Ga. Tega banget kamu ngusir aku dari rumah kamu". Zia merasa sakit hati di perlakukan ini pada Egga, air matanya mengalir ke pipinya.


"Zia! Please ngertiin aku. Aku lagi banyak pikiran, jadi tolong untuk memahami aku. Aku enggak bermaksud untuk mengusir kamu, aku hanya ingin kamu meninggalkan aku agar aku bisa menenangkan pikiran ku". Egga masih berucap lembut padanya agar tidak menimbulkan pertengkaran.


" Tega kamu Ga". Zia membentaknya sembari menangis lalu pergi meninggalkan rumahnya.


Egga merapatkan giginya karena menahan emosinya sembari memukul tangannya pada dinding sehingga tanganya berdarah. Ia kembali masuk ke dalam rumah, ia melihat Ratna dan Siboy menatapnya dengan kebingungan dan penuh tanda tanya.


"Maaf ya sudah membuat kalian tidak nyaman". Ia pun duduk di samping Siboy kemudian merangkulnya.


" Kalian pasti merasa bingung dengan ucapan aku ke Zia barusan, terutama kamu Boy". Empat mata tertuju pada Egga.


"Sebenarnya saya ngebawa kamu ke sini karena saya mau kamu tinggal di sini bersama saya dan menjadi anak saya. Aturannya saya mau menceritakan soal ini sama kalian berdua dengan pelan - pelan ehh malah ada kejadian seperti tadi he he he".


Siboy benar - benar terkejut, siapa sangka anak jalanan seperti dia akan tinggal di rumah mewah dan menjadi anak pemilik rumah itu. Ratna sudah tidak merasa kebingungan lagi, karena dia memang sudah tahu apa yang akan Egga lakukan untuk Siboy.


"Bu Dokter Tari dulu pernah kasih amanah ke saya untuk menjaga kamu dan menjadikan kamu anak saya dan Bu Dokter Ratna". Ucapan Egga sontak membuat Ratna terkejut kembali. Bagaimana tidak? Ia sama sekali tidak tahu menahu perihal amanah tersebut.


"Saya bukan ingin merubah diri kamu menjadi orang lain. Tapi saya ingin, setelah kamu menjadi anak saya dan Bu Dokter Ratna, kamu harus meninggalkan semua kehidupan masa lalu kamu, kamu enggak boleh ke jalanan lagi, enggak boleh bertemu dengan teman - teman lama kamu, kamu cuma boleh bertemu dengan Wak Leman saja, bahkan sampai nama kamu pun kami akan ubah menjadi Tara Anggara Wijaya dan kamu juga harus memanggil saya dan Bu Dokter Ratna, Mama dan Papa. Saya mau kamu yang baru, kamu sebagai anak saya dan Bu Dokter Ratna. Mungkin ini terlihat egois karena saya telah mengambil keputusan sendiri tanpa membicarakannya pada kamu terlebih dahulu, tapi ini saya lakukan semuanya demi kebaikan kamu dan kita semua".


Siboy semakin tidak bisa berkata apa - apa karena ia benar - benar shock.


"Bagaimana Boy?". Egga memastikannya kembali, ia tahu bahwa ini bukan keputusan yang mudah namun bagaimana pun juga Siboy pasti tahu yang mana yang terbaik untuk dirinya.


Siboy mengangguk pelan, ia menyetujui keputusan Egga meski ia masih merasa kebingungan.

__ADS_1


"Alhamdulillah, ya sudah. Kalau gitu kamu istirahat saja dulu di kamar, nanti kita bicarakan lagi soal ini. Sekalian saya akan menunjukkan kamar kamu". Egga merangkulnya dengan hangat, wajahnya nampak lebih cerah dari sebelumnya, lalu ia menunjukkan kamarnya.


"Ini kamar khusus untuk kamu". Ujarnya sembari membuka pintu kamar lebar - lebar. Mata Siboy berbinar - binar melihat kamar tersebut. Egga sengaja mendesign kamar tersebut bernuansa otomotif, semua fasilitas tersedia di dalamnya, baik kamar mandi, tv, ac dan fasilitas lainnya. Egga menunjukkan setiap sudut ruangan. kamar itu.


"Dan ini lemari kamu, saya sudah membeli beberapa pakaian dan sepatu untuk kamu, tapi nanti saya akan membawa kamu untuk membeli barang - barang kamu yang lainnya. Dan ini meja belajar kamu, ini semua peralatan untuk sekolah kamu, nanti kamu akan ke sekolah setelah kamu sudah sembuh total tapi berhubung karena kamu belum pernah sekolah sama sekali dan sudah banyak ketinggalan mata pelajaran, jadi saya putuskan kamu untuk home schooling dalam setahun ini untuk mengejar tahun - tahun pelajaran yang tertinggal, setelah itu baru kamu lanjut ke sekolah umum biar kamu bisa setara dengan anak - anak lainnya yang seusia kamu".


Mata Siboy masih tidak berkedip melihat seisi kamar itu. Di saat Egga memberitahunya perihal pendidikannya, tiba - tiba ia menyambar tubuh Egga, ia memeluknya dengan erat sambil menangis tersedu.


"Terimakasih Pak. Sudah lama saya pengen sekolah hu hu hu. Terimakasih Pak".


" Eiiit jangan panggil bapak lagi. Panggil Papa".


Siboy menganggukkan kepalanya.


"Iya Pa. Terimakasih Pa. Terimakasih Ma". Ucapnya kembali sembari melirik Ratna.


Egga tersenyum merasakan hangat tubuhnya sambil mengusap kepalanya. Ratna hanya bisa tersenyum dan terharu melihat keduanya sudah seperti ayah dan anak yang sesungguhnya.


.


.


" Maaf ya Rat sudah membuat kamu terkejut soal kejadian barusan". Tuturnya sembari menyuguhi secangkir kopi untuk Ratna. Ia merasa tidak enak hati pada Ratna.


Ratna yang duduk di teras belakang rumah menoleh ke arah Egga yang akan duduk di sampingnya, tanpa sengaja ia melihat tangan Egga yang berlumur darah yang hampir kering.


"Tangan kamu kenapa Ga? Kok berdarah?". Ratna langsung meraih tangannya lalu memperhatikannya.


" Oh, ini tadi pas aku bikin kopi enggak sengaja kena persegi lemari dapur yang tajam maka nya sampai kayak gini he he he". Jawab nya berbohong.


"Bohong". Ratna menepuk tangannya yang terluka itu cukup keras karena kesal padanya. Ratna merogoh tas nya yang selalu tersedia perlengkapan kotak P3K (wajar, namanya juga dokter).


" Auu...". Rintih nya, ia memperhatikan Ratna begitu lihai mengobati tangannya.


"Lain kali kalau kesal sama orang jangan tembok yang di pukul kasihan temboknya". Ujarnya, Egga sedikit terkejut karena Ratna mengetahui sebab tangannya.


"Dan lagi, kalau sering - sering bohong nanti yang ada akan menambah masalah".


Ratna membuat Egga menjadi kikuk dan tertunduk.l


"Maaf untuk apa?". Ratna memandangnya dengan berpura - pura bodoh.


" Maaf karena sudah membohongi kamu soal luka ini". Egga mengangkat tangannya yang sudah berbalut perban.


"Jadi benar tebakan aku? Fu fu fu". Ratna seperti meledeknya dan Egga mengangguk pelan seperti anak kecil.


Ratna memandangnya dengan tatapan tajamnya lalu menggelitiki tubuh Egga.


"Kalau soal beginian kamu enggak bisa berbohong sama aku".


Egga terbahak karena kegelian.


" Ha ha ha, iya iya maaf. Ampun... Ampun Rat ha ha ha stop Rat ha ha ha".


Ratna berhenti menggelitik nya, sedangkan Egga, ia terlihat mengatur nafasnya yang ngos - ngosan.


"Masih mau bohong lagi?".


Egga menggelengkan kepalanya.


" Huh.. huh... Enggak huh huh".


Ratna merasa puas karena telah memberi pelajaran pada Egga. Ia membereskan kembali barang - barang miliknya lalu memasukkan ke dalam tasnya.


"Hmm... Aku juga bingung kenapa kamu bilang seperti itu sama Siboy apa lagi di depan Zia". Ratna menyambung kembali topik pembicaraan mereka yang terputus.


"Hmm? Maaf, aku enggak ada maksud untuk egois. Aku benar - benar spontan mengucapkan itu di depan Zia, karena aku juga bingung harus bilang apa. Kalau aku enggak bilang seperti itu mungkin banyak pertanyaan yang akan terlontar dari mulut Zia dan dia pasti akan bertindak yang aneh - aneh dan itu akan membuat aku semakin pening (pusing)". Ia berkata sambil memegang kepalanya.


"Ya... Mau bagaimana pun juga, cepat atau lambat Zia pasti akan mengetahui tentang asal usul Siboy dan bagaimana kita menemukannya, apa lagi nantinya kalian akan menikah dan dia akan menjadi istri kamu, entah kenapa, aku merasa enggak yakin dia bakalan menerima Siboy".


Egga mengacak rambutnya, raut wajah nya terlihat kesal ketika Ratna mengatakan Zia akan menjadi istrinya.

__ADS_1


" Aaah... Please Rat, enggak usah bahas soal itu. Rasanya stres mikirinnya".


"Bahas yang mana?". Ratna mengerutkan dahinya.


" Bahas soal nikah. Aku enggak mau ngebahasnya lagi. Sekarang ini soal Tara bukan bahas yang lain. Lagian enggak penting si Zia mau menerimanya atau tidak karena itu bukan urusan dia".


"Hmm... Iya iya. Oh ya... Teringatnya, kamu serius soal apa yang kamu bilang ke Siboy? Soal mengubah namanya, melupakan masa lalunya dan.....". Ucapan Ratna terhenti sejenak dan itu membuat Egga tak sabar ingin mengetahui lanjutannya.


"Dan...? Dan apa Rat?".


" Dan soal Siboy akan memanggil ku Mama". Dengan perlahan ia melanjutkan ucapannya sembari sedikit tertunduk.


"Menurut kamu?". Egga memandangi wajah itu. Ratna mengangkat kedua bahunya dan Egga tersenyum melihatnya.


" Kamu mau kan jadi ibu angkat Siboy? Maksud aku Tara he he he".


"Yaa kalau memang itu amanah dari Tari, aku enggak keberatan untuk menjadi ibu angkatnya".


" Emm... Tapi sebenarnya Tari sama sekali enggak ngasih amanah seperti itu ke kamu. Itu perkataan ku saja yang terlontar dengan spontan he he he". Ujarnya sembari menggaruk kepalanya.


"Jadi itu pandai - pandai nya kamu saja? Jadi kamu bohong lagi? Ya ALLAH, kamu ini ya! Itu sama saja kamu mempermainkan Siboy. Bagaimana perasaannya kalau dia tahu kamu bohong Hufft". Ratna bernada tinggi, kali ini ia benar - benar marah pada Egga dan memasang mata tajamnya.


" Yaaa maaf Rat. Aku enggak ada maksud apa - apa. Sebenarnya aku mau menceritakannya dan bertanya terlebih dahulu sama kamu tapi sudah keburu terucap duluan gara - gara Zia dan mengaku kalau itu amanah dari Tari. Tapi aku enggak memaksa kamu kok, kalau memang kamu keberatan enggak masalah bagi ku Rat. Itu terserah sama kamu". Tuturnya dengan lembut.


Ratna merasa iba dan amarahnya lenyap seketika. Perlahan tangan Ratna meraih tangan Egga lalu menggenggamnya dengan lembut sembari tersenyum.


"Aku siap membantu kamu kok. Aku tahu, tak akan mudah jika kamu melakukannya semua sendirian. Lagian enggak mungkin kan aku keberatan untuk menjadi mama angkatnya Siboy eh maksud aku Tara, itu pasti akan mengecewakannya. Tadi kamu lihat kan kebahagiaannya terpancar dari wajahnya? Jadi enggak mungkin aku keberatan jadi Mama angkatnya huffft".


Egga mengangguk pelan sembari tersenyum lalu membalikkan posisi tangannya, kali ini ia menggenggam tangan Ratna.


"He he he. Terimakasih ya Rat, aku enggak tahu lagi gimana caranya berterimakasih sama kamu. Kamu benar - benar selalu ada untuk aku dan sekali lagi aku minta maaf sama kamu karena sudah melakukan tindakan yang besar kepada kamu".


" Kan aku sudah bilang ke kamu. Kalau aku akan selalu siap membantu kamu jika kamu membutuhkan aku asalkan enggak pakai ngarang cerita kayak tadi dan enggak pakai berbohong". Ratna merapatkan giginya sembari tangannya memukul kembali tangan Egga tanpa peduli tangannya terluka.


"Au... Sakit Rat. Tangannya kan lagi luka". Rintih nya.


" Bodo". Ketusnya.


"He he he iya... Aku janji enggak bakalan ngarang cerita lagi dan enggak akan bohong lagi sama siapa pun terutama sama kamu, aku janji". Ia memandangi wajah Ratna yang sinis.


" Elleh, semua laki - laki hobby nya gitu, minta maaf abis itu nanti di buat lagi, huffft".


Egga tertawa kecil melihat Ratna merajuk seperti anak kecil.


" Coba saja kamu langsung balas surat aku Rat". Cetusnya tanpa sadar.


"Apa? Surat?". Sontak membuat Ratna mengerutkan dahinya.


" Ha? Surat? Memang nya aku ada bilang surat? Ha ha ha. Salah dengar kamu itu. Kamu lagi lapar ya, makanya bisa enggak fokus gitu ha ha ha. Aku suruh Buk Diah buat makanan dulu ya he he he". Egga tersadar apa yang ia ucapkan lalu buru - buru meninggalkan Ratna alias melarikan diri.


Ratna masih terheran dan berusaha mengingat ucapan Egga.


"Masa sih aku salah dengar? Kayak nya Egga bilang surat deh".


Egga menepuk - nepuk kepalanya sambil ngedumel sendiri.


" Haiiiisst, hampir saja. Kenapa bisa - bisanya sih aku ngomong gitu? Jaga Ga, jaga. Biarin itu jadi rahasia di masa lalu, jangan sampai gara - gara kau terceplos bilang itu surat dari kau hubungan yang baik ini jadi menimbulkan rasa canggung".


"Papa kenapa mukul - mukulin kepala Papa seperti itu?". Tiba - tiba Siboy muncul mengagetkannya.


" Ehh... Kamu. Enggak apa - apa kok. Kepala Papa agak pening saja sikit. Oh ya kamu kok turun? Kamu kan harus istirahat".


"Iya Pa. Aku... Eh... Maksudnya Tara mau minum makanya Tara turun he he he". Ia masih belum terbiasa memanggil nama barunya itu.


" Lho... Kan di kamar kamu sudah tersedia air minum ngapain ngambil ke bawah lagi he he he". Egga menepuk jidatnya.


"Tara enggak pandai gimana cara ngeluarin airnya di situ he he he".


Egga tertawa kecil sembari menggelengkan kepalanya.


" Ya sudah yuk. Biar Papa tunjukin ke kamu gimana cara menggunakan nya". Egga merangkul bahu bocah itu lalu berjalan menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua.

__ADS_1


Sementara Ratna masih menunggunya di luar dan ia masih memikirkan ucapan Egga yang ia pikir salah dengar.


"Kayak nya beneran surat deh yang di bilang si Egga. Aku enggak salah dengar. Eh... Kalau memang yang Egga bilang surat tapi surat apa ya? Kok aku jadi penasaran gini? Huuuffft Eggaaaaaaa".


__ADS_2