Keikhlasan Hati

Keikhlasan Hati
Chapter 69 #S3


__ADS_3

Flash on...


Tara menghampiri Egga yang tengah termenung di depan aquarium ikan hias milik Pak Wijaya. Memandangi ikan - ikan hias tersebut mungkin akan membantunya untuk menenangkan pikirannya.


"Pa...".


Egga menoleh ke belakang, ia melihat raut wajah Tara terlihat murung.


" Kenapa Tara? Kok kamu murung kayak gitu? Apa ada yang salah?".


Tara menggelengkan kepalanya.


"Apa benar Mama Ratna sudah tidak mau lagi ketemu sama kita?".


"Itu tidak benar sayang. Enggak mungkin Mama Ratna tidak ingin ketemu sama kita". Egga mengusap kepala Tara.


Tara /"Terus kenapa sampai sekarang Mama Ratna tidak datang untuk menemui kita?".


Egga /" Mama Ratna mungkin sedang sibuk mengurus pernikahan Mama Ratna dan calon suami nya, makanya Mama Ratna belum sempat menemui kita".


Tara /"Tara pikir Papa yang akan menikah sama Mama Ratna. Nyatanya enggak seperti itu". Ia merasa kecewa dan sedih sejak ia mengetahui Ratna akan menikah tapi bukan bersama Egga.


"Kamu enggak boleh sedih begitu. Lagian kan kamu beruntung, nanti nya kamu akan punya Papa lagi he he he. Suaminya Mama akan menjadi Papa kamu juga". Egga berusaha untuk menghibur Tara.


Tara menarik nafas panjang lalu menghelakannya kembali. Ia sebenarnya tahu kalau Egga juga merasa sedih atas pernikahan Ratna dan Omen, bahkan mungkin Egga orang yang paling sedih dari dirinya.


.


.


Dokter Richard semakin cemas melihat kondisi Ratna yang semakin hari semakin melemah. Ia sendiri pun bingung mau mencari kemana lagi pendonor yang rela mendonorkan jantungnya untuk Ratna.


"Ratna, kamu enggak bisa seperti ini terus. Selagi kita mencari pendonor untuk kamu, tolong lah, kamu harus bersedia untuk memasang Ring pada jantung kamu. Kamu pikirkan organ tubuh kamu yang lainnya. Kalau tidak segera di tindak kemungkinan kamu akan mengalami komplikasi".


Ratna menghelakan nafasnya kemudian mengangkat kepala nya untuk melihat Dokter Richard.


"Berapa lama lagi waktu saya Dok?".


Dokter Richard mengusap wajahnya, ia hampir stres menghadapi Ratna yang sudah tidak memiliki semangat untuk hidup.


" Sudah berapa kali saya bilang, saya bukan Tuhan. Lagian kamu kenapa sih sedikit saja punya rasa semangat dalam diri kamu. Kamu memberikan kehidupan pada orang lain sedangkan kamu sendiri sudah membunuh kehidupan kamu sendiri. Kamu pikir dengan apa yang kamu lakukan ini bisa membuat Pak Egga bahagia? Kamu salah Ratna, justru Pak Egga akan semakin menderita dengan apa yang kamu lakukan kalau kamu seperti ini terus".


Air mata Ratna menetes seketika, ucapan Dokter Richard benar - benar membuatnya semakin sedih.


"Sudah lah. Kamu itu harus yakin bahwa kamu bisa mendapatkan pendonor itu dan bersatu kembali dengan Pak Egga. Saya pasti akan membantu kamu". Dokter Richard mendekatinya lalu mengusap pundak Ratna.


Ratna melihat Dokter Richard dengan wajahnya yang sudah basah karena air mata, ia sedikit lebih tenang karena Dokter Richard yang selalu mendukungnya dan memberikannya semangat.


Setelah pertemuan itu, Ratna pun kembali ke rumahnya. Alis matanya menyatu di saat ia tiba di rumah nya. Ia melihat Omen sudah berdiri di depan rumahnya.


"Hai". Sapa nya sembari tersenyum.


Sedangkan Ratna hanya menyunggingkan senyumnya lalu mengajaknya masuk ke dalam rumah.


" Silahkan masuk".


Omen pun menganggukkan kepala nya kemudian mengikuti Ratna masuk ke dalam rumah. Omen melirik ke sekitar rumahnya, itu terlihat sunyi.


"Mama kamu lagi enggak ada di rumah ya?".


Ratna /" Iya, Mama lagi keluar katanya mau ke tempat saudara - saudara nya. Oh ya kamu mau minum apa?".


"Terserah, apa saja boleh".


" Ya sudah aku tinggal bentar". Ratna beranjak meninggalkannya sendirian di ruang tamu. Ratna sama sekali tidak penasaran apa sebenarnya tujuan Omen datang menemuinya.


Ratna menghidangkan segelas syrup jeruk padanya kemudian duduk di hadapannya.


"Silahkan di minum". Ujarnya.


" Iya, terimakasih". Omen pun segera mengambil segelas air syrup tersebut lalu menyeruputnya.


"Oh ya! Kamu habis dari mana tadi?".


Ratna melihat nya dengan datar.


" Abis dari rumah kawan".


Omen /"Oh...! Emm... Sebenarnya kedatangan aku ke sini tuh ada yang mau aku omongin sama kamu".


"Silahkan". Jawabnya singkat.

__ADS_1


Omen /" Emm... Sebelumnya aku mau minta maaf sama kamu. Aku mau kita batalkan saja perjodohan ini sebelum semua nya terlambat".


Sontak membuat Ratna terkejut.


"Apa?".


" Maaf. Aku enggak ada maksud untuk membuat kamu kecewa, enggak. Sebenarnya aku enggak pernah punya perasaan ke kamu. Waktu itu aku menerima kamu karena pada saat itu aku benar - benar lagi kacau memikirkan pekerjaan aku sehingga aku enggak tahu harus berbuat apa dan menerima perjodohan ini begitu saja tanpa berpikir panjang. Aku juga enggak ada niatan untuk mempermainkan kamu. Beneran" Omen langsung berterus terang kemudian ia m


engangkat kedua jarinya sembari memasang wajah bersalahnya.


"Fuuuht...! Sebenarnya aku pun begitu. Aku pun sama seperti kamu. Bahkan mungkin aku yang seperti mempermainkan kamu he he he. Aku menerima kamu karena aku terpaksa. Harusnya aku yang minta maaf sama kamu". Ratna pun berani mengatakan yang sejujurnya.


" Ha ha ha. Berarti kita sama saja. Ya sudah! Sebelum terlambat mari kita perbaiki semua ini. Nanti aku akan bicarakan sama orang tua kita dengan baik - baik. Dan kita juga harus memperbaiki hubungan kamu dengan Egga". Omen meraih tangan Ratna kemudian Ratna menarik tangannya setelah Omen menyebut Egga.


"Kenapa? Apa ada yang salah?". Omen merasa heran.


Ratna menggelengkan kepalanya.


" Enggak ada. Lagian hubungan seperti apa yang kamu maksud? Dan hubungan seperti apa yang harus di perbaiki? Hmm?".


Omen /"Ya hubungan antara kamu dan Egga lah. Kalian pacaran kan? Karena perjodohan ini hubungan kalian harus berakhir bukan?".


Ratna menyunggingkan senyumnya sembari menggeleng kembali.


"Bukan karena perjodohan ini dan enggak ada hubungan nya juga dengan perjodohan ini. Aku sama Egga memang sudah tidak ada apa - apa lagi sebelum ada nya perjodohan ini he he he".


Omen sama sekali tidak percaya dengan perkataan Ratna. Kalau bukan karena perjodohan itu lalu karena apa lagi dan kenapa Eggy begitu marah padanya selain mengenai masalah kontrak kerja sama mereka


Omen masih berpikir setelah bertemu dengan Ratna dan tidak bisa konsentrasi mengedit foto - foto para modelnya sempat ia menutup laptopnya lalu mengusap wajahnya.


"Bang Omen... Gawat..!". Tiba - tiba asistennya menorobos ke ruangannya dengan wajah paniknya.


" Gawat kenapa?". Omen terperanjat dari duduknya kemudian mereka pun keluar dengan bersamaan.


Mata Omen terbelalak melihat 3 orang berbadan besar seperti preman sedang membanting semua properti yang ada di studionya.


"Hei... Apa - apaan ini? Siapa kalian?". Omen mendekati mereka lalu mencegah mereka untuk menghancurkan studionya.


Mereka mendorong tubuh Omen cukup keras dan masih terus menghancurkan barang - barang nya.


Asistennya dengan sigap membantu Omen untuk berdiri. Omen semakin geram, ia kembali mendekati mereka dengan matanya yang memerah.


" Aaaaaaarrrg... Kalian siapa? Berani - beraninya kalian menghancurkan studio aku". Ia berteriak lalu memukul salah satu dari mereka. Namun Omen bukan lah imbang mereka bertiga, ia pun habis babak belur dan tak berdaya di hajar ke tiga pria berbadan besar tersebut kemudian mereka pun pergi tanpa berkata sedikit pun.


Omen langsung di larikan ke UGD dan tak sengaja Eggy melihat asisten Omen sedang gelisah menunggu di depan ruangan UGD.


"Eh... Mam. Siapa yang sakit?". Eggy menyapanya dengan rasa penasarannya.


"Eh... Bang Eggy. Bang Omen Bang. Dia di hajar sama preman sampai pingsan maka nya aku langsung bawa dia ke sini". Jawabnya.


" Apa?". Eggy sangat terkejut. Ia pun segera masuk ke ruangan UGD dan menanganinya langsung. Walau pun ia masih marah pada Omen namun hatinya masih punya rasa khawatir pada sahabat nya itu.


Setelah di pindahkan ke ruangan akhirnya Omen pun terbangun juga. Dengan samar - samar ia melihat ke sekeliling nya. Alis matanya menyatu melihat tempat itu semua nya serba putih.


"Aku dimana ini? Apa aku sudah mati ya? Masa iya aku mati gara - gara di hajar sama 3 preman itu?". Ia bergumam sendiri. Ia pikir bahwa ia sudah meninggal dunia.


" Ini di neraka bukan di surga". Eggy menjawabnya dengan ketus.


Omen pun terkejut lalu melirik ke bawah kaki nya. Ia menghelakan nafasnya setelah ia melihat Eggy dan Imam asistennya.


"Fuuuht..! Aku pikir aku sudah mati". Ujarnya.


" Ya sudah. Aku balik dulu. Imam kau jaga baik - baik bos kau itu". Tanpa menyapanya Eggy langsung pamit meninggalkan mereka setelah ia memastikan Omen sudah terbangun.


"Iya Bang. Terimakasih banyak ya Bang".


Omen melihat kepergian Eggy dan berpikir bahwa Eggy sudah menganggapnya seperti orang asing.


Imam mendekatinya lalu duduk di sampingnya.


" Gimana Bang kondisi abang? Sakit bang?".


"Ya sakit lah. Paok kali lah kau". Omen menjitak kepalanya.


" Ya kan mana tahu rasa nya enak kayak coklat bang ha ha ha". Celetuknya.


Omen /"Hiiiist dasar anak paok... Oh ya kau tahu siapa 3 orang tadi? Terus kenapa orang itu menghancurin studio".


Imam /"Mana lah aku tahu Bang. Kau saja enggak tahu apa lagi aku. Aneh kau bang. Oh ya Bang, tadi aku sudah menghubungi mamak kau tapi enggak di angkat sama mamak kau jadi aku nelpon calon binik abang, terus aku bilang kalau kau di rumah sakit".


Omen menepuk jidatnya.

__ADS_1


"Ya ampun. Kenapa kau kasi tahu ke mereka oon. Haiiiih... Kau nih lah ya bikin panik mereka saja lah kau".


Imam /" Ya.. Mau macam mana lagi bang. Namanya aku juga panik karena aku sendiri yang ngadepinya. Makanya lah aku ambil hp kau terus aku telpon lah orang itu ngasi tahu kau di sini. Kau pikir aku enggak jantungan ngeliat kau babak belur kek (kayak) tadi. Untung saja aku enggak di hajar orang itu juga, kalau enggak bisa mati kita di dalam studio tuh karena enggak ada yang tahu kalau kita sekarat di dalam".


"Kau ya! Kalau sesak nafas Emak aku kumat gimana? Kau yang harus tanggung jawab". Sekali lagi Omen menjitak kepalanya sembari merapatkan giginya.


Imam /" Jangan lah bang. Enggak bakalan kumat itu bengekan mamak abang. Aku jamin itu".


"Enggak guna jaminan kau itu". Omen melipat kedua tangannya.


"Oh ya Bang. Ini dari Bang Eggy". Imam menyodorkan sebotol air isotonic untuknya.


" Kata Bang Eggy, kau harus minum ini setelah kau tebangun. Biar cairan di dalam tubuh kau yang keluar terisi lagi dan kau enggak usah pening (pusing) mikirin biaya rumah sakitnya karena kata Bang Eggy semuanya dia yang bertanggung jawab".


Omen melihat minuman itu lalu menyambutnya. Ia teringat bahwa minuman tersebut adalah minuman favorite nya di saat ia bekerja.


Imam /" Waah enak ya punya kawan Dokter, terus yang punya rumah sakit ini lagi. Hmmm... Enggak payah mikirin biaya rumah sakit karena biaya rumah sakit nya di gratisin hi hi hi". Tuturnya sembari meregangkan tubuhnya.


Omen /"Makanya kau itu harusnya dulu sekolah bagus - bagus biar sukses. Ini boro - boro mau sukses, SD saja enggak tamat".


Imam /"Alah bang, pening kepala aku yang nama nya belajar. Semua pelajaran tuh enggak masuk ke otak aku. Tapi kan sekarang aku sudah enak kerja sama kau bang, enggak perlu itu yang namanya ijazah ho ho ho".


"Memang otak kau saja yang paok (bod*h). Kayak gitu sudah bangga kali kau ha ha ha". Omen melemparkan botol bekas minuman yang ia habiskan barusan. Imam pun meliriknya sembari memplototinnya.


" Sudah! Balik kau sana ke studio, kau beresin itu. Ngapain kau di sini lama - lama".


Imam /"Kalau aku ke studio siapa yang ngawani (nemenin) kau di sini Bang? Ini sudah mau malam".


"Aku enggak payah kau kawani. Aku bisa sendiri, lagian kalau ada kau di sini enggak guna juga nya sama aku. Sudah sana ke studio, nanti anak - anak (para model dan staff photographer nya) keburu datang, di tengok nya studio berantakan kayak gitu kan enggak enak. Terus sebelumnya kau telpon dulu mereka, bilang untuk 3 hari ke depan jadwal pemotretan di pending dulu. Cepat! Kau mau enggak ku gaji bulan ini? Hah?". Omen mengancamnya dengan mendelikkan matanya.


"Iya iya. Hiiis ancamannya itu saja hufft. Ini aku balik. Awas kau ya kalau butuh apa - apa. Jangan kau hubungi aku". Ia menggerutu kesal.


" Oh ya Bang pulsa aku habis. Macam mana (bagaimana) aku mau menghubungi mereka?".


Omen menarik nafasnya, ia pun merasa sedikit jengkel.


"Ya ALLAH. Betul - betul kau ya! Hiiiist...! Sudah lah kau telpon saja orang itu pakai telpon studio. Kalau enggak, pergi saja ke konter, ngutang dulu kau di sana".


Imam /" Ah enggak mau aku ngutang - ngutang".


Omen merapatkan giginya.


"Ya sudah, kalau gitu kau pakai saja telpon studio. Lagian kan tas aku masih di studio, nah kau ambil saja di tas aku ada 100 ribu terus kau isi tuh pulsa kau. Ngerti?".


" He he he. Ngerti Bang".


Omen /"Ya sudah, cepat pergi sana. Awas kalau kerjaan kau sampai bersalahan (enggak benar) ya, betul - betul ku potong gaji kau".


"Iya... Iya... Merepet (marah - marah) saja muncung (mulut) kau itu".


Kemudian pergi meninggalkan Omen sendirian. Omen cuma bisa mengendus dan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan asistennya sekaligus sepupunya.


...


Lagi lagi Omen terdiam sembari memikirkan siapa ke 3 orang itu. Ia sempat berpikir bahwa mereka adalah suruhan Eggy dan Egga.


"Kayak nya enggak mungkin 3 preman itu suruhan si Eggy atau Egga. Buktinya saja si Eggy yang ngerawat aku dan lagi dia juga menepati janjinya dulu. Jadi enggak mungkin itu suruhan mereka. Kalau bukan mereka, jadi preman itu suruhan siapa?". Ia bergumam sendiri mengingat siapa musuhnya yang telah menyuruh ke 3 preman itu mengacak studionya.


...


Flash back.


Eggy dan Omen nongkrong berdua saja di tempat biasa yakni di Merdeka Walk. Mereka terlihat senang akhirnya masalah kesalahfahaman di antara Eggy dan Pak Wijaya pun sudah kelar dan Karien pun sudah di jebloskan ke dalam penjara.


"Terus apa rencana kau selanjutnya ?". Omen bertanya setelah mereka membicarakan cinta Eggy untuk Almira harus bertepuk sebelah tangan karena rencana Egga akan menikahi Almira.


Eggy / "Ya . . Apa lagi kalau bukan seriusi kuliah, ngejar yang ketinggalan, ngejar target harus bisa KOAS tahun ini juga, terus lulus jadi dokter punya rumah sakit sendiri baru mikirin pasangan ".


Omen / " Trus karir modelling mau kau tinggalin ?".


Eggy / " Siapa bilang? Rugi lah kalau aku ninggalin karir aku, aku butuh duit juga kali, ngitung - ngitung nabung untuk biaya buat rumah sakit sendiri he he ".


Omen / " Ya elah . . . Kau anak orang kaya, punya banyak rumah sakit masih mau nyarik duit juga untuk biaya rumah sakit sendiri, lagian kan ntar itu rumah sakit - rumah sakit bakal punya kau ".


Eggy/ "Yang kaya bapak aku, bukan aku, jadi aku harus berusaha sendiri, kalau urusan itu belakangan, yang penting aku ngebukti sama diri aku sendiri kalau aku bisa, pokok nya ntar kau sama keluarga kau aku kasi gratis kalau berobat he he he ".


Omen/ "Hmm . . . Ya ya ya aku bakal doa'in impian kau terujud, Aamiin ".


Eggy/ "Aamiin . . . ".


...

__ADS_1


Flash On.


Dan kini Eggy pun menepati janjinya kepada sahabatnya itu. Janji yang di buat terkesan tidak serius. Walau pun begitu, janji tetap lah janji dan janji harus di tepati bukan untuk di ingkari.


__ADS_2