
Egga sengaja mengantar Tara pulang terlebih dahulu lalu mengantar Ratna pulang ke rumah nya sebab Egga merasa penasaran sejak tadi Ratna hanya diam tanpa berkata sepatah kata pun pada nya.
Egga milirik nya sambil menyetir mobilnya.
"Rat, kok kamu diam saja? Kamu pasti terkejut ya soal tadi? Aku minta maaf ya atas tuduhan Papa ku pada kamu tadi. Entah apa yang di bilang Zia tentang kita, yang pasti mereka sudah salah faham sama kita".
Ratna masih tetap diam seperti mengacuhkan Egga dengan hanya memandang ke depan.
" Ratna, kamu dengar aku kan?". Egga menghentikan mobilnya ke pinggir jalan.
Ratna pun menoleh padanya, matanya sudah basah karena air mata yang mengalir. Sontak membuat Egga panik dan cemas.
"Ratna, kamu nangis? Aku tahu kamu pasti sedih karena di tuduh seperti itu sama Papa ku. Aku minta maaf. Aku pasti akan memperbaiki semuanya dan semua akan baik - baik saja". Egga menyomot selembar tissue lalu menyeka air mata Ratna.
Secepat kilat Ratna menepis tangan Egga.
" Cukup Ga".
Egga terkejut melihat reaksi Ratna yang terlihat marah bercampur sedih.
"Cukup... Aku bukan mainan kamu yang seenak nya saja untuk kamu peralat. Aku bukan hanya sakit hati karena tuduhan Papa kamu ke aku. Tapi aku juga sakit hati atas tindakan kamu yang sepihak, yang ingin menikah sama aku. Aku bukan mainan kamu Ga. Aku juga bukan tempat pelarian kamu".
" Tapi Rat, aku beneran serius dengan perkataan aku yang ingin menikahi kamu. Tak sedikit pun aku berniat atau pun berpikir untuk mempermainkan kamu. Aku sama sekali tidak menganggap ini sebuah pelarian. Kamu juga salah faham sama aku. Aku tahu aku salah, menempatkan kamu di dalam situasi seperti terkesan sebuah pelarian, tapi jujur, aku beneran sayang sama kamu, aku mau kamu menjadi pendamping hidup aku". Egga meraih tangan Ratna lalu menggenggam nya dengan keseriusannya.
Ratna menarik tangan nya dari genggaman Egga.
"Cukup Ga, aku bisa terima dengan tindakan kamu menjadikan aku sebagai Mama angkat nya Tara tapi kali ini aku enggak bisa terima dengan tindakan kamu yang menurut aku ini tidak mungkin, kamu sudah kelewat batas Ga". Ratna membuka pintu mobil lalu keluar dan memutuskan untuk naik ojek umum untuk pulang.
" Rat... Ratna...". Egga mengejarnya keluar namun ia kalah cepat dengan pengendara ojek tersebut. Egga kembali masuk ke dalam mobil dan memutuskan untuk menyusulnya di rumahnya.
Egga mengejar Ratna setelah mereka tiba di kediaman orang tua Ratna.
"Ratna... Tolong dengerin aku dulu". Egga menarik tangan Ratna.
" Enggak ada lagi yang perlu di dengerin". Dan lagi - lagi ia manepis tangannya lalu berlari masuk ke dalam rumah.
" Ratna.... Please. Kasi aku kesempatan untuk membuktikan ke kamu kalau aku benar - benar sayang sama kamu, kalau aku benar - benar serius akan menikah sama kamu". Egga berteriak sekencang mungkin di pintu pagar rumah nya sehingga orang - orang sekitar melihat nya.
Ratna sedikit menyingkap kain jendela kamarnya untuk mengintip Egga yang masih berdiri di depan rumah nya.
Hati nya benar - benar terasa sakit sehingga air mata nya tak henti mengalir ke pipinya.
"Aku tahu ini enggak mungkin Ga. Aku tahu kamu memang tidak mempermainkan aku, tapi aku enggak mau menjadi sebuah tempat pelarian kamu. Pada saat ini kamu sedang kacau Ga makanya kamu bertindak seperti itu tanpa berpikir dan memahami perasaan kamu sendiri. Aku tahu di hati kamu tidak bisa menggantikan Tari dengan orang lain, jadi tidak mungkin bagi ku untuk menerima ini semua. Maafin aku Ga walau aku sangat mencintai kamu tapi tetap saja aku tidak bisa bersama kamu dan aku enggak mungkin mengkhianati Tari". Batinnya berucap.
Sedangkan Egga, ia tampak stres. Ia mengusap wajahnya dan merasa kesal pada dirinya sendiri. Egga bersikeras menunggu Ratna di depan rumahnya hingga larut malam. Ia tidak peduli dengan cuaca yang mulai dingin dan menusuk hingga ke tulangnya. Wajah nya terlihat lusuh serta pucat pasih, bagaimana tidak, dengan kondisinya yang akhir - akhir ini kurang berselera untuk makan dan kurang tidur karena memikirkan masalahnya.
Ratna terkejut melihat Egga masih menunggunya di depan rumah. Ia berusaha untuk mengacuhkannya namun itu tidak terjadi ketika ia melihat Egga jatuh pingsan. Ratna berlari keluar rumah.
"Ga... Egga...". Ratna menepuk - nepuk wajah Egga untuk membangunkan nya. Ratna merasakan sekujur tubuh Egga panas kecuali kaki dan tangannya saja yang terasa membeku.
Ratna menjadi panik dan berusaha untuk memapahnya sendiri masuk ke dalam rumahnya sebab tidak ada siapa pun di rumah nya.
Ratna butuh tenaga yang ekstra untuk membawanya masuk ke dalam rumah karena kondisi tubuh Egga yang berukuran 2x lipat dari dirinya (ibarat jari kelingking dan jari telunjuk).
__ADS_1
Ratna merebahkannya di sofa ruang tamu rumahnya dan segera mengambil kompres untuknya. Egga menarik tangan Ratna, sontak membuatnya terkejut.
"Please... Tolong kasi aku kesempatan... Please...". Ternyata Egga sedang mengigau.
Ratna mendekati wajah nya, ia memandangi wajah Egga sambil menitihkan air matanya dan sesekali ia menyentuh wajah Egga tanpa membuatnya terbangun.
Karena menunggu Egga akhirnya Ratna pun terlelap di dekatnya dengan posisi kepalanya berada di pinggir tubuh Egga dan tangannya memegang tangan Egga.
Perlahan Egga membuka matanya yang terasa sedikit berat. Ia melihat Ratna terlelap sambil memeluk tangannya. Ia tersenyum karena untuk pertama kalinya ia memandangi wajah Ratna yang sedang tidur pulas, wajah nya tidak terlalu cantik pada saat tidur namun indah di lihat karena wajah nya yang alami dan sedikit sembab.
Egga membelai rambut Ratna sehingga ia membangunkan nya dari tidurnya. Ratna seperti nya melupakan yang terjadi sebelumnya dan lupa menyadari keberadaan Egga.
Ratna mengusap wajah dan menggaruk kepalanya seperti anak kecil yang baru bangun tidur.
"Hoaaaaamm...". Ratna menguap cukup lebar sembari meregangkan tubuhnya lalu sekilas ia melihat ke arah Egga dan menyadari Egga sedang tersenyum manis memandangi tingkahnya seperti bukan seorang Ratna ia kenal namun menurutnya itu menggemaskan.
Mata Ratna terbelalak, ia langsung membalikkan badannya, ia memunggungi Egga karena merasa malu Egga sudah melihat pada sisi kebiasaannya pada saat ia bangun tidur.
Egga tertawa kecil melihatnya tersipu malu, rasanya ingin sekali ia memeluk tubuh wanita ini. Ratna mendadak kikuk dan mengingat kejadian tadi malam, sempat ia memukul kepala nya sendiri karena kesal.
"Sosok pendiam yang membuat ku sangat penasaran padanya.
Tak pernah ku berhenti memperhatikannya.
Engkau sosok yang berbeda dari yang lainnya.
Membuat ku semakin ingin mendekatinya.
Hai....!
Tiba - tiba Egga mengucapkan isi surat untuk Ratna pada saat mereka sekelas dulu. Egga memutuskan untuk memberi tahunya bahwa surat tersebut darinya untuk Ratna dan sebagai bukti bahwa ia bersungguh - sungguh pada Ratna.
Ratna membalikkan badannya berhadapan dengan Egga. Ia terkejut bagaimana mungkin Egga bisa menghafal isi surat tersebut dengan sempurna walau pun ia pernah membacanya di saat ia menemukan buku catatannya.
Ratna masih bingung dan penasaran kenapa Egga tiba - tiba melafalkan isi surat itu.
"Apa maksud kamu? Kenapa kamu tiba - tiba melafalkan isi surat itu? Kamu mau mengejek aku karena ke lebayan ku terhadap surat itu?".
Senyuman yang menawan tak pernah lekang dari bibir Egga sembari menatap Ratna.
"Aku sama sekali tidak mengejek mu Rat. Hmm... Aku benci berkata seandainya sebab itu akan membuat ku menjadi seorang manusia yang tidak bersyukur. Tapi jujur, entah kenapa kali ini aku ingin sekali rasanya berandai dan selalu berkata. Andai takdir menyatukan kita sejak awal. Andai kita tidak berada di posisi seperti ini. Dan andai kamu membalas surat ku pada saat itu juga".
"Maksud kamu?". Ia mengerutkan dahinya.
"Ya...! Surat cinta pertama yang kamu simpan di balik cover buku catatan mu. Itu surat cinta pertama aku untuk kamu".
Sulit di percaya bagi Ratna atas pengakuan Egga bahwa surat itu dari dirinya.
" Enggak mungkin, pasti kamu hanya mengada - ngada kan biar supaya aku mau memaafkan kamu dan mau menerima kamu. Kamu pikir aku percaya begitu saja".
Egga terbahak mendengarnya.
"Ha ha ha, terlalu jauh berpikiran untuk melakukan itu Rat. Aku tahu aku yang salah karena tidak menuliskan siapa pengirim surat itu. Aku tidak berani mengungkapkan identitas ku pada saat itu. Aku takut jika aku memberitahu bahwa itu aku, kamu akan menjauh dari aku dan tidak ingin berteman dengan ku lagi. Untuk mendekati mu saja sangat sulit bagi ku pada saat itu he he he".
__ADS_1
"Kalau memang surat itu dari kamu, kenapa kamu pura - pura bertanya itu apa pada saat kamu nemui buku catatan aku? Dan mana bukti nya kalau itu memang surat dari kamu?".
Egga membangkitkan tubuh nya lalu menyandarkan tubuhnya pada dinding sofa.
"He he he, kalau pun aku kasi tahu pada saat itu juga, apa kamu akan percaya sama aku? Kamu pernah enggak sih berpikir dan mengingat di saat kita menjadi teman di masa SMA setiap kali kita berbicara aku pernah curhat sama kamu kalau aku suka sama seseorang dengan diam - diam, bahkan aku juga pernah cerita ke kamu waktu itu kalau aku pernah mengirimkan surat pada cewek itu tapi cewek itu tidak pernah membalas surat tersebut. Apa kamu tidak berpikir bahwa yang aku maksud itu kamu? Tapi ya... Memang aku juga yang salah, aku pengecut untuk mengakui nya pada saat itu he he he".
Ratna terdiam dan tidak bisa berkata karena ia pun masih merasa bingung di tambah lagi Egga meraih tangannya yang membeku lalu menggenggamnya.
"Ratna aku tahu kamu pasti akan berpikir kalau itu tidak mungkin dan sulit untuk di percaya. Percaya atau tidak, jujur itu adalah aku dan kamu harus perlu mengetahui bahwa aku benar - benar mencintai kamu, butuh waktu yang cukup lama untuk menyadari bahwa perasaan itu muncul lagi perasaan yang sama dimana pertama kali aku jatuh cinta sama kamu".
Jantung Ratna bekerja semakin tidak menentu menatap Egga. Perlahan Egga melepaskan genggaman nya lalu melepaskan cincin pernikahan milik Tari yang berada di jari kelingking nya sejak Tari meninggalkan nya selamanya.
Ia pun memandangi cincin emas putih yang sederhana namun terlihat elegan itu.
"Cincin ini, cincin nikah milik almarhumah Tari. Sebelum ia meninggal ia berpesan pada ku, jika aku menemukan seseorang untuk mendampingi ku, aku harus memberikan cincin ini untuk wanita tersebut. Ini bukan karena menjadikan wanita itu sebagai bayangan dari sosok Tari akan tetapi ini sebagai tanda restu dari diri nya. Siapa sangka melalui diri nya aku menemukan wanita itu kembali sosok pendiam yang membuat aku jatuh cinta untuk pertama kali nya". Egga meraih kembali tangan Ratna dan ingin memasangkan cincin tersebut ke jari manis kanan nya.
Ratna sempat menarik tangannya sembari menggelengkan kepalanya.
"Kenapa Rat? Apa kamu masih belum bisa menerima ku? Apa kamu masih belum percaya sama aku?".
" Bukan gitu Ga. Hanya saja ini pasti akan melukai banyak orang, terutama orang tua kamu. Aku enggak mau melukai mereka. Kamu tidak tahu bagaimana rasanya berada di posisi aku saat ini, dimana aku sudah membuat kalian kehilangan orang - orang yang kalian sayangi dan di tambah lagi mengenai tuduhan itu pada ku". Ratna memiringkan tubuhnya untuk menutupi matanya yang hampir basah karena air mata.
Egga memegang kedua lengan Ratna lalu mengarahkannya berhadapan dengan nya.
"Kamu enggak perlu khawatir soal itu, aku pastikan semuanya akan baik - baik saja. Asalkan kamu percaya sama aku". Egga meletakkan tangan Ratna pada dadanya.
Ratna merasakan detak jantung Egga yang berdetak begitu cepat. Dan Ratna juga melihat keseriusan Egga dari matanya. Ia melihat bahwa Egga benar - benar mencintainya.
" Lebih baik kamu pulang sekarang Ga". Pintanya sembari menarik tangannya dari genggaman Egga.
Egga merasa heran, kenapa ia di usir dari rumahnya.
"Kenapa kamu nyuruh aku pulang? Kita masih belum selesai berbicara. Bahkan kamu sama sekali belum memberikan aku jawaban. Apa kamu masih tidak mempercayai aku?".
Ratna melipat kedua tangannya.
"Sudah cepat pulang sanah, ini sudah hampir terang, jangan sampai nanti Mama ku pulang dan warga sekitar sini melihat kita beduaan di sini dan memaksa kita untuk menikah sekarang juga, sedangkan aku butuh banyak waktu untuk mempersiapkan pernikahan kita". Tuturnya sembari menahan senyumnya yang tersipu malu. Ia memutuskan untuk menerima Egga dan memaafkannya.
Wajah Egga terlihat sembringah.
"Jadi kamu mau menikah dengan aku?".
Ratna menganggukkan kepalanya dengan tersipu malu. Egga merasa sangat senang akhirnya Ratna mau menerimanya. Spontan Egga memeluk tubuhnya dengan erat.
" Terimakasih Rat" . Bisiknya dengan lembut.
Ratna merasakan hangatnya tubuh Egga yang membubuhi tubuhnya namun perlahan Ratna berusaha melepaskan pelukan Egga.
"Sekarang kamu pulang gih, nanti keburu Mama ku pulang". Ratna tersenyum menatap wajah Egga yang sudah tidak pucat lagi sembari menyeka air mata nya.
Egga menganggukkan kepalanya sambil mengangkatkan tangannya lalu menyelipkan rambut Ratna yang terurai pada telinganya.
"Nanti aku akan datang ke rumah kamu lagi untuk menemui Mama kamu. Aku akan datang bersama orang tua ku beserta restu mereka. Dan aku akan pastikan semuanya akan baik - baik saja. Kamu enggak perlu khawatir". Egga meyakinkan Ratna agar tidak perlu khawatir mengenai kesalahfahaman orang tua nya terhadap mereka, lalu ia memakaikan cincin tersebut pada jari manis Ratna.
__ADS_1
Ratna tersenyum memandangi cincin itu melingkar indah pada jari manisnya dan mereka sangat yakin bahwa cinta mereka akan menyelesaikan kesalahfahaman itu dan mendapatkan restu mereka.