
Flash back...
Di tengah keramaian para siswa yang sedang berantusias menonton anak tim basket yang sedang bertanding basket di lapangan, Ratna yang bertubuh sedikit gendut dan kutu buku berdiam diri duduk di bangku taman sedang fokus pada buku nya dan sama sekali tidak menghiraukan orang sekitar.
"Hai...". Tiba - tiba seseorang menyapa dirinya dengan ramah. Ratna mengangkat wajah nya untuk melihat orang tersebut yang tak lain ialah Egga dan ia sedikit terkejut melihat Egga menghampiri dirinya tanpa alasan.
" Aku boleh duduk di sini?". Egga meminta izin pada nya sembari tersenyum. Ratna mengangguk pelan dengan canggung.
"Aku sering merhatiin kamu, kayak nya kamu selalu menyendiri deh. Kenapa? Kamu enggak suka ya berkumpul seperti cewek - cewek lain nya?". Egga melirik wajah kikuk nan lugu itu lalu melirik ke arah lapangan basket.
"Enggak apa - apa. Lagian siapa yang mau berteman sama cewek kutu buku kayak aku". Jawabnya sembari tertunduk malu.
Egga tertawa kecil mendengarnya.
" He he he. Bukan tidak ada yang mau berteman dengan kamu, tapi memang kamu nya saja yang menutup diri dari mereka dan membuat benteng rasa minder dalam diri kamu. Kalau enggak ada yang mau berteman dengan kamu, terus coba kamu pikir kenapa aku di sini bersama kamu?". Ucapnya sembari tersenyum tipis.
Ratna merasa tertegun dengan ucapan Egga. Egga adalah orang pertama yang menjadikan pertemanan dengan diri nya yang sama sekali tidak memiliki teman selama hidup nya.
Ratna selalu mengingat moment tersebut sebab karena Egga lah diri nya mencoba untuk membuka diri, berteman dan bergaul dengan orang lain hingga kini ia memiliki teman yang banyak termasuk Tari salah satu nya yang akan menjadi jembatan dalam hidup nya.
.
.
Flash On...
Hampir seluruh perawat serta pegawai lain nya di Rumah sakit Wijaya Medical khusus nya para wanita sibuk menatap sosok pria yang baru tiba di rumah sakit tersebut dengan gaya nya yang penuh wibawa dan pesona nya yang bakal membuat siapa saja yang melihat nya menjadi melumer.
Egga pagi - pagi terpaksa harus ke rumah sakit karena sudah janjian ketemuan dengan Ratna. Semua mata tertuju pada nya mengingat mereka semua tahu dengan status diri nya yang menyandang gelar seorang duda keren sejak beberapa bulan yang lalu.
"Waaaaah.... Abang nya Dokter Eggy enggak kalah cakep ya dari Dokter Eggy".
" Iya benar, ini terlihat lebih dewasa dan berwibawa".
" Betul... Betul.. Betul... Apa lagi sekarang Pak Egga sudah berstatus duda, hmm tingkat pesona nya semakin meningkat Rrrrrrrrt".
Bisik - bisik mereka para kaum wanita yang memuji Egga setelah ia melewati mereka.
Dari ujung jalan terlihat sosok Eggy yang berjalan menghampiri Egga.
"Eh.. Ngapain kau bang ke sini? Tumben kali".
" Iya, aku mau ketemu sama Dokter Ratna". Jawab nya.
Eggy menaruh curiga pada Egga sembari meletakkan jari telunjuknya pada dagu nya.
"Mau ngapain kau ketemuan sama Dokter Ratna ha? Curiga aku jadi nya".
" Curiga kenapa kau? Rang aku ada urusan kok sama Dokter Ratna, enggak usah mikir yang macam - macam lah kau".
"Hmm urusan apa urusan? Mm.. Mm.. Mmm.. Kemarin - kemarin saja bilang kuburan binik aku masih basah seenaknya saja nyuruh aku nyarik binik baru. Lah sekarang... Malah dia sendiri yang sudah mau nyari binik baru Ha ha ha".
__ADS_1
Egga menggeplak kepala adek nya itu.
"Buang jauh - jauh itu pikiran kotor kau. Sembarangan saja kau kalau ngomong. Aku jumpai Dokter Ratna karena ada urusan mengenai almarhumah Tari. Ada amanat yang harus aku sampai kan ke Dokter Ratna, hiiiiis kau ini iiiih". Egga merapatkan gigi nya melihat Eggy yang tertawa meledeknya.
" Hmm... Macam tuh. Eh... Ngomong - ngomong amanat nya apa bang? Jangan bilang amanat nya nyuruh kau nikah lagi sama Dokter Ratna ha ha ha ha ha". Timpalnya sambil terbahak.
"Memang sompret nih anak he he he. Oh ya Ghifari enggak marah kan sama aku karena pulang enggak pakai pamit sama dia?".
" Enggak. Kau lagi bang pakai nyeritain si Mak Lampir itu kau di depan anak aku huuuuh'. Eggy melirik nya dengan sinis.
"Ha ha ha sorry lah. Jadi si Ghifari cerita soal itu?".
" Iya lah, terus lagi, kalau pacaran tuh enggak usah bawa - bawa anak aku. Entah supaya apa? Haiiiis". Dumel nya sembari menepuk lengan Egga cukup keras.
"Pacaran - pacaran. Mana ada aku pacaran". Egga pun menoyor kepala Eggy.
" Kalau bukan pacaran apa nama nya, makan siang sama - sama terus nemenin belanja lagi. Apa coba kalau bukan pacaran? huh".
"Ya ampun, itu bukan siapa - siapa lho. Dia cuma kolega aku yang kebetulan sudah menjadi teman aku, karena dia lagi di sini maka nya kami ketemuan terus aku ngajakin Ghifari biar aku enggak cuma jalan berdua saja sama dia. Bahkan Papa kenal kok sama dia. Lagian aku belum kepikiran buat begituan. Aku masih setia sama binik aku".
" Hmm terserah lah mau dia itu siapa kek. Inti nya aku enggak bakalan ngizinin kau bawa anak aku lagi kalau kau lagi janjian sama cewek, apa lagi sampek cerita - cerita soal Mak Lampir itu. Faham?". Eggy memplototin Egga tanpa segan.
"Hmm... Iya iya. Enggak lagi. Judes kali kau kayak emak - emak. Lagian bukan aku juga yang mulai ngebahas soal si Karien. Memang si Zia nya saja yang kepo soal kalian, malah aku enggak mau menanggapi nya terus aku juga langsung mengalihkan ke topik lain, karena kan enggak penting juga sama aku ngebahas dia terutama bahas tentang kau ha ha ha".
"Hmmm. Berlagak sok bilang enggak penting aku nya, padahal kalau apa - apa aku yang paling kau utamakan ha ha ha. Ya sudah lah, aku tinggal dulu lah bang. Soal nya masih banyak kerja'an aku lagi ini. Nanti kita sambung lagi. Kita masih belum selesai". Eggy pun pamit pada abang nya dan berjalan meninggalkan nya.
"Eh... Kau mau kemana? Main tinggal - tinggal saja, enggak sopan kali sama abang nya sendiri". Teriak nya pada Eggy yang berjalan normal.
Sempat Egga melirik ke sekitar gara - gara ucapan Eggy dan membuatnya malu serta tersenyum getir.
"Sialan ini bocah tengik. Awas saja lah kau".
Setelah di ledek dengan adik nya. Egga pun kembali berjalan menuju ke ruangan Dokter Ratna.
#Tok Tok Tok...
" Masuk". Terdengar suara dari pemilik ruangan, yakni Ratna.
"Assalamualaikum". Egga pun menampakkan diri nya pada Ratna sembari tersenyum.
" Waalaikumussalam, ehh kamu Ga. Aku pikir kamu datang nya siangan. Oh ya silahkan duduk dulu". Ratna pun mempersilahkan Egga untuk duduk.
"Kenapa? Kamu lagi sibuk ya pagi ini? Maaf ya aku sudah datang sepagi ini he he he, kalau kamu memang lagi sibuk pagi ini biar kita siangan saja nyari anak itu". Ujar nya sembari duduk.
"He he he engga kok Ga, aku memang sudah mengosongkan jadwal aku hari ini. Tapi kamu memang enggak ke kantor dulu gitu?". Ia pun turut duduk di hadapan Egga.
" Kalau aku gampang itu, aku kerja dimana saja juga bisa, enggak harus di kantor juga kok he he he".
"Hmm iya juga ya. Lagian kan kamu empunya tuh perusahaan jadi serba gampang he he he".
" He he he enggak juga sih. Oh ya kamu sudah sarapan?".
__ADS_1
"Sudah kok Ga. Oh ya bentar ya, aku mau manggil asisten aku dulu sekalian buatin minuman untuk kamu". Ratna pun bangkit dari duduk nya.
" Eh... Enggak usah Rat, lagian aku sudah kenyang kali ini". Ujar nya sembari memegang perutnya.
"Hmm ya sudah kalau gitu aku siap - siap dulu ya biar kita langsung jalan saja". Ratna berjalan menuju meja kerja nya untuk membereskan barang milik nya lalu memasukan nya ke dalam tas.
"Iya".
Tak lama mereka pun bergegas keluar dari rumah sakit. Sebelum menuju ke panti asuhan yang terletak di sebelah rumah sakit, mereka pergi menuju ke rumah makan itu terlebih dahulu untuk memastikannya hadir lagi atau tidak ke rumah makan tersebut.
" Enggak ada Pak Buk. Saya juga heran kenapa dia sudah tidak pernah lagi ke sini". Ujar sang pemilik rumah makan setelah Egga bertanya padanya mengenai Siboy.
"Bapak tahu enggak biasa nya dia kemana saja kalau lagi ngamen? Terus bapak tahu juga enggak soal teman - teman nya?". Egga bertanya lagi padanya, sedangkan Ratna hanya mendengarkan mereka sembari melirik ke sekeliling rumah makan itu.
" Biasanya dia sering ngamen di simpang jalan itu, cuma kalau soal teman - teman nya saya kurang tahu juga karena setiap kali dia ngamen dia selalu sendiri dan enggak mau bergabung sama pengamen lainnya. Apa mungkin dia sudah ngelakuin kesalahan ya? Terus ketangkap sama polisi. Karena yang saya tahu dia itu termasuk anak yang nakal, dia kan di usir dari panti asuhan karena mencuri uang teman sekamar nya, bisa jadi dia mencuri terus ketahuan dan di tangkap sama polisi". Bapak ini malah berasumsi buruk pada Siboy.
Wajah Egga dan Ratna berubah getir sebab sebelumnya Tari tidak memberitahu mereka soal itu.
"Mencuri pak?". Egga justru penasaran.
" Iya sih, kata nya gitu. Dia kan dulu di besarkan di panti asuhan di sebelah rumah sakit bapak karena saya kan sudah lama tinggal di sini jadi saya tahu berita - berita sekitar sini. Maka nya awal nya saya heran juga kenapa almarhumah istri bapak kok percaya saja sama anak jalanan seperti dia dan enggak takut kalau anak itu akan berbuat jahat padanya. Tapi kalau di pikir - pikir selama dia makan di sini, saya perhatiin dia kayak nya anak nya baik, dia enggak pernah ngerusuh atau mencuri di sini, justru terkadang makanan nya dia kasih ke orang lain yang sama - sama butuh makan. Saya enggak ngerti juga soal anak itu karena dia cendrung tertutup, bicara sama saya pun tak banyak. Hmmm". Ia menceritakan semua dari sudut pandangnya.
Setelah Egga mendengar cerita bapak itu membuatnya paham kenapa Tari ingin menolongnya meski awalnya ia sempat berpikir buruk tentang Siboy.
Cukup lama mereka mengobrol akhirnya Egga dan Ratna berpamitan pada Bapak pemilik rumah makan dan bergegas menuju ke panti asuhan dimana Siboy di besarkan lalu di campakkan ke jalanan.
Semua pengurus panti berantusias menyambut kedua nya, mengingat mereka sangat kenal dengan Egga anak tertua dari sang pemilik rumah sakit yang sering membantu mereka bahkan donatur nomor satu di panti tersebut.
"Jadi bapak ke sini ingin mengetahui tentang anak itu? Kenapa pak? Apa dia sudah berbuat salah pada bapak atau keluarga bapak? Atau dia pernah membuat onar seperti mencuri pada bapak?". Mereka panik karena Egga bertanya soal Siboy anak yang di tuduh sudah mencemarkan nama baik panti itu.
" Eh he he he tidak, tidak sama sekali Pak, Buk. Saya bertanya bukan karena Siboy berbuat salah pada saya atau pun keluarga saya. Saya bertanya justru karena saya ingin berterimakasih pada nya karena sudah pernah menolong saya dan almarhumah istri saya he he he". Egga lebih memilih untuk tidak menceritakan pada mereka.
"Alhamdulillah kalau begitu he he he. Saya pikir dia buat onar terhadap keluarga bapak. Karena kan kami tahu kelakuan dia bagaimana. Jadi kami agak takut juga kalau dia berbuat onar di luar tapi malah kami yang kena karena ulah nya he he he". Ujarnya sembari mengusap dada nya dan menghela nafasnya.
Setelah panjang lebar mengobrol, Egga dan Ratna memutuskan untuk beranjak dari panti tersebut.
"Jadi kita mau cari dia kemana lagi Ga?". Ratna bertanya sembari melirik Egga yang sedang menyetir mobilnya.
" Aku juga enggak tahu Rat. Ini bagaikan mencari jarum di dalam tumpukan jerami. Walaupun Kota Medan ini tidak begitu besar tapi tidak mudah juga untuk kita menemukan dia secepat itu, di tambah lagi kita benar - benar tidak tahu seperti apa wujud nya huuuh. Pasti butuh waktu yang lama mencari nya di setiap sudut tempat". Egga hampir putus asa dan pesimis akan menemukannya.
"Fuuht, iya juga sih Ga. Tapi menurut kamu, kamu percaya enggak sih semua cerita tentang hal buruk Siboy yang di ceritain oleh mereka?".
" Aku juga enggak tahu harus percaya atau enggak tentang cerita itu, yang pasti aku sudah paham kenapa Tari ingin sekali membantunya".
Sempat Ratna mengerutkan dahi nya melihat Egga yang memandang ke depan.
"Kenapa?".
" Aku sangat mengenali Tari gimana. Dia membantu seseorang bukan tanpa alasan, selain karena kasihan, dia juga memahami apa yang di derita orang tersebut, apa lagi menolong anak kecil yang hidup nya hanya sebatang kara. Dan aku yakin kalau apa yang Tari lakukan ini benar dan tak akan membuat kita merasa kesulitan". Egga melirik Ratna sembari menyunggingkan senyum nya.
"Yaaa, aku juga tahu betul sama Tari. Enggak heran banyak anak kecil yang menyukai dirinya kalau di rumah sakit. He he he meski dia tidak bisa menjadi seorang ibu untuk anak - anak kamu, tapi Tari sudah menjadi seorang ibu bagi mereka yang ia bantu selama ini". Pandangan Ratna terlihat sedikit sejuk sembari tersenyum tipis mengingat sosok Tari yang sangat keibuan dan penyayang.
__ADS_1
Egga membenarkan ucapan Ratna dengan senyuman manisnya dan tanpa berucap sepatah kata pun.