
Di halaman belakang, setelah keluarga Eggy meninggalkan Egga dan Omen, mereka pun asyik mengobrol ringan, menceritakan tentang berita duka yang menimpa nya dan bercerita tentang sebelum Tari meninggal, tak lupa juga dengan suguhan yang sudah di buatkan oleh asisten rumah tangga Egga, yaitu secangkir teh dan sepiring gorengan.
"Aku minta maaf kali lah sama kau Ga, benaran aku baru tahu kalau binik kau meninggal. Sibuk kali aku di studio sampai - sampai aku enggak tahu kalau si Eggy ngehubungi aku mau ngabari berita ini. Aku turut sedih sama berita duka ini Ga".
" He he he, enggak apa - apa Men, santai saja kau. Lagian si Eggy sudah bilang kok sama aku tadi pagi. Aku sudah memaklumi dengan kesibukan kau sekarang sejak enggak ada si Eggy he he he".
"Iya, stres kali aku kalau enggak ada si Eggy di studio. Sudah entah macam apa kerjaan aku jadi nya. Soal nya semua brand mau nya dia, enggak mau sama model lain, apa enggak pening kepala aku". Omen berkeluh kesah sembari menepuk jidat nya.
Egga tertawa melihat espresi stres di wajah Omen.
" He he he, ngeri kali ya ternyata si Eggy ini. Semua berpengaruh karena dia".
"Itu lah enggak ngerti nya aku, ku rasa pakai pelet si Eggy itu ha ha ha".
" Ha ha ha astaghfirullah... Ada - ada saja kau ngomong nya".
"Ha ha ha, sudah pening kali kepala aku Ga ngebujuk adik kau itu. Entah macam mana lagi aku ngebujuk nya".
Egga menepuk bahu Omen.
" Yang sabar saja kau. Paling nanti mau juga kok dia balik lagi jadi model kau. Tinggal sering - sering saja kau bujuk dia, terus yang paling penting, kau bujuk si Almira, karena pengaruh Almira itu yang paling nomor satu buat Eggy he he he. Lagian Ini kan dia lagi sibuk kali di rumah sakit, jadi sabar - sabar saja kau. Jangan kan ngebagi waktu nya untuk balik lagi ke model, bagi waktu untuk anak binik nya saja dia sudah susah kali. Maka nya anak nya sering merajuk sama dia he he he".
"Oh pantes lah si Ghifari tadi nampak kesal sama dia ha ha ha, tapi salah aku juga sih, gara - gara dia ngejemput aku, dia sampai telat ngejemput Ghifari, jadi ngerasa bersalah juga aku sama orang itu he he he".
" Sudah, enggak usah kau pikirin kali, paling bentar saja nya orang itu merajuk - merajukan nya. Bentar lagi mereka keluar sudah baikan, malah Ghifari nya di gendong lagi sama si Eggy. Aku sudah hafal kali sama anak dan bapak itu he he he".
Tak lama kemudian Eggy dan Ghifari pun muncul tapi tanpa Almira karena Almira lebih memilih untuk bergabung dengan mama mertua nya dan saudara yang lain nya ketimbang gabung dengan para lelaki itu.
Benar apa yang di bilang Egga bahwa Eggy muncul dengan menggendong putra nya. Egga dan Omen melihat ke arah mereka yang berjalan menghampiri mereka.
"Betul kan apa yang aku bilang?". Egga melirik Omen.
"Iya, pppffft". Omen mengangguk kan kepala nya sembari menahan tawa nya.
Eggy melihat mereka aneh ketika ia muncul. Eggy sadar bahwa mereka sudah menceritai diri nya dari belakang.
"Kenapa kelen nahan ketawa kayak gitu? Kelen nyeritain aku kan?". Eggy menaruh curiga kepada kedua nya, kemudian ia menurunkan Ghifari dari gendongan nya.
"Iih perasaan kali kau. Perasaan di cerita'in kau wuuuu". Omen mencibir nya.
Egga hanya tertawa kecil.
" Ck. Dasar stres kelen. Oh ya Ghifari mau ngomong sama kau Uwak Omen". Eggy berdiri di belakang Ghifari sambil memegang pundaknya.
Omen dan Egga mengerutkan dahi nya.
__ADS_1
"Ghifari mau ngomong apa sayang sama Om Omen?". Omen sedikit membungkukkan badan nya menatap Ghifari.
" Om... Om... Uwak... Enak kali kau di panggil Om". Eggy meralat kembali ucapan Omen.
Egga geleng kepala melihat tingkah kedua nya yang masih seperti anak - anak bila di satukan.
"Iiis kau ini lah, sekarang gini saja lah, kita lihat Ghifari manggil aku apa, pasti Ghifari manggil aku Om. Iya kan Ghifari sayang, Ghifari manggil Om Omen ya kan?". Omen tetap dengan usahanya.
" Perasaan kali kau".
"Sudah, diam kau dulu, anak kau mau ngomong dulu, dari tadi asek kau saja yang cakap".
" Hmm"
Ghifari melihat wajah Omen yang sungguh membuat siapa pun yang melihat pasti tertawa geli, alias sok imut banget.
"Uwak Omen..".
Gubraaaaaak.....
Semangat Omen rubuh ketika kata " Uwak Omen" terucap dari mulut Ghifari. Eggy dan Egga terbahak melihat Espresi wajah getir Omen.
"Buaha ha ha ha ha".
Meski masih tidak terima di panggil Uwak, namun Omen terpaksa menyerah dan pasrah di panggil Uwak. Omen mencubit pipi Ghifari dengan gemes. Bukan gemes karena di panggil uwak melainkan karena Omen salut sama anak sekecil itu menyadari kesalahan nya dan meminta maaf.
"Umm... Gemes kali lah Uwak Omen sama kamu". Omen melirik Eggy yang tersenyum kemenangan.
" Masih kecil saja sudah pintar menyadari kesalahan nya sendiri dan berani meminta maaf. Uwak Omen enggak masukin ke dalam hati kok soal tadi, justru Uwak Omen yang minta maaf sama Ghifari karena gara - gara Daddy ngejemput Uwak Omen maka nya Daddy telat ngejemput kamu, terus sudah ngebuat kamu jadi kesal sama Daddy kamu he he he".
"Enggak apa - apa kok Uwak, Ghifari juga sudah enggak kesal lagi kok sama Daddy, Ghifari juga sudah minta maaf sama Daddy". Ghifari menggeleng pelan sembari memainkan jari - jari Eggy yang berada di pundaknya.
" He he he ya sudah, sekarang kita lupa'in yang tadi. Kita baikan ya?. Eggak apa - apa deh di panggil Uwak sama Ghifari karena Ghifari anak yang pintar dan shalih he he he". Omen tertawa kecil sambil mengusap kepala Ghifari. Eggy dan Egga tersenyum melihat kedua nya.
.
.
Eggy, Almira, Ghifari dan Omen berpamitan untuk pulang kepada Egga dan kedua orang tua nya yang memang nginap di rumah Egga sejak meninggal nya Tari.
"Ma, Pa, Omen balik dulu ya?". Omen mencium tangan kedua orang tua dua E.
"Iya, kamu hati - hati di jalan ya, jangan lupa nanti malam ke 7 datang ke sini". Bu Hanna berkata sembari tersenyum pada Omen.
"In Sya ALLAH ma, Omen usahain untuk datang he he he".
__ADS_1
" Oh ya, kamu naik apa pulang nya? Kok mobil kamu enggak keliatan dari tadi?". Kali ini Pak Wijaya yang bertanya pada nya sembari celingukan ke arah pinggir jalan namun tak menemukan mobil nya.
"Omen pulang nya sama Eggy Pa, mobil Omen lagi di pakai sama pacar Omen he he he". Omen menggaruk kepala nya karena sedikit malu.
"Iya Pa, dia sayang kali sama pacar nya, sangkin sayang nya, dia sampai nurut kali sama pacar nya yang selalu nolak kalau di ajak nikah". Eggy mencibir Omen. Omen sendiri tersipu malu sembari merapatkan gigi nya kepada Eggy.
" Maksud nya kamu nolak di ajak nikah sama pacar kamu Men?". Bu Hanna salah tanggap sama ucapan Eggy.
"Bukan Ma, bukan Omen yang nolak nikah. Tapi kebalikan nya, pacar nya yang selalu nolak setiap kali dia ngelamar pacarnya". Eggy menjelaskan kembali ucapan nya.
"Lah.. Kok gitu? Biasa nya perempuan itu yang malah ngebet minta di nikahi, ini kok malah kebalikan nya he he he". Bu Hanna tertawa geli hingga menutup mulutnya.
"Itu dia Ma. Sudah capek Eggy ngasi tahu ke dia. Tapi dia enggak pernah mau dengar". Eggy melirik sinis kepada Omen.
" He he he". Omen tertawa getir, ia enggak tahu berkata apa - apa lagi karena sudah di skak oleh Eggy.
"Sudah... Sudah... Jangan mojokin Omen kayak gitu. Lagian kan Omen juga tahu mana yang terbaik untuk dia he he he. Sudah cepat kalian pulang, nanti kemalaman kasihan sama Almira dan Ghifari sudah nunggu di dalam mobil dari tadi". Pak Wijaya mencoba untuk mengalihkan pembicaraan karena beliau melihat Omen sudah merasa di kikuk.
"He he he, iya Pa. Ya sudah kami pulang dulu ya Ma Pa". Eggy kembali mencium tangan kedua orang tua nya, kemudian bergegas masuk ke dalam mobil nya dan berlalu dari rumah Egga.
Pak Wijaya mendorong kursi roda Bu Hanna karena mereka ingin kembali masuk ke dalam rumah. Suasana rumah sunyi seketika terasa setelah Eggy dan yang lain nya kembali ke rumah masing - masing.
Kedua orang tua dua E tak sengaja melihat Egga masih duduk berdiam diri sendirian di teras belakang rumah nya sembari menatap langit yang gelap gulita. Kedua nya hanya memandang Egga dari kejauhan, mereka tidak ingin mengganggu ketenangan Egga yang mungkin ingin berdiam sendirian.
"Kasihan ya Bang anak kita? Masih muda sudah jadi duda seperti ini". Bu Hanna berkata lirih ketika ia melihat anak sulung nya harus mendapatkan cobaan yang berat di usia semuda itu.
"Apa pulak Egga masih muda. Egga sudah kepala tiga, itu sudah tak layak di katakan muda".
Bu Hanna menepuk tangan Pak Wijaya yang berada di pundaknya.
" Kepala tiga itu masih muda bang. Kalau yang sudah tak layak lagi di bilang muda itu kayak kita huffft".
"He he he he iya, abang cuma bercanda. Lagian ngapain kita kasihan - kasihan sama Egga, itu akan menambah kesedihan nya lagi. Mending kita doa kan dia supaya ALLAH angkat kan kesedihan nya dan mengembalikan keceriaan nya, Aamiin".
" Aamiin. Mudah - mudah ya Bang, ALLAH segera menetapkan sesuatu yang indah untuk Egga di kemudian hari, Aamiin".
"Aamiin. Ya sudah yuk, kita masuk ke kamar, istirahat karena tadi siang adik sibuk kali di dapur sama orang itu he he he".
" Mana ada, rang adik duduk saja kok, mana pulak sibuk he he he".
"Iya... Iya, ya sudah yuk, biarin saja Egga menyendiri dulu, nanti abang suruh Bu Kinah ngingati Egga untuk istirahat".
" iya Bang".
Setelah mengobrol, Pak Wijaya pun kembali mendorong kursi roda sang istri menuju ke kamar untuk istirahat dan membiarkan Egga untuk menenangkan dirinya sendiri di teras rumahnya.
__ADS_1