Keikhlasan Hati

Keikhlasan Hati
Chapter 21 #S2


__ADS_3

Flash back . . .


Di salah satu SMA swasta yang cukup bergengsi di Kota Medan. Seorang gadis cantik berkaca mata namun sedikit culun dan pendiam sedang berjalan sendiri di koridor gedung sekolah. Dia adalah Lana di masa SMA dan kini dia kelas 1 SMA. Di sekolah dia tak memiliki teman apa lagi teman khusus dan dia juga tak ingin bergaul dengan teman - teman lain nya. Di kelas dia hanya menyendiri dan tak perduli dengan sekitar nya.


Tanpa sengaja bola basket melayang dari lapangan mengenai ke tubuh nya.


"Shh Auu . . . ". Rintih nya sembari mengusap - ngusap lengan nya yang terkena bola.


"Maaf ya aku enggak sengaja". Tiba - tiba salah satu siswa di sekolahan sekaligus pemain basket yang ada di lapangan menghampiri nya usai dia mengambil bola basket itu.


"Kamu enggak apa - apa". Tanya nya sembari memegang lengan Lana dengan lembut.


Lana terpaku serta terpesona melihat sosok cowok tampan yang sedikit sengak yang ada di hadapan nya. Tanpa berkata Lana hanya mengangguk kan kepala nya.


"Sekali lagi maaf ya, aku permisi". Cowok itu tersenyum simpul dan pergi meninggal kan Lana berdiri sendiri menatap nya.


.


.


Lana penasaran pada sosok yang sudah berhasil membuat nya semangat untuk ke sekolah. Setiap hari di sekolah Lana slalu memperhati kan nya setiap dia bermain basket di lapangan bersama teman - teman nya, setiap di jam istirahat bahkan sesekali dia iseng melewati kelas nya untuk melihat. Tak ketinggalan Lana pun mengetahui siapa nama cowok sengak tersebut dari tanda pengenal nya di saku baju seragam milik nya.


"Ariansyah Pratama alias Ari"


Yaa dia lah sosok tersebut.


Ari adalah kakak kelas Lana semasa di bangku SMA.


Lana di kelas 1 dan Ari di kelas 2.


Ari siswa cowok yang cukup populer di sekolahan mengingat dia adalah salah satu pemain tim basket sekolah di tingkat 2 alias perwakilan dari kelas 2.


Lana sudah tak sabar ingin sampai ke sekolah agar bisa ketemu dengan sosok Ari. Tidak seperti biasa nya dia sangat semangat bahkan dia mulai sedikit berdandan cantik ke sekolah.


"Pagi Pa, pagi Ma . . . ". Dengan ceria Lana menyapa sang Papa dan Mama yang sudah duduk di kursi meja makan untuk sarapan pagi.


"Pagi sayang". Serentak.


Lana mencomot sepotong roti dan setoples selai srikaya.


Mama/ "Kamu kok tumben cuma makan roti, biasa nya makan nasi goreng".


Lana/ "Enggak Ma, aku lagi diet he he he". Sembari mengunyah roti yang sudah dia olesin selai.


Papa/ "Tumben?, lagian kamu mau diet apa lagi rang badan kamu udah kurus gitu".


Mama/ "Iya ini, ntar kamu sakit lho".

__ADS_1


Lana/ "Enggak lho Ma Pa. Aku cuma ngejaga tubuh aku aja biar enggak jelek".


Papa/ "Hmm ya udah terserah kamu aja. Yang penting jangan membuat kamu sakit".


Lana/ "Siap bos he he he".


Papa/ "Oh ya . . . Ada yang mau Papa omongi ke kamu, ini penting".


Lana/ "Mau ngomongi apa Pa?".


.


.


Dengan lemas Lana berjalan memasuki gedung sekolah. Jiwa semangat 45 nya hilang entah kemana. Lana berjalan menyusuri koridor gedung sembari memperhati kan sekeliling sekolah hingga dia dapati sosok Ari yang sedang duduk di bangku taman sekolah asyik mengobrol dengan teman - teman nya. Sembari mengingat . . .


Papa/ "3 hari lagi kita akan pindah ke Yogya".


Spontan Lana terkejut, semangat nya terbang melayang dan wajah ceria nya berubah murung.


Papa/ "Usaha kita di Yogya lagi kritis dan harus kita perjuang kan. Papa sama Mama enggak mungkin bolak - balik dari sana ke sini dan enggak mungkin juga ninggalin kamu sendirian di sini. Maka nya Papa putus kan kita pindah ke sana. Maaf Papa ngasi tau kamu enggak jauh - jauh hari karna kamu kan tau Papa sama Mama lagi sibuk banget. Kamu enggak perlu khawatir soal sekolah, Papa udah ngurusi surat pindah kamu di sekolah mengingat kamu masi kelas 1 SMA jadi enggak menyulit kan pihak sekolah. Lagian kan dari awal kamu mau nya pindah dari sekolah itu dan sekarang itu terjadi he he he. Pokok nya kamu udah tinggal terima beres aja".


Lana tak bisa berkata - kata. Yaa ini lah mau nya Lana yang tak ingin masuk ke sekolah itu mengingat sekolah yang dia ingin kan sudah tak menerima murid lagi mau enggak mau dia terpaksa masuk ke sekolah itu. Meski pun sekolah itu sekolah yang cukup bergengsi tapi Lana tak mengingin kan nya. Tapi . . . Itu sebelum dia bertemu dengan Ari.


Sebelum dia pergi. Di hari terakhir dia berada di sekolah itu dengan nekat dia memutus kan untuk berkenalan dengan Ari. Di jam istirahat, dengan percaya diri nya dia menghampiri Ari yang bersandar sendiri di tiang gedung yang ada di depan ruang guru.


Selangkah demi langkah Lana hampir sampai di samping Ari.


"Hai . . . Gimana?, udah?, apa kata Pak Jono?". Ari menoleh pada gadis itu.


"Entar deh aku cerita nya, kita ke kantin yuk".


"Ya udah ayok". Ari pergi bersama gadis itu tanpa menyadari keberadaan Lana yang terpaku kecewa melihat nya pergi bersama seorang cewek yang dia kira itu pacar nya, padahal bukan, dia adalah teman sekelas Ari sekaligus wakil ketua kelas nya mengingat Ari adalah ketua kelas nya.


.


.


Mau tidak mau Lana menuruti orang tua nya untuk ikut pindah ke Yogya. Dengan berat hati dia harus meninggal kan perasaan nya serta cinta pertama nya.


Lana tumbuh menjadi gadis yang semakin cantik. Setelah dia lulus SMA di salah satu sekolah di Yogya dia meminta pada Papa dan Mama nya untuk kuliah di Medan. Awal nya mereka tidak menyetujui permintaan Lana, tapi mengingat Lana harus mandiri agar tidak manja mereka mengizin kan Lana untuk kuliah di Medan dan tinggal sendiri di rumah lama mereka di Medan meski terkadang orang tua nya mengunjungi nya setiap kali mereka punya waktu luang.


Kini Lana berubah menjadi lebih modis dan begitu Fashionable tak seperti sebelum nya gadis berkaca mata yang sedikit culun. Dia tak lagi mengguna kan kaca mata minus nya, dia lebih memilih memakai softlens ketimbang kaca mata yang membuat nya culun.


Lana kuliah di salah Universitas Negri di Medan. Karna kecantikan dan ketajiran diri nya membuat nya memiliki banyak teman serta banyak nya cowok - cowok di kampus mendekati nya. Tapi tak satu pun dari mereka yang membuat nya tertarik.


Lana memarkir kan mobil nya di parkiran kampus. Dan keluar dari mobil nya.

__ADS_1


Semua mata tertuju pada sosok Lana yang begitu memukau bak artis ibu kota. Tak seorang pun yang tak menoleh setiap dia berjalan menyusuri gedung kampus jurusan hukum.


"Lana . . . ". Teriak seorang cewek yang tak lain adalah teman nya Dinda.


Lana menghenti kan langkah nya dan menoleh kebelakang ke arah pusat suara.


Kini Dinda sudah di hadapan nya dengan nafas yang tersengal - sengal.


Dinda/ "Kok tumben kamu cepat datang nya?, kan jam kelas Pak Fitra jam 11, ini masih jam 9".


Lana/ "Iya aku bosan di rumah maka nya aku datang cepat. Oh ya kamu kok cepat banget keluar dari kelas Buk Yani?, emang udah kelar?".


Dinda/ "Buk Yani nya enggak datang, udah capek - capek aku bela' in datang nya jam 7 pagi biar enggak telat ehh Buk Yani nya malah enggak datang trus cuma ngasi tugas, hufft, kamu mah enak enggak kebagian kelas nya Buk Yani".


Lana/ "Ha ha ha maka nya tuh otak kudu di asah jadi biar kebagian kelas nya Pak Fitra".


Dinda memonyong kan bibir nya.


"Ya udah yok, kita ke kantin aku belum sarapan soal nya". Lana menggandeng tangan teman nya itu.


.


.


Mereka duduk di meja pas di depan nya terhampar lapangan bola basket dan di sebelah nya lapangan futsal. Di atas meja sudah tersaji 2 piring siomay dan 2 gelas ice lemon tea.


"Lan . . . Coba deh perhatiin kayak nya cowok - cowok di kantin pada liatin kamu deh". Dinda melirik sekitar kantin sedang kan Lana cuek dan tetap fokus sama sepiring siomay yang dia pesan.


Dinda/ "Lan . . .".


Lana/ "Apaan sih Din?".


Dinda/ "Kamu dengerin aku enggak sih?".


Lana/ "Dengar, lagian enggak penting ngapain di hirau kan".


Dinda/ "Issh kamu enggak boleh kayak gitu, ntar kamu di bilang sombong".


"Hai Lana". Tiba - tiba 2 orang cowok menegur Lana sembari senyum - senyum tebar pesona. Lana dan Dinda hanya tersenyum getir.


Dinda/ "Tuh kan, mereka itu pada naksir sama kamu".


Lana/ "Trus aku harus ngerespon mereka semua gitu?, huh".


Dinda/ "Ya enggak juga sih. Tapi kan paling enggak nya kamu jangan cuek - cuek amat lah, trus ada gitu yang kecantol sama kamu".


Lana/ "Dinda . . . Cowok - cowok yang kayak gitu mudah di tebak dan itu bukan tipe aku banget, ngerti?".

__ADS_1


Dinda/ "Trus tipe kamu yang gimana?".


Pertanyaan Dinda mengingat kan Lana pada sosok Ari. Dia teringat pertama kali dia bertemu dengan Ari. Dia memandang lapangan bola basket dan terbayang sosok Ari yang sering main bola basket di lapangan dengan semangat.


__ADS_2