Keikhlasan Hati

Keikhlasan Hati
Chapter 23 #S2


__ADS_3

Flash On . . .


"Pa . . . Kalau pertunangan aku sama Ari di percepat aja boleh enggak Pa?". Lana sedang membujuk Pak Baim alias Papa nya yang tengah sibuk memberi kan ayam - ayam ternak nya sentak dia terhenti dan menoleh melihat wajah anak tunggal nya itu.


Papa/ "Kenapa tiba - tiba minta di percepat?, kalian udah berbuat macem - macem ya?". Sembari melihat ke arah perut Lana yang rata.


Lana/ "Enggak Pa . . ., Ishh Papa ini apaan sih, aku bukan wanita murahan".


Papa/ "Trus kenapa?, apa alasan nya di percepat?".


Lana/ "Yaaaa biar aku sama Ari bisa bebas aja kalau kemana - mana. Trus pun Papa sama Om Hadi kan biar cepat jadi besanan".


Papa/ "Hmm Papa mau nya begitu, kalian itu cepat - cepat tunangan kalau bisa pun nikah langsung. Tapi kan Papa enggak bisa ngambil keputusan sendiri, harus ada keputusan dari pihak Ari nya".


Lana/ "Kalau gitu Papa bujuk aja lah Papa nya Ari biar Ari nya nurut sama Papa nya trus mau tunangan atau nikah sama aku secepat nya".


Papa/ "Kamu ini, enggak mikir apa?, Kamu sama Ari kan masih kuliah, trus mau dari mana si Ari ngebiaya' in hidup kamu kalau kalian menikah secepat nya?".


Lana/ "Kalau itu kan gampang Pa. Kan ada Papa, percuma donk Papa punya perusahaan besar trus usaha Papa juga banyak dan sukses masa iya enggak mau ngasi ke menantu Papa satu - satu nya".


Papa/ "Huh . . . Ya udah nanti Papa akan mencoba nge bujuk Om Hadi dan Ari. Mudah - mudahan mereka setuju".


"Yeaaaay makasi Papa ku tercinta tersayang pokok nya ter ter ter lah". Lana memeluk tubuh Papa nya sembari menyandar kan kepala nya ke dada Pak Baim yang bidang.


"Dasar manjaaa". Pak Baim mengusap kepala Lana dengan lembut.


.


.


Tak perlu waktu lama Pak Baim pun membujuk Pak Hadi untuk menyegerakan pertunangan Lana dan Ari.


Hadi/ "Kalau aku setuju - setuju aja Im, tapi kan aku mesti nanyak ke Ari nya juga".


Baim/ "Iya aku tau itu, maka nya coba kau bujuk si Ari, mana tau dia mau menuruti kau, secara dia enggak mungkin nolak permintaan kau".


"Permintaan apa?". Ari tiba - tiba muncul mengaget kan Papa nya, Pak Baim serta Lana yang duduk di ruang tamu kediaman Pak Hadi.


"umm . . . ?, kamu udah pulang dari kampus Ri?". Pak Baim jadi gelagapan.


Ari memutar bola mata dan batin nya berkata. "Pertanyaan macam apa itu, udah jelas - jelas aku di sini ya udah pasti udah pulang lah".


"Iya Om. Aku masuk dulu ya". Pamit nya melangkah menuju kamar nya.


"Tunggu dulu Ri, kamu duduk dulu di sini, ada yang mau Papa omongi sama kamu". Pak Hadi menghenti kan langkah nya.


Ari pun duduk di samping sang Papa yang di hadapan nya Pak Baim dan Lana.


"Mau ngomongi apa Pa?".


Hadi/ "Umm . . . Gini Ri, Papa sama Om Hadi berencana untuk mempercepat pertunangan kalian kalau bisa kalian pun langsung nikah, karna Papa sama Om Baim rasa kalian jangan terlalu lama pacaran dan lagi kalian bisa bebas kemana aja cuma berdua, gimana menurut kamu?".

__ADS_1


Ari terkejut dengan rencana kedua bapak - bapak ini sembari melirik Lana yang tersenyum manis pada nya.


Baim/ "Iya Ri, Om takut kalau kalian bakal berbuat yang macem - macem sebelum kalian nikah, trus Om juga kasian sama Lana sendirian di rumah kalau Om sama Tante dinas keluar kota atau keluar negri. Kalau kalian sudah nikah kan jadi Lana enggak sendiri lagi kalau di rumah. Kalau soal biaya nikah dan biaya kehidupan kalian gampang, enggak usah di pikirin, kalau kalian masih mau kuliah silah kan kuliah kami enggak melarang kalian".


Hadi/ "Kamu coba pikir - pikir kan aja dulu. Kami akan ngasi kamu waktu untuk berpikir tapi jangan kelamaan juga mikir nya he he he iya kan Im ?".


Baim/ "ha ha ha iya, kalau kelamaan udah keburu mereka wisuda lagi".


Hadi/ "ha ha ha".


Ari semakin frustasi di buat rencana ini. Ari hanya terdiam tak bisa berkata apa - apa. Sebab dia juga enggak tau keputusan apa yang terbaik untuk diri nya.


#Mengapa begitu sulit.


Permainan macam apa ini, kenapa begitu sulit untuk mengakhiri nya.


Rasa nya aku ingin lari sejauh mungkin.


Aku tak tau keputusan mana yang harus aku tanggung.


Aku tak tau keputusan mana yang terbaik untuk ku.


Sungguh ini begitu sulit.


.


.


Sama seperti sebelum nya mereka berempat kembali duduk bersama di ruang tamu yang sama dan di waktu yang berbeda.


Mereka siap untuk mendengar kan keputusan Ari. Terutama Lana yang sangat yakin bahwa Ari tak akan menolak rencana ini.


Ari/ "Pa . . Om . . Maaf aku enggak bisa menerima rencana ini".


Ekspresi terkejut tertampil di wajah mereka apa lagi Lana yang kecewa dan rasa nya ingin marah.


Ari/ "Ini bukan soal uang atau pun pendidikan. Tapi ini soal kesiapan aku yang sama sekali belum siap untuk nikah secepat nya. Dan lagi aku juga punya impian kecil yang sudah terancam aku kubur dalam - dalam. Maaf Lan aku enggak bisa, kalau kamu memang ingin cepat nikah kamu boleh carik laki- laki lain yang bisa nikahi kamu secepat nya dan kamu bisa tinggalin aku". Ari melihat Lana yang ternyata sudah menetes kan air nya.


Ari/ "Om . . . Maaf, aku enggak ada maksud untuk menyakiti hati Om apa lagi Lana, tapi jujur aku belum siap untuk itu".


"Hufft . . . Om tau pasti itu sesuatu yang berat bagi kamu maka nya kamu belum siap, karna kamu masih muda dan menganggap masa muda kamu di renggut kalau kalian menikah secepat nya. Om hargai keputusan kamu, Om sama sekali enggak marah sama keputusan kamu, dan Lana pun begitu". Pak Baim menepuk pelan bahu Ari sembari melirik Lana.


Lana/ "Hemm . . . Dengan keputusan kamu tapi bukan berarti hubungan kita berakhir. Aku bakal nungguin kamu sampek kamu siap". Ujar nya sembari menyeka air mata nya.


Ari hanya tersenyum. Sedang kan sang Papa hanya menepuk bahu Ari dan merasa sebenar nya anak tunggal nya sudah dewasa dan bijak mengambil keputusan.


.


.


Usai sudah dengan rencana yang membuat Ari hampir gila memikir kan nya dan dia sudah bisa sedikit bernafas lega setelah mengutara kan keputusan nya.

__ADS_1


Mereka maksud nya Lana dan Ari yang duduk berdua di antara para pengunjung lain nya yang mengunjungi sebuah taman yang luas nya sebesar lapangan dan begitu ramah untuk para keluarga.


"Oh ya yank . . . Omongan kamu yang kemarin malam soal impian kecil kamu itu kalau boleh tau emang nya apa impian kecil kamu itu?. Lana penasaran dan mempertanya kan nya.


Ari/ "itu cuma impian enggak waras aku aja dan itu mungkin enggak akan pernah terjadi".


Lana/ "Iya . . . Emank nya apa?, apa impian kamu sama Iea mantan kamu itu?".


Ari menoleh ke arah Lana, terkejut.


"Dari mana dia tau soal Iea?". Batin nya.


Lana/ "tebakan aku benar kan?".


"Enggak kok, sama sekali enggak ada hubungan nya". Sangkal nya.


"Kamu tau dari mana soal mantan aku?".


Lana/ "Dari kamu".


Ari "Aku enggak pernah cerita ke kamu soal mantan aku, bahkan aku enggak pernah ngasi tau ke kamu siapa nama mantan aku".


Lana/ "Aku tau dari igauan kamu yang slalu ngeganggu aku dan hati aku".


"Igauan?". Batin nya bertanya.


Lana/ "Kamu pikir aku kurang kerjaan gitu nyarik tau soal mantan - mantan kamu?, heeh enggak lah karna itu enggak penting buat aku. Meski hati aku sakit mendengar igauan kamu memanggil dia tapi aku enggak mau membesar - besar kan masalah sepele dan itu akan mengancam aku kehilangan kamu".


"Aku enggak perduli kalau kamu masih memikir kan mantan kamu atau enggak, aku juga enggak perduli kalau perasaan kamu itu bukan untuk aku. Bagi aku yang penting kamu milik aku dan slalu ada di samping aku, bahagia bersama aku hingga nanti. Bagaimana pun rintangan yang akan menghalangi, aku akan tetap mempertahan kan kamu di sisi aku".


Ari hanya terdiam menatap Lana yang melihat rumput - rumput halus yang ada di hadapan mereka.


Ari berpikir cinta Lana terhadap diri nya adalah suatu keegoisan tanpa mau mengerti perasaan nya. Dia telah salah memilih seseorang yang ada di samping nya dan menyia - nyia kan seseorang yang begitu berharga yakni Almira.


.


.


"Seandai nya kalau kita jodoh nya hanya sebentar gimana?". Ari menggenggam tangan Almira sembari menatap nya.


Almira/ "Hmm . . . Yaaa mau gimana lagi nama nya juga enggak jodoh, berarti kan ALLAH enggak berkehendak untuk kita sama - sama. Itu udah takdir ALLAH".


Ari/ "Kalau tiba - tiba hati aku berubah sama kamu gimana?".


"Umm . . . Mau enggak mau harus terima kenyataan nya dan ikhlas melepas kan kamu, meski pun itu bakal ngebuat rasa sakit dan luka yang mendalam di dalam hati aku. Lagian kan ALLAH Sang Maha membolak - balik kan hati seseorang karna hati setiap manusia milik ALLAH termasuk hati kamu". Almira menunjuk kan ke arah dada Ari.


Ari/ "Kalau aku sih, kalau tiba - tiba hati kamu berubah ke aku mungkin aku bakal tetap memperjuang kan kamu bersama dengan aku meski pun hati kamu udah berubah ke aku asal kan kamu slalu ada di samping aku".


Almira/ "he Itu bukan cinta nama nya sayang tapi keegoisan, karna kamu enggak memikir kan apa kah aku bahagia atau tidak bersama kamu. Lagian aku enggak percaya lah kalau kamu bakal memperjuang kan nya., paling ntar - ntar mungkin hati kamu yang berubah ke aku trus berpaling ke wanita lain".


Ari/ "Ouh . . Tidak mungkin. Kamu iya itu mungkin soal nya kan banyak banget cowok - cowok yang nyobak ngedekati kamu".

__ADS_1


"Hmmpt . . . Asal kan kita yakin ALLAH akan menjaga hati kita dan yakin sama hati kita sendiri, mau sebanyak apa pun yang ada di hadapan kita, In Sya ALLAH hati kita tak akan pernah berubah. Dan aku yakin sama hati aku. Kita enggak pernah tau apa yang akan terjadi sama kita ke depan nya, kita enggak boleh berandai - andai dan menerka - nerka apa yang terjadi hari esok. Cukup kita jalani saja dengan ikhlas apa yang sudah di tetap kan sama ALLAH hari ini. Besok siapa yang tau karna itu adalah rahasia ALLAH". Almira tersenyum menatap Ari yang juga tersimpul pada nya.


__ADS_2