
"Mudah - mudahan Suam mampu menangani pasien itu dan semoga ALLAH memberikan pertolongan bagi nya, Aamiin". Doa nya dalam hati sembari berjalan.
#gdebuukk...
Seorang laki - laki berbadan tinggi dan berkulit sawo matang tanpa sengaja menabrak Almira. Laki - laki itu meminta maaf pada Almira dan mengambil bungkusan Almira yang jatuh karena nya.
"Ira?".
"Ari".
Ari/ "Maaf ya Ra, aku enggak sengaja nabrak kamu soal nya aku lagi buru - buru".
Almira melihat wajah Ari yang terlihat begitu cemas dan menyimpan rasa sedih nya.
" Iya enggak apa - apa kok". Almira tersenyum.
Ari/ "Sekali lagi aku minta maaf ya dan aku juga enggak bisa lama - lama di sini. Aku harus buru - buru ke dalam".
Almira mengangguk canggung.
" Iya silahkan".
"Ya sudah, aku tinggal ya". Ari berlari dengan tergesa - gesa masuk ke dalam rumah sakit sedang kan Almira hanya menatap kepergian nya.
Almira membalik kan badan nya untuk kembali berjalan dan lagi, tanpa sengaja Almira melihat sebuah sapu tangan yang ia hapal betul siapa pemilik nya.
"Ini kan...?". Almira mengambil sapu tangan berwarna merah maroon itu.
Terdengar suara nada dering dari ponsel Almira. Ia mengangkat panggilan itu.
#Iya pak? Oh iya. Bentar ya pak, saya ke situ. Iya".
Almira segera keluar menemui supir taxi online yang sudah ia pesan dan mengurungkan niat nya untuk mengembalikan sapu tangan itu pada pemilik nya, Ari.
.
.
Entah kenapa Almira jadi kepikiran ketika ia bertemu dengan Ari. Bukan kepikiran tentang masa lalu mereka namun kepikiran melihat wajah Ari yang terlihat tak memiliki semangat hidup.
"Ngelamuni apa hayo?". Eggy mengusap kepala Almira dan membuyarkan lamunan nya.
Almira/ "Enggak ngelamun kok, Ist cuma kepikiran saja, tadi Ist ketemu sama Ari di rumah sakit".
Eggy menghentikan tangan nya mengusap rambut nya yang basah ketika mendengar pertemuan itu dan pertemuan itu juga membuat istri nya melamun.
Almira/ "Terus Ist ngeliat wajah nya kayak nya dia menyimpan rasa sedih gitu, di tambah lagi dia buru - buru masuk ke dalam rumah sakit. Kayak nya keluarga nya lagi di rawat di rumah sakit Suam lah".
Wajah Eggy menjadi datar melihat Almira yang berpikir tentang Ari.
"Iya, Papa nya lagi di rawat di rumah sakit kita. Dan pasien yang mendadak kritis tadi siang itu Papa nya Ari".
Almira menutup mulut nya karena terkejut/ "Innalillahi... Pantesan saja Ari terlihat sedih kayak gitu. Emang Papa nya sakit apa sayang?".
Eggy/" Beliau menderita komplikasi pada jantung dan hati nya. Terus kalau di lihat dari perkembangan dan pemeriksaan. Cepat atau lambat kemungkinan buruk akan terjadi".
Almira/ "Ya ALLAH. Pasti berat kali untuk Ari dan Mama nya. Karena Ist tahu banget kalau mereka enggak bisa tanpa beliau".
Eggy mulai malas mendengarkan Almira simpatik pada Ari yang ia tahu siapa nya Almira di masa lalu. Eggy bukan nya tidak simpatik atas apa yang menimpa pada Ari, akan tetapi ia hanya manusia biasa yang memiliki rasa cemburu ketika sang istri simpatik pada laki - laki lain selain diri nya, apa lagi orang itu adalah sang mantan kekasih. Mantan itu ibarat musuh bagi pasangan yang berada di samping kita.
Eggy merebah kan badan nya di atas tempat tidur.
"Suam ngantuk, Suam mau tidur".
"Hmmpt.. Ehh.. Kan belum ngasih kecupan sebelum tidur". Almira memanyunkan bibir nya melihat Eggy sudah memejamkan mata nya.
Almira mengendus pelan.
"Huh... Ya sudah deh. Semoga mimpi indah Suam". Almira mencium pipi Eggy lalu berbaring di samping nya sembari memeluk tubuh Eggy.
Eggy membuka mata nya, ia melirik Almira yang sudah tertidur. Eggy mengarahkan tubuh nya berhadapan dengan Almira.
"Maaf ya Ist, jujur Suam cemburu ketika Ist bercerita tentang cowok lain apa lagi orang itu Ari". Batin nya berkata sembari mengelus wajah Almira.
.
.
Seperti pada pagi hari yang sebelum - sebelum nya. Eggy berangkat ke rumah sakit di pagi hari, Almira sibuk dengan Ghifari dan membereskan rumah nya.
"Mommy. . . . Aduuuuuh sakiiiiiiit". Terdengar suara Ghifari yang sedang merintih kesakitan.
"Ghifari kenapa sayang? Apa nya yang sakit?".
__ADS_1
Almira begitu khawatir bin panik. Ia memeriksa tubuh anak nya.
"Perut Ghifari sakit mommy, aduuuuuh". Ghifari memegang perut nya. Wajah nya begitu pucat serta mengeluarkan keringat dingin.
"Ya ALLAH sayang. Ghifari tahan sebentar ya nak? Kita ke tempat Daddy ya sayang". Almira sibuk mengutak - ngatik ponsel nya.
Ghifari tak kuasa menahan rasa sakit nya. Almira semakin panik sehingga ia menangis melihat anak nya kesakitan.
Almira segera menggendong Ghifari keluar rumah. Ia bingung mau naik apa membawa anak nya. Ia berlari keluar komplek untuk mencari angkot tapi sayang nya di daerah perkomplekan mereka tidak memiliki jalur angkot. Sangkin panik nya ia lupa menghubungi Eggy.
"Kamu yang sabar ya sayang". Almira mengusap kepala Ghifari.
Tak ada satu pun kendaraan yang melintasi jalan itu. Hingga akhir nya salah satu tetangga mereka melintas ingin memasuki perkomplekan. Ia melihat Almira sedang berdiri di pinggir jalan sambil menggendong Ghifari. Ia menghentikan mobil nya.
"Kak Almira ngapain di situ?". Wanita berparas ayu menongolkan sedikit kepala nya usai dia membuka kaca mobil nya.
Almira mendekati mobil yang berhenti di depan nya.
"Alhamdulillah ya ALLAH. Kak Fika, saya boleh minta tolong? Tolong antarkan saya ke rumah sakit suami saya. Soal nya Ghifari tiba - tiba sakit. Saya lagi nyari angkot atau taxi tapi enggak ada yang lewat".
"Oh ya ampun, cepat masuk Kak, Biar aku antar ke rumah sakit". Wanita itu sangat ramah pada Almira.
Almira segera masuk ke dalam mobil nya.
" Terimakasi banyak Kak Fika atas bantuan nya".
"Iya Kak , sama - sama, sesama tetangga kan memang harus saling membantu". Ia tersenyum pada Almira dan melaju dengan kecepatan penuh.
Fika menurunkan Almira tepat di depan pintu utama rumah sakit.
" Kak maaf ya aku enggak bisa ikut turun soal nya aku mau jemput anak aku ke sekolah".
Almira/ "Oh iya, sekali lagi terimakasi banyak ya Kak".
Fika/ " Ya sudah kak, aku pamit ya".
"Iya kak, hati - hati". Tanpa menunggu kepergian Fika, Almira langsung melarikan Ghifari ke IGD. Dan Ghifari langsung di tangani oleh dokter specialis anak.
Almira mondar - mandir menunggu dokter keluar dari ruangan. Dari kejauhan Eggy melihat sosok Almira terlihat panik mondar - mandir di depan pintu ruangan operasi. Eggy melangkah cepat menghampiri Almira.
Eggy/ "Sayang?".
Almira melihat Eggy lalu menyambar tubuh Eggy sembari menangis. Semua mata tertuju pada mereka berdua dan berbisik - bisik enggak penting.
"Ghifari".
Almira/ "Perut Ghifari sakit, terus kata dokter nya Ghifari harus di operasi karena ada usus belipat".
Eggy memejamkan mata nya sekilas, ia shock mendengar nya.
"Ya ALLAH. Ya sudah sayang, Ist yang tenang ya, jangan panik ya sayang. Semua nya baik - baik saja. Ghifari enggak akan kenapa - kenapa. Sekarang Ist duduk tenang di sini ya, Suam mau ke dalam dulu lihat Ghifari. Ist jangan nangis lagi, Ghifari enggak apa - apa kok". Eggy mengusap air mata Almira.
"Kalian tolong jagain istri saya ya". Eggy memerintahkan kepada kedua perawat yang sudah mengikuti Eggy sejak tadi dan kebetulan kedua perawat itu perawat yang pernah menggosipi Almira dan Eggy.
Almira terduduk lemas menanti sang suami membawa kabar baik mengenai kondisi anak mereka. Hampir satu jam Almira menunggu mereka yang berada di dalam ruang operasi. Tak lama Eggy pun keluar. Secepat kilat Almira menghampiri Eggy.
Almira/ "Sayang, gimana Ghifari? Gimana operasi nya?".
Eggy memeluk Almira, nafas Almira yang menderu begitu terasa di dada Eggy.
"Alhamdulillah Ghifari enggak apa - apa sayang, operasi nya lancar. Ternyata seperti ini ya rasa nya menangani orang sendiri. Rasa nya separuh nyawa Suam hilang". Kali ini Eggy yang tak kuasa menahan rasa cemas dan lemas usai ia mengoprasi anak nya sendiri. Ia mempererat pelukan nya.
Setelah masa ketegangan itu usai, Ghifari pun sudah di pindahkan ke ruangan. Almira dan Eggy berada di sisi Ghifari yang masih tertidur pulas. Mereka menatap wajah Ghifari yang lesu.
Eggy meninggalkan pekerjaan nya demi anak nya. Ia lebih memilih berada di sisi anak dan istri nya ketimbang bekerja. Eggy melingkarkan tangan nya pada pinggang Almira. Almira pun meletak kan kepala nya pada bahu Eggy.
Eggy/ "Sudah berapa pasien yang Suam tangani baru kali ini Suam ngerasa gugup dan takut. Ternyata benar apa kata orang, kita tidak akan takut menghadapi seribu orang asing tapi ketika kita akan di hadapkan dengan orang kita sendiri, rasa takut itu muncul menghantui kita. Suam takut kali kalau Suam gagal untuk anak kita".
Almira meletak kan tangan nya pada dada Eggy. Degub jantung Eggy terdengar kencang.
"Hmm ternyata ini yang di rasa kan orang tua kita dulu. Mungkin hati mereka juga sama seperti apa yang kita rasakan saat ini ketika anak kita sakit". Mata Almira mulai terasa berat alias mengantuk.
"Iya sayang. Oh ya kita belum kabari mereka kalau Ghifari masuk ke rumah sakit. Hp Suam tadi dimana Ist?". Eggy tertawa kecil setelah ia melihat Almira sudah tertidur di bahu nya. Ia merasa sangat lelah untuk satu harian ini.
"Ist pasti ngerasa khawatir dan lelah banget, wajah nya sampai sembab gini karena nangis". Eggy mengusap wajah Almira dengan lembut. Ia mengarah kan kepala Almira di atas paha nya dan membuat Almira merasa nyaman.
"Suam pasti akan menjaga kalian". Eggy mengecup pipi Almira sembari membelai kepala nya.
.
.
Keluarga Almira sudah berdatangan untuk menjenguk Ghifari. Mereka langsung bergegas ke rumah sakit ketika Eggy mengabari mereka. Namun tidak untuk keluarga Eggy, mengingat mereka masih berada di Jakarta dan tidak bisa pulang ke Medan. Mereka hanya bisa melakukan video call.
__ADS_1
"Oma sama Opa kapan balik ke Medan?". Ghifari sudah mulai ceria kembali.
Bu Hanna/ " Oma enggak tahu sayang, soal nya Opa kamu masih ada banyak kerjaan di sini".
Ghifari/ "Ya sudah kalau gitu Oma saja yang pulang, Opa biarin saja kerja di sana he he he".
Semua orang tertawa mendengar bijak nya Ghifari. Almira menggelengkan kepala nya, sedang kan Eggy mengusap kepala putra nya itu.
"Enggak usah pulang Oma, enggak usah kawani Ghifari soal nya Ghifari enggak mau nurut sama Mommy Daddy nya. Sudah di bilang jangan makan jajan banyak - banyak di sekolah malah enggak mau dengarin, he he he".
Bu Hanna/ "Ehh Ghifari enggak boleh gitu lagi ya sayang, Ghifari kan sayang nya Oma dan Opa, Ghifari harus nurut apa kata Mommy dan Daddy Ghifari. Memang nya Ghifari mau sakit kayak gitu?".
Ghifari tertunduk.
"Enggak Oma, Ghifari enggak mau kayak gini. Di sini bau uweeek".
Bu Hanna/ "Nah maka nya Ghifari enggak boleh lagi ya janjan banyak - banyak. Dan harus nurut apa kata Mommy Daddy".
Ghifari/ "Iya Oma".
Bu Hanna/ "Gitu baru cucu Oma yang sholeh. Oma janji nanti kalau Oma sama Opa pulang, Oma pasti bawain ole - ole yang banyak untuk Ghifari".
Ghifari menjadi semangat.
"Beneran ya Oma, janji ya Oma?".
Bu Hanna/ "Iya In sya ALLAH. Tapi Ghifari enggak boleh sakit lagi okey?".
Ghifari/ " Okey ,Oma, Ghifari janji he he he".
"He he he". Semua tertawa melihat kepolosan Ghifari yang menggemaskan.
.
.
Almira mengusap kepala Ghifari di saat putra nya sudah terlelap. Almira menoleh ketika Eggy kembali setelah mengantar keluarga nya dari pihak Almira sampai ke parkiran. Almira membalas senyuman Eggy yang berjalan menghampiri dirinya.
"Sudah tidur dia?". Eggy pun mengusap kepala putra nya.
" huummm". Almira mengangguk pelan.
"Mommy nya Ghifari enggak tidur juga?". Eggy melirik nya.
"Masih belum ngantuk Suam. Suam tidur saja duluan, besok kan Suam mau kerja, dari tadi Suam belum ada istirahat. Ist bersihkan dulu sofa nya biar Suam bisa tidur di situ". Almira berjalan menuju sofa yang terlihat berantakan.
Begitu spontan, Eggy menarik tangan Almira lalu memeluk nya dengan erat. Almira merasakan hangat nya tubuh Eggy serta aroma tubuh nya yang hanya Almira saja yang tahu he he he.
"Suam butuh charge, biar capek Suam hilang". Ujar nya, ia menyandarkan dagu nya pada bahu Almira.
Almira tersenyum sembari menyentuh pipi Eggy.
"Emang nya Suam benda elektronik pakai di charge segala?".
Eggy mengangguk dan Almira tertawa kecil.
"He he he, maka nya Suam istirahat biar ilang capek nya".
Eggy menggelengkan kepala.
"Cukup begini saja rasa itu lenyap semua".
Almira membalik kan badan nya.
"Yakin? Kayak gini terus enggak pakai tidur?" Almira menaik kan alis mata nya.
"Mmm.... Yakin donk. Ehh tapi enggak pakai berdiri gini juga. Pegal juga kalau sambil berdiri gini he he he". Eggy mempererat lingkaran tangan nya pada pinggang Almira.
"Ha ha ha sama saja bohooong". Ia melagakan hidung nya pada hidung Eggy.
"Ha ha ha enggak lah, apa pulak bohong. Kan sama pelukan nya, beda nya ini sambil duduk enggak berdiri hi hi hi". Eggy mengarahkan tubuh mereka menuju sofa dengan perlahan lalu menjatuhkan tubuh mereka di atas sofa.
"Seperti ini". Eggy mengarah kan tubuh Almira ke dalam dekapan nya. Almira merasa semakin nyaman dan menenggelam kan wajah nya pada bahu Eggy yang bidang lalu menglingkarkan tangan nya ke pinggang Eggy.
"Lho kok jadi gantian?". Eggy merasa kini Almira yang butuh di charge. Eggy membelai hijab Almira.
Almira/ " Hmm... Emang nya Suam saja yang butuh di charge. Ist juga butuh".
Eggy tertawa kecil.
"Dasar, tadi bilang nya Suam benda elektronik, ini malah dia yang gitu he he he".
Almira/ "Hmm ini karena sudah ketularan sama Suam. Maka nya kayak gini".
__ADS_1
Eggy semakin gemes, sempat ia mencubit - cubit kecil pinggang Almira. Seketika Almira sudah tertidur pulas. Eggy menggelengkan kepala nya sembari tertawa kecil.
"Kata nya masih belum ngantuk, terus nyuruh Suam nya tidur luan, ehh ini malah dia yang duluan molor. Dasar tukang tidur Mommy nya Ghifari ini he he he". Ia mempererat pelukan nya lalu memejamkan mata nya.