Keikhlasan Hati

Keikhlasan Hati
Chapter 10 #S3


__ADS_3

Sebuah pesawat dari Jakarta menuju Medan telah berlandas di Bandara Kuala Namu. Seluruh penumpang berhamburan dengan rapi keluar dari area kedatangan dalam negeri. Dari ramai nya orang terdapat pasangan suami istri sedang mendorong troly serta koper mereka. Mereka ialah Egga dan Tari, mereka kembali ke kampung halaman usai mereka mendapat kabar kalau keponakan tersayang mereka sudah pulang dari rumah sakit. Mereka sengaja pulang khusus untuk Ghifari karena di saat dia di rumah sakit, mereka tidak berada di samping nya. Egga melambaikan tangan nya kepada Pak Fajar supir yang di kirimkan oleh Bu Hanna untuk menjemput mereka lalu membawa mereka langsung ke kediaman Eggy.


"Assalamualaikum". Egga dan Tari berseru secara serentak setelah melalui perjalanan dan akhir nya tiba di rumah Eggy.


" Waalaikumussalam". Mereka pun menyambut kedua nya.


Ternyata semua nya sudah berkumpul, baik dari pihak keluarga Wijaya yang sudah tiba sejak tadi pagi, maupun dari pihak keluarga Syarif.


"Waaah sudah pada ngumpul ternyata". Egga dan Tari pun mendekati mereka yang tengah menikamati hidangan yang sudah di siapkan oleh Almira.


" Tuh lah kalian ini, lama kali nyampek nya, kami sudah mau pulang ini". Bu Hanna menggoda mereka. Dan yang lain tertawa kecil.


"Tak ada, buktinya makanan nya masih banyak nih, mana mungkin mau pulang meninggalkan banyak makanan kayak gini he he he". Balas nya sembari melirik makanan yang ada di meja.


" Uwaaaaaaaak". Tiba - tiba Ghifari berteriak histeris memanggil abang dari Daddy nya itu. Ia menyambar tubuh Egga.


Egga pun langsung menggendong nya.


"Ehh... Jagoan, jangan panggil uwak donk, enggak keren kali lah. Panggil uncle okay?". Egga mengedipkan mata nya


" Okay uncle".


"Uncle... Uncle... Uncle... Uwak, orang kampung pakek gaya - gayaan manggil uncle". Tiba - tiba Eggy menyambar permintaan Egga. Dia protes setiap kali Egga meminta Ghifari memanggil nya uncle. Lalu apa beda nya sama Mommy Daddy ya? Ha ha ha.


" Ya elah Gy, masa sudah secakep ini di panggil uwak".


" Enggak apa - apa lah Daddy, biar keren manggil nya". Sang anak mulai pintar menyambung mereka.


"Enggak ada, enggak ada, enggak ada. Pokok nya Uwak, no uncle". Eggy memainkan jari telunjuknya, tidak menyetujui kedua nya.


"Ya sudah deh, biar adil, kalau gitu Ghifari manggil nya Uwak Uncle saja deh, kan dapat jadi nya dua dua nya, jadi Ghifari nuruti kata Daddy dan permintaan Uwak Uncle he he he". Ghifari mengambil keputusan yang bijak namun nyeleneh. Ia berhasil membuat semua nya tertawa geli dan geleng - geleng kepala.


Hari sudah semakin larut kedua keluarga bergegas untuk kembali ke kediaman masing - masing, terkecuali Egga dan Tari. Mereka harus menginap di rumah itu atas permintaan Ghifari.


Egga masih setia menemani Ghifari bermain bersama. Dan mereka masih bersemangat. Sedangkan Eggy membantu Almira dan Tari membereskan sisa - sisa piring yang ada di atas meja.


Almira sempat melihat istri dari abang ipar nya itu alias Tari sedang tersenyum namun terlihat lirih menatap Egga yang bersemangat bermain dengan Ghifari.


Bagaimana tidak, sudah hampir 6 tahun menikah mereka belum juga di karuniain seorang keturunan. Bukan karena ada nya masalah dari mereka berdua akan tetapi, memang belum waktu nya ALLAH memberikan kepercayaan itu kepada mereka.


"Ghifari... Sudah nak... Sudah mainnya. Waktu nya kita tidur. Ini sudah jam 10 malam, harus nya kamu banyak istirahat karena kamu belum pulih total, lagian kasihan tuh Uwak nya dari tadi di ajakin main terus. Uwak Egga juga mau istirahat". Eggy terpaksa mengganggu keseruan kedua nya.


"Yah... Daddy enggak asyik lah, kan Ghifari masih mau main sama Uwak Uncle". Ia memanyunkan bibir nya. Sedangkan Egga tertawa kecil.

__ADS_1


"Hmmp kamu mau Daddy bawa lagi ke rumah sakit terus nginap lagi di sana?".


" Ha ha ha sudah lah Gy. Ghifari sayang. Kamu harus nurut apa kata Daddy. Ghifari kan masih belum sembuh bener jadi kamu harus istirahat, besok kita main lagi".


"Ya sudah deh, kalau gitu Ghifari mau istirahat dulu, tapi Uwak Uncle janji ya besok kita main lagi". Ghifari mengeluarkan jari kelingking nya.


" Janji". Dan di sambut oleh Egga sembari tersenyum.


"Iiiih kalau sudah uwak nya saja yang ngomong pasti langsung di turuti, coba Daddy nya yang ngomong, huffft". Eggy ngedumel setelah Ghifari dan Almira naik ke lantai atas.


" Ha ha ha, maka nya kau itu jangan galak - galak sama anak sendiri". Egga melempari Eggy pakai bantal yang ada di samping nya, kemudian kena wajah Eggy.


"Aku enggak galak lah bang, aku cuma tegas biar nanti nya Ghifari enggak manja, kau tahu lah zaman sekarang, apa lagi kalau entar dia sudah paham dengan apa yang dia punya".


" Hmm iya ngerti. Oh ya buat kan dulu abang mu ini kopi, biar ngopi kita di teras belakang".


"Ahh enggak mau aku. Nanti aku enggak bisa tidur, besok pagi aku ada jadwal operasi pasien. Lagian kau baru dari perjalanan bukan nya istirahat cukup malah mau ngopi". Eggy menggelengkan kepala nya, ia menolak perintah Egga.


" Hedeh, memang kau ya, walaupun sudah jadi bapak beranak satu masih saja enggak kuat kalau minum kopi ha ha ha".


"Ya elah bang, aku bukan nya enggak tahan, cuma entar kalau aku minum kopi, terus enggak bisa tidur yang ada aku malah ngegangguin si Almira tidur, terus entar dia mengamuk sama aku karena aku gangguin". Ujar sembari melirik ke atas, ia takut sewaktu - waktu Almira turun.


" Ha ha ha, masa sih? Maka nya kau itu ngegangguin nya yang mesra jangan yang ganas - ganas ha ha ha". Egga terbahak meledek adik nya.


" Sudah ahh, pergi kau tidur sana. Biar aku ngopi saja sama binik aku. Binik aku juga yang setia nemeni aku minum kopi hi hi hi".


"Hmm... Ya iya lah, tugas nya seorang istri kan selalu setia nemeni suami nya. Oon kali kau bang. Ya sudah lah, aku mau masuk ke kamar soal nya masih banyak lagi yang mau aku siapin untuk besok". Eggy memutar bola mata nya.


" Hmmpt... Ingat yang aku bilang, kalau kau tuh ngeganggu nya yang mesra jangan yang ganas - ganas ha ha ha". Ia masih meledek Eggy yang sudah berjalan meninggalkan nya, sempat ia melempar bola mainan Snow yang terletak di atas meja ke arah Egga. Spontan Egga menangkap bola itu sembari tertawa.


Usai mereka bercengkarama, Egga pergi mencari sang istri di dapur namun ia tidak menemukan nya.


"Beib....". Dengan suara pelan ia memanggil Tari. Hingga akhir nya ia menemukan Tari sedang duduk di teras belakang sembari tersipu menatap langit yang gelap.


" Di sini rupa nya kamu Beib". Ujar nya, lalu mendekati nya.


Tari pun menoleh.


"Iya beib. Kamu mau tidur ya?".


"Belum kok, kamu kenapa tersipu gitu melihat langit?". Egga memandangi langit itu, sempat ia melirik ke arah Tari yang duduk di samping nya.


" Enggak ada beib, aku bukan tersipu karena langit nya, tapi di saat aku memandang langit tiba - tiba aku membayangkan kamu main - main sama anak kita, sama seperti waktu kamu bermain bersama Ghifari. Dia mirip sekali sama kamu, hidung nya, mata nya bahkan kulitnya pun mengikuti kamu he he he". Sontak kedua nya saling memandang satu sama lain.

__ADS_1


Egga menggeserkan duduk nya agar lebih mendekat dengan Tari, kemudian ia melengkungkan tangan nya memeluk pinggang Tari, lalu menyandarkan kepala nya ke bahu nya. Egga paham benar dengan apa yang di rasa kan oleh Tari. Egga menggenggam tangan nya..


Sedang kan di dalam kamar si pemiliki rumah, sudah siap - siap ingin tidur. Mereka merebahkan badan nya lalu menarik selimut menutupi tubuh kedua nya. Seperti biasa Almira selalu tidur berada di dekapan Eggy.


"Suam...".


" Hmmp?".


"Tadi kan, Ist sempat ngeliat Kak Tari memperhatikan Bang Egga sama Ghifari waktu mereka main".


Eggy memejamkan mata.


" Ya wajar lah Ist, nama nya dia lagi merhatiin lakik nya. Kalau dia lagi merhatiin lakik orang baru enggak wajar. Memang nya Ist yang suka merhatiin lakik orang".


Spontan Almira memukul badan Eggy sembari memplototinya.


"Kapan - kapan rupa nya Ist merhatiin lakik orang, yang ada tuh Suam yang tebar - tebar pesona sama binik orang hufft". Dumel nya.


Eggy memiringkan tubuh nya hingga berhadapan dengan Almira lalu membuka mata nya.


" Suam cuma bercanda he he he".


Almira memicingkan mata nya seakan ingin menerkam Eggy.


"Huffft ngeselin. Binik lagi ngajak cerita bagus - bagus, dia malah bikin kesal". Gerutu nya.


Eggy memeluk Almira begitu hangat.


" Ya sudah, ya sudah, cerita lah. Suam dengarin kok. Kapan sih Suam enggak dengarin Ist bicara?. Cerita lah". Tutur nya memanjakan Almira.


Mereka berdiam sejenak karena Almira tidak melanjutkan pembicaraan nya.


"Enggak jadi cerita nih?". Eggy melirik wajah Almira.


" Mau cerita apa? Ist sudah lupa he he he".


#Gubraaaaak


Eggy menggelengkan kepala nya sembari mengusap - ngusap pipi Almira.


"Sudah, ayok lah kita tidur. Enggak usah nyeritain orang lain lagi. Suam besok subuh sudah berangkat ke rumah sakit". Eggy mendekap tubuh Almira semakin erat. Sedangkan Almira mengangguk pelan lalu memejamkan matanya. Dengan sekejap ia sudah terlelap meninggalkan Eggy. Eggy tertawa kecil ketika ia mengetahui bahwa Almira secepat itu tidurnya.


"Dasar ***** (nempel molor) he he he".

__ADS_1


__ADS_2