Keikhlasan Hati

Keikhlasan Hati
Chapter 51 #S3


__ADS_3

Semua nya masih terlihat biasa saja. Seperti tidak ada kejadian apa pun, bahkan beberapa hari ini Egga merasa bebas karena tidak ada Zia yang mengusiknya.


Sudah seperti 1 keluarga ketika melihat mereka (Egga, Ratna dan Tara) sedang belajar sambil bermain di ruang belajar khusus di buatkan untuk Tara belajar.


Ratna lebih sering berkunjung ke rumah Egga hanya untuk Tara. Ia selalu mengajarkan Tara semua pelajaran - pelajaran yang telah tertinggal. Dan ia juga mengajarkan Tara untuk menjadi layak sebagai anggota keluarga Wijaya walau tidak harus merubah jati diri nya.


Di tengah mengajari Tara, Egga mendapatkan panggilan dari seseorang melalui ponsel nya.


"Bentar ya". Egga merogohkan saku celananya untuk mengambil ponsel nya lalu menjauh dari mereka.


" Hallo, Assalamualaikum, ada apa Gy?". Ternyata yang menelpon nya tak lain ialah Eggy.


"Apa? Iya iya, aku ke sana". Egga langsung menutup panggilannya lalu panik setelah ia mendapat telpon dari Eggy.


Eggy memberitahunya bahwa sang Mama jatuh dari tangga dan berbaring tak berdaya di atas tempat tidur.


Egga bergegas menuju ke rumah orang tua nya dan tak lupa memboyong Ratna dan Tara tanpa berpikir panjang. Egga melaju begitu cepat hingga ia menerobos lampu lalu lintas. Ratna juga merasakan ke khawatiran Egga terhadap sang Mama.


Setibanya, mereka melihat Almira dan Ghifari sudah berada di rumah tersebut bahkan seorang Zia pun sudah berada di tengah - tengah mereka.


Zia langsung menghampirinya ketika ia melihat Egga.


Egga tampak acuh dan mendekati Almira lalu bertanya.


"Mama gimana kondisinya?".


" Mama lagi di periksa sama Eggy bang di dalam kamar". Jawabnya.


Egga meninjau pintu kamar orang tua nya yang sedikit terbuka.


"Kok bisa Mama jatuh dari tangga?".


Almira enggan untuk menjawab sempat ia melirik Ratna dan Tara yang juga terlihat cemas. Tak lama Eggy pun keluar dari kamar orang tua nya lalu menghampiri istrinya yang terduduk di kursi roda karena kondisinya masih belum pulih.


" Gy, Mama gimana?". Kali ini Egga bertanya pada Eggy.


"Alhamdulillah enggak apa - apa bang. Cuma pergelangan kaki Mama sedikit bengkak saja karena kebentur anak tangga". Jelasnya.


" Kok bisa sih Mama jatuh dari tangga? Cemana ceritanya?". Egga mengulang pertanyaannya.


"Enggak usah kamu tanya - tanya kenapa. Yang pasti Mama jadi kayak gini gara - gara kamu". Pak Wijaya keluar dari kamarnya lalu menyalahkan Egga dengan wajah yang marah. Sontak membuat Egga terkejut dan yang lainnya terdiam.


Egga merasa bingung, bagaimana bisa itu terjadi karena dirinya.


" Maksud Papa apa? Kenapa Egga yang di salahkan? Sedangkan Egga enggak tahu apa - apa bahkan Egga juga baru saja tiba di sini".


Pak Wijaya melirik ke arah Ratna yang sedang menggandeng tangan Tara. Beliau seperti tidak suka melihat keduanya. Egga pun sempat melihat raut wajah itu sedang melirik keduanya.


"Papa sudah tahu soal kamu dan anak itu. Papa sudah mendengar semuanya dari Zia".


Egga melirik Zia dan memahami keberadaannya di tengah - tengah mereka. Ia sudah menduga akan terjadi seperti ini.


" Kenapa kamu enggak cerita ke Papa dan Mama soal hubungan kamu sama Dokter Ratna dan anak kalian ini? Papa kecewa sama kamu. Teganya kamu, apa lagi kamu". Pak Wijaya menunjuk ke arah Ratna.


"Tega ya kamu mengkhianati persahabatan kamu sama Almarhumah Tari. Kamu berusaha untuk menjebak anak saya dengan memperalat anak ini supaya kamu bisa ngedapati Egga".


Tuduhan Pak Wijaya sontak membuat mereka terkejut batin terkecuali Zia. Air mata Ratna menetes seketika karena tuduhan itu.

__ADS_1


" Pa... Ini enggak seperti yang Papa pikirin. Papa salah faham. Bukan seperti itu ceritanya. Egga akan menjelaskan semuanya ke Papa biar Papa sama Mama enggak salah faham seperti ini".


"Sudah lah Ga. Papa sudah cukup mendengarkan semuanya dari Zia. Papa harap secepatnya kamu selesaikan urusan kamu sama mereka berdua dan segera nikahi Zia. Papa malu sama keluarga Zia dan rekan kerja Papa yang lain karena Papa sudah bersenang hati memberitahu mereka tentang perjodohan kalian". Pak Wijaya hampir menitihkan air matanya, kali ini Pak Wijaya benar - benar salah faham kepada anak nya bukan seperti kejadian Eggy tempo lalu yang sengaja berpura - pura tidak membela Eggy di depan Karien.


Air mata Ratna mengalir sejadi - jadi nya. Sedangkan Tara hanya bisa tertunduk dan menggenggam tangan Ratna dengan erat.


"Pa... Tolong dengerin dulu penjelasan Bang Egga. Ini enggak seperti apa yang di bilang Zia ke Papa. Zia juga salah faham sama Bang Egga. Eggy juga tahu semua tentang ini tapi enggak seperti apa yang Zia sampaikan ke Papa. Biarin Bang Egga menjelaskannya ke Papa". Eggy berusaha membujuk Papa nya agar mendengarkan yang sebenarnya.


" Sudah Gy. Percuma. Toh Papa juga enggak akan percaya dengan penjelasan aku, Papa kan sudah terbiasa percaya sama orang lain ketimbang percaya sama orang nya sendiri, darah daging nya sendiri". Egga menarik nafas nya dengan panjang lalu menghelakan nya kembali. Sontak membuat Eggy teringat kejadian nya di masa lalu.


Egga sudah enggak tahan melihat Ratna menangis di pojokin dan tuduh seperti itu.


"Oke Pa. Kalau Papa mau nya semua ini selesai, Egga akan selesaikan sekarang juga".


Egga mendekati Ratna dan Tara lalu meraih tangan keduanya. Ratna melihat wajah Egga tampak lebih serius dari sebelumnya.


" Egga akan menikahi Ratna dan menjadikan Tara anak Egga dan Ratna secara sah di mata hukum".


"Apa?". Semuanya terkejut, mereka menatap pada Egga, terutama Zia. Ia terlihat marah dan tidak terima dengan keputusan final Egga.


" Ga kamu bercanda kan? Kamu enggak serius kan dengan apa yang kamu bilang barusan?". Zia mendekati Egga dan berusaha melepaskan genggaman tangan Egga pada tangan Ratna.


"Aku serius Zia. Maaf Zia aku enggak bisa menikah sama kamu, sebenarnya sejak dari awal aku ingin sekali mengatakan bahwa aku enggak bisa menerima perjodohan ini tapi aku masih mencari waktu yang tepat. Kalau saja aku tidak mengulur banyak waktu dan mengatakannya dari awal dengan tegas. Mungkin aku enggak akan melukai kamu seperti ini, tapi ada baik nya juga di balik penguluran waktu ku ini ada hikmah nya, aku jadi semakin sadar bahwa kamu bukan yang terbaik untuk aku. Maaf Zia aku enggak bisa bersama kamu, aku lebih memilih Ratna untuk mendampingi hidup aku". Tuturnya lalu menyingkirkan tangan Zia dengan lembut.


"Pa... Egga sudah menyelesaikan semuanya. Tinggal Papa sama Mama memberikan restu pada kami dan Egga akan menunggu sampai Papa sama Mama merestui hubungan kami. Egga enggak peduli soal kesalahfahaman ini, yang pasti Egga tegas kan ke Papa kalau apa yang Papa dengar itu semua salah, Ratna tidak seperti apa yang Papa pikirkan. Maaf Pa untuk pertama kalinya Egga menentang permintaan Papa dan Maaf karena Egga sudah mengecewakan Papa dan membuat Papa malu kepada orang lain, Kami pamit Pa. Assalamualaikum". Egga memboyong Ratna dan Tara keluar dari rumah meninggalkan mereka yang terpaku.


"Om... Zia enggak terima ini semua Om hu hu hu. Zia mau Egga menikahi Zia Om hu hu hu". Zia menangis lalu mendekati Pak Wijaya yang duduk terpaku menatap kepergian anak sulungnya.


Sedangkan Almira dan Eggy tidak tahu harus berbuat apa, kemudian Eggy berlari mengejar mereka keluar rumah.


" Bang". Panggilnya, mereka pun menoleh kebelakang melihat Eggy.


"Aku bangga sama kau bang, gitu lah kau bang jadi lakik, harus tegas. Kan aku jadi enggak malu punya abang kayak kau ha ha ha". Egga menepuk punggung Eggy lalu melepaskan pelukan mereka.


" Ha ha ha, kurang ajar kau jadi adik".


"Ha ha ha, tenang saja bang. Aku pasti bantui kalian berdua dan aku sekeluarga 100% merestui hubungan kalian berdua he he he". Eggy memberikan mereka semangat. Ratna hanya tersenyum getir, ia masih shock dengan kejadian barusan.


"Thanks bro".


" Tara tenang saja ya, Tara enggak usah pikirin masalah orang tua, yang Tara pikirin itu belajar biar jadi anak yang pintar dan sholeh. Nanti semua nya akan beres dan kalian bertiga pasti akan menjadi keluarga yang bahagia he he he". Eggy membungkukkan badan nya di hadapan Tara dan bertutur lembut sembari mencubit kecil pipinya.


"Iya Om. Om... Tolong bantu Papa sama Mama ya". Pintanya.


Eggy tersenyum simpul sambil mengacak rambutnya.


" Iya sayang. Om pasti bantu Papa dan Mama kamu".


"Terimakasih Om".


Egga terharu kepada Tara.


" Ya sudah kami balik ya. Kau jaga Mama dan Papa, aku titip mereka sebentar. Kau tengok - tengok Mama biar enggak jatuh lagi".


"Iya Bang. Tanpa kau pinta bakalan aku lakuin".


" Ya sudah sip. Assalamualaikum ".

__ADS_1


" Waalaikumussalam".


Eggy tertawa kecil melihat kepergian mereka lalu masuk ke dalam rumah dan harus menghadapi suasana kelam yang di tinggalkan oleh Egga.


Eggy melihat sang Papa tak lagi duduk bersama istrinya dan Zia. Ia menghampiri Almira dan berbisik padanya.


"Papa mana sayang?".


Almira mendongakkan kepalanya melihat Eggy.


" Papa masuk ke dalam kamar. Tadi Suam keluar ngejar Bang Egga ya?".


"Iya sayang. Oh ya Suam mau nyuruh Zia pulang dulu, biar dia nenangin hati nya sendiri, lagian ngapain juga dia lama - lama di sini. Buat rusuh saja dia di sini". Bisiknya.


" Huuush Suam". Almira memukul tangan Eggy untuk melarangnya berkata seperti itu lalu mengangguk pelan. Eggy melangkah mendekati Zia yang masih menangis.


" Ehem... Emm... Maaf Zia, bukan nya aku mau mengusir kamu. Tapi alangkah baiknya kamu pulang saja, biar kamu juga bisa nenangin hati sama pikiran kamu. Lagian percuma juga kamu menangis di sini. Kalau hati sama pikiran kamu sudah tenang baru kamu bisa ke sini lagi dan membicarakan semuanya dengan baik - baik". Eggy berkata dengan hati - hati dan lembut agar Zia tidak tersinggung.


Zia menoleh melihat nya, mata serta wajahnya sudah basah karena air mata yang membanjiri. Tanpa berkata sedikit pun ia pun berdiri lalu beranjak meninggalkan mereka begitu saja.


Eggy dan Almira menarik nafasnya melihat sikap Zia yang sedikit tidak sopan.


"Tuh kan! Sudah dia yang bawa masalah ehh dia nya malah enggak sopan gitu pakai ngelengos tanpa pamit sama tuan rumah wuuuu".


" Sudah Suam, jangan nambah keributan lagi".


"Hemm palak jadi nya huh. Oh ya Ghifari mana sayang?". Mata Eggy liar mencari sosok anak nya yang menghilang sejak ada nya pertengkaran barusan.


" Ehh... Iya Suam, Ist juga baru sadar kalau Ghifari ngilang". Almira menjadi panik, ia mendorong kursi rodanya sendiri untuk mencari anak nya.


"Ist jangan panik gitu aah, paling Ghifari masih di dalam rumah, dia enggak akan kemana - mana". Eggy menenangkan nya agar tidak panik.


" Bukan gitu Suam....". Almira melirik ke arah pintu kamar mertua nya yang sedikit terbuka, akhirnya ia melihat sosok anak nya yang ternyata berada di dalam kamar mertua nya sambil bercanda tawa bersama Pak Wijaya.


Almira dan Eggy cukup lega mengetahuinya ada di sana. Kedua nya mendekati pintu kamar dan ingin masuk namun terhenti karena obrolan anak nya bersama Pak Wijaya dan Bu Hanna.


"Opa Oma, tahu enggak Bang Tara itu orang nya baik lho".


" Bang Tara siapa?". Bu Hanna mengerutkan dahi nya.


"Bang Tara itu anak angkat Uwak Uncle sama Bu Dokter. Itu yang tadi datang sama Uwak Uncle".


Bu Hanna melirik Pak Wijaya, sebab ia tidak tahu bahwa anak sulung nya datang ke rumah. Beliau kembali menatap wajah polos Ghifari.


" Terus Ghifari sudah kenal sama Bang Tara?".


"Sudah Oma, waktu Uwak Uncle datang ke rumah kami beberapa hari yang lalu. Bang Tara itu orang nya agak pemalu Oma soalnya waktu Ghifari main - main sama Bang Tara, dia bilang ke Ghifari kalau dia sebenarnya malu karena sudah menyusahkan Uwak Uncle, Uwak Tante sama Bu Dokter, terus dia juga bilang kalau dia juga senang akhirnya dia punya Papa dan Mama bahkan punya 2 Mama sekaligus, yang 1 Uwak Tante yang satu lagi Bu Dokter. Cuma Ghifari bingung Oma Opa, kenapa Bang Tara punya 2 Mama ya? Sedangkan Ghifari cuma punya 1 Mommy".


"Ha ha ha memang nya Ghifari mau punya banyak Mommy?". Pak Wijaya terbahak.


Ghifari pun menggelengkan kepalanya.


" Enggak mau Opa, Ghifari cukup punya 1 Mommy saja, enggak mau Mommy yang lainnya. Karena Mommy Ghifari enggak ada dua nya dari Mommy - Mommy yang lainnya. Mommy Ghifari yang paling the best sedunia". Ia membentangkan tangan nya membayangkan luas nya dunia.


Dari balik pintu Almira dan Eggy tertawa kecil menguping obrolan polos anak nya itu.


"Gemesin kali siiiiih, sama kayak Mommy nya. Ummmm". Eggy berbisik pada Almira sembari mencubit pipi Almira dengan gemes lalu mengecupnya.

__ADS_1


" Iiiih Suam". Almira memukul serta mencubit kecil lengan Eggy.


Sedangkan Pak Wijaya dan Bu Hanna masih kepikiran soal apa yang di sampaikan oleh Zia pada mereka itu berbeda dengan apa yang di katakan cucunya, walau pun Ghifari hanya menceritakan sedikit akan tetapi Pak Wijaya juga berpikir tidak mungkin cucu nya pintar mengarang cerita seolah ingin meluluhkan hatinya agar beliau mau menerima Tara dan Ratna.


__ADS_2