Keikhlasan Hati

Keikhlasan Hati
Chapter 20 #S3


__ADS_3

Terasa berbeda. Semua nya seketika berubah. Suasana kamar terasa hening dan sunyi.


Egga terduduk di pinggir tempat tidur nya, ia melihat sekeliling kamar nya sembari mengingat kenangan nya bersama Tari.


Ia ingat setiap kali ia sibuk dengan bekerja hingga ketiduran di meja kerja nya, Tari mendekati nya lalu memakaikan nya selimut dan membuat nya terbangun. Meski mereka sama - sama saling sibuk dengan perkerjaan nya masing - masing tapi tidak membuat mereka lupa dengan kebersamaan mereka.


Egga meraba tempat tidur tepat di bagian posisi dimana biasa nya Tari berbaring. Egga menarik nafas nya begitu dalam lalu menghelakan nya kembali. Dada nya terasa sesak.


"Aku pasti sangat merindukan mu beib. Mungkin akan berat bagi ku Beib menjalankan hari - hari ku tanpa mu, akan tetapi aku harus bisa menjalankan hidup ini meski tanpa mu lagi dan mengikhlaskan mu Beib dengan lapang dada". Lirih nya dalam hati.


" Uwak Uncle......". Tiba - tiba terdengar suara teriakan Ghifari memanggil diri nya dari luar.


" Uwak Uncle..... Ghifari boleh masuk enggak?".


Egga menoleh ke arah pintu.


"Iya boleh. Masuk saja jagoan".Teriak nya.


Ghifari pun membuka pintu kamar Egga yang tidak terkunci lalu masuk mendekati Egga.


" Uwak Uncle lagi ngapain?".


"Uwak Uncle enggak lagi ngapa - ngapain kok sayang. Kamu baru nyampek ya?". Egga memangku Ghifari.


Ghifari mengangukkan kepala nya.


" Hu umm.. Oh ya. Uwak Uncle, Ghifari minta maaf ya karena tadi malam Ghifari sama Mommy enggak ikut lagi balik ke sini sama Daddy".


Egga mengacak rambut Ghifari.


"Iya, enggak apa - apa kok sayang. Ghifari enggak sekolah?".


" Sekolah, kan Ghifari pulang nya cepat. Maka nya gitu pulang sekolah Ghifari langsung ke sini. Ghifari saja ganti baju nya di dalam mobil he he he".


"Berarti Ghifari enggak mandi lagi lah ini ya? Pantesan bauk acem he he he". Egga menutup hidung nya karena meledek Ghifari.


" Huufft enggak kok, mana ada Ghifari bau asem. Malah Ghifari wangi minyak telon kok". Ghifari menciumin aroma tubuh nya.


Egga tertawa kecil.


"He he he, Uwak Uncle bercanda. Ghifari enggak bau acem kok he he he".


Ghifari memanyunkan bibir nya.


" Tadi Ghifari di antar sama Daddy atau naik taxi online?".


"Di antar sama Daddy, tapi Daddy balik lagi ke rumah sakit sebentar karena ada urusan di rumah sakit, paling lama nanti sore Daddy ke sini nya".


" Hmm... Daddy mu pasti sibuk kali ya di rumah sakit".


"Iya, kadang Ghifari kasihan sama Daddy, mau istirahat saja sudah susah, hmmp. Oh ya, Uwak Uncle sudah enggak sedih - sedih lagi kan?".

__ADS_1


"Hmm?".


" Kalau Uwak Uncle sedih - sedih lagi, Ghifari enggak mau lagi main - main sama Uwak Uncle terus Ghifari juga enggak mau bekawan sama Uwak Uncle kalau Uwak Uncle sedih - sedih". Ghifari melipat kedua tangan nya sembari menatap Egga dengan mata tajam nya yang menggemaskan.


Egga tersenyum menatap wajah polos Ghifari, lalu ia mengusap kepala nya.


"Iya sayang, Uwak Uncle sudah enggak sedih lagi kok. Karena Ghifari kan jagoan nya Uwak Uncle jadi mana bisa Uwak Uncle enggak main - main sama Ghifari apa lagi sampai enggak bekawan sama Ghifari he he he".


" Janji ya Uwak Uncle?". Ghifari mengeluarkan jari kelingking nya.


"In Sya ALLAH Uwak Uncle Janji". Egga pun menyambut jari kelingking nya sembari tersenyum.


Egga kembali termenung sendirian di teras belakang rumah nya sembari menatap langit yang sedikit berawan menutupi sinar bintang - bintang, sedang kan yang lain nya, mereka pada sibuk membereskan sisa - sisa usai tahlilan malam kedua Tari.


Eggy mendekati Egga tanpa suara kemudian ia memegang pundak nya mengejutkan nya. Egga pun menoleh dan menyungging kan senyum nya.


"Sudah makan kau bang?". Tanya pada Egga dan duduk di samping nya.


" Kau ini lah, kayak anak - anak saja kau buat aku, asek nanyain saja aku sudah makan apa belum he he he". Egga melirik Eggy.


"Ya memang kau masih anak - anak. Bukti nya dari dulu sampai sekarang kalau urusan makan mesti di pastiin dulu, kau sudah makan apa belum, karena kau kan suka enggak ingat makan karena lupa waktu gara - gara lebih mentingin yang lain, kau mesti di ingatin dulu baru mau makan huh".


" He he he iya, merepet pulak kau kayak emak - emak. Tari pun sama merepet nya kayak kau gini, dia orang nya enggak mudah marah tapi kalau soal pola makan aku, dia selalu disiplin, pokok nya ada saja omelan dia kalau aku telat makan, dia paling marah kalau aku sampai enggak makan he he he". Egga kembali teringat kebiasaan nya bersama Tari.


"Cocok itu kalau Almarhumah Kak Tari marah karena bisa - bisa kau nanti nya sakit. Lagian kok bisa punya kebiasaan buruk kayak gitu, heran aku fuuht".


Egga tertawa kecil


"Ck, ketawa kau". Eggy menatap nya sinis.


" Bukan gitu, aku masih enggak nyangka saja, nama Tari sekarang sudah di tambah gelar nya , aku ngerasa ini kayak enggak nyata maka nya aku ketawa sama diri aku sendiri he he he". Egga berusaha menahan air mata nya dan sesekali ia menelan ludah nya.


Eggy melirik nya dengan rasa sedih. Ia merangkul sang abang.


"Nanti kita pun bakal ngedapati gelar itu juga nya bang, bukan Kak Tari saja yang di kasi gelar seperti itu, tapi beda nya, kita enggak tahu kapan kita akan mendapatkan gelar itu, kita cuma bisa tinggal menunggu waktu nya saja he he he. Oh ya, kau kan sudah janji sama Ghifari enggak bakal sedih - sedih lagi, jadi kau enggak boleh mengingkari janji itu, ingat! Kau hapus dulu tuh muka sedih dan air mata kau itu, nanti kalau dia lihat kau sedih - sedih lagi bisa gawat, yang ada dia bukan cuma enggak mau main - main lagi sama kau, kemungkinan dia bakal enggak percaya lagi sama ucapan orang tua. Ngerti kau? Untung ini aku bukan nya Ghifari, ck".


Egga tertawa, lalu mengusap wajah nya serta air mata nya yang sempat menetes.


"He he he he iya iya, aku enggak bakal sedih - sedih lagi. Bapak sama anak sama saja sifat nya ha ha ha".


" Ha ha ha ya harus lah, nama nya juga like father like son ha ha ha. Sudah, enggak usah kau sedih - sedih lagi, nanti aku cariin kau binik baru lagi wk wk wkk".


Egga menggeplak kepala Eggy.


"Kamp**t kau, masih basah kuburan binik aku, sudah cakap gitu kau ya somp**t ha ha ha".


" Ha ha ha kan enggak apa - apa sih, ada yang salah memang nya? Ehh tapi, takut nya keteguran pulak aku nanti sama Kak Tari gara - gara aku cakap kayak gini, ma*p*s aku ha ha ha".


"Lantak lah kau ha ha ha, siap - siap saja lah kau di datangi nya ha ha ha".


"Iiih jangan lah, Kak Tari kan ahli syurga, kalau ahli syurga mana mau ngedatangi - ngedatangi kayak gitu. Kau ngomong nya entahapa - hapa lah, bikin aku merinding saja kau bang". Bulu kuduk Eggy asli berdiri sempat ia melirik ke sekitar halaman yang terlihat sedikit suram.

__ADS_1


" Lah kau yang mulai kok, salah kau lah ha ha ha".


Eggy menelan ludah nya.


"Maaf ya Kak Tari, aku cuma bercanda ya Kak, aku cuma mau ngehibur Bang Egga doank biar dia enggak sedih - sedih lagi he he he. Tapi kak, kalau setahun atau dua tahun ke depan enggak apa - apa kan Kak? Kalau aku nyariin binik lagi untuk Bang Egga hi hi hi". Eggy mendongak ke langit sembari menyatukan kedua tangan nya dan sesekali melirik Egga.


"Haiiiih... Pakek penawaran pulak kau lagi, memang dasar kau somplak ha ha ha".


Egga akhir nya bisa tertawa lepas karena di isengi oleh adek nya. Ia tahu kalau adik nya ini sedang menghibur diri nya dan tidak berkata dengan serius. Kalau pun itu serius, hanya ALLAH yang mengetahui nya.


"Oh ya, kau nginap di sini malam ini?". Setelah bercanda tawa, mereka kembali mengobrol ringan.


" Enggak lah bang, kasihan si Almira, sejak hamil kedua ini dia susah tidur di rumah orang, di rumah emak ayah nya saja pun sudah tak bisa sekarang padahal kalau nginap di sana tidur di kamar lama nya, maka nya kemarin malam aku nyuruh Almira dan Ghifari enggak usah ikut ke sini, biar bisa istirahat dia, beda kali pas hamil si Ghifari, di ajak kemana saja oke".


"Hmm... Iya lah, nama nya beda anak, beda juga lah hormon nya. Mungkin hormon nya lebih nyaman di rumah saja".


" Iya bang, betul kali itu, sangkin nyaman nya pun aku sampai di suruh nya enggak usah pergi ke rumah sakit. Mau nya aku di rumah juga, enggak usah kerja. Haiiiih". Eggy memegang jidat nya sambil geleng kepala.


Egga tertawa kecil melirik Eggy.


"He he he, berarti dia mau di manja - manja sama kau. Selagi ada, jangan lah kau sia - sia kan waktu kau, sibuk terus sama kerja. Sering - sering kau bagi waktu kau untuk anak sama binik kau. Dan yang paling penting, keluarga nomor satu yang lain nya belakangan. Jangan sampai menyesal di kemudian hari sama seperti aku. Walau pun aku selalu membagi waktu aku untuk Tari tapi rasa ku itu saja tidak cukup, setelah kejadian ini aku jadi sadar, aku lebih mengutamakan dan lebih banyak menghabiskan waktu aku untuk kerja bukan untuk dia, meski dia sama sekali enggak mengeluh tapi dia pasti sering merasakan kurang nya waktu aku untuk dia".


"Iya bang, kadang aku juga merasa bersalah sama mereka, apa lagi waktu Ghifari pernah bilang ke aku waktu aku ngajak mereka jalan - jalan ke Berastagi. Dia bilang, dia senang kali bisa jalan - jalan lagi bertiga. Rasa nya, aku kayak di tampar ketika aku ngedengar dia ngomong kayak gitu terus ngeliat raut wajah nya yang sembringah. Ternyata semua nya enggak mudah ya bang he he he".


Egga bergantian menepuk bahu Eggy.


"Hmm.. Kita harus melakukan yang terbaik untuk bersama dan mensyukuri apa yang sudah di takdir kan ALLAH, jadi kau harus semangat untuk membahagiakan mereka".


"Iya bang, ehh kok jadi aku yang di semangati. Harus nya aku yang nyemangati kau, ini malah terbalik ha ha ha. Kau juga harus semangat meneruskan hidup kau, jangan galau - galau, ALLAH pasti punya sesuatu yang lebih indah untuk kau".


Egga mengangguk pelan. Tiba - tiba Ghifari berlari menghampiri mereka, ia langsung menyambar tubuh Egga.


"Uwak Uncle.....".


Kedua nya terkejut, apa lagi Eggy.


" Huffft kalau sudah ada Uwak Uncle nya, Daddy nya di lupain. Bahkan yang di peluk dan mau nya di pangku sama Uwak Uncle nya bukan sama Daddy nya". Eggy memanyunkan bibir nya.


Egga tertawa.


"Ha ha ha, nama nya Ghifari anak Uwak Uncle, ya wajar lah, iya kan jagoan? hi hi hi". Egga malah mengomporin.


" Iya, Uwak Uncle betul Daddy".


"Jadi Ghifari bukan anak Daddy? Hiks hiks hiks".


" Ghifari anak nya Daddy sama anak Uwak Uncle juga, tapi Ghifari lebih sayang sama Uwak Uncle dari pada Daddy, hi hi hi".


"Oooooh... Gitu ya kamu nya. Lebih sayang sama Uwak Uncle lagi ya dari pada Daddy? Awas saja lah nanti kalau Ghifari minta beli mainan sama Daddy ya. Daddy enggak mau beliin mainan lagi untuk Ghifari". Eggy melipatkan kedua tangan nya berlagak marah.


Egga terbahak melihat kedua nya yang memiliki sifat yang sama, yakni sama - sama suka melece atau biasa di sebut dengan ngejailin orang. Egga merasa sangat bersyukur di saat kondisi nya yang terpuruk seperti ini, mereka selalu ada untuk diri nya dan selalu berusaha untuk membuat nya bisa menghilangkan rasa sedih nya.

__ADS_1


__ADS_2