
Kondisi Almira makin hari semakin membaik. Kesedihannya tidak membuatnya harus terpuruk dan berlaku egois pada Suami dan anak semata wayang nya.
Matanya berbinar memandangi Eggy dan Ghifari sedang bermain bola bersama di taman belakang rumah mereka. Senyuman tak pernah lepas dari bibir nya ketika ia melihat keduanya dan ia merasa sangat bersyukur memiliki keduanya.
"Haduuuh... Daddy capek kali sayang. Hah... Hah....". Eggy terlihat sudah lelah bermain bersama anak nya dan menyudahi permainan mereka.
" Jiaaah.. Daddy gitu kali lah, mainnya suka nanggung nih, enggak seru kali lah hufft". Ghifari memanyunkan bibirnya sambil melemparkan bolanya ke arah Eggy.
Reflex Eggy begitu cepat menangkap bola tersebut.
"Daddy capek sayang. Kita istirahat dulu nanti kita main lagi". Ia berjalan mendekati Almira yang sedang duduk di ayunan.
" Sudah sayang. Bentar lagi mau magrib lho. Besok di lanjutin lagi. Sekarang kamu mandi gih sana abis tuh siap - siap biar sholat magrib sama Daddy di mesjid". Almira sedikit meneriakin anak nya.
"Hmm... Iya Mom". Meski dengan wajah yang cemberut namun ia tetap menuruti apa kata orang tuanya, ia pun masuk ke dalam rumah dan melaksanakan apa yang di perintahkan Mommy nya.
Keduanya tersenyum sambil geleng kepala melihat anak nya. Pandangan Almira beralih melihat Eggy yang sudah duduk di sampingnya.
" Daddy nya Ghifari kok malah duduk lagi di sini bukan nya ikut anak nya juga mandi". Almira mencubit kecil lengannya yang berotot itu.
Eggy langsung meraih tangan Almira lalu menggenggam nya.
"Bentar lagi sayang, Suam masih keringatan nanti kalau langsung mandi badannya makin gerah. Sekalian mau duduk berdua dulu sama Ist tercinta he he he".
" Wuu... Dasar genit". Cibirnya.
"Oh ya Suam bukannya aturannya hari ini jadwal mulai Suam photo shoot ya? Kok Suam enggak ada persiapan apa - apa?".
" Iya harusnya begitu. Tapi Suam minta tolong sama si Omen ngebujuk minta pengertian Pak Suwandi untuk menundanya karena kita lagi kondisi seperti ini. Lagian Suam enggak akan ninggalin Ist sendirian di rumah sedang kan Ist belum lepas dapur (lepas dapur itu maksud nya enggak boleh keluar rumah atau enggak boleh ngapa - ngapain sampai 44 hari paska melahirkan)".
"Ist kan enggak sendirian sayang. Kan ada Ghifari, ada Mamak dan Kak Aira terus ada Kak Umi juga yang membantu". Almira mengangkat tangan kanannya lalu menyisirin rambut Eggy dengan jari - jarinya.
"Itu beda lah Ist. Lagian masa kita harus nyusahi Mamak dan Kak Aira terus, kan kasihan. Belum lagi Mamak harus ngurusi Ayah terus Kak Aira ngurusi Bang Ryan dan Kayla. Selain Suam enggak mau ninggalin Ist sendirian, Suam juga mau nya ngurusi Ist sendirian tanpa bantuan orang lain, titik!".
Almira tersenyum simpul menatap wajah yang penuh dengan keringat itu. Perlahan Almira menyeka keringat di wajah Eggy dengan menggunakan handuk kecil yang ia pegang sejak tadi.
"Mandi keringat gini Suam nya. Sampai basah kuyup bajunya. Buka lah Suam, nanti Suam bisa kena jamuran kalau keringatnya kering lagi di badan".
"Iya, Suam sudah rasa enggak nyaman juga ini". Eggy pun membuka baju kaosnya dan di bantu oleh Almira.
"Tengok tuh, sampai basah gitu badannya". Almira segera mengelap keringat pada tubuh Eggy.
" Ciye... Ciye... Ciye... Mesra nya pasangan idola ku ini, bikin iri saja fu fu fu". Enggak ada angin enggak ada hujan enggak petir tiba - tiba tetangga mereka muncul seperti hantu dari balik tembok pembatas rumah mereka.
Sontak membuat keduanya terkejut menoleh ke arah pusat suara.
"Eh... Kak ngagetin kami saja he he he". Secepat kilat Almira duduk di pangkuan Eggy untuk menutupi tubuh sexy suami nya itu agar tidak di lihat oleh tetangga mereka yang genit itu.
" Sudah sehat Ra?". Ia berbasa - basi pada Almira namun mata nya liar berusaha melihat Eggy alias tubuh Eggy.
"Alhamdulillah berangsur - angsur sehat kak he he he". Jawabnya sembari memberikan baju kaos Eggy yang basah tersebut lalu menyuruhnya memakainya kembali.
" Pakai bajunya Suam". Bisiknya.
"Tapi kan baju ini basah sayang".
" Sudah cepat pakai bajunya, atau Suam memang senang ya di lihatin sama janda genit itu". Almira mempelototin Eggy lalu pura - pura tertawa melirik tetangganya yang masih sibuk ngetenin keduanya.
"Iya, ini Suam pakai lagi bajunya".
" Oh iya kak. Kami masuk duluan ya soalnya sudah mau magrib, enggak enak lama - lama di sini takut nanti di ganggu sama setan he he he". Dengan perlahan Almira membangkitkan tubuhnya setelah Eggy sudah memakai bajunya.
"Bisa sayang?". Eggy meraih tangan Almira untuk membantunya berdiri.
" Sh... Agak sakit". Ia sedikit merintih karena perutnya masih terasa sakit pasca operasi.
"Suam gendong saja ya". Dengan sigap Eggy menggendong tubuh Almira.
" Pelan Suam. Sakit kali soalnya". Almira melingkarkan tangannya pada leher Eggy sembari memejamkan matanya karena menahan rasa sakitnya.
"Iya, ini Suam pelan - pelan kok. Kak, kami masuk duluan ya".
"Eh... Iya, hati - hati ya". Dengan rasa kecewa ia melihat Eggy menggendong Almira masuk ke dalam rumah.
" Hufft... Selalu saja kayak gini. Harusnya tadi enggak usah aku ciye ciye'in kalau tahu bakalan kayak gini, kan jadi enggak bisa lagi liatin tubuh sexy si dokter ganteng itu huffft". Dumelnya, lalu turun dari tembok yang ia panjati.
Eggy menggendong Almira hingga ke dalam kamar mereka lalu merebahkan badan Almira di tempat tidur.
"Masih sakit perut nya sayang?".
Almira mengangguk pelan.
" Masih".
__ADS_1
"Itu tadi mungkin karena Ist spontan duduk di pangkuan Suam makanya perutnya sakit". Eggy mengelus perut Almira secara lembut.
" Iya mungkin Suam. Tapi kalau Ist enggak buru - buru nutupi badan Suam bisa - bisa janda genit itu ngeliatin badan Suam huuuh. Tau lah kan dia itu gimana genitnya kalau ngeliat Suam apa lagi kalau Suam tanpa baju seperti tadi".
"Iya, tapi jadi sakit kayak gini kan perut Ist".
" Biarin. Enggak apa - apa perut Ist sakit yang penting janda genit itu enggak ngeliatin tubuh Suam karena yang boleh lihat hanya Ist seorang hufft".
Eggy menggeleng - gelengkan kepala nya sembari tertawa kecil.
"Ya sudah, Ist istirahat saja. Siap Suam mandi, Suam langsung periksa lagi perut Ist, kalau perlu kita ke rumah sakit saja ya".
"Iya Suam". Almira mengangguk pelan.
Ia memejamkan matanya setelah melihat Eggy masuk ke dalam kamar mandi. Bibirnya tak hentinya berdzikir sembari menahan rasa sakitnya.
Sekitar hampir setengah jam Eggy pun keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk. Ia melihat Almira sudah terlelap dan dengan segera ia memakai pakaiannya lalu bersiap - siap untuk menanti adzan magrib di kumandangkan dari mesjid di komplek perumahannya. Sebelumnya ia memanggil anaknya untuk sholat berjamaah di rumah saja dan memberikan pengertian pada anaknya dengan memberitahunya kondisi Almira yang enggak memungkin untuk di tinggal sendirian di rumah walau hanya sebentar.
Kedua anak beranak tersebut mulai melaksanakan sholat magrib usai adzan selesai berkumandang. Shalat tiga rakaat tersebut pun selesai mereka kerjakan dan tak lupa juga mereka berdzikir dan berdoa bersama. Dengan santun Ghifari mencium tangan kanan Eggy lalu Eggy mencium kening serta ubun - ubun anaknya.
Ghifari mendekati Almira dan memandangi wajah Almira yang masih pucat pasih.
"Mommy cepat sembuh ya". Lirihnya.
" Aamiin". Serunya sembari memegang pundak anaknya.
"Ghifari makan malam gih minta sama Bu Umi. Abis itu siapkan roster pelajaran untuk besok dan ambil buku PR nya biar Daddy check lagi PR nya".
"Iya Dad. Oh ya, nanti Ghifari suruh Bu Umi bawa'in makan malam ke kamar untuk Mommy Daddy ya, biar Mommy Daddy makan malam juga". Inisiatifnya karena kekhawatirannya pada kedua orang tuanya.
" Terimakasih ya sayang tapi bilang sama Bu Umi nanti letak saja makanan nya di depan pintu dan jangan lupa ketuk pintunya".
"Iya Dad".
"Ya sudah gih sanah". Eggy mencium ubun - ubun Ghifari, ia terharu pada perhatian anaknya itu.
Dengan hati - hati Eggy membuka sedikit baju Almira untuk memeriksa perut Almira yang masih di perban. Eggy sudah menduganya bahwa jahitan pada perutnya sedikit terbuka dan itu yang membuatnya merasa kesakitan.
Tega enggak tega Eggy pun membangunkan Almira dari tidurnya agar ia bisa memperbaiki jahitannya dengan segera.
"Ist... Sayang...". Eggy mengelus pipi Almira dan Almira pun merespon sentuhannya lalu membuka matanya.
" Hmm?". Pandangan Almira masih terlihat samar. Ia hampir lupa dengan perutnya sehingga ia ingin membangkitkan tubuhnya.
Eggy langsung mencegahnya.
" Memang kenapa perutnya Suam?". Almira mulai sedikit panik.
"Enggak apa - apa sayang. Cuma di kasi obat saja melalui suntikan makanya Suam ngebanguni Ist biar Ist enggak terkejut waktu Suam suntik". Eggy sengaja tidak memberitahunya perihal jahitan pada perutnya terbuka, ia khawatir Almira akan merasa semakin cemas dan ngedrop jika ia mengetahuinya.
Ia sudah mempersiapkan apa saja yang ia butuhkan dan memulainya dengan mengucapkan bismillah.
"Tahan rasa sakitnya ya sayang". Pintanya.
" Sh... I.. Iya". Rintihnya.
"Ngantuk kali Suam". Almira merasakan obat bius yang Eggy suntikan barusan agar Almira tidak merasakan sakit di saat ia memperbaiki jahitannya.
"Iya sayang, tapi usahakan jangan tertidur ya, tahan bentar saja dulu". Eggy mulai memperbaiki jahitannya.
" Ssh... Kok kayak di gigit semut gitu Suam?".
"Iya, efek obat yang di suntik kayak gitu. Tahan bentar lagi ya, bentar lagi hilang kok rasa sakitnya". Ia hampir menyelesaikannya. Almira mengangguk pelan.
" Alhamdulillah...". Eggy bernafas lega. Tak butuh waktu yang lama Eggy pun selesai memperbaikinya lalu memperban kembali perut Almira. Setelah itu Ia segera membereskan peralatan medisnya dan meletakkan nya kembali ke dalam kotak P3K yang terletak di dinding kamar mereka.
Eggy mendekati Almira lalu duduk di sampingnya.
"Masih ada rasa sakitnya?". Tanyanya sambil membelai rambut Almira.
" Masih perih sedikit perutnya". Jawabnya, Almira tersenyum memandangi wajah Eggy lalu meraih tangannya.
"Terimakasih ya Suam".
" Hm? Terimakasih untuk apa?"
"Terimakasih sudah rela berbohong supaya Ist enggak panik hi hi hi. Ist tahu kok kalau Suam sengaja ngebohongi Ist, bilang kalau perut Ist enggak kenapa - kenapa, padahal jahitannya kebuka kan?". Sebenarnya Almira tahu apa yang di lakukan Eggy sempat ia tertawa kecil memandangi tampang Eggy yang merasa bersalah.
Eggy menundukkan kepala nya lalu mengangguk pelan.
"Maaf, soalnya Suam takut kalau Suam kasih tahu yang sebenarnya nanti Ist jadi panik dan akan memperburuk jaringan tubuh Ist yang sedang bekerja untuk menyembuhkan diri. Makanya Suam ngebohongi Ist".
"Iya enggak apa - apa kok Suam, tapi jangan coba - coba untuk berbohong lagi. Mau macam mana pun Suam berbohong, Suam pasti bakal ketahuan sama Ist, karena Ist enggak akan pernah tertipu sama Suam ho ho ho".
__ADS_1
"Hmmm... Iya. Ehh.. Tapi kok Ist bisa langsung tahu gitu? Apa karena Ist sudah pernah di jahit ya makanya tahu kalau Suam memperbaiki jahitannya?".
"Tuuuuuuh". Almira menunjukkan cermin lemari baju mereka yang berada di sisi kiri tempat tidur.
Eggy menepuk jidatnya.
" Ya ALLAH! Ha ha ha kenapa lah enggak kepikiran Ist bakalan bisa lihat dari cermin ha ha ha".
"He he he, makanya, kan sudah Ist bilang, mau gimana pun juga ALLAH pasti langsung ngasih tahu sama Ist kalau Suam itu lagi berbohong ha ha ha". Almira menyubit perut Eggy.
"Au... Iya iya. Suam janji enggak akan bohong lagi sama Ist bahkan sama siapa pun". Eggy mengangkat kedua jarinya sembari tersenyum 😁✌.
" Hmm good husband he he he. Ini lah kenapa Ist bersikeras enggak mau di operasi karena efek nya berkepanjangan terus kalau enggak pandai menjaganya bisa berbahaya di kemudian hari. Apa lagi ngerawat badannya, butuh perawatan yang extra. Kalau enggak, bisa - bisa badan Ist melar hu hu hu 😭".
"Enggak juga sayang, tergantung orang nya juga, banyak kok yang lahiran operasi masih tetap bagus badannya, malah ada juga yang pasca lahiran normal badannya yang jadi melar. Tergantung individu nya dan uang perawatannya ha ha ha". Eggy menarik hidung Almira dengan gemes.
"Itu dia Suam, tapi kalau lahiran normal lebih cepat prosesnya ketimbang lahiran operasi hiks hiks hiks".
Eggy melingkarkan tangannya memeluk kepala Almira.
"Lagian, mau macam mana pun bentukan Ist, Suam akan selalu cinta kok sama Ist. Emmmuach". Tuturnya lalu mencium ubun - ubun Almira.
" Bukan karena itu juga Suam. Bukan karena takut Suam bakal enggak cinta lagi. Tapi Ist memang harus menjaga penampilan Ist untuk Suam walau pun Suam enggak pernah ambil pusing soal itu, apa kata orang nanti kalau mereka lihat istri Dokter Eggy yang tampan sudah enggak cantik lagi, sudah melar, ah banyak peluang nih untuk ngedekati Dokter Eggy. Hufft". Cibir nya sambil memperagakan gaya omongan netizen yang pedas.
"Ha ha ha, kebanyakan nonton film sinetron lah Ist ini". Eggy terbahak melihat Almira mencibirnya.
" Bukan kebanyakan nonton film sinetron Suam, tapi kenyataan nya di zaman sekarang itu lagi musim nya pelakor, perebut lakik orang, apa lagi nanti pas Suam sudah mulai aktif lagi di dunia modeling, sudah pasti banyak tuh cewek - cewek cantik dan muda. Tapi kalau gara - gara Ist sudah enggak cantik lagi terus Suam enggak cinta lagi sama Suam dan lebih memilih yang lebih fresh, enggak segan - segan langsung Ist cincang punya Suam biar enggak ada yang mau sama Suam huuuh". Tatapan Almira begitu sinis, membayangkan nya saja rasanya sudah mau naik sasaknya.
"Ha ha ha, ngeri kali ah istri ku ini. Jadi ngilu Suam nya brrrrrrrr". Eggy berlagak menggigil sempat ia menutup wajah nya sebentar.
" Ha ha ha, maka nya jangan macam - macam Suam sama Ist".
"Iya sayang. Mudah - mudahan kita di jauhi dari hal - hal buruk yang seperti itu dan cinta kita selalu di lindungi oleh ALLAH Subhanallahhu Wataala. Aamiin".
" Aamiin Ya ALLAH".
#Tok.. Tok.. Tok...
"Masuk". Eggy menyauti seseorang yang telah mengetuk pintu kamarnya. Keduanya tersenyum melihat sosok anak nya yang muncul dengan membawa meja sorong khusus untuk membawa makanan ke lantai atas. Bocah kecil itu kualahan mendorong meja tersebut dan Eggy segera menghampirinya lalu membantunya masuk.
"Kenapa kamu yang bawa sih sayang? Tadi katanya mau nyuruh Bu Umi. Sudah biar Daddy saja yang bawa masuk".
"Iya Dad, tadi memang Bu Umi yang bawa makanan nya ke atas, terus Ghifari bilang sama Bu Umi, biar Ghifari saja yang bawa ke dalam kamar sekalian Ghifari bawa buku PR Ghifari biar di periksa sama Daddy".
Almira menggelengkan kepalanya sembari tertawa kecil.
" Tapi Ghifari jadi kerepotan kan bawa nya he he he".
Ghifari berlari kecil menghampiri Almira lalu duduk di sampingnya.
"Mommy sudah bangun".
"Sudah sayang. Kamu sudah makan?". Almira mengangkat tangannya dengan perlahan demi meraih pipi anaknya.
" Sudah Mom. Mommy jangan sakit - sakit napa Mom. Enggak enak kalau Mommy sakit, Ghifari jadi enggak bisa belajar sama Mommy, makan sama Mommy, main sama Mommy". Lirih nya memandang wajah Almira.
"Iya sayang. Doa'in Mommy dan Daddy biar kita sehat - sehat terus dan bahagia".
" Iya Mom, sudah pasti itu". Ia menganggukkan kepalanya.
"Lagian kan ada Daddy selama Mommy sakit". Eggy menyambung pembicaraan keduanya sambil berjalan mendekati mereka dengan membawa sepiring makanan untuk Almira.
" Huh... Enggak seru kalau sama Daddy, masa main sebentar saja sudah capek wuuuu. Apa lagi kalau nyiapin Ghifari kalau mau berangkat sekolah, pasti ada saja yang ketinggalan, enggak kayak Mommy, sudah beres semua nya huhh" . Ghifari meledek nya sambil memanyunkan bibirnya.
"Ha ha ha, tenang saja kamu, nanti Daddy bakalan bisa lebih dari Mommy. Jangan kan untuk nyiapin kamu sekolah, buatin sarapan kamu Daddy juga bisa". Eggy menaikan kerah baju nya berlagak sok paten.
"Memang Daddy bisa masak nasi goreng kayak buatan Mommy?".
" Oh bisa donk. Malah lebih enak dari buatan Mommy kamu". Eggy mengedipkan matanya pada Almira.
"Betul ya Dad? Kalau gitu, besok pagi Daddy harus masakin nasi goreng untuk sarapan Ghifari kalau bisa besok Daddy juga harus buatkan bekal sekolah untuk Ghifari". Ia menantang Eggy dengan lantang.
" Oke! Siapa takut. Lihat saja besok pagi". Eggy pun menerima tantangan anak nya.
Sedang kan Almira hanya bisa tertawa kecil melihat keduanya begitu menggemaskan di matanya.
#Meski aku telah kehilangan sesuatu yang membuat ku merasa bersalah dan sedih.
Namun aku selalu bersyukur memiliki mereka yang selalu membuat ku tersenyum bahagia.
Mereka yang selalu menjadi obat bagi penyembuh rasa sakit ku.
Mereka yang selalu menjadi sosok penyemangat hidup ku.
__ADS_1
Mereka yang ada di dalam hidup ku, tetap lah terus bahagia hingga nanti kita akan berkumpul lagi di syurga nya ALLAH.
Aku sayang kalian, keluarga kecil ku.