
"Ratna akan menikah bulan depan bersama laki - laki pilihan Mama nya yang kebetulan laki - laki itu adalah sahabat adik kamu heh...". Ia melirik Eggy dengan senyuman nya yang bermakna sedang mengejek atau menertawakan mereka.
" Itu foto pertunangan mereka 2 hari yang lalu. Lihat! Mereka begitu serasi bukan? Ha ha ha. Aku pikir kalian semua sudah mengetahui kabar bahagia itu maka nya aku ke sini bermaksud untuk melanjutkan perjodohan aku bersama Egga karena sudah tak ada halangan lagi buat ku untuk bersama Egga, tapi Egga malah menolak aku, ya sudah pada akhir nya Egga sama sekali tidak mendapatkan siapa pun ha ha ha".
Tangan Egga gemetar memegang ponsel itu, ia melihat foto - foto acara pertunangan Ratna di akun sosial media calon suami Ratna.
Dan yang lain nya sungguh sangat terkejut. Eggy secepatnya merampas ponsel Zia lalu melihat foto - foto tersebut. Gigi Eggy gemeretuk geram melihat foto tersebut lalu membanting ponsel Zia hingga pecah berderai.
"Aaaaaaaaaa". Zia berteriak melihat ponselnya di banting oleh Eggy. Sedangkan Almira dengan sigap mengajak Bu Hanna serta Ghifari dan Tara masuk ke dalam kamar agar mereka tidak menyaksikan itu lebih lama lagi.
Lidah Egga mendadak kelu dan tidak tahu harus berkata apa, air matanya pun mengalir ke pipi nya, sempat ia menarik nafasnya yang terasa sesak. Egga berusaha untuk berdiri, ingin sekali rasa nya ia berlari untuk menemui Ratna. Namun apa lah daya dengan kondisi kaki nya yang masih belum bisa berfungsi pasca mengalami koma selama hampir sebulan sehingga ia pun terjatuh.
Secepat kilat Eggy dan Pak Wijaya mengejarnya.
"Egga".
" Bang".
Teriak mereka lalu mereka membantu nya untuk bangkit. Egga menepis tangan kedua nya dan masih tetap berusaha untuk berdiri sendiri.
"Biarin Egga berdiri sendiri, Egga bisa, biar Egga bisa menemui Ratna ke rumah nya sekarang juga". Ujar nya. Dengan kemampuannya ia berusaha untuk bangkit sehingga urat pada wajah nya terlihat dengan jelas serta mengeluarkan banyak keringat yang membasahi wajahnya.
" Bang... Jangan di paksa'in, kau lagi masa pemulihan bang. Kalau kau paksa'in kayak gini bisa berakibat buruk sama kau". Eggy berusaha mencegahnya namun Egga tidak mendengarkan peringatan Eggy.
"Itu lebih baik ketimbang aku harus berdiam seperti ini. Aku harus bisa berjalan lagi. Aaaaaaaargh". Egga pun akhir nya tak kuasa, jantung nya tiba - tiba terasa sakit yang luar biasa sehingga membuat nya jatuh pingsan, sempat ia memegang dada nya.
"Bang..".
" Egga...".
Keduanya menjerit histeris, tak terkecuali Zia, ia menangis melihat Egga seperti itu dan mendekatinya. Almira yang sudah berada di dalam kamar bersama Bu Hanna, Tara dan Ghifari merasa semakin cemas di tambah lagi ia mendengar suara teriakan Eggy memanggil nama Egga. Almira meminta untuk Bu Hanna untuk tetap tenang dan enggak perlu khawatir kemudian Almira keluar dari kamar lalu melihat Eggy sudah menggendong Egga.
"Suam. Bang Egga kenapa?". Almira menghampiri mereka dengan tergesa - gesa.
" Ist tolong ambil kan peralatan medis Suam di mobil". Pintanya.
Almira pun mengangguk dan segera mengambil apa yang di minta oleh Eggy.
"Lebih baik kau pulang Zia". Eggy mendorong Zia agar tidak mendekati Egga.
" Tapi Egga...".
"Pergi kau Zia. Aku minta kau pergi dan jangan pernah muncul lagi di hadapan kami. Atau kau mau aku panggil polisi untuk mengusir kau dari sini". Rasa geram Eggy semakin memuncak, begitu kasar ia memperlakukan Zia tanpa memikirkan bahwa Zia itu adalah seorang perempuan.
"Oke, aku akan pergi. Tapi ingat jangan pernah untuk membujuk ku untuk kembali menerima Egga. Karena aku enggak bakalan ngasi kalian kesempatan". Dengan percaya diri ia berkata seperti itu. Sedangkan Eggy dan Pak Wijaya tidak memperdulikan nya.
Zia pun akhirnya pergi meninggalkan mereka, kemudian Eggy secepatnya membawa Egga ke dalam kamar dan menanganinya.
Semua keluarga Wijaya begitu cemas. Eggy pun menemui mereka setelah ia memeriksa kondisi Egga.
Eggy /"Alhamdulillah semua nya enggak apa - apa kok".
Mereka bernafas lega.
"Alhamdulillah".
Eggy /"Biarin saja Bang Egga istirahat, jangan biar kan Bang Egga untuk bangkit sendiri apa lagi sampai memaksa nya berdiri karena Bang Egga benar - benar masih lemah bahkan tubuh nya masih rentan, kemungkinan buruk nya Bang akan mengalami komplikasi".
" Astaghfirullah". Mereka terkejut mendengar dampak buruk yang bisa Egga alami dan merasa cemas kembali.
"Tapi tenang saja. Itu masih kemungkinan saja, mudah - mudahan itu tidak akan terjadi sama Bang Egga. Eggy akan merawat Bang Egga lebih extra lagi. Mama sama Papa enggak usah khawatir, doa kan saja semua nya akan baik - baik saja. Ya sudah, Pa Ma. Kalau begitu Eggy keluar bentar ya?". Eggy meminta izin pada orang tua nya.
Bu Hanna /"Iya nak. Memang nya kamu mau kemana? Apa ada panggilan darurat di rumah sakit?".
"Enggak Ma, Eggy cuma kelupaan saja kalau Eggy ada janji sama orang". Ia sedikit mencari alasan.
"Hmm ya sudah kamu hati - hati di jalan ya nak".
" Iya Ma".
Kemudian kedua orang tua nya pun beranjak menuju ke dalam kamar Egga dan meninggalkan Almira dan Eggy berdua di depan pintu kamar Egga.
Sedangkan alis mata Almira menyatu melihatnya, ia enggak percaya bahwa Eggy memiliki janji sama orang lain pada saat itu.
__ADS_1
"Suam mau pergi kemana?".
Eggy mendekati Almira.
" Suam mau keluar bentar sayang, kan tadi sudah Suam bilang Suam ada janji sama orang".
Almira /"Iya, tapi mau kemana tujuan nya? Terus janjian nya sama siapa? Dan kenapa enggak bilang sama Ist sebelumnya kalau Suam ada janji hari ini?".
Eggy tersenyum sembari mengelus pipi Almira untuk meredakan rasa khawatirnya.
"Nanti ya Suam cerita'in sama Ist. Bentar saja, Suam keluar enggak lama - lama kok. Ya?".
Almira /" Hmpt... Ya sudah, Suam hati - hati di jalan ya. Jangan ngebut - ngebut bawa mobil nya".
"Iya sayang. Emmuach". Eggy mencium kening Almira kemudian ia pun pergi.
...
Dengan penuh emosi Eggy menghajar Omen yang sedang berada di studio. Seisi studio terkejut dan ada yang berteriak histeris karena hadir nya Eggy dengan secara tiba - tiba lalu langsung menghajarnya tanpa alasan dan tanpa menyapa.
" Memang kau enggak ada otak nya aaaaagggrht". Serunya sembari melayangkan tinjuan nya pada wajah Omen hingga berdarah.
"Apa maksud kau ha? Kemarin aku lalu sekarang Egga. Mau kau apa sebenarnya ha? Apa tujuan kau ngelakuin ini semua?". Eggy benar - benar geram pada sahabat nya itu.
Omen tentu lah sangat terkejut dan bingung. Ia mendorong tubuh Eggy cukup keras lalu menghajarnya balik.
" Maksud kau apa? Datang - datang langsung menghajar aku. Memang nya aku ngelakuin kesalahan apa lagi sama kau? Belum puas kau sudah merusak reputasi aku dan yang lain nya?".
#Gedebak #Gedebuk
Mereka saling beradu layak nya seperti pegulat dan tentu nya wajah mereka mengeluarkan darah serta lebam. Sedang kan yang lain tidak bisa melerai keduanya, mereka hanya bisa menonton perkelahian keduanya.
Mata Eggy memerah serta urat - urat nya terlihat jelas.
"Reputasi kau bilang? Masih sempat kau bilang reputasi? Huh...! Jadi gara - gara reputasi kau hancur terus kau mau balas dendam sama aku dengan cara merebut Dokter Ratna dari Egga dan ingin menikahi nya? Aaaaaaaaaaargt harus nya aku yang kau balas bukan si Egga karena ini urusan di antara kita berdua jangan kau sangkut paut kan sama keluarga ku".
" Apa?". Omen menghentikan tangan nya yang ingin meninju wajah Eggy dan secepatnya Eggy mendorong tubuh Omen sangat keras.
"Aku sekarang baru percaya, kalau di dunia ini memang enggak ada yang nama nya persahabatan. Tak heran banyak orang mengatakan orang terdekat sanggup memakan orang yang ada di dekat nya. Kau bukan cuma hanya kehilangan reputasi kau saja tapi kau juga kehilangan persahabatan kita yang sudah aku anggap sampah. Cuiiiih".
Eggy meludahi persahabatan mereka dengan bercampurnya darah yang ia tumpah kan dari akhir perkelahian mereka.
Ia pun pergi meninggalkan Omen tanpa peduli apa yang di kata kan orang - orang yang sedang menyaksikan pertengkaran mereka.
Sedangkan Omen, ia hanya terdiam melihat kepergian Eggy.
Namun setelah itu ia pun pergi meninggalkan studio.
...
Flash Back...
Eggy menarik kerah baju Omen seakan ia melupakan persahabatan mereka. Sempat ia menarik nafas nya dalam - dalam lalu menghelakan nya cukup kuat.
"Itu sama saja kau menggadaikan aku demi reputasi kau dan lagi, aku sama sekali enggak peduli dan enggak takut sama ancaman nya". Gigi nya gemeretuk karena geram.
Omen menepis tangan Eggy dari kerah bajunya lalu memandang Eggy dengan merendah namun menyindir diri nya.
" Huh... Kau bisa Gy bilang enggak peduli dan enggak takut sama ancaman mereka, itu karena kau punya segala nya. Karena kau memang sudah terlahir menjadi anak orang kaya bahkan keluarga kau salah satu orang terkaya se-Asia tenggara. Jadi kau bisa mengatasi semua nya dengan kekayaan kau itu. Sedangkan kami... Kami cuma orang kecil yang berusaha mati - matian untuk mencapai impian kami. Kami cuma orang kecil yang takut sama ancaman yang akan menghancurkan apa yang sudah kami bangun dari jerih payah kami sendiri. Kami cuma orang kecil yang untuk di tindas sama orang - orang besar seperti kau. Kami bukan seperti kau Gy, bukan. Posisi kita berbeda, sangat berbeda". Omen menunjuk kan sisi lain nya, dimana ia merasa kecil bila bersama dengan sahabatnya itu.
"Aaaaaaaaaaaaarggt".
"Ini bukan soal kaya atau miskin, ini bukan soal derajat atau pun tahta, ini bukan soal uang atau pun impian. Tapi ini soal takut sama ALLAH dan takut sama dosa, ini soal martabat dan harga diri, dan ini soal kesetiaan terhadap istri dan anak. Aku lebih baik kehilangan segala nya ketimbang aku kehilangan keluarga ku sendiri. Paham kau....? Sahabat macam apa kau ini yang tega menggadaikan sahabat nya sendiri. Aaaaaaarght". Eggy mendorong tubuh Omen cukup keras hingga ia terpental ke lantai. Kemudian ia meninggalkan studio.
Omen berjalan seperti orang yang sudah kehilangan arah, ia selalu memikirkan pertengkarannya bersama Eggy, ia sadar bahwa ia melakukan kesalahan pada Eggy.
Ia langsung menerobos pintu rumah nya bahkan ia tidak sadar bahwa di rumah nya sedang ke datangan tamu.
"Norman". Itu lah nama panggilan asli Omen yang sebenarnya.
"Iya Mak?". Omen pun menghampiri mereka dengan lesu.
" Ini kenalin kawan Mamak waktu SMP dulu nama nya Bu Wardah". Beliau pun mengenali teman nya itu yang sangat kebetulan adalah Mama nya Ratna.
__ADS_1
Omen hanya tersenyum lalu mencium tangan Bu Wardah. Sebelum mendapatkan pertanyaan atau obrolan yang panjang, ia memutuskan untuk pamit masuk ke dalam kamar nya.
"Mak, Omen masuk ke dalam kamar dulu ya? Soal nya Omen sudah capek kali abis dari studio".
Mamak Omen /"Oh... Bentar.. Bentar... Sebelum kau masuk ke kamar, Mamak mau bilang ke kau dulu, Mamak sama Bu Wardah ada rencana mau menjodohkan kau sama anak nya Bu Wardah. Anak Bu Wardah orang nya cantik lho terus dokter lagi".
Bu Wardah "Iya Man fu fu fu. Kalau kamu setuju biar Ibu sama Mamak kamu secepatnya ngenalin kalian fu fu fu".
Omen tidak bisa berpikir lagi, pikiran nya sudah mumet dan stres.
" Terserah kalian saja. Omen masuk dulu ya. Permisi Bu". Omen pun masuk ke dalam kamar nya.
Sedangkan Ratna...
Ia masih sedih memikirkan Egga, rasa rindunya semakin menjadi. Semakin ia ingin melupakan Egga semakin kuat ia mengingatnya.
"Ratna...!". Mama nya mengagetkan nya dari lamunan nya.
Ratna pun menoleh.
" Ya Ma?".
Beliau membelai rambut Ratna dengan lembut.
"Sudah lah, kamu jangan seperti ini terus, bukan kah ini memang sudah menjadi keputusan kamu? Jadi kamu harus ikhlas menjalani nya. Walau pun Mama sangat kecewa sama keputusan kamu tapi Mama enggak bisa berbuat apa - apa karena yang ngejalani semua ini kamu. Jujur, Mama sudah sangat sayang sama Tara dan Egga bahkan Mama juga berharap banyak kalau Egga akan menjadi suami kamu dan kalian bisa membesarkan Tara bersama - sama. Tapi mau bagaimana lagi, semua nya sudah menjadi begini, Mama enggak bisa memaksakan kamu. Yang penting kamu bisa ikhlas dan terus menjalani hidup kamu".
Ratna hanya menyunggingkan senyuman nya dengan pandangan lirih.
"Ya sudah kalau gitu kamu harus bangkit lagi, kamu mulai lagi dari awal dan lupakan masa lalu kamu. Oh ya, tadi Mama abis dari rumah kawan Mama waktu SMP dulu terus kebetulan tadi ketemu juga sama anak nya. Jadi Mama sama kawan Mama itu berencana untuk menjodohkan kalian, anak nya sih memang enggak setampan Egga bahkan jauh tapi dia orang nya keren dan agak selengek'an gitu nama nya juga photographer, tahu lah kan gimana gaya seorang photographer. Dia anak nya baik, patuh sama orang tua terus giat bekerja bahkan sekarang dia sudah menjadi pemilik studio terbesar di Medan ini dengan hasil kerja keras nya sendiri. Pokok nya dia sama kamu itu cocok, sama - sama pekerja keras. Tapi balik lagi, itu terserah sama kamu, Mama sama sekali enggak memaksa kamu kok".
"Terserah Mama saja, Ratna cuma bisa ngikut saja apa kata Mama". Responnya.
Bu Wardah /" Kamu jangan gitu lah. Kamu kayak terpaksa gitu, ini demi masa depan kamu lho. Mana bisa main terserah - terserah saja".
"Mau bagaimana lagi Ma, mungkin dengan cara terpaksa seperti ini Ratna bisa melupakan Egga". Lirih nya sembari tersenyum.
Bu Warda menatap nya sembari mengusap pipi Ratna.
" Kamu pasti bisa Rat". Ujarnya.
...
Suasana tampak hening di kediaman rumah orang tua Ratna. Setelah pertemuan pertama antara Ratna dan Omen akhir nya berakhir juga ke jenjang yang lebih serius.
Mereka pun melangsungkan acara pertunangan mereka dan sudah menetapkan hari pernikahan mereka yakni di tanggal yang sama namun pada bulan depan.
Tak banyak tamu yang hadir sebab mereka memang hanya mengundang keluarga terdekat, baik dari pihak Ratna mau pun Omen.
Orang - orang merasa bahagia melihat mereka telah bertukar cincin, tapi tidak dengan Omen dan Ratna.
Meski raga mereka berada di antara yang lainnya namun jiwa mereka berada di tempat lain.
Ratna memikirkan Egga dan Tara, sedangkan Omen memikirkan reputasi nya dan persahabatannya bersama Eggy.
...
Flash On...
"Jadi gara - gara reputasi kau hancur terus kau mau balas dendam sama aku dengan cara merebut Dokter Ratna dari Egga dan ingin menikahi nya?". Ucapan Eggy selalu terngiang di telinga Omen.
Ia masih termenung sembari melihat cincin tunangan yang ia kenakan.
"Apa maksud si Eggy? Merebut Ratna dari Egga? Apa jangan - jangan mereka...".
Omen mengusap wajah nya serta mengacak rambut nya yang sudah tidak gondrong lagi bahkan ciri khas rambut jagung nya pun sudah menghilang, kini warna rambutnya seperti warna rambut laki - laki pada normal lainnya (berwarna hitam) dan ia terlihat lebih oke dari sebelumnya.
Perubahan tersebut ketika ia di pertemukan dengan Ratna dan itu atas permintaan Mamak nya sendiri.
Ia memejamkan mata nya sejenak.
Ia benar - benar stres dengan apa yang terjadi pada nya.
Masalah nya di antara Eggy dan Pak Suwandi belum juga kelar kini di tambah lagi persoalan perjodohan nya bersama Ratna dan akan menikahi nya pada bulan depan sedangkan Ratna adalah kekasih Egga.
__ADS_1