Keikhlasan Hati

Keikhlasan Hati
Chapter 12 #S2


__ADS_3

"Kamu kenapa?, dari pertama datang aku perhatiin kamu nya kayak lagi banyak pikiran gitu". Lana duduk mendekati Ari yang sejak dia datang ke rumah Lana dengan tampang tak semangat.


"Aku enggak apa - apa, cuma lagi kurang tidur aja tadi malam". Sangkal nya berusaha tersenyum.


Lana/ "Ouhmm, kamu enggak lagi ada masalah kan sama pacar kamu?".


Ari/ "Kayak nya aku pulang aja ya, soal nya badan aku agak enggak enak".


Lana/ "Ouh ya udah".


Ari/ "Ya udah salam aja ya sama Papa Mama kamu kalau mereka udah pulang".


"Iya . . ". Lana mengantar nya sampai di depan pintu rumah nya mengikuti Ari yang berjalan di depan nya, beberapa langkah Ari menghenti kan langkah nya dan membalik kan badan nya, entah setan mana yang berhasil merasuki ke tubuh Ari sehingga dia nekat mencium Lana, meski terkejut namun di balas oleh Lana tanpa penolakan.


"Sorry . . . ". Ari pergi meninggal kan Lana yang masih terdiam berdiri dengan hati yang berbunga bunga menatap kepergian Ari.


.


.


Ari masih berpikir dan teringat apa yang dia lakukan terhadap Lana dan hal itu pasti melukai hati Almira.


"Apa sebenar nya yang terjadi sama aku?, kenapa aku kayak gini, kenapa hati aku goyah?, apa yang aku lakukan?". Batin nya menjerit dan hanya dia yang merasa kan dan mendengar kan nya.


.


.


Almira yang masih mengurung diri nya di dalam kamar masih terngiang dengan ucapan Ari. "bukan kamu aja yang harus aku urusin, Pacar kamu bukan jadi milik kamu seutuh nya ".


#Aku tak pernah menyangka engkau mampu melukai hati ku dengan kata - kata mu.


Tak sedikit pun aku berpikir engkau akan seperti ini.


Aku tak faham dengan semua ini, aku tak faham apa sebenar nya yang telah terjadi.


Kenapa kau berubah begitu cepat sehingga aku melihat mu seperti orang asing.


Engkau bukan lagi yang dulu aku kenal. Engkau boleh saja berubah, tapi tolong beritahu aku apa yang membuat mu berubah. Tolong jangan buat ku slalu bertanda tanya dan slalu menyalah kan diri ku. Tolong jangan buat aku salah faham kepada mu.


.


.


Akibat kekhilafan nya terhadap Lana waktu itu telah membuat Lana menganggap bahwa diri nya juga memiliki perasaan yang sama. Dengan bahagia nya Lana memberi tahu orang tua nya bahwa hubungan nya bersama Ari berubah menjadi hubungan yang special.


Bukan hanya Lana yang bahagia melain kan ke dua orang tua mereka yang paling bahagia tanpa harus di paksa akhir nya mereka menyatu. Bahkan mereka merencana kan jika lulus kuliah mereka akan tunangan.


Sedang kan Ari hanya terdiam menuruti mereka dan melupakan prinsip yang telah dia buat dan impian nya yang akan menikah di umur 35 tahun.


Ari sadar dengan perbuatan nya itu, dia tau bahwa itu salah dan dia tau kalau Almira pasti terluka, tapi Ari tetap menuruti hati nya yang sedang goyah dan memilih untuk bersama dengan Lana. Meninggal kan Almira tanpa sebab dan penjelasan.


.


.


Meski hati nya sedang kacau namun Almira harus tetap berpikiran positive pada Ari dan menutupi rasa gundah di hati nya di hadapan keluarga nya (Ibarat kata, di bawa santai Aee he he).


Almira berjalan sendiri menelusuri gedung bertingkat 5 itu yang tak lain mall terbesar di kota medan. Meski kondisi nya sedikit kurang fit akibat kurang nya nafsu makan, Almira harus tetap profesional dengan tugas nya yang mengantar pesanan dari pelanggan nya.


Usai mengantar pesanan tersebut ke satu toko, Almira tak ingin langsung pulang ke rumah nya, dia masih ingin berada di tempat itu hanya sekedar mencuci mata dan merefresh pikiran nya.


Seperti orang bodoh berjalan sendiri di dalam mall yang ramai dengan pengunjung.


Langkah kaki Almira terhenti menapaki ketika mata nya mendapati pemandangan yang berjarak hanya sekitar 3 meter dari dia berdiri dan yang akan membuat hati nya benar - benar hancur. Dia melihat sosok Ari sedang berjalan sambil bergandengan tangan dengan mesra bersama Wanita yang tak di kenal oleh nya yang tak lain Lana.


Almira terpaku lutut nya terasa lemas, nafas nya seakan tersangkut di dada nya, hati nya bagai di hantam beribu sambaran petir, air mata rasa nya ingin tumpah dan rasa nya ingin sekali memaki dan menghajar laki - laki yang dia cintai itu.


Tanpa sadar air mata nya menetes menatap Ari yang juga sama terkejut nya harus bertemu Almira dengan cara seperti ini. Karna sudah tak tahan lagi, Almira berbalik arah meninggal kan pemandangan itu dan berjalan dengan langkah cepat sembari menyeka air mata nya. Benar - benar hancur dan terasa menyiksa harus menahan air mata yang ingin tumpah sederas mungkin.


Ari yang menatap kepergian Almira.


"Aku ke toilet bentar ya". Pamit nya pada Lana.


Ari berlari mengejar Almira namun usaha nya tak menemu kan hasil, dia mencari Almira hingga keluar gedung tapi tak menemu kan sosok tersebut.


Ari mengacak rambut nya karna benar - benar merasa bersalah pada Almira.


.


.


Sedang kan Almira yang sudah tiba di rumah nya terburu - buru ingin masuk ke kamar nya karna sudah tak tahan ingin menumpah kan apa yang terbendung.


"Kok cepat kali pulang nya?, tapi kata nya mau pulang sore". Kak Aira menegur nya.


Almira/ "Iya tiba - tiba pusing kepala nya maka nya cepat pulang, ya udah kak, Ra masuk kamar dulu mau istirahat".


Aira/ "Hmm . . . Minum obat biar ilang sakit nya".


Almira tak menghirau kan kakak nya, dia mengunci kamar nya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi nya tak lupa dia juga mengunci pintu kamar mandi nya. Dia tak ingin yang lain nya mendengar ketika dia menangis sekencang mungkin.


Almira menumpah kan semua air mata yang sudah dia tahan sejak tadi, dia menangis sejadi jadi nya hingga merosot duduk ke lantai. Almira mengingat apa yang dia lihat barusan dan mengingat perubahan sikap Ari terhadap nya. Tanda tanya nya pun terjawab sudah, jawaban yang begitu menyakit kan hati nya.


Seperti orang frustasi, Almira mengurung diri nya di dalam kamar, termenung sembari melihat balon - balon yang masih kokoh di langit langit dan juga kenangan yang masih segar di saat Ari memberi nya kejutan. air mata nya tak kunjung berenti mengalir ke pipi nya, wajah nya terlihat lusuh dan sembab serta mata yang membengkak. Dia tak menghirau kan ketika Ayah, Mamak atau Kak Aira memanggil nya dari luar kamar.


Rasa khawatir dan takut sudah menjalar pada keluarga nya terlebih lagi sang Mamak.


Mamak/ "Bang, coba dulu liat si Rara itu udah 2 hari dia enggak keluar kamar, dia juga enggak makan - makan".


Aira/ "Iya Yah . . Kemarin pas phlang dari mall dia bilang kepala nya sakit trus abis itu enggak keluar keluar dari kamar".

__ADS_1


Mamak/ "Baaaang . . Dobrak aja pintu nya, takut nya ntah kenapa kenapa pulak si Rara di dalam, ntah pingsan dia di dalam baaang cepat lah". Mamak mulai menangis.


Sang Ayah juga khawatir bahkan sangat khawatir tapi beliau tak menunjuk kan nya karna dia harus terlihat santai agar yang lain nya tidak semakin panik.


Ayah/ "Ra . . Ra . . . Kamu enggak apa apa kan?, Ra?, kamu dengar Ayah kan?".


Beliau mulai merasa takut karna tak ada sahutan dari Almira dan dengan terpaksa dia mendobrak pintu kamar Almira.


"ALLAHHU AKBAR". Teriak sang Mamak sembari menangis melihat sosok anak bungsu nya tak sadar kan diri tergeletak di lantai.


"Ya ALLAH Ra . . ". Aira berlari mendekati Almira.


Semua nya panik, dengan sigap sang Ayah menggendong Almira untuk di bawa ke rumah sakit, tubuh nya terasa panas pada saat sang Ayah menggendong nya. Tiba di rumah sakit Almira langsung di tangani di IGD.


Mereka menunggu Almira yang sedang di tangani oleh dokter. Aira menenang kan sang Mamak yang sejak awal nangis terus.


"Alhamdulillah enggak terjadi sesuatu yang buruk pada anak bapak, anak bapak hanya kecapekan, kurang nya tidur dan kurang nya makan, untung langsung di bawa ke rumah sakit kalau lebih lama lagi mungkin akan berakibat fatal, tapi anak bapak enggak apa - apa kok, dia butuh istirahat yang ekstra untuk pemulihan ". Seorang dokter yang sudah lansia namun masih segar bugar bagai pemuda gagah, dia menjelas kan kondisi Almira.


Ayah/ "Terimakasi banyak ya Dok".


Dokter/ "Iya sama - sama, sebentar lagi suster akan memindah kan anak bapak ke ruang rawat inap, bapak jangan khawatir, anak bapak akan sembuh, saya permisi".


Ayah/ "Iya Dok, terimakasih".


Tak menunggu lama Almira di pindah ke kamar rawat inap kelas 2 yang isi nya sekamar tiga orang pasien tapi beruntung nya Almira hanya sendiri di dalam kamar itu tak ada pasien lain nya.


Almira belum sadar juga karna lemah nya kondisi tubuh nya.


"Hubungi si Ari kasi tau dia kalau si Rara masuk rumah sakit". Buk Imah alias mamak mereka menyuruh Aira mengabari Ari.


"Iya Mak". Aira mengiya kan, dan mengeluar kan hp nya dari tas yang dia sandang. Tangan Almira meraih tangan Aira. Sentak Aira terkejut melihat akhir nya adik nya itu sudah sadar. Almira menggeleng kan kepala nya dengan lemas melarang Aira untuk menghubungi Ari.


"Alhamdulillah". Seru mereka berdua. Dan tak lama sang Ayah masuk ke dalam kamar setelah selesai mengurus administrasi rumah sakit.


Mamak/ "Kamu kenapa enggak teriak manggil kami kalau kamu lagi sakit, untung Ayah ngedobrak pintu kamar kamu, kalau enggak, udah enggak tau lagi bentuk kamu gimana".


Aira/ "Iya, kan kemarin udah di bilang minum obat kalau sakit kepala nya, bandel kali".


Almira melihat ke khawatiran darri wajah wajah keluarga nya itu, terutama sang Ayah yang terlihat lusuh menatap nya. "Maafi Rara ya". Air mata nya mengalir ke pipi.


"Udah, enggak usah pakek nangis, sekarang kamu makan dulu ini bubur, udah dari tadi bubur nya datang, udah mau dingin". Sang Mamak mengambil tempat makan khusus rumah sakit dari atas meja dan meletak kan nya di atas paha nya untuk menyuapi Almira.


Sebenar nya Almira sama sekali tak bernafsu untuk makan, tapi melihat dan merasa kan rasa cemas keluarga nya membuat nya harus memaksa kan diri untuk memakan bubur yang di suapi sang Mamak. Hanya 3 sendok yang mampu di terima oleh Almira selebih nya dia menolak.


Mamak/ "Abisin Ra, masih 3 suap". Menyodor kan sesendok bubur ke mulut Almira.


"Enggak Mak, udah, nanti Ra muntah". Almira menggelang kan kepala nya.


Ayah/ "Udah dek, jangan di paksa, udah masuk 3 suap udah bagus itu ketimbang enggak masuk sama sekali".


"Hmm . . Lain kali kalau kamu lagi sakit, biar pun sakit nya sikit kamu harus bilang, jangan kayak gini lagi". Beliau mengusap kepala Almira, Almira mengangguk kan kepala nya merasa bersalah karna udah buat keluarga nya khawatir.


Mamak/ "Oh ya kamu enggak ngabari si Ari kalau kamu masuk rumah sakit?".


"Enggak usah Mak". Almira tersenyum sembari menggeleng kan kepala nya.


Mamak/ "Lah kenapa pulak enggak usah, dia kan pacar kamu, jadi mesti di kabari, ntar enggak di kabari dia marah sama kamu".


"Mak, kepala Rara agak sakit, Ra mau tidur". Almira memejam kan mata nya.


"Udah, ngapain ngabari dia, rang Rara nya juga enggak mau, jangan paksa". Sang Ayah melihat ke wajah Almira yang memejam kan mata nga berusaha untuk tertidur.


.


.


Flash back . . .


Sebelum Almira di pindah kan ke kamar, Pak Syarif di minta untuk bertemu Dokter di ruangan nya. Dokter itu menjelas kan apa yang menyebab kan Almira seperti itu.


Dokter/ "Pak, sebenar nya anak bapak mengalami gejala depresi ringan, tapi itu enggak akan berisiko buruk kok untuk anak bapak, ini seperti depresi anak muda yang punya banyak pikiran, apa anak bapak sedang ada masalah?".


Ayah/ "Setau saya tidak ada".


Dokter/ "hmm . . Mungkin anak bapak menyembunyi kan masalah nya sendiri karna takut orang lain khawatir pada nya, karna terlalu banyak memendam jadi bisa menimbul gelaja depresi itu. Tapi selebih nya enggak ada masalah kok Pak, bapak jangan khawatir. Saya memberitahu bapak agar bapak bisa membuat anak bapak lebih terbuka dan enggak memendam nya sendiri. Untuk saat ini jangan buat dia memikir kan hal hal enggak penting, biar kan dia istirahat total, In Sya ALLAH gejala itu akan menghilang".


"Iya Dok, terimakasih ya Dok".


.


.


Flash On . .


Sejak mendengar apa yang di bilang Dokter itu dan melihat respon Almira ketika nama Ari di sebut kan, Pak Syarif memahami akar masalah yang di pendam oleh anak bungsu nya.


.


.


2 hari 1 malam Almira sudah menginap di rumah sakit. Selama itu juga Almira tak mendengar nama yang membuat nya seperti itu. Rasa bosan pun menjelma pada diri Almira, perlahan namun pasti tanpa sepengetahuan Mamak nya yang sedang tidur karna lelah menjaga nya, Almira berjalan keluar kamar sembari menggantung kan tangan nya memegang infus.


Almira berjalan menelusuri koridor rumah sakit yang sisi kanan dan kiri nya terdapat kamar rawat inap lain nya dengan nama yang berbeda beda. Mata Almira mendapati 1 pemandangan yang menurut nya harus di hampiri. Almira melihat ada sebuah taman kecil yang ada di tengah gedung runah sakit, yang memiliki kolam ikan Mas serta tempat duduk yang tebuat dari batu.


Almira menghampiri taman itu dan duduk sembari melihat ikan ikan Mas yang berukuran cukup besar sedang berenang kesana kemari. Rasa bosan lenyap seketika.


Dari kejauhan Dokter yang menangani nya melihat Almira dan menghampiri nya.


"Udah sembuh buk?". Dokter itu mengaget kan Almira.


Almira menoleh dan tersenyum.

__ADS_1


"Alhamdulillah Dok, udah agak mendingan".


Dokter/ "Hmm kalau gitu kamu bisa cepat pulang".


Almira/ "Beneran Dok?, soal nya udah bosan juga di sini enggak ngapa - ngapain he he".


Dokter/ "Iya, tapi janji enggak bakal kayak gini lagi, saya bakal kasi cepat pulang".


Almira tersenyum getir.


Dokter/ "Patah hati, punya masalah itu hal yang wajar bagi anak muda, Sebesar apa pun masalah kita, kita harus mampu untuk bangkit dan melanjut kan hidup kita. Ingat hidup kita hanya sekali jangan pernah habis kan waktu kita hanya untuk hal yang sia - sia. Dan perlu di ingat ALLAH lebih besar dari pada masalah kita. ALLAH memberi kan kita ujian dan cobaan ALLAH juga yang akan membantu kita menyelesai kan masalah itu. Saya yakin kamu bisa melalui ini semua nya. Ya udah saya permisi dulu ya, kamu lekas sembuh dan selalu bahagia di dunia dan di akhirat, Aamiin". Tanpa segan Dokter itu mengusap kepala Almira seperti menasihati cucu nya sendiri.


Almira terdiam dan tertegun dengan nasihat Dokter itu yang seperti nya memahami diri nya. Almira melihat Dokter itu menghampiri seorang pemuda yang tak terlihat wajah nya.


.


.


"Kamu kok tumben kesini?". Dokter itu menanya kan pada seorang pemuda berbadan proposional yang duduk di depan nya di ruangan nya.


"Iya Kek, Eggy rindu sama kakek he he ". Dia adalah cucu dari Dokter tersebut. Ternyata yang di lihat Almira dari kejauhan itu adalah Eggy.


"Elleh, kamu pasti ada mau nya ini". Sang Kakek alias Dokter itu menaruh curiga.


Eggy/ "kakek nih lah curiga mulu, Eggy beneran rindu sama kakek apa lagi sama rumah sakit ini, hmm udah lama kali Eggy enggak kesini".


Dokter kakek/ "Maka nya kamu itu jangan banyak main, jadi enggak pernah lagi kan meluang kan waktu kamu kesini, kakek udah tua dan bentar lagi kakek mau pensiun, jadi mesti ada yang ngeganti kakek di sini, kalau enggak Egga ya kamu, tapi berhubung karna Egga udah berdiri mengurus perusahaan nya, ya jadi nya kamu lah harapan kakek satu satu nya".


Eggy/ "Udah deh Kek, enggak usah bahas itu dulu, Eggy enggak mau bahas bahas itu lagi, lagian kakek masih muda kok masa udah mau cepat cepat aja pensiun nya he he he".


Dokter Kakek/ "Emank kamu nih ya, enggak bisa di kasi tau".


Eggy/ "He he he, oh ya tadi kakek ngobrol sama siapa di taman?, aku enggak keliatan orang nya karna membelakangi".


Dokter Kakek/ "Ouh itu pasien kakek yang baru masuk 2 hari yang lalu, tadi kakek ngasi sedikit nasihat untuk nya".


"Nasihat?, emank dia kenapa sampek kakek ngasi dia nasihat". Eggy mengerut kan dahi nya semakin penasaran.


Dokter Kakek/ "Dia mengalami gelaja depresi ringan karna memendam perasaan nya sendiri, entah kenapa kakek ngerasa memahami apa yang dia rasa kan gimana kakek slalu memahami kamu, maka nya kakek ngasi dia nasihat dan mudah mudahan dia bangkit dari keterpurukan nya".


Eggy/ "Hmm . . . Gitu, tapi itu enggak bakal beresiko buruk kan kek untuk dia?, soal nya kasian juga karna keliatan nya dia masih muda banget".


Dokter kakek/ "Iya dia masih muda, masih berumur 19 tahun, In Sya ALLAH enggak beresiko buruk kok ke depan nya".


Eggy/ "Alhamdulillah lah kek kalau gitu, kok aku jadi ikutan khawatir ya kek ha ha ha".


Dokter kakek/ "Itu nama nya kemanusiaan, kamu juga jangan pernah nyakiti orang lain, terutama para wanita apa lagi mama kamu sendiri".


Eggy/ "Hufft mulai lagi kakek nih bakal menjurus ke situ lagi".


Dokter kakek/ "Iya lah soal nya kamu bandel kali kalau di kasi tau". Menjewer kuping Eggy.


Eggy/ "Aduuh aduuuh Kek ampon ampon ". Rintih nya sembari memegangi tangan sang kakek yang menghinggap di telinga nya.


.


.


Selama 4 hari Almira nginap di rumah sakit dan kini dia sudah berada di rumah. Dalam keadaan masih lemas Almira berjalan masuk ke dalam kamar nya.


Mamak/ "Jangan di kunci kamar nya".


Almira mengangguk kan kepala nya, dan duduk bersandar di atas tempat tidur. Almira melihat balon balon yang ada di langit langit sudah terlihat tidak kokoh lagi seperti kemarin kemarin bahkan ada beberapa balon yang sudah berjatuhan.


Almira melihat bunga mawar merah yang dia letak di dalam pas bunga di atas meja belajar nya sudah kering dan kelopak kelopak nya pun sudah jatuh berguguran.


Dia mengambil pas bunga itu serta memungut kelopak kelopak yang berguguran. Tanpa sadar air mata nya pun jatuh menetes pada salah satu kelopak bunga yang ada di dalam pas bunga. Almira menyeka air mata nya.


Dan dia juga meraih tali tali balon yang bergelantungan di langit langit. Tanpa basa basi dia keluar dari kamar membawa barang - barang pemberian dari Ari, bukan hanya balon dan bunga tapi semua pemberian dari Ari kecuali satu yang terlupa kan oleh nya, yaitu gelang yang slalu di kena kan nya setiap hari sejak Ari memberikan nya dan kelinci pemberian Ari yang tak mungkin untuk di lenyap kan juga (Berdosa). Sang Ayah melihat nya lewat dengan membawa balon balon itu serta barang barang yang lain nya ke belakang rumah tanpa berkata sepatah kata pun, sebab sang Ayah memahami anak nya itu.


Almira mengumpul kan mereka semua pada satu tumpuk kan. Meski tak rela Almira menyirami mereka dengan bensin dan membakar mereka semua.


Terasa lega?, Ya . . Lega. Tapi hanya sesaat.


Almira kembali masuk ke dalam rumah tanpa memasti kan apa kah semua sudah terbakar habis atau belum.


"Kamu ngapain dari belakang?". Sang Mamak terkejut melihat Almira yang baru dari belakang rumah.


Almira/ "Abis bakar sampah". Dia berjalan menuju kamar nya.


Mamak/ "Bakar sampah?, kamu baru pulang kok udah bakar - bakar sampah, lagian tumben - tumbenan kamu bakar sampah". Almira tak menghirau kan sang Mamak.


"Udah . . . ". Pak Syarif memegang pundak istri nya untuk berhenti menanya kan pada Almira.


Almira kembali duduk di atas tempat tidur. Terasa sesak di dada nya sehingga dia tak mampu menahan air mata nya. Almira menangis sembari menutup mulut nya menahan suara nya agar tak terdengar oleh keluarga nya. Kebayang gimana sesak nya nangis seperti itu.


.


.


1 tahun telah usai di lewati. Ari hilang bagai di telan bumi. Dan Almira harus mampu menahan luka yang sudah tertoreh oleh sang Mantan Kekasih. Mengingat nasihat dari sang Dokter alias Kakek dari Eggy, dia sadar bahwa Dia harus menata hati nya kembali, bukan untuk bisa membuka hati nya kembali melain kan untuk menyembuh kan luka di hati nya.


Dan keluarga nya juga sudah mengetahui bahwa hubungan mereka sudah berakhir tapi Almira tidak memberitahu mereka apa penyebab nya. tanpa bertanya keluarga nya tak mengambil pusing, bukan karna tak perduli, bukan. Melain kan yang berlalu biar lah berlalu dan biar lah menjadi satu pelajaran bagi Almira agar dia bisa dewasa menyikapi nya.


Almira kembali ke rutinitas nya bahkan dia mengambil kegiatan - kegiatan lain nya.


Dia mengikuti kelas model untuk wanita berhijab, bahkan dia sering mengikuti fashion show fashion show hijab serta berbagai kontes kecantikan wanita muslimah.


Di ke ramaian Dia selalu tersenyum dan tertawa ceria tak pernah sekali pun dia menunjuk kan hati nya yang sebenar nya yang masih menyimpan luka dan masih terngiang kenangan pahit itu.


Dia hidup tapi sebenar nya tidak, dia bagai kan makan tanpa selera, menelan nya namun tidak menikmati nya. Dia tak pernah lagi memilih apa yang ingin dia tuju, dia hanya berjalan seperti air yang slalu mengalir mengikuti arus.

__ADS_1


#Lebay?, Ya . . Seperti itu lah yang di alami orang yang sedang patah hati. Di saat kita merasa kan bahagia nya bisa di cintai dan mencintai, di saat kita percaya apa itu cinta, di saat itu juga cinta itu tidak mudah untuk di percaya. Setiap orang pasti merasa kan yang nama nya "Patah Hati". Bahkan trauma untuk mendekati yang nama nya Cinta.


__ADS_2