
Di kediaman Wijaya...
Pak Wijaya dan Tara terlihat sedikit sibuk memapah Egga untuk masuk ke dalam mobil.
Mereka sudah berencana untuk makan siang di luar sekalian mengajak Tara untuk bermain ke wahana bermain di salah satu mall yang ada di Kota Medan.
Mereka pun tiba di mall itu dan langsung menuju ke tempat bermain yang di maksud lalu bermain sepuasnya.
Tawa bahagia terpancar pada wajah mereka terutama Tara yang akhirnya merasakan masa kecilnya seperti anak - anak pada umumnya.
Setelah puas bermain, mereka memutuskan makan siang setelah mereka mengerjakan sholat dzuhur terlebih dahulu.
"Nah...! Tara mau pesan apa?". Pak Wijaya menyodorkan daftar menu pada Tara.
Tara enggan menyambutnya.
" Terserah Opa saja". Tuturnya masih merasa canggung.
Egga dan Bu Hanna hanya tersenyum melihat Pak Wijaya dan Tara yang sudah seperti kakek dan cucu sungguhan.
"Ini kalau tahu Ghifari, pasti dia akan merajuk sama kita he he he". Bu Hanna teringat pada cucu kandungnya.
" He he he, mau gimana lagi. Lagian Ghifari pasti sekolah dan mungkin sekarang dia sudah berangkat untuk belajar Tahfiz". Pak Wijaya menjawabnya.
"Iya, kita pasti bakalan jarang ketemu sama Ghifari karena kegiatannya". Bu Hanna sedikit murung.
Pak Wijaya /" He he he nama nya juga mau jadi anak yang cerdas dan sholeh, jadi ya kita harus berkorban. Nanti Tara juga begitu, Tara nanti bakalan ke sekolah terus belajar Tahfiz juga, belum lagi nanti bakalan ada ekstra kurikulum yang lainnya, pasti akan menyibukkan dia sama kegiatan - kegiatan nya". Ujarnya sembari mengusap punggung Bu Hanna.
Egga hanya bisa tersenyum melihat kedua orang tuanya yang sedang membicarakan cucu - cucu nya.
Tanpa sengaja dan sangat kebetulan, Egga melihat Ratna dan Omen masuk ke dalam caffe yang sama dan duduk di meja paling depan dari caffe itu.
Mood serta hati Egga berubah menjadi lirih seketika setelah melihat keduanya. Rasanya ia ingin pergi dari tempat itu namun tidak mungkin mengingat ia bersama dengan keluarganya. Ia sempat melirik keluarganya yang ternyata tidak melihat keduanya.
Jantung Egga tiba - tiba terasa nyeri kemudian dengan sembunyi - sembunyi ia memegang dadanya.
"Kenapa tiba - tiba jantung ku terasa nyeri. Apa karena aku melihat mereka berdua di sini? Enggak! Ini pasti karena aku belum sembuh total". Batinnya berkata.
Sedangkan Ratna pun juga merasakan nyeri pada jantungnya namun rasa nyeri nya lebih hebat dari rasa nyeri yang di rasakan oleh Egga.
"Jangan. Jangan di sini please. Aku harus kuat. Aku harus kuat. Omen tidak boleh melihat aku sakit". Batinnya pun berkata, ia memegang dadanya sembari menahan rasa nyerinya sedangkan tangan kirinya menggenggam rok nya begitu erat.
" Kamu kenapa Rat?". Omen bertanya ketika ia melihat wajah Ratna sudah terlihat pucat dan berkeringat.
Ratna hanya menggelengkan kepalanya.
"Kamu enggak apa - apa Rat? Apa sebaiknya kita pulang saja? Muka kamu pucat kali". Omen mulai panik melihatnya dan ia membawa Ratna keluar dari tempat itu alias pulang.
Dari meja lainnya.
" Papa kenapa?". Tara bertanya pada Egga karena melihatnya Egga menahan rasa sakitnya.
Pak Wijaya dan Bu Hanna pun melihat ke arah Egga, mereka pun khawatir melihat wajah Egga sudah pucat.
"Kamu kenapa Ga? Apa kamu sudah kecapekan ya? Kalau gitu kita pulang saja". Pak Wijaya bangkit dari duduk nya dan ingin membawa mereka pulang.
Pak Wijaya /" Tara, kamu tolong dorong kursi roda nya Oma ya? Biar Opa yang dorong kursi roda nya Papa kamu".
"Iya Opa".
Mereka bergegas untuk segera pulang ke rumah sebelum terjadi suatu yang buruk pada Egga. Pak Wijaya pun segera menghubungi Eggy agar ia memeriksa kondisi Egga secepatnya.
Eggy berlari masuk ke dalam rumah orang tua nya setiba ia di sana. Ia pun langsung memeriksa kondisi Egga.
"Kayak nya enggak mungkin aku cerita soal siapa pendonor itu sama Bang Egga sekarang - sekarang ini. Kondisi Bang Egga mana mungkin bisa menerima kenyataan yang sebenarnya. Bisa - bisa akan memperburuk kondisi kesehatan Bang Egga dan perjuangan Dokter Ratna akan menjadi sia - sia". Eggy berpikir seperti itu sembari memandangi Egga yang sudah tertidur lemas di atas tempat tidurnya.
Eggy beranjak meninggalkan Egga lalu menemui orang tuanya dan Tara.
"Gimana kondisi nya Egga Gy?". Bu Hanna sangat khawatir.
__ADS_1
" Bang Egga cuma kecapekan saja Ma. Enggak perlu khawatir. Makanya lain kali kalau mau jalan - jalan itu harus ngajak - ngajak Eggy sama Ghifari , ini main tunggal saja he he he". Eggy malah sengaja menyindir orang tuanya agar mereka tidak merasa cemas lagi mengingat kondisi Egga.
Bu Hanna tertawa sembari memukuli badan Eggy.
"Kamu ini ya he he he. Iya... Iya... Lain kali nanti kami bakalan ngajak kalian, kita jalan - jalan bersama kalau Ghifari sedang libur sama kegiatannya. Dasar bocah bandel... Sudah tua tapi tingkah masih kayak anak - anak he he he". Bu Hanna menjewer telinga Eggy hingga telinganya memerah.
" Aduh duh duh Ma. Sakit lho". Rintihnya sembari mengusap telinganya kemudian mereka pun tertawa dan melupakan rasa cemas mereka.
...
Omen membawa Ratna kembali ke rumah nya.
"Kamu enggak apa - apa Rat? Apa kita ke rumah sakit saja?".
Ratna menggeleng kan kepalanya.
" Tidak usah. Aku tidak kenapa - kenapa".
"Tapi Rat wajah kamu sudah pucat kali kayak gitu. Aku khawatir sama kamu. Kita ke rumah sakit saja ya?". Omen memegang lengan Ratna agar Ratna tidak terjatuh mengingat kondisinya semakin lemah.
" Enggak usah Man. Ya sudah aku masuk dulu ya. Maaf aku enggak menyuruh kamu untuk singgah lagi ke rumah aku he he he". Ratna berusaha sekuat mungkin menahan rasa sakitnya sembari menyingkirkan tangan Omen dari lengannya.
"Iya enggak apa - apa Rat. Ya sudah kamu masuk lah. Kamu istirahat dan jangan lupa minum obat". Sebenarnya Omen tidak rela membiarkan Ratna masuk begitu saja.
" Iya, ya sudah aku masuk dulu. Terimakasih ya Man". Ratna pun membalikkan badannya kemudian berjalan dengan tertatih - tatih hingga akhirnya ia pun jatuh pingsan.
"Ratna...". Omen sigap mengejar Ratna lalu menggendong nya masuk ke dalam mobilnya kemudian membawa nya ke klinik terdekat tanpa memberitahu orang tua Ratna.
" Maaf Pak, seharusnya istri Bapak tidak di bawa ke sini tapi ke rumah sakit besar. Saya tidak bisa menanganinya". Dokter itu berkata setelah ia memeriksa kondisi Ratna.
"Lho memang nya sakitnya parah ya Dok?". Omen terkejut mendengar pernyataan itu.
" Saya tidak begitu pasti. Akan tetapi, lebih baik Bapak segera membawa istri Bapak ke rumah sakit besar sebelum terlambat".
Dokter itu semakin membuat Omen khawatir, ia pun segera melarikan Ratna ke rumah sakit besar.
Dengan sigap pihak rumah sakit menangani Ratna dan tak lupa mereka menghubungi Eggy dan Dokter Richard untuk segera ke rumah sakit.
"Sebenarnya apa yang terjadi sama Ratna? Apa Ratna sedang mengidap penyakit yang parah?". Omen selalu bertanya - tanya dalam hatinya sembari mondar - mandir di depan pintu UGD.
...
" Dok... Ratna sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi dengan jantung ini. Ini akan semakin memperburuk kondisi tubuh Ratna". Dokter Richard berkata setelah ia memeriksa kondisi Ratna.
"Apa Dokter Ratna sudah pernah pemasangan ring pada jantungnya?". Eggy berusaha untuk tidak panik.
" Belum Dok. Karena beliau tidak ingin pemasangan itu di lakukan".
"Terus Dokter turuti apa kata Dokter Ratna?". Spontan Eggy membentak Dokter Richard tanpa peduli usia mereka yang berbeda.
Dokter Richard tertunduk.
" Ya ALLAH...! Kalau seperti ini sudah jelas itu akan membuat kondisi Dokter Ratna semakin parah. Kalau pun kita mendapatkan pendonor untuk Dokter Ratna itu enggak akan mungkin berhasil. Itu sama saja kita membunuhnya secara perlahan". Eggy mengusap wajahnya menaham emosi serta air mata nya yang ingin mengalir.
"Maaf Dok". Tiada kata yang di ucapkan Dokter Richard selain kata maaf.
Eggy /" Haaaah... Sekarang siapkan ruang operasi, kita lakukan pemasangan ring itu secepatnya". Perintahnya kemudian ia keluar dari ruang UGD untuk bersiap - siap.
Omen kembali melihat Eggy, kali ini ia berhasil menghampirinya.
"Gy... Gimana kondisi Ratna? Sebenarnya apa yang terjadi sama Ratna? Ratna sakit apa? Gy... Gy...".
Tak satu pun pertanyaannya di jawab oleh Eggy. Eggy seperti mengacuhkannya dengan wajah tegangnya.
Tak lama Omen melihat Ratna akan di bawa ke ruang operasi. Ia pun mendekatinya dan mengikuti mereka membawa Ratna.
"Sust... Dok... Teman saya mau di bawa kemana? Apa sebenarnya yang terjadi sama teman saya?".
" Maaf Pak, teman Bapak akan melakukan operasi. Bapak di harapkan menunggu di luar saja". Salah satu perawat yang membawa Ratna mencegah Omen untuk masuk ke ruang operasi.
__ADS_1
Omen benar - benar panik dan cemas.
"Kenapa mereka tidak menjawab pertanyaan aku? Apa sebenarnya yang terjadi sama Ratna? Harusnya mereka meminta izin dulu sama aku sebelum melakukan operasi itu. Kenapa mereka bertindak sendiri? Apa jangan - jangan kondisi Ratna benar - benar tidak baik". Omen hampir frustasi memikirkannya dan menunggu di depan ruang operasi.
Beberapa jam kemudian operasi pun telah selesai berjalan dengan lancar. Eggy sedikit merasa lega. Ia menyuruh mereka segera membawa Ratna ke ruangan nya.
Eggy, Omen dan Dokter Richard terdiam memandangi Ratna yang terbaring tak berdaya.
"Hmm... Tidak di sangka kamu melakukan ini sampai sejauh ini dan rela mengorbankan nyawa kamu demi cinta kamu Rat". Dokter Richard tiba - tiba berkata seperti itu mengingat perjuangan Ratna untuk menyelamatkan Egga.
Omen melirik Dokter Richard dan bertanya.
" Maksud Dokter apa? Sebenarnya apa yang terjadi sama Ratna?".
Eggy dan Dokter Richard menoleh melihat Omen.
"Ratna rela menukarkan jantung nya demi menyelamatkan kekasihnya namanya Pak Egga kebetulan abang dari Dokter Eggy. Jantung yang ada di dalam tubuh Ratna adalah jantung nya Pak Egga sedangkan jantung yang ada di dalam tubuh Pak Egga itu milik Ratna, jadi demi menyelamatkan Pak Egga, Ratna rela melakukan pertukaran itu". Dokter Richard sudah tidak ingin menutup - nutupi kebenarannya meski pun ia tidak mengetahui siapa Omen.
"Apa?". Omen sangat terkejut mendengarkan Dokter Richard bahkan bulu kuduknya hampir berdiri.
" Jadi si Omen sama sekali tidak tahu soal ini". Batin Eggy berkata sembari melirik Omen yang terlihat terkejut.
"Ya sudah Dok. Saya permisi dulu. Kalau Dokter membutuhkan saya langsung hubungi saja saya". Dokter Richard pamit keluar dari ruangan itu meninggalkan mereka.
" Iya Dok. Terimakasih atas kerja keras Dokter hari ini".
"Sama - sama Dok. Saya permisi".
...
Keduanya hening sejenak sambil memandangi Ratna.
" Egga tahu soal ini?". Omen membuka suara.
Awalnya Eggy enggan menjawabnya, namun entah kenapa tiba - tiba rasa ego itu runtuh seketika.
"Belum. Aku belum bisa ngasi tahu dia sekarang - sekarang ini karena kondisinya masih lemah". Jawabnya.
"Pasti enggak mudah bagi Egga kalau dia tahu soal ini". Omen sempat menghembuskan nafasnya yang terasa sedikit berat.
"He em... Aku pikir kau sudah mengetahui sebelumnya soal ini". Eggy melirik Omen sekilas kemudian beralih melihat Ratna.
" Aku baru tahu sekarang soal ini. Kalau aku tahu sejak awal mungkin aku enggak akan menerima perjodohan ku dengan nya". Perkataan Omen membuat Eggy meliriknya dengan sedikit emosi.
Omen /"Bukan karena kondisi kesehatannya melainkan karena perjuangannya untuk Egga. Baru kali ini aku melihat langsung orang yang rela mengorbankan nyawa nya demi menyelamatkan orang yang ia cintai, biasanya cuma ada di cerita film atau pun cerita novel fiksi doank he he he".
Eggy hanya menyunggingkan senyumnya. Mereka pun hening kembali.
"Tolong kau jaga baik - baik Dokter Ratna. Aku pasti akan berusaha mencari donor jantung untuk Dokter Ratna sampai dapat. Dan aku juga enggak akan membuat Dokter Ratna berjuang sendirian setelah ia menyelamatkan nyawa Egga". Eggy akhirnya bisa berbicara lebar pada Omen.
"Hemp". Omen menganggukkan kepalanya.
" Oh ya, di luar ini. Ada hal lain yang mau aku tanyakan sama kau".
Eggy meliriknya.
Kini mereka pun duduk berdua di taman rumah sakit itu. Sebelumnya Eggy meminta beberapa perawat untuk mengawasi Ratna.
"Waktu hari sabtu kemarin aku ke rumah kau, tapi kata tetangga kau, kau lagi liburan keluarga. Aku ke rumah kau karena mau jumpai kau dan mau nanya sama kau soal Pak Suwandi". Omen sedikit takut - takut mengatakan itu.
" Sebenarnya kau mau nanya apa?". Eggy tidak ingin ia berbasa - basi.
Omen /"Aku mau nanya, apa kau sudah melakukan sesuatu sama Pak Suwandi sampai - sampai dia enggak datang lagi mengganggu aku?".
"Kenapa kau berpikir aku yang melakukan itu?". Eggy balik bertanya.
Omen /" Ya... karena cuma Imam, Ratna dan kau yang mengetahui aku di gebukin pada saat itu, maka nya aku berpikir seperti itu. Dan aku yakin kalau kau yang sudah melakukan sesuatu sama Pak Suwandi".
Eggy tertawa kecil.
__ADS_1
"Kalau sudah yakin kenapa masih mempertanyakannya lagi? Setidaknya aku melakukan itu karena aku harus bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan sama kau dan sekalian menebus kerugian yang kau alami. Aku balik dulu karena masih banyak urusan yang harus aku selesaikan. Kalau terjadi sesuatu pada Dokter Ratna, segera laporkan pada perawat - perawat yang sedang bertugas di station mereka, aku sudah memberitahu mereka untuk mengawasi Dokter Ratna secara ekstra. Aku pergi". Eggy pergi meninggalkannya sendiri tanpa melihatnya lagi.
"Aku yakin, kau ngelakuin itu bukan karena kau mau menebus tanggung jawab kau saja Gy. Aku yakin karena kau masih peduli sama aku". Pikirnya sembari melihat kepergian Eggy.