King Of Universe

King Of Universe
Arc 2 Bab 105


__ADS_3

Bima yang bosan menyendiri di mejanya pun memutuskan untuk bergabung dengan teman temannya yang sedang asik ngobrol di temani rokok yang tidak bisa lepas dari jari mereka.


"Kau gak istirahat?" tanya Riski saat Bima duduk di samping Albert yang asik berbincang dengan sosok wanita cantik dan manis.


"Belum ngantuk." jawab Bima menyulut rokoknya dengan santai.


"Istrimu?" tanya Riski.


"Nidurin anak, sekalian aku suruh istirahat duluan, kasihan." jawab Bima santai sambil menghisap rokoknya.


"Kapan kita ke bumi bim? adikku mau nikah cok." tanya Riski.


"Minggu depan lah ya, aku masih harus urus beberapa masalah di luar." jawab Bima.


"Adikmu yang mana ris?" tanya Julian.


"Asep! dia jadinya nikah sama Dea setelah nabung beberapa lama." jawab Riski.


"Baguslah dia gak minta sama kau." ucap Julian.


"Mau aku hajar apa! enak aja minta minta sama kakaknya!" ucap Riski kesal.


"Guild kita gimana kabarnya?" tanya Bima.


"Jadi legend cok! semua Asosiasi di seluruh dunia pajang logo guild kita sama duplikat topeng kita. Bahkan di Indonesia, peringkat guild gak ada nomor satu, yang ada dua sampai seterusnya." jawab Riski.


"Tapi ya enggak semua orang respect lah ya, ada juga yang benci dan bahkan mereka membentuk sebuah kelompok. Namanya Aktivis Keadilan yang menuntut seluruh Asosiasi untuk tidak memajang logo satu guild pun supaya tidak menimbulkan rasa iri hati pada hunter lain." ucap Julian.


"Saya sampai bingung kaka Bima! saya punya papa dan mama sampai jadi buah bibir karena guild yang saya masuki mampu jadi legend di seluruh dunia." ucap Arie.


"Mau sebaik apapun kita, seorang pembenci tidak akan pernah hilang dari kehidupan kita." ucap Bima santai.


"Betul juga e! adu mama e! saya lupa kata kata itu!" ucap Arie menepuk dahinya.


"Bunda mana ya?" tanya Bima.


"Sudah istirahat duluan tadi, katanya agak gak enak badan." jawab Tigers.


"Ohhh gitu..." ucap Bima paham.


"Bim, istrimu kayaknya galak ya?" bisik Riski sambil celingak celinguk.


"Ssstttt! jangan di bicarain bodoh!" ucap Bima menutup mulut Riski sambil tolah toleh penuh kewaspadaan.


Riski yang paham langsung menganggukkan kepala dengan wajah pucat.


"Kau tau Kong?" tanya Bima pelan.


"Tau tau!" jawab Riski ikut memelankan suaranya.


"Dia sampai bergetar ketakutan merasakan kemarahannya!" bisik Bima sangat serius.


'Bos! aku mohon! jangan pancing emosi nyonya besar!' ucap Kong masih terbayang bayang aura menakutkan Jennifer.


Riski menutup wajahnya karena tidak sanggup membayangkan bagaimana ngerinya istri Bima.

__ADS_1


"Ayah! jangan sesekali ayah memancing nya!" bisik Jason ikut merinding.


"Makanya, jangan sampai dia tau kita membicarakannya!" ucap Bima tidak sadar kalau Jennifer sudah ada di belakangnya.


"Bicarain siapa?" tanya Jennifer dingin.


"Hah! a-anu...b-bicarain Kevin! ya! kita sedang membicarakan Kevin!" jawab Bima tersenyum ketakutan.


"Ohhh...jangan sering-sering ngerumpi, gak baik." ucap Jennifer lalu duduk di samping Bima.


"I-iya.." jawab Bima tersenyum sambil melirik Riski yang berpelukan dengan anaknya.


"Biasa saja bodoh!" bisik Bima mencengkram erat baju Riski.


Riski hanya menganggukkan kepala dan mencoba bersikap biasa saja.


"Adel udah tidur?" tanya Bima.


"Sudah." jawab Jennifer singkat.


"Kamu kenapa nggak ikut tidur?" tanya Bima.


"Belum ngantuk." jawab Jennifer singkat.


"Ohh...heheheh..." ucap Bima terkekeh canggung.


"Oh iya, kak, minggu lalu kan aku sempat ke markas besar, kata Draco beberapa bisnis kita bangkrut dan jasa pembunuh bayaran kita sedang goyah kak." ucap Albert.


"Kok bisa?" tanya Bima agak kaget.


"Ck! kalau begitu kenapa tidak di perangin sekalian? kenapa jadi payah begini?" tanya Bima marah.


"Kekuatan kita sedang down parah kak, beberapa pilar banyak yang di bunuh oleh hunter hunter suruhan petinggi Asosiasi. Satu lagi, banyak anggota kita yang juga gugur karena para hunter sok jagoan yang ingin membersihkan Negara kita dari preman, mafia, dan gengster." jawab Albert.


"Minggu depan kau urus mereka, aku nyusul, sialan!" ucap Bima benar-benar kesal.


"Baiklah kalau begitu." jawab Albert nurut saja.


"Kau minggu depan langsung balik apa gimana?" tanya Julian.


"Jennifer dulu yang ke bumi, aku masih harus selesaiin beberapa urusan penting." jawab Bima.


"Enggak! kalau aku ke Bumi, kamu harus ke Bumi juga! Adel rewel kalau gak ada kamu!" ucap Jennifer marah.


"Kamu sama Adel harus adaptasi sama lingkungan sekitar, biar kalau bepergian enggak kaget gitu. Aku masih harus urus berbagai masalah penting." ucap Bima menjelaskan.


"Enggak! pokoknya enggak!" jawab Jennifer ketus.


"Ngeyel banget sih!" ucap Bima kesal.


"Biarin!" jawab Jennifer ketus.


"Adel kan juga harus masuk PAUD sayang, biar dia dapat teman baru di lingkungan barunya. Biar kemampuan otaknya lebih terasah, ya, percaya dah sama aku." ucap Bima merangkul Jennifer.


"Kamu pergi berapa lama?" tanya Jennifer menatap Bima dengan mata indahnya.

__ADS_1


"10." jawab Bima.


"10 apa?" tanya Jennifer menatap tajam.


"10 tahun." jawab Bima nyengir.


"Apaan! enggak! enggak boleh!" ucap Jennifer marah.


"Bercanda! gak sampek satu mingguan kok." jawab Bima tersenyum geli.


"Janji?" tanya Jennifer menunjukkan jari kelingking.


"Janji." jawab Bima mengaitkan jari kelingkingnya.


"Awas kalau lebih dari satu minggu!" ucap Jennifer mencubit pipi Bima dengan tatapan tajam.


"Enggaklah." jawab Bima mencium pipi Jennifer.


Setelah itu mereka pun berbincang-bincang santai mengakrabkan diri dengan Jennifer yang terlihat dingin dan cuek.


Tepat tengah malam, setelah pesta selesai, mereka pun kembali ke kamarnya masing-masing untuk istirahat. Di kamar, Bima bingung karena tidak melihat Adel di sana.


"Adel mana?" tanya Bima menatap bingung Jennifer.


"Hem? gak baik kalau Adel tidur satu ranjang sama kita, dia harus mulai mandiri dari sekarang." jawab Jennifer tersenyum penuh simpul.


"Ya udah kalau itu keputusanmu, aku mau bersih bersih dulu." ucap Bima lalu masuk ke kamar mandi.


Bima membersihkan seluruh tubuhnya yang terasa sangat lengket dan bau. Selesai mandi Bima langsung rebahan di kasur karena seluruh badannya pegal-pegal.


Bahkan saking lelahnya, Bima tidak tertarik pada Jennifer yang sedang melepas bajunya di depan cermin.


"Aku mandi dulu ya." ucap Jennifer melirik Bima.


"Hemm..." jawab Bima karena sedang fokus pada ponselnya.


"Hemphh!" Jennifer mendengus kesal dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


20 menit kemudian Jennifer pun selesai mandi dan sudah memakai piyama tipis berwarna ungu dengan motif bunga. Jennifer mengeringkan rambutnya sebelum tidur, dia belum sadar kalau Bima sudah tidur duluan.


"Sayang, besok anterin aku ke pemerintahan ya, aku mau urus surat surat pernikahan kita." ucap Jennifer sembari mengeringkan rambutnya.


Tidak ada jawaban dari Bima.


"Sayang...." panggil Jennifer lembut namun tetap tidak ada jawaban dari Bima.


Jennifer menengok dan di buat terkekeh geli melihat Bima yang sudah tidur pulas dengan mulut mangap.


"Hihihi...capek banget ya.." gumam Jennifer terkekeh.


Setelah selesai mengeringkan rambutnya, Jennifer pun merebahkan tubuhnya di kasur lalu memeluk Bima yang sudah tidur duluan.


"Malam..." ucap Jennifer mencium bibir Bima lalu ikut tidur.


Keduanya pun tertidur pulas dengan posisi Jennifer memeluk Bima. Tidak ada pergulatan malam pertama untuk malam itu karena keduanya sama sama kelelahan.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2