
50Keesokan harinya, setelah sarapan Bima bersantai di ruang TV di temani secangkir kopi dan kedua hewan peliharaan yang besarnya di luar akal sehat manusia.
"Kok makin ancur ancuran gerakan mereka? perasaan semua udah aku jelasin serinci mungkin dah." gumam Bima ketika melihat tim Kevin bertarung membersihkan area pusat kota dari portal break.
[Lihatlah apa yang mereka pegang bos]
Bima menyipitkan mata dan melihat botol miras di tangan Riski dan Julian. Bima tersenyum kecewa dan menggelengkan kepalanya.
[Aku tidak tau ya apa alasan mereka mengkonsumsi minuman itu, yang pasti semua ini ada sesuatu di balik keputusan mereka]
"Kenapa sayang?" tanya Aulia datang membawa sepiring pisang goreng.
"Enggak, cuma agak kecewa aja." jawab Bima.
"Kecewa kenapa?" tanya Aulia aneh.
"Itu, permainan ancur ancuran ternyata gara gara miras." jawab Bima menunjuk TV.
"Terus mau gimana?" tanya Aulia ingin mendengar jawaban Bima.
"Tunggu hancurnya aja, males aku marah marah." jawab Bima.
"Ya udah kalau itu keputusan kamu." ucap Aulia santai.
Keduanya duduk bermesraan sembari ngobrol hal hal absurd, hingga tiba tiba bel rumah berbunyi. Bima dengan cepat langsung membuka pintu untuk melihat siapa yang datang.
"Misi!" teriak sosok yang Bima kenali dari luar pagar.
Bima kaget melihat dua orang yang sangat dia kenali sedang menunggu di luar pagar.
'Kok bisa tau mereka bob?' tanya Bima bingung.
[Mungkin dari auramu bos]
Bima menerima jawaban sistem, dia berjalan membuka pagar untuk menemui keduanya yang adalah saudara Bima, Albert dan Tigers.
"Benarkan." ucap Albert tanpa ekspresi.
"Kau sensitif sekali ternyata." ucap Tigers menganggukkan kepala berkali-kali.
"Ada apa?" tanya Bima mengusap wajahnya pelan.
"Anu..kau kapan ke basecamp? suasana basecamp kacau parah." jawab Tigers.
"Kapan kapanlah, lagi males banget aku ngurusin kalian." ucap Bima.
"Kau jahat sekali." ucap Albert datar.
"Ayolah, mereka butuh kau, bunda Aurora dan bunda Diana sudah menyerah menasehati mereka. Bahkan om Jhon juga sudah malas memarahi mereka." ucap Tigers.
"Om Jhon siapa?" tanya Bima aneh.
"Suami bunda Diana, kau belum pernah bertemu, waktu itu dia lagi keluar kota, pas kau pergi baru dia balik." jawab Tigers.
"Besok dah! anjiink! nyusahin amat!" ucap Bima kesal.
"Pagi apa siang?" tanya Tigers memastikan.
"Jam 9." jawab Bima.
"Aku tunggu ya! awas kau bohong!" ucap Tigers.
"Aku tunggu." ucap Albert datar.
Akhirnya mereka pun kembali ke basecamp dan Bima kembali masuk ke dalam rumahnya. Bima kembali duduk di ruang TV, kembali bergabung dengan Aulia yang masih asik menonton pertarungan tim Kevin.
"Siapa?" tanya Aulia tiduran di pangkuan Bima.
"Albert sama Tigers." jawab Bima malas.
"Kok bisa tau kita tinggal di sini?" tanya Aulia kaget.
"Entah." jawab Bima juga bingung.
"Suruh ke basecamp?" tanya Aulia.
__ADS_1
"Iya besok." jawab Bima.
"Ooww...." ucap Aulia mangguk mangguk.
"Kamu tambah cantik dah, pakai skincare ya?" tanya Bima heran dengan karakteristik wajah Aulia yang tidak tambah keriput malah tambah muda.
"Ini natural ya! sembarangan!" jawab Aulia ketus.
"Gak mungkin." ucap Bima tidak percaya.
"Gak keriput itu gara gara hidup bahagia, coba kalau stress, keliatan banget keriput nya." ucap Aulia memberi penjelasan.
"Aku stress tapi tetep awet muda." ucap Bima.
"Ihh! pd banget! hahahaha...." ucap Aulia tertawa geli.
"Loh! aku tambah ganteng yang! aku aja sampai kagum sama wajahku ini!" ucap Bima menaik turunkan alisnya.
"Hoekkk! jijik banget ih! percaya diri itu boleh, tapi jangan over!" ucap Aulia pura pura muntah.
"Ihh! gak bisa terima fakta! tampan dan pemberian!" ucap Bima berpose.
"Iya iya, suami aku yang paling tampan!" ucap Aulia mengiyakan supaya Bima puas.
"Bisa kali nambah satu." ucap Bima langsung mendapatkan tamparan keras di pipinya.
Plakkk...
"Awas!" ancam Aulia menatap Bima tajam.
"Canda!" ucap Bima mengelus pipinya.
Mereka terus bersantai di ruang TV sambil beberapa kali bercanda gurau layaknya pasangan muda mudi.
Keesokan harinya, Bima bersama Aulia pergi ke basecamp setelah sekian lama tidak berkunjung. Sesampainya di basecamp, Bima langsung disuguhi pemandangan Riski, Rizal, dan Julian yang sedang menyuntikkan barang terlarang di tubuhnya.
"Ngeriiii!" ucap Bima bertepuk tangan.
"Aku ke belakang dulu ya." ucap Aulia tak mau melihat kemarahan Bima.
"Saya tuan!" jawab Thomas berlari dengan cepat.
"Seret yang lain ke halaman belakang! 5 menit! telat satu detik ku potong tanganmu!" ucap Bima dingin.
"B-baik!" jawab Thomas langsung berlari naik ke lantai dua.
Sedangkan Bima menunggu di halaman belakang di temani Piu dan Pom yang selalu ada di sampingnya. Tak sampai 4 menit, Thomas datang menyeret 7 orang dengan baju basah kuyup.
"Misi selesai tuan!" ucap Thomas memberi hormat.
"Kau tau botol botol miras yang mereka simpan?" tanya Bima.
"Tau tuan!" jawab Thomas tegas.
"Bawa kemari." ucap Bima memerintah.
"Laksanakan!" jawab Thomas berlari ke arah gudang.
"Hebat ya kalian." ucap Bima memandangi teman-temannya yang berdiri sambil menunduk penuh rasa ketakutan.
Tak lama Thomas datang membawa satu krat minuman beralkohol tinggi serta beberapa kantong narkotika.
"Pergi." ucap Bima memberikan sebungkus rokok malboro pada Thomas.
"Ihiyyy!" seru Thomas gembira.
Bima menatap dingin teman-temannya dengan aura kemarahan yang merembes keluar walaupun tipis.
"Mau mati kapan?" tanya Bima dingin.
Hening...
"Jawab." ucap Bima dingin.
Tiba tiba Ria dan Bella mendatangi Bima dengan tatapan memohon. Bima menengok ke belakang arah dapur, tempat semua orang menonton.
__ADS_1
"Bella! sini!" teriak Lina tegas.
"Paman, Bella mohon jangan sakiti papa." ucap Bella.
"Ayah Tigers juga jangan di sakiti paman." ucap Ria.
"Ini anak bandel banget! ihhhh!" ucap Lina kesal menjewer telinga Bella dengan keras.
"Kamu udah belajar nakal ya?!" ucap Lia kesal pada Ria.
"Ampun!" teriak kedua bocah itu.
Bima mendekati teman-temannya, menatap tajam mereka satu persatu.
"Kau minum?" tanya Bima pada Doni dengan tatapan sangat tajam.
Doni diam tidak menjawab.
Plakkkk....
"Kau punya mulut kan?" tanya Bima menampar Doni sangat keras.
"I-iya." jawab Doni tergagap.
"Kau paling tua di tim ini, kenapa kau gak ngelarang?" tanya Bima.
"G-gak bisa." jawab Doni.
Pyarrrr.....
Bima memukul kepala Doni dengan sebotol miras yang membuat kepala Doni bocor seketika.
"Kau, kau sebagai ketua, kenapa gak ngelarang?" tanya Bima menatap Rizal penuh amarah.
"M-maaf...." ucap Rizal.
Buaghhh...
"Aku bukan nyuruh minta maaf! aku tanya!" teriak Bima keras setelah memukul pipi Rizal.
"Mereka susah di bilangi!" teriak Rizal. ketakutan.
Buaghhh...
Buaghhh...
Bima menghajar teman-temannya tanpa ampun, di tambah kepala mereka Bima pukul dengan botol miras.
"Sampah! sudah sampah tambah sampah!" teriak Bima marah.
"Kalian pikir aku orang yang tidak tegaan sama temen?! enggak bro! bunuh kalian juga aku tega jink! siapa yang bawa barang ini ke sini?!" tanya Bima memegang kantong berisi narkotika.
"Asisten kakek Billy." jawab Julian.
"Siapa?!" tanya Bima mengernyitkan dahi.
"Alvin." jawab Julian.
"Bunda, panggil kakek kemari sekarang juga! kalau menolak, sampah sampah ini akan aku bunuh dengan tanganku sendiri." ucap Bima dingin tanpa menengok.
"B-baik." jawab Diana langsung bergegas menelepon Billy.
"Apa yang kalian rasakan setelah mengkonsumsi semua ini? keren?" tanya Bima sinis.
"Kita konsumsi ini semua biar tenang, kita juga mau kelihatan berani." jawab Kevin lirih.
"Gobl*knya udah sampe ke ubun ubun ternyata." ucap Bima sinis.
"Kalau tau bakal kayak gini, mending dulu aku gak rehat! mending kehilangan bagian tubuh dari pada kehilangan sahabat karena hal bodoh kayak gini! aku sembuh malah gantian kalian yang sakit! bodoh!" ucap Bima.
'Roarrr...' Piu mengaum singkat dengan mimik wajah jijik.
"Lihat? binatang aja jijik liat kalian!" ucap Bima.
Bima terus memarahi teman-temannya dengan beberapa kali melayangkan pukulan keras.
__ADS_1
Bersambung....