King Of Universe

King Of Universe
Arc 2 Bab 120


__ADS_3

Bima mengendarai mobilnya menuju Mansion yang baru di jual Dua hari yang lalu. Lokasinya sangat dekat dengan tempat Adel menimba ilmu, hanya 5 menit dari Mansion.


Namun saat sampai, Bima langsung di buat tidak tertarik karena lokasinya di pinggir jalan raya. Jadi Bima langsung tancap gas menuju Mansion ke dua di hari itu.


Lokasinya 10 menit dari Mansion pertama, di sana Bima di suguhkan pemandangan tak mengenakkan. Tepat di depan Mansion megah itu terdapat rumah prostitusi dan markas PP di sebelahnya.


Bima langsung bilang tidak dan melanjutkan perjalanan ke Mansion ke tiga dan seterusnya. Bima berkeliling kota mencari Mansion yang menurutnya cocok dan dekat dengan tempat PAUD Adel.


[Dari 15 Mansion, aku cuma merekomendasikan yang satu ini bos]


"Apa apaan anjink! parkiran doang luas!" ucap Bima kesal.


[Masih lebih baik dari sebelum sebelumnya bos]


"Emang iya sih, tapi kalau buat tinggal rame rame ya gak cukup bob." ucap Bima.


[Makan malam dulu bos, kau butuh banyak energi]


"Iya dah." jawab Bima lalu melakukan mobilnya ke sebuah restoran untuk makan malam.


Bima memakan berbagai makanan pesanannya, selesai makan malam Bima lanjut mencari Mansion yang sesuai kriterianya. Bima benar-benar keliling kota Jakarta Timur mencari Mansion sampai tengah malam.


Saat sedang asik merokok di pinggir jalan, Bima di telepon oleh Jennifer yang menyuruhnya untuk pulang.


"Halo, kenapa?" tanya Bima mengangkat telepon.


"Pulang buy, di cariin orang rumah." jawab Jennifer.


"Masih mau ketemuan sama Agent." ucap Bima.


"Udahlah buy! aku bilang pulang ya pulang! kasihan Adel! gak mau tidur dari tadi!" bentak Jennifer.


"Iya aku pulang." ucap Bima langsung menutup telepon dan pergi kembali ke basecamp.


[Aku malah ikut pusing bos! sialan!]


"Hahaha...." Bima hanya tertawa dan fokus pada jalan.


Sesampainya di basecamp, Bima langsung pergi ke kamarnya untuk istirahat.


"Tuh ayah pulang." ucap Jennifer menunjuk Bima.


"Yeyyy!" seru Adel senang lalu tidur dengan memeluk ibunya.


Bima tidak bereaksi, dia hanya masuk ke kamar mandi, mandi, lalu setelah itu tidur.


Keesokan harinya, Bima tidak sarapan, dia langsung pergi lagi mencari Mansion yang lebih dekat dan besar.


"Loh, Bima kemana? katanya mau antar Adel." tanya Diana.


"Gatau bun, tadi aku tinggal mandi masih tidur, tapi selesai mandi dia hilang gitu aja." jawab Jennifer.


"Cari Mansion lah bunda." ucap Riski yang membuat Diana kaget.


"Loh! dari kemarin belum dapet juga?" tanya Diana kaget.


"Gak akan dapet bunda, di Jakarta Timur Mansion terbesar yang cuma segini. Selebihnya ya cuma besar halaman doang, itu bukan sok tau ya, tapi ayahku sendiri yang bicara sebagai agent." jawab Riski.


"Lagian kemarin udah dapat yang komplit malah gak di setujui, alasannya kejauhan." ucap Jhon.

__ADS_1


"Rewel lagi kamu! lihat ayahmu! demi tempat tinggalmu sampai pergi pagi pagi buta!" ucap Jennifer memarahi Adel.


"Maafkan aku bu." jawab Adel sangat menyesal.


"Cepat makan! nanti telat!" ucap Jennifer ketus.


"Nanti biar aku yang bicara sama Bima, gak usah di pikirin." ucap Henry.


"Tolong ya nak." ucap Diana.


"Bibi tenang saja." jawab Henry tersenyum.


Selesai sarapan, mereka pun beraktivitas seperti biasanya. Sampai sore hari, Bima masih belum pulang, padahal Henry, Albert dan Jhon sudah menunggu dari siang.


"Coba telepon." ucap Jhon.


Albert langsung menghubungi Bima melalui telepon, dan untungnya di angkat oleh Bima.


"Kau di mana bodoh?!" tanya Albert.


"Hah?! ngapain di sana?! siapa yang sakit?!" tanya Albert.


"Cepat! aku tunggu!" ucap Albert langsung mematikan telepon.


"Kenapa?" tanya Jhon memiliki firasat tidak enak.


"Kecelakaan yah, mobilnya menabrak pembatas jalan dan keluar jalur. Tapi dia cuma luka ringan katanya." jawab Albert.


"Terus sekarang gimana?" tanya Jhon sangat khawatir.


"Dia sudah di jalan ke sini, naik Grab car katanya." jawab Albert.


"Baiklah." jawab Albert dan Henry bersamaan.


Ketiganya pun pergi ke teras rumah untuk menunggu Bima dengan perasaan sangat khawatir akan kondisi Bima. 10 menit kemudian sebuah mobil putih berhenti di depan gerbang basecamp dan keluarlah Bima dari mobil tersebut dengan kepala di perban dan tangan kiri yang di pakaikan gendongan.


"Makasih ya pak!" ucap Bima tersenyum.


"Hati hati ya mas lain kali." ucap supir grab car.


"Ngantuk tadi pak hehehe..." jawab Bima nyengir.


"Ya udah, saya lanjut narik dulu mas!" ucap supir melakukan mobilnya meninggalkan Bima.


Bima melambaikan tangannya lalu masuk ke area basecamp sambil cengengesan.


"Ringan apanya bodoh! itu tanganmu kenapa?!" teriak Albert kesal.


"Patah bro! sialan!" jawab Bima dengan santainya.


"Dan kau masih sesantai ini?! bodoh!!" seru Henry ingin menjitak Bima namun kepala Bima di perban.


"Hahaha...kau mau menjitak aku kan? tidak bisa! masa kau tega dengan adikmu! hahahaha...." ucap Bima tertawa puas.


'Kau sudah gila ya bos? sialan! jadi takut dekat dekat kau aku!' ucap Kong.


"Ayo masuk dulu! ceritakan pada ayah detailnya." ucap Jhon.


Mereka pun masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang TV untuk mendengarkan cerita Bima.

__ADS_1


Flashback..


Bima yang belum makan dari pagi memutuskan untuk makan di restoran seafood yang kebetulan langganan nya dari dulu. Tempatnya memang agak jauh, jadi Bima melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Ngebut sambil nyetel musik gini enak juga ya!" ucap Bima menikmati perjalanannya.


Namun karena kurang fokus, mobilnya kehilangan kendali dan menabrak pembatas jalan sampai terguling. Mobilnya benar-benar hancur, namun Bima berhasil merangkak keluar dengan keadaan linglung.


Lengan kirinya patah, kepalanya terus mengeluarkan darah segar, dan luka lecet di kedua kakinya. Warga sekitar langsung berkumpul setelah menelepon ambulans.


Warga terus menerus mengajak Bima bicara supaya kesadarannya tidak hilang. Sampai akhirnya Ambulans datang dan mengangkut Bima ke rumah sakit terdekat untuk melakukan pengobatan.


Pihak rumah sakit ingin mengoprasi lengan Bima, namun di tolak oleh Bima dan memilih untuk di perban saja. Setelah selesai di perban, Bima mengurus semua administrasi dan pulang.


Flashback End...


"Gitulah ceritanya." ucap Bima.


"Terus tanganmu gimana?" tanya Albert.


"Nanti biar aku obati sendiri." jawab Bima.


Saat sedang asik menceritakan tentang kecelakaan nya pada ketiga pria itu, Jennifer datang dengan niat ingin menanyakan tentang Bima, namun dia di suguhkan pemandangan Bima yang penuh perban dan kondisi lengan kirinya yang patah.


 "Astagaaa! kamu kenapa sayang?!" seru Jennifer menutup mulutnya.


"Cuma kecelakaan kecil kok, santai saja." jawab Bima santai.


Jennifer langsung duduk di samping Bima dan mengecek luka di tangan Bima dan kepala Bima.


"Ayo ke kamar." ajak Jennifer menggandeng tangan kanan Bima.


"Aku mau makan dulu, laper." ucap Bima.


"Nanti!" ucap Jennifer tegas.


"Baiklah..." jawab Bima kecewa.


Bima pergi ke kamar, sesampainya di kamar Jennifer langsung membuka perban di tangan Bima untuk mengetahui seberapa parah lukanya.


"Sampai bengkok lho buy! kamu ini nyepelein banget!" ucap Jennifer ingin marah namun tidak bisa.


[Maaf bos! aku tertawa! hahahaha....sialan! lucu sekali!]


"Udah, nanti aku sembuhin sendiri, kamu turun ke bawah aja." ucap Bima.


"Kamu kenapa maksain banget! permintaan Adel jangan di turuti terus! jadi manja nanti! udah besok kita pindah ke Jakarta Selatan aja! kamu gak usah cari Mansion lagi!" ucap Jennifer.


"Terserah kamulah." ucap Bima.


"Udah sana kalau mau mandi! aku mau buatin makan malam." ucap Jennifer pergi meninggalkan Bima.


"Lumayan ya sakitnya sialan!" gumam Bima kesal.


[Minum potion pemulih juga sembuh bos, tapi 3 hari ya]


"Yang penting sembuh total." ucap Bima lalu meminum sebotol potion penyembuhan tingkat Dewa.


Setelah itu Bima kembali membalut lengan kirinya dengan perban dan pergi keluar kamar.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2