
Setelah menutup rapat, Bima pun pergi ke ruang TV untuk lanjut menonton TV.
"Mau makan apa buy?" tanya Jennifer.
"Apa adanya aja, terserah kamu mau masak apa." jawab Bima.
"Okey." ucap Jennifer dan pergi ke dapur.
'Jadi gak pd gini ya aku bob, sialan!' batin Bima kesal.
[Kau sudah lama tidak bertarung secara all in bos, jadi wajar kau ragu dengan kemampuanmu sendiri]
'Masuk akal jawaban mu.' ucap Bima.
Tak lama kemudian, Julian ikut duduk menonton TV bersama Doni.
"Kau kenapa?" tanya Julian aneh dengan raut wajah Bima.
"Enggak, cuma agak grogi aja. Udah lama banget gak gelud." jawab Bima.
"Bawa santai aja, lagian besok lawannya juga enggak sekuat itu." ucap Julian.
Bima hanya mengangguk pelan dan fokus menonton TV. Sampai akhirnya jam makan malam pun datang, mereka mematikan TV dan segera pergi ke ruang makan.
"Indah mana jul?" tanya Bima saat menyadari tidak ada Indah di sana.
"Di kamar, ini aku mau ambilin makan buat dia." jawab Julian yang memang sedang menyendok beberapa makanan.
"Bentar lagi berarti nak, kamu jangan pergi pergi dulu deh." ucap Diana.
"Kata dokter masih seminggu bunda." jawab Julian.
"Firasat bunda besok nak." ucap Diana.
"Udah ah bun, aku mau anter makanan dulu." ucap Julian berlalu pergi.
"Besok kamu larang dia ikut bim, kasihan Indah gak ada yang temenin." ucap Berliana.
"Udah Bima larang mah, cuma dianya batu banget." jawab Bima.
"Susah tante kalau udah gitu, ijul kalau udah bilang ikut susah di cegah." ucap Riski.
"Besok harus standby di kamarnya Indah berarti." ucap Berliana.
"Iya, mobil harus siap 24 jam." ucap Diana.
Mereka makan malam bersama dengan perbincangan asik, setelah selesai makan mereka pun kembali k kamarnya masing-masing untuk istirahat.
"Buy." panggil Jennifer pada Bima yang sedang asik bermain ponsel.
"Kenapa?" jawab Bima menengok.
Jennifer nyengir sambil memainkan jari telunjuknya. Bima yang paham pun menganggukkan kepala dan mereka berdua pun melakukan olahraga panas di atas ranjang dengan harapan di berikan momongan.
4 ronde mereka bergulat di atas ranjang sampai Jennifer lemas tidak bisa berdiri.
"Udah buy, lemes bangett..." ucap Jennifer membelai pipi Bika dengan lembut.
"Iya iya, bobok ya." jawab Bima mengecup kening Jennifer dan memeluknya.
'Semoga jadi ya Tuhan.' batin Bima.
[Amin..]
'Aku akan berdoa 7 hari 7 malam di rumah ibadah bos!' ucap Kong di ikuti anggukan Zhong, dan Grock.
Bima hanya tersenyum lalu menutup matanya untuk mencoba tidur.
__ADS_1
Keesokan harinya, setelah mandi dan berpakaian lengkap ala Hunter, Bima pun pergi keluar untuk sarapan.
"Buy..." panggil Jennifer yang sedari tadi masih bermalas-malasan di atas kasur.
"Kenapa? udah jam berapa ini?" tanya Bima.
"Kamu anterin Adel ya, aku masih lemes banget buy." jawab Jennifer.
"Ya udah, nanti aku anterin Adel dulu." ucap Bima.
"Makasih ya sayang." ucap Jennifer tersenyum senang.
"Kamu istirahat aja." ucap Bima.
Setelah itu Bima pun keluar kamar untuk sarapan bersama.
"Ibu dimana ayah?" tanya Adel yang sedang asik makan.
"Ibu sedang tidak enak badan, nanti ayah yang antar." jawab Bima ikut duduk dan mengambil makanan.
"Yeyy!" seru Adel senang.
Setu persatu penghuni rumah keluar untuk sarapan bersama supaya bisa bersemangat melakukan aktivitas.
"Berangkat jam berapa bim?" tanya Julian.
"Habis sarapan kita gas, aku nganterin bocil ini dulu." jawab Bima.
"Kita duluan aja berarti, nanti kita tunggu di warung bu Sri." ucap Riski.
"Gitu juga boleh." jawab Bima.
"Kamu tau jalan kan bert?" tanya Henry.
"Kau pikir aku anak TK? aku sudah bertahun-tahun berkeliling di kota ini untuk urusan bisnis!" jawab Albert kesal.
"Cih!" dengus Albert kesal.
Selesai sarapan, Bima, Albert dan Henry langsung berangkat mengantar Adel dengan pakaian khas seorang Hunter dan jubah baru mereka.
"Ayah, guru Adel ada yang tampan lho, sangat tampan dan baik sekali! dia sangat perhatian dengan Adel!" ucap Adel bercerita.
"Oh ya? siapa namanya?" tanya Bima yang memangku Adel.
"Namanya Haikal yah, biasanya Adel memanggilnya kak Haikal." jawab Adel.
"Biasanya Adel pulang jam berapa?" tanya Bima.
"Jam 12 sudah pulang ayah, tapi Adel mau main dulu bersama teman-teman sampai puas. Biasanya jam 3 baru Adel mengajak ibu pulang." jawab Adel.
"Kok kemarin Adel pulang jam 5? apa karena macet?" tanya Bima.
"Tidak, jalanan longgar ayah, cuma kemarin itu Adel bersama ibu di ajak kak Haikal makan dulu dan mampir ke rumahnya. Ayah tau, ibu kak Haikal sangat baik! Adel di beri berbagai makanan dan di buatkan es sirup yang banyak!" jawab Adel yang bercerita dengan sangat semangat.
"Wahhh, pasti enak ya kemarin." ucap Bima tersenyum bahagia, di otaknya tidak terbesit pikiran cemburu dan sebagainya sedikitpun.
"Di depan belok kiri paman! kalau lurus itu jalan buntu! kemarin ibu nyasar ke sana!" ucap Adel.
"Baiklah." jawab Albert.
Setelah perjalanan panjang, akhirnya mereka sampai di PAUD tempat Adel belajar. Bima mengantar Adel sampai di gerbang dan memberikan uang jajan.
"Maaf ya sayang, ayah cuma bisa mengantar sampai sini." ucap Bima.
"Tidak apa apa ayah, Adel sudah sangat senang bisa di antar ayah ke sekolah!" jawab Adel.
"Ini untuk jajan ya, belikan teman temanmu jajan juga kalau mereka tidak punya uang. Ayah berangkat dulu." ucap Bima memberikan uang seratus ribu pada Adel.
__ADS_1
"Hati hati ya ayah! jaga diri ayah!" ucap Adel mencium tangan Bima lalu berlari masuk.
Bima melambaikan tangannya lalu pergi kembali ke mobil dan berangkat ke Asosiasi. Di tengah perjalanan, ponsel Bima berdering keras.
"Halo jul, kenapa?" ucap Bima mengangkat telepon dari Julian.
"Aku tunggu di warung bu Sri, buruan." jawab Julian.
"Otw, tunggu situ bentar." ucap Bima.
"Yoo..." ucap Julian lalu mematikan telepon.
"Aku tidak pakai topeng bagaimana?" tanya Henry tiba tiba.
"Jangan bodoh, topeng itu identitas guild." jawab Bima.
"Ini kaku! aku benci pakai yang kaku kaku!" ucap Henry kesal.
"Pakai punyaku, aku masih ada beberapa." ucap Bima melemparkan topengnya.
Henry mencoba memakai topeng milik Bima dan tersenyum senang karena nyaman dengan topeng tersebut.
"Nahh! ginikan enak!" ucap Henry senang.
"Merepotkan." ucap Bima kesal.
"Kau baru sadar?!" tanya Albert kesal.
Setelah 30 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di warung Bu Sri yang jaraknya hanya beberapa menit dari Asosiasi.
"Lah! kalian pake hitam?!" tanya Bima kaget.
"Kau ketua, jadi harus beda bodoh!" jawab Albert.
"Bukannya keren malah malu bodoh!" ucap Bima kesal.
"Sudah! ayo cepat!" ucap Riski yang sudah tidak sabar.
Mereka pun berangkat ke Asosiasi bersama-sama, sesampainya di parkiran mereka pun turun dengan memakai topengnya masing-masing.
Bima turun dari mobil dan memakai topeng barunya yang langsung mengeluarkan aura yang sangat mengerikan.
"Kek dajjal anjir!" ucap Riski menunjuk mata di dahi Bima.
"Iya anjink!" ucap Bima melepas topengnya dan memakai topeng yang lainnya.
"Ayo." ajak Bima memimpin jalan.
Mereka pun berjalan menuju gedung utama untuk menemui Wilson terlebih dahulu. Beberapa kali mereka di foto oleh berbagai wartawan dari banyak stasiun televisi.
Berbagai drone juga beterbangan untuk meliput secara live dimulainya sejarah baru Guild Legendaris. Walaupun begitu, suasana di halaman Asosiasi terasa sangat mencekam karena aura dari tim Senior yang sangat mendominasi.
Sesampainya di gedung utama, Bima dan kawan-kawan langsung di sambut oleh Wilson, Leon, dan Billy yang terus menunjukkan senyumannya.
"Selamat pagi." ucap Wilson tersenyum.
"Pagi." jawab Bima menganggukkan kepala.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Billy menepuk-nepuk pundak Bima.
"Baik kek." jawab Bima.
"Bagus bagus, ayo kita lihat portalnya." ucap Billy memimpin jalan keluar gedung.
Bersambung.....
__ADS_1