
30 menit kemudian, Billy datang bersama asistennya dan Andi serta kedua adiknya. Mereka dibuat kaget melihat keadaan Kevin dan kawan-kawan yang berlumuran darah serta banyak sekali luka lebam di sekujur tubuh.
"Kau, kemari." panggil Bima pada asisten Billy.
"Ada apa tuan muda?" tanya Alvin santai.
"Kau yang memberi barang barang haram ini?" tanya Bima balik.
"B-betul tuan muda." jawab Alvin merinding melihat siluet Dewa Rubah di belakang tubuh Bima.
"Apa tujuanmu?" tanya Bima dingin.
"S-supaya anak didik saya di guild The Force di lirik tuan muda." jawab Alvin.
"Kau cukup anjink ya." ucap Bima tak bisa berkata-kata lagi.
"M-maafkan saya tuan muda." ucap Alvin bergetar ketakutan.
Woshhhh...
Buaghhhh....
Bima bergerak sangat cepat, dia mendaratkan tendangan keras tepat di dada Billy yang membuatnya terpental jauh.
"Kakek tua bau tanah, apa pemilihan asisten dulu kau lakukan dengan mata tertutup?" tanya Bima berjongkok di hadapan Billy.
"A-aku tidak tau latar belakangnya." ucap Billy tergagap.
"Aku tega loh membunuh semua orang di sini kecuali istriku, kau mau lihat?" ucap Bima berdiri mengeluarkan sepasang pedang Yin Yang.
"Kamu terlalu berlebihan, selesaikan masalah dengan tenang. Kalau kamu di kelilingi amarah, semua masalah tidak akan pernah selesai." ucap Aulia muncul di depan Bima dengan mata Tenseigan yang hampir sama kuatnya dengan mata Rinnegan.
"Hah! sial!" ucap Bima memalingkan wajahnya.
[Berbahaya sekali mata itu bos!]
"Stop atau tidak?" tanya Aulia mengeluarkan aura ratu Roh Sihir miliknya yang membuat tanah bergetar hebat.
Aura Aulia bergesekan dengan aura milik Bima yang membuat tanah bergetar dan memunculkan siluet Dewa Dewi yang berseteru.
"Ck! iya!" jawab Bima mengalah.
"Sabar, tenang, dan kuasai." ucap Aulia tersenyum.
Bima menghela nafas panjang lalu berjalan ke depan teman-temannya yang sedang duduk lemas.
"Pegang kata-kata ku, sekali lagi kalian melakukan ini, jangan salahkan aku jika kepala kalian terpisah dari tubuh." ucap Bima dengan tatapan tajam.
"Minum ini." ucap Bima melemparkan 7 potion penyembuh sekaligus penawar dari kecanduan hal hal buruk.
Bima pergi begitu saja diikuti Aulia, keduanya pulang ke rumah tanpa berpamitan. Sesampainya di rumah, Bima langsung terduduk di sofa ruang TV dengan rasa lelah.
"Mau minum? es atau anget?" tanya Aulia menawarkan.
"Air putih dingin aja." jawab Bima.
"Tunggu bentar." ucap Aulia bergegas mengambilkan minum untuk suaminya.
Tak lama, Aulia datang membawa segelas air putih dingin, dia menyodorkan segala air itu pada Bima. Bima meminumnya sampai habis, barulah hatinya bisa tenang.
"Sabar, hadapi dengan tenang." ucap Aulia duduk di pangkuan Bima dan memeluknya dengan penuh kasih sayang.
"Susah, ini menyangkut kebiasaan. Aku gak mau mereka mati konyol gara gara barang bodoh itu." ucap Bima lirih.
__ADS_1
"Aku paham sayang, tapi yang kamu lakukan pada kakekmu tadi sudah sangat salah. Apalagi ada beberapa media yang meliput lewat drone." ucap Aulia.
"Aku udah bodo amat sama media media, aku dah gak mau mikirin mereka." ucap Bima.
"Iya iya, udah lupain aja." ucap Aulia berusaha menenangkan Bima.
Hari berlalu begitu cepat, sampai satu minggu kemudian Bima kembali berkunjung ke basecamp setelah meredakan amarah dan rasa kecewanya.
Kali ini Bima datang sendirian karena Aulia sedang males keluar dan ingin nonton drakor saja. Bima masuk ke dalam basecamp yang ternyata sudah ada beberapa wartawan di sana.
[Wah, sepertinya akan terjadi mimpi buruk bos]
'Apa maksudnya?' tanya Bima aneh.
[Buntut dari kau yang menendang kakekmu, tapi kita lihat saja lah]
'Bob aneh! huuuu!' teriak Kong kesal.
[Sssttttt!]
"Bisa kita sudahi sesi wawancara ini? ada tamu." ucap Doni.
"Hey! lihat siapa yang datang!" teriak salah seorang pemuda yang langsung memotret Bima yang sedang berdiri bersandar di pintu.
"Wahh, lihat! si sampah datang juga!" seru orang tadi yang langsung mendapatkan bogem mentah dari Julian.
"Perg!" teriak Julian.
Semua wartawan langsung kabur dengan rasa ketakutan yang tinggi.
"Maaf sudah menunggu." ucap Doni tersenyum canggung.
"Santai." jawab Bima santai.
Bima berjalan masuk dan duduk di sofa ruang TV, Bima menghela nafas berat karena baru paham apa yang sistem maksud dengan mimpi buruk.
"Kita udah berhasil stop bim, kita juga udah sumpah gak lagi lagi nyentuh barang haram itu." ucap Kevin.
"Syukur kalau gitu, aku ikut seneng." ucap Bima tersenyum tipis.
"Soal wartawan tadi-" Kevin belum selesai bicara, Bima langsung memberikan kode untuk tidak membicarakan itu.
"Buka berita." ucap Bima singkat.
Riski dengan cepat langsung menghidupkan TV, dia mencari channel yang khusus untuk berita nasional serta internasional.
Berita mengumumkan bahwa Abimanyu Abraham menjadi buronan Nasional karena sudah berani menyakiti Kepala Asosiasi Hunter Nasional dengan cara menendang dadanya.
Bima juga resmi menjadi buronan Internasional karena Billy baru saja resmi menjadi kepala Asosiasi Hunter Internasional, Bima akan di jatuhi hukuman mati jika tertangkap.
Semua ini di umumkan oleh pasukan Khusus yang menjaga keamanan Billy, hukuman resmi ini bukanlah Billy yang menjatuhkan, tetapi sebuah Organisasi yang bernama Lembaga Hukum, Organisasi ini bergerak dalam menentukan semua hukuman pada orang yang berani macam macam dengan kepala Asosiasi.
Bima tersenyum tipis, dia tidak menyangka kalau jalannya akan di jegal oleh masalah sebesar ini. Kecewa? tentu saja, Bima sudah beberapa kali mempertaruhkan hidupnya demi menyelamatkan bumi.
Tapi? inikah balasannya?...
'Mungkin ini rintangan yang harus aku lalui.' batin Bima masih bisa menerima.
'Kita jalani bersama bos! aku tidak akan meninggalkan tuan yang paling aku sayangi walaupun seberat apapun masalahnya!' ucap Kong penuh ketegasan.
'Kau yakin?' tanya Dexter.
'Tidak.' jawab Kong menggelengkan kepala.
__ADS_1
Bugh..
Dexter menepuk punggung Kong keras dengan wajah kesal bercampur jengkel.
'Iya deng bos! aku yakin 1000000% persen!' ucap Kong langsung meralat ucapannya.
'Sialan kau.' ucap Bima terkekeh pelan.
'Kau tenang saja tuan! aku dan teman-teman ada di sini! kami akan terus berada di sampingmu! menyemangati! mendukung! membantu! semua akan kami lakukan!' ucap Drago.
'Ya!' jawab mereka tegas.
Bima hanya tersenyum tipis namun sangat tulus, tidak seperti biasanya yang tersenyum lebar namun penuh kepalsuan.
[Ini belum puncaknya bos, kau tunggu saja, tapi tenang, aku akan tetap ada di sini, jangan khawatir]
"Gimana ini bim?" tanya Rizal khawatir.
"Kenapa? yang jadi buron aku, kalian gak usah khawatir." jawab Bima santai.
"Kau kakakku, kalau kau jadi buron, aku juga sama." ucap Albert menatap tajam Bima.
"Benar kata dia, aku juga saudara mu, jadi aku juga harus merasakan apa yang kau rasakan sekarang." ucap Tigers.
"Kalian berdua ini terlalu bodoh." ucap Bima tersenyum tipis dan menggelengkan kepala.
"Apa yang kau maksud?" tanya Albert menatap Bima sinis.
"Kalian berdua adalah saudara ku yang tersisa, jadi mau bagaimana pun, aku tidak mau kalian kenapa napa, biar ini jadi masalahku sendiri. Kalian tak perlu ikut campur, kalian hiduplah dengan aman tentram. Jangan ikut merasakan yang kakak kalian rasakan." jawab Bima memejamkan matanya.
"Tapi..." ucap Albert lalu terdiam menatap lantai.
"Bima..sini nak, bunda mau bicara." ucap Aurora dengan mata sembab.
"Baik bunda." jawab Bima tersenyum manis.
Keduanya berjalan menuju ruang makan yang sudah di tunggu oleh Diana, Jhon serta Andi di sana.
"Maafkan paman nak, paman tidak bisa melakukan apapun." ucap Andi menunduk lesu.
"Paman, ini adalah rintanganku, paman tak perlu merasa bersalah. Ini sudah jadi takdirku." ucap Bima tenang.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin supaya kamu bisa bebas dari semua ini nak. Kami minta maaf karena tidak bisa membantu." ucap Jhon.
"Kau sudah menjadi ayah yang baik, sudah sepantasnya aku memanggilmu ayah. Terimakasih sudah berjuang ayah." ucap Bima tersenyum sangat tulus.
[Semangat bos!]
"Bunda tidak tega nak, kenapa takdir kamu seburuk ini?!" ucap Aurora sendu.
"Bunda, bunda tenang saja ya, Bima bisa jaga diri kok. Bunda gak usah khawatir sama keadaan Bima." ucap Bima mengelus punggung Aurora.
"Bima janji gak akan terluka." ucap Bima menghapus air mata Aurora.
"Janji?" tanya Aurora menatap Bima sendu.
"Janji." jawab Bima tersenyum.
"Pria harus menepati janjinya." ucap Aurora tersenyum tipis.
Bima mengangguk pelan, setelah itu Bima kembali bergabung dengan teman temannya di ruang TV. Mereka ngobrol santai sembari mendengarkan berita tentang Bima.
Bersambung.....
__ADS_1