King Of Universe

King Of Universe
Bab 45


__ADS_3

45;Keesokan harinya, saat bangun Bima menyadari kalau Aulia sudah tidak ada di tempat tidur. Bima mendengar suara gemericik air di kamar mandi, itu artinya Aulia sedang mandi, jadi Bima lanjut tidur karena sedang malas beraktivitas.


Tak lama, Aulia membangun Bima untuk segera mandi. Namun Bima tetap ingin tidur dan bermalas-malasan di atas kasur.


"Bangun sayang, dah siang ini." ucap Aulia.


"5 menit." jawab Bima.


"Gak ada ish! cepetan bangun!" ucap Aulia ketus.


"Malessss!" jawab Bima.


"Bangun gak?! atau mau aku siram air?!" ucap Aulia dengan nada tinggi.


"Iya iya!" jawab Bima ketus dan beranjak pergi memasuki kamar.


"Susah banget cuma suruh mandi! harus di ancem dulu!" omel Aulia sambil merapikan rambutnya.


Selesai mandi Bima menyusul Aulia turun ke bawah dengan pakaian biasanya yaitu celana kolor dan kaos hitam polos.


"Wahhh, tumben bangun pagian nak." ucap Aurora.


"Di ganggu!" jawab Bima ketus.


"Lagian tidur kayak kebo! kebiasaan!" ucap Aulia ketus.


"Udah udah, sini nak bantu bunda masak." ucap Aurora memanggil Aulia.


Aulia pergi ke dapur membantu Aurora, Lina, bi Siti, dan Diana memasak, sedangkan Bima pergi ke ruang TV untuk menonton kartun yang tayang setiap pagi.


Satu persatu teman-teman Bima turun ke bawah dengan wajah segar. Mereka berkumpul di ruang TV join menonton kartun.


[Kau tidak ada niatan latihan bos? kemampuan mu saat ini masih bisa di maksimalkan lho]


'Belum ada niatan bob, gak ada mood.' jawab Bima.


[Baiklah bos]


"Gak ada niatan buat comeback ke dunia hunter?" tanya Kevin.


"Moodku lagi buruk vin, gak enak ngapa ngapain." jawab Bima malas.


"Yang lain gimana?" tanya Kevin.


"Gas aja sih, tapi pakai identitas baru ya." jawab Doni.


"Usul dong, jangan cuma nurut nurut doang." ucap Kevin.


"Usul apa?" tanya Rizal.


"Nama guild atau nama squad gitu." jawab Kevin.


"Pikir nanti aja, habis makan. Buntu aku kalau belum makan." ucap Julian.


"Okelah kalau gitu." jawab Kevin setuju.


Tak lama Diana memanggil mereka untuk sarapan. Diana juga ingin berbicara serius dengan mereka, menyampaikan pesan dari Billy.


"Semalam kakek Bima berpesan pada bunda, kalian di tawari untuk menjadi tim khusus spesialis pembersih portal. Kalau kalian setuju, besok kalian di suruh ke Asosiasi buat tekan kontrak." ucap Diana membuka percakapan.


"Tuh vin, dah ada jalannya." ucap Riski.


"Gimana bim?" tanya Kevin pada Bima yang sedang asik menikmati makanan dengan di suapi Aulia.


"Terima aja, tapi aku belum bisa ikut, lagi males sekaligus penyesuaian kekuatan." jawab Bima.


"Kalau gak ada kau bisa berantakan bim, kau itu otak serangan dari kita, otak komunikasi." ucap Kevin tak terima.


"Ada Albert sama Tigers, mereka bisa ikut juga." jawab Bima.


"Gak ada kau aku gak ikut." ucap Albert datar.


"Aku gak pinter berkomunikasi." tambah Tigers.

__ADS_1


"Suruh kakek ke sini saja! repot! nanti Bima pikirkan jalan keluarnya!" ucap Bima kesal.


"Nanti bunda hubungi kakekmu." ucap Diana.


'Manja sekali orang-orang bodoh ini bos.' ucap Zhong.


'Begitulah!' jawab Bima kesal.


"Kalau sekiranya tidak sanggup di tolak saja, dari pada menimbulkan masalah." saran Aulia.


"Mereka udah on, susah di cegah." ucap Bima.


Aulia menghela nafas berat dan lanjut menyuapi Bima dengan telaten. Mereka tidak melanjutkan pembicaraan dan fokus makan.


Setelah sarapan, Aulia mengajak Bima berbicara empat mata di halaman belakang.


"Kenapa?" tanya Bima membakar rokoknya sambil menikmati pemandangan indah di taman.


"Aku minta maaf." jawab Aulia menunduk lesu.


"Kenapa? memangnya kamu punya salah?" tanya Bima bingung.


"Maaf karena belum bisa melayani kamu seperti seorang istri yang baik." jawab Aulia.


"Kamu sudah melakukannya dengan baik kok, cuma akunya saja yang belum bisa menerimamu sepenuhnya. Bayang bayang masa lalu masih terus menghantui aku. Kamu sudah melakukan yang terbaik di mataku." ucap Bima mengusap pucuk kepala Aulia.


"Kalau kamu masih belum bisa melupakan masa lalumu, kenapa kamu mau menerimaku? jahat sekali hatimu." ucap Aulia mulai menangis.


"Maaf, aku sudah menjadikanmu pelarianku, aku menikahimu supaya aku bisa putus dari masa laluku. Aku pikir lari dari masa lalu itu mudah, tapi ternyata tidak semudah seperti yang aku pikirkan. Bodoh sekali..." ucap Bima tersenyum tipis.


"Aku tidak bisa kalau harus seperti ini." ucap Aulia.


"Mau kamu bagaimana? aku akan mengabulkannya." tanya Bima melirik Aulia yang terus menundukkan kepala.


"Aku mau pindah, aku mau kita tinggal di rumah kita sendiri. Aku mau membantu kamu lepas dari masa lalu kamu." jawab Aulia memeluk Bima erat.


[Aku ada rumah bos! aku berikan padamu free!]


'Tumben kau baik bob?' tanya Kong curiga.


"Kenapa kamu sudi melakukannya?" tanya Bima heran.


"Karena hanya kamu yang mau menerimaku, menerima semua masa laluku yang sangat kelam dan menjijikkan. Aku tidak akan melepasmu semudah itu, aku akan berjuang untuk rumah tangga kita ini." jawab Aulia.


"Baiklah kalau itu pilihanmu, tapi aku minta maaf kalau aku kurang romantis atau kurang mesra. Aku bukan tipe pria yang seperti itu." ucap Bima.


"Tidak apa apa, aku juga kurang suka pria seperti itu." jawab Aulia menatap Bima dengan senyuman indah.


Bima mengecup kening Aulia, Aulia mulai menghapus memori memori indah tentang Zoya di hatinya. Aulia seperti obat bagi Bima yang terluka, Bima sangat bersyukur bisa di jodohkan dengan wanita sesempurna Aulia ini walaupun harus menelan mentah-mentah masa lalu Aulia yang sangat kelam.


Keduanya bercerita tentang banyak hal di halaman belakang sembari menikmati pemandangan indah bunga bunga di sana. Bima juga curhat tentang moodnya yang sedang hancur entah karena apa, Bima bercerita kalau dia merasa tidak enak melakukan apapun itu.


"Kita liburan saja, sekalian honeymoon, mood kamu itu rusak karena kamu yang tidak pernah berlibur menenangkan pikiran. Mungkin dengan bersenang-senang mood kamu bisa kembali dan kamu bisa lebih bersemangat." ucap Aulia.


"Iya juga sih, di itung itung udah hampir 7 tahun aku gak pernah refresing." ucap Bima setuju dengan saran Aulia.


"Berarti itu inti masalahnya, kamu bisa buat jadwal liburannya, mumpung kita lagi free juga." ucap Aulia.


"Nanti aku tanya ke tante Lina tempat yang cocok untuk liburan ya, kamu siapin aja barang barangnya." ucap Bima.


"Okey! aku tunggu kabarnya ya." jawab Aulia senang.


Bima tersenyum lebar dan bermanjaan dengan Aulia, layaknya anak kecil yang sangat membutuhkan belaian sosok ibu. Aulia hanya tersenyum senang melihat tingkah Bima yang layaknya seperti anak kecil itu.


Keduanya berbincang-bincang sembari bermanjaan di taman sampai siang dan Billy sudah datang bersama keluarganya.


"Sayang! kakekmu datang nak!" teriak Aurora dari depan pintu dengan senyuman lebar melihat kemesraan pasangan itu.


"Iya bun!" jawab Bima langsung beranjak pergi diikuti Aulia.


"Bunda mau masak apa?" tanya Aulia.


"Aku request semur daging!" ucap Bima semangat.

__ADS_1


"Nanti aku masakin spesial buat ayang." jawab Aulia.


"Wohoo! maacih!" ucap Bima mencium pipi Aulia penuh kegembiraan.


"Seadanya aja di kulkas, nanti kalau kurang bahan ya belanja di minimarket." ucap Aurora menggelengkan kepala melihat tingkah laku Bima.


"Ohh, ya udah kalau gitu, nanti kalau mulai masak panggil aul aja." ucap Aulia.


"Iya, bunda masih mau santai bentar." jawab Aurora.


Bima pun pergi meninggalkan keduanya menemui Billy dan kawan-kawan nya yang sudah menunggu di ruang tamu.


"Yooo!" sapa Bima mencium tangan Billy dan Alena.


"Udah sehat kamu nak." ucap Alena senang.


"Jelas! anak kuat gak boleh kelamaan sakit!" jawab Bima dengan senyuman lebar.


"Gimana tawaran kakekmu? kamu terima atau tidak?" tanya Andi langsung.


"Sebelumnya mohon maaf kek, paman, untuk aku masih belum bisa menerima. Tapi tidak tau dengan mereka." jawab Bima.


"Kenapa? soal bayaran? atau apa?" tanya Billy heran.


"Ini soal mood kek, tidak ada lagi semangat menjadi hunter, melihat senjata saja rasanya mual kek. Ini asli ya bukan main main." jawab Bima.


"Begitulah kalau terlalu push latihan, bodoh." ucap Albert datar.


"Dia anak siapa sih?! selalu membuat kesenanganku hancur! sialan!" ucap Bima kesal.


"Anaknya pak Adrian." jawab Albert tanpa ekspresi.


"Udah udah! malah berantem!" ucap Tigers menahan Bima yang terlihat sangat kesal.


"Dasar adik sialan!" ucap Bima ketus.


"Terus kalau kau gak terima ini, kau mau ngapain bim?" tanya Kevin aneh.


"Nganggur, aku juga mau liburan sama Aul biar semua semangatku balik. Kau tau? otakku benar-benar bumpet! mikir latihan lah, kekuatan lah, ini lah, itulah, semuanya bikin puyeng!" ucap Bima kesal.


"Gini aja deh vin, aku ada saran nih." ucap Doni.


"Apa? ayo bicara." tanya Bima mendengarkan dengan serius.


"Kau tetap masuk tim, tapi kau bisa libur dulu sampai mental, fisik, sama kejiwaanmu sehat. Berbulan-bulan juga gak papa, asal kau bisa di mintai pendapat tentang kekurangan formasi kita." jawab Doni.


"Bebanmu terlalu berat di dunia ini, jadi aku gak mau kita satu tim terlalu memberatkan kau, gak usah kekuatan bim, usul, saran, pendapat, evaluasi, semua itu udah membantu tim ini." lanjut Doni.


"Kunci dulu usulan Doni, yang lain gimana? ada usul?" ucap Bima.


"Usul Doni udah paling bener bim, sekarang itu masalahnya apa kekuatan kita ini sudah lebih dari cukup? kenapa aku bilang gini? soalnya sepanjang kita berjuang bersama, cuma kau yang paling menonjol dan selalu melindungi kita." jawab Rizal.


"Busuk sih." ucap Bima kembali berpikir keras.


Saat Bima sedang berfikir keras, memaksimalkan kapasitas otak kecilnya, Aulia datang membawakan minuman dan beberapa camilan yang di bawa oleh Aurora.


"Gak usah di paksain yang, kalau di rasa tidak meyakinkan, tolak aja. Bebanmu terlalu berat, semua ini gak harus ada kamu, semua bukan urusan kamu." ucap Aulia.


'Saran Bob! anjink! buntu banget aku!' ucap Bima.


[Bagaimana ya bos, yang di katakan nona Aulia ada benarnya]


"Buntukan?" tanya Aulia tersenyum manis.


"Soal kekuatan nanti aku utus beberapa pasukan bayanganku buat backup kalian. Biar kalau lagi terpojok bis langsung di bantu. Dah gitu aja." ucap Bima sudah benar-benar buntu.


"Silahkan di nikmati." ucap Aulia beranjak pergi.


"Udah yakin?" tanya Andi agak ragu.


"Iya!" jawab Bima memegangi kepalanya yang berasa ingin pecah.


"Besok pagi ke Asosiasi, tanda tangan kontrak sekaligus buat kartu member." ucap Billy.

__ADS_1


'Sampah sekali! urusan sereceh ini saja sudah buntu! bagaimana kalau datang masalah besar lainnya secara bersamaan!' batin Bima merutuki dirinya sendiri.


Bersambung.....


__ADS_2