
Di alam bawah sadarnya, Bima sedang melamun di bawah pohon rindang yang sangat sejuk dan menenangkan pikirannya. Sampai seorang pria tampan penuh wibawa dengan pakaian serba hitam datang menghampiri Bima.
"Ada orang lain ternyata." ucap Bima tersenyum.
"Iya, kamu Bima?" tanya pria itu tersenyum dan duduk di samping Bima.
"Iya paman, nama paman siapa? kok bisa ada di sini?" tanya Bima.
"Aku Adrian, ini dimensi milikku, harusnya aku yang bertanya begitu hahaha...." jawab pria bernama Adrian itu.
"Oh? iyakah? aku tidak tau paman, tiba tiba aku ketarik kesini aja hehehe...." ucap Bima terkekeh.
"Kamu tau kenapa aku menarikmu?" tanya Adrian.
"Tidak paman." jawab Bima.
"Aku mau mempererat hubungan antara ayah dan anak, kau pasti bingung pada ucapanku barusan hahaha..... Begini nak, kamu itu keturunan asli ku, ayah yang mengaku sebagai ayah kandungmu di dimensi Surgawi itu hanya bawahan ku saja. Akulah ayah kandungmu, Raja Surgawi yang sebenarnya, penguasa jagat raya yang sebenarnya." ucap Adrian menjelaskan.
"Aihh cerita ini lagi! aku sudah muak paman!" ucap Bima kesal.
"Ini asli nak, aku tak bisa melatihmu karena aku masih di dalam sebuah pemerintahan yang tak bisa di tinggalkan. Maafkan aku karena sudah memindah mindahkan jiwamu sesuka hatiku." ucap Adrian.
"Santai saja, lagian aku juga enjoy kok." jawab Bima tersenyum.
"Haihhh, senang bisa ngobrol denganmu nak, beberapa hari lagi aku pensiun, kita akan kembali bertemu di alam Surgawi milikmu itu. Aku akan tinggal di sana karena setelah aku pensiun wujudku bukan sebuah raga, tapi roh." ucap Adrian.
"Benarkah?" tanya Bima senang.
"Benar, kita bisa ngobrol sepuasnya di sana besok." jawab Adrian mengelus kepala Bima layaknya seorang ayah pada umumnya.
"Oh iya, aku mau bertanya, bagaimana nasib bunda? aku kasihan padanya ayah." ucap Bima.
"Nahh itu dia! aku lupa! Nikahi dia nak, karena sejatinya dia bukan ibu yang melahirkan ragamu, dia hanya ibu dari jiwamu. Jadi kalian tidak akan melakukan hubungan sedarah, lagipun darah di tubuhmu juga bukan darah daging ayah dan ibumu. Tubuhmu itu darah daging Berliana dan Austin, jadi santai aja." jawab Adrian.
"Tapi ayah, bunda sudah ada di hatiku sejak lama, bukan sebagai kekasih, tapi seorang ibu yang sudah lama aku impi impikan." ucap Bima.
"Perlahan tapi pasti nak, jalani dulu, dari pada dia kembali ke masa lalunya? ayah lebih rela dia jadi milikmu daripada harus melihatnya ke dunia gelap." ucap Adrian.
"Aku pikir pikir dulu, hubungan tanpa ada landasan perasaan itu tidak enak ayah." ucap Bima.
"Sudah sudah, kemari, penyakit misteriusmu itu biar ayah sembuhkan." ucap Adrian.
"Iya, itu! itu penyakit apa ayah? sistem yang katanya terkuat dan tau segalanya saja tidak tau." ucap Bima.
"Kamu ceroboh, lain kali seimbangkan tubuh dulu baru serap energi lain. Jangan baru menyerap satu energi, terus kamu serap energi lainnya. Berbahaya bagi kesehatan mu di masa yang akan datang." jawab Adrian mulai mengobati penyakit Bima.
5 menit kemudian, prosesnya pun selesai tanpa ada rasa sakit yang Bima rasakan.
"Sudah beres! kamu kuat! hebat!" ucap Adrian menepuk-nepuk punggung Bima.
"Terimakasih ayah, lega rasanya." ucap Bima merasa lebih enteng dan lebih berenergi.
"Setelah ini, lakukan regenerasi tubuh, kalau sudah pulih 100% kamu ajak Naga penguasa lakukan kontrak abadi. Dia adalah beast milik ayah yang memang ayah tugaskan untuk mengukur kekuatanmu." ucap Adrian.
"Wahh! aku di kerjai!" ucap Bima kesal.
"Hahahaha...sudah ya, kamu ayah kembalikan ke ragamu, sampai jumpa lagi ya." ucap Adrian tertawa keras.
"Iya ayah, aku tunggu kedatanganmu ya! sampai jumpa!" ucap Bima tersenyum bahagia.
Seketika pandangan Bima berubah menjadi ruangan putih dengan bau obat obatan uang sangat menyengat. Bima menengok ke samping kanan kiri yang ternyata sudah terdapat Austin, 4 sahabatnya, dan Billy beserta keluarga.
__ADS_1
"Pah, bisa bantu aku duduk." ucap Bima mengagetkan Austin yang sedang asik ngobrol dengan Billy.
"Ehh, sudah sadar! syukurlah! sini papah bantu duduk." ucap Austin membantu Bima duduk secara perlahan.
"Mati rasa kakiku." ucap Bima meringis menahan rasa sakit di dadanya.
"Minum bim?" tanya Kevin.
"Boleh." jawab Bima.
Kevin mengambilkan segelas air putih hangat yang langsung di teguk Bima sampai habis.
"Dada ya?" tanya Kevin.
"Iya, nyeri nyeri sesek." jawab Bima mengangguk.
"Ketusuk besi soalnya, agak dalem sih emang, tapi gak sampe bikin goresan di organ mu." ucap Kevin.
"Dahlah, ntar juga sembuh." ucap Bima menghela nafas berat.
'Curut ini mau kita apakan bos?!' tanya Kong menujuk Naga Penguasa yang sudah tersadar dari pingsannya.
'Biarkan saja, nanti mau aku ajak kontrak abadi.' jawab Bima.
'Padahal menu makan enak bos! aihhh gagal pesta kita Grock!' ucap Kong.
'Sayang sekali...' ucap Grock kecewa.
'Besok aku carikan menu lain.' ucap Bima.
'Hahaha....pesta kita tunda Grock! kita tunggu pasokan pangan kita!' ucap Kong.
'Di tunggu bos!' ucap Grock semangat.
"Siapa pah?" tanya Bima merujuk pada pria di samping ibu tirinya.
"Namanya Brian, anak pertama mamah Diana." jawab Austin.
"Ohhh..." ucap Bima mengangguk menanggapi senyuman Brian.
"Kakiku mati rasa kenapa ya vin?" tanya Bima.
"Kau pakai Mode Yin Yang terlalu berlebihan di saat tubuh lemahmu sudah di batas kekuatannya." jawab Kevin.
"Ck! gini nih busuknya latihan pakai jiwa." ucap Bima kesal.
"Hahaha....makanya aku gak mau kalau di ajak latihan pakai jiwa." ucap Julian tertawa.
Saat sedang asik ngobrol, tiba-tiba pintu ruangan terbuka dengan kasar dan masuklah Berliana yang langsung menubruk tubuh Bima yang masih terluka parah.
"Ehh ehh..Berlin! Bima masih luka!" teriak Alena panik.
Berliana dengan cepat melepas pelukannya dan merasa sangat bersalah.
"Uhuk...uhuk..." Bima batuk darah dan luka di dadanya yang kembali mengeluarkan darah segar.
"Panggil dokter!" ucap Austin panik.
Diana dengan cepat memencet tombol berkali-kali sampai datanglah dokter yang eksklusif memantau keadaan Bima selama 24 jam dengan panik bercampur khawatir.
"Kenapa bisa begini mas?!" tanya Dokter langsung memberikan pertolongan pertama yang di bantu oleh suster.
__ADS_1
"Banyak gerak dok, maaf maaf hehehe..." jawab Bima terkekeh.
"Jangan banyak gerak dulu mas, luka masih basah, rawan kena luka dalam." ucap Dokter.
"Udah gini aja dok, biar saya lanjutkan sisanya." ucap Bima menolak untuk di ganti perban.
"Yakin mas?" tanya Dokter ragu.
"Iyaa, santai aja dok." jawab Bima mengeluarkan potion tingkat dewa dengan efisiensi 100%.
"Kalau begitu saya tinggal ya, kalau ada masalah langsung pencet bel aja." ucap Dokter.
"Iya, makasih dok." ucap Bima.
Dokter bersama suster pun pergi keluar dari ruangan meninggalkan mangkuk yang berguna untuk Bima memudahkan darah.
"Cuih!" Bima memudahkan sisa darah di mulutnya, namun malah berkali-kali muntah darah sampai mangkuk di tangannya penuh diisi darah segar.
"Buat Array vin, anj*ng!" ucap Bima.
"Bantu jul." ucap Kevin.
"Array apa? 4 mata angin, penghalang, atau biasa?" tanya Julian.
"4 mata angin." jawab Bima sambil batuk.
Julian dan Kevin langsung membuat Array 4 mata angin yang menutupi tubuh Bima. Bima memaksa tubuhnya untuk duduk bersila lalu memejamkan matanya.
[Kau urus luka luarnya bos, biar aku urus luka dalamnya]
'Baiklah.' jawab Bima.
Bima langsung mengurus semua luka luarnya yang ternyata ada di semua bagian tubuhnya, bukan hanya di dadanya saja. Setelah 10 menit, tubuh Bima kembali bereaksi, Bima kembali memuntahkan banyak sekali darah sampai membuat baju dan selimutnya basah karena darah.
[Banyak nya bos! mandi dulu kau! habis itu tidur biar aku lebih mudah bekerja]
Bima membuka matanya lalu melepas semua baju yang dia pakai.
"Kau mau apa bodoh?!" tanya Kevin.
"Mandi blok!" jawab Bima ketus.
"Buruan! biar kasurnya di ganti suster." ucap Kevin.
Bima tak menjawab dan masuk ke kamar mandi, Bima membersihkan diri dari bercak darah. Setelah bersih Bima memakai baju yang di beli di toko sistem, setelah itu dia keluar dari kamar mandi dengan tertatih.
"Habis ini makan ya, mamah suapin." ucap Diana membantu Bima naik ke tempat tidur.
"biar aku saja! aku ibu kandungnya!" ucap Berliana.
"Gak usah ganggu deh, Bima cuma mau tenang! hidup Bima udah berat lohh!" ucap Bima kesal.
"Kamu kenapa jadi begini sih sayang? kenapa jadi benci sama mamah?" tanya Berliana sedih.
"Bima bukan benci pada mamah, tapi sangat benci dengan sifat mamah yang kayak anak kecil! nalarnya gak ada!" ucap Bima kesal.
"Udah udah! ayo pulang aja! rusuh kalau ada kamu!" ucap Billy menyeret Berliana.
"Maaf ya nak, perlakuan Berlin emang agak laen." ucap Alena.
"Iya." jawab Bima cuek.
__ADS_1
Alena pun pergi bersama Andi, Leon dan Wilson meninggalkan Austin, Brian dan sahabat Bima. Bima pun mulai makan dengan di suapi Diana dengan telaten. Selesai makan, Bima pun langsung tidur supaya sistem bisa melakukan tugasnya dengan maksimal.
Bersambung....