
Bima di bawa Adrian masuk ke dalam rumah, dia terus ditenangkan oleh ketiga istri Adrian, Amon dan Aron juga terus menyemangati Bima yang terlihat sudah tidak ada nafsu untuk hidup.
"Aku mau sendiri dulu, aku mau ke pinggir danau." ucap Bima beranjak pergi.
"Biarkan kak, dia butuh waktu, hatinya pasti sangat sangat hancur saat ini." ucap Smith.
"Benar tuan, biarkan dia sendiri untuk beberapa waktu." ucap Amon.
"Baiklah." jawab Adrian lirih.
Bima berjalan tanpa ada semangat hidup, dia duduk di atas baru besar tepat di pinggir danau besar di alam Surgawi.
"Mau mancing tuan? saya siap menemani." tanya Anubis tiba tiba muncul membawa dua buah alat pancing.
"Baiklah." jawab Bima menerima pancingan yang di bawakan Anubis.
"Aku gabung ya." ucap Dewa Amral tiba tiba muncul.
"Iya paman." jawab Bima menganggukkan kepala.
"Inilah tuan yang saya maksud tadi, tuan terlalu bodoh, tuan terlalu mudah di dekati untuk dimanfaatkan. Saya harap kejadian ini bisa membuat tuan sadar dan berubah." ucap Anubis.
"Benar katanya, kau terlalu mudah di peralat, kedepannya kau harus bisa memilih dan memilah mana yang baik untukmu dan yang buruk bagimu. Jangan muda terlena pada wajah cantik dan sifat baik. Kita tidak tau isi hati mereka." ucap Dewa Amral.
"Iya, aku akan berubah mulai sekarang, aku akan melaksanakan janji janjiku dulu. Tapi apakah harus dengan rasa sakit ini untuk membuatku sadar? apakah seburuk itu jalanku? apakah seterjal itu rintangan ku?" ucap Bima menunduk sedih.
"Hidup kalau tidak ada rintangan yang berat ya rintangan yang ringan tuan. Tuhan tidak akan memberikan ujian yang sifatnya diluar kemampuan hambanya. Tuan harus sering ibadah supaya hidup tuan lancar seperti jalan aspal." ucap Anubis.
"Sering seringlah sembahyang, meminta pertolongan pada Yang Maha Kuasa, kamu itu bukan makhluk apa apa di hadapan nya, kau itu sama seperti makhluk lainnya, kalau mati ya di kubur di tanah dan kembali menyatu dengan tanah." ucap Dewa Amral.
"Jadi usahakan jangan sampai meninggi, karena setinggi-tingginya kau menceritakan kehebatan mu, kau tetap akan di kubur di dalam tanah. Di bawah tanah yang sering di injak injak oleh makhluk lain." lanjut Dewa Amral.
"Masalah percintaan, tuan tidak usah cari, jodoh akan datang sendiri jika tuan memiliki iman dan ibadah yang tebal. Tuhan tidak akan pelit pada hamba yang mentaati aturannya." ucap Anubis.
"Terimakasih sudah di sadarkan." ucap Bima tersenyum lega.
"Sama sama tuan, saya adalah bawahan, dan sudah sewajarnya saya menyadarkan tuan saya yang hilang arah. Seorang bawahan yang baik tidak akan rela jika jalan tuanya tersendat." jawab Anubis.
"Sekali lagi terimakasih untuk pencerahan nya." ucap Bima lega.
"Sama sama tuan, kalau tuan ingin lanjut latihan silahkan saja, saya masih ingin mancing. Sudah lama tidak makan ikan segar." ucap Anubis.
"Baiklah, kalian lanjut memancing saja, aku mau menemui yang lainnya." ucap Bima berlalu pergi.
Bima duduk di bawah pohon rimbun, dia menatap kosong para bawahannya yang sedang bercanda gurau.
[Maafkan aku bos, aku sudah membuatmu hancur]
"Bukan salahmu bob, ini salahku yang terlalu mudah percaya dengan wanita." jawab Bima menundukkan kepala.
[Lalu apa yang mau kau lakukan setelah ini?]
"Perang, mati, lalu hilang. Aku sudah lelah dengan urusan dunia." ucap Bima sendu.
[Aku sebagai bawahan hanya menurut saja, aku harap ini baik untukmu kedepannya]
"Semoga." jawab Bima tersenyum tipis.
Huffttt....
Plakkk...
__ADS_1
Plakkkk...
"Sadar bodoh! kau kuat! kau penguasa! jangan cupu! dasar sampah!" teriak Bima menampar pipinya sendiri.
Plakkkk....
"Biarkan mereka menyakitimu! kau harus berdiri dengan tiang penyangga yang tangguh! jika bukan dirimu siapa lagi bodoh! dasar payah! dasar sampah! manusia sialan!" teriak Bima terus menampar pipinya supaya sadar.
"Aku kuat! aku akan tunjukan pada dunia! aku akan tunjukan padamu ayah! hey Austin! lihatlah perubahan anakmu Bima! dia akan menjadi pria tangguh!" teriak Bima menunjuk langsung.
[Lakukan bos!!!]
"Yaaa!" teriak Bima penuh semangat.
Woshhhhh....
Bima menggunakan mode Bankai lalu terbang melesat menunjukkan jatidirinya sebagai Dewa setengah Iblis yang menguasai Neraka.
Aura yang sangat amat luar biasa dahsyatnya menyebar dari atas langit membuat Adrian dan yang lain keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Boommm..
Boommm...
Woshhhhh...
"Hahahaha....akan aku tunjukan siapa diriku yang sebenarnya! ku guncang seluruh dunia! Albedo! nantikan kematianmu!" teriak Bima dari atas langit.
"Boss! hentikan! aku tidak kuat!" teriak Kong sesak nafas.
Wosshhhh..
Booommm....
(Ilustrasi)
"Hentikan bodoh!" ucap Aron menjitak kepala Bima keras.
Woshhhhh...
"Hehehehe...keren kan paman?" tanya Bima sudah kembali ke wujud aslinya.
"Lihat mereka?! mabuk!" ucap Aron menunjuk para beast Bima yang keleyengan karena kesusahan bernafas tadi.
"Sorry sorry! aku terlalu semangat! maaf ya!" ucap Bima mengangkat tangannya.
"Bos bodoh! sialan kau!" teriak Kong kesal.
"Hahahaha....payah sekali kalian!" ucap Drago sombong.
"Kau tadi muntah muntah ya sialan!" ucap Bao kesal.
"Hey hey hey! sopan sedikit dengan kakakmu!" ucap Drago kesal.
"Apa peduliku!" ucap Bao kesal.
"Dasar adik durhaka!" ucap Drago kesal.
"Kamu mau apa nak setelah ini?" tanya Adrian lega karena Bima tidak membutuhkan waktu lama untuk bersedih.
__ADS_1
"Istirahat dulu ayah, setelah itu aku mau latihan sampai mampus! pokoknya kalau belum bosan aku tidak akan berhenti!" jawab Bima mengepalkan tangan.
"Jangan begitu, kau juga memiliki hak untuk bahagia, jangan fokus berlatih saja." ucap Aron.
"Baik paman!" jawab Bima mengangguk cepat.
"Sudah sana istirahat, nanti ibu masakkan makanan, kamu mau makan apa malam ini?" tanya Riana.
"Aku mau makan semur daging, ayam goreng, sama ini! sayur asem! sayur asem, ikan asin, pake sambal! beehhhhh! best banget itu!" jawab Bima semangat.
"Yang mana? semur daging atau sayur asem?" tanya Riana bingung.
"Sayur asem aja deh, sama tambahin ayah goreng ya bu." jawab Bima setelah mempertimbangkan dua makanan yang sama enaknya itu.
"Baiklah, ibu masak dulu ya." ucap Riana pergi ke dapur.
"Paman tidak pergi?" tanya Bima bingung.
"Kau mengusir aku?" tanya Aron datar.
"Bukan begitu! aduhhh! maksudnya tidak kembali ke kerajaan? begitu." jawab Bima gelagapan.
"Hahaha...tidak ada tugas penting, aku mau disini dulu untuk refreshing." ucap Aron.
"Ohh, baiklah, semoga bisa senang ya, oh ya aku ada rencana buat peternakan dan kebun di dekat danau. Nanti kalau mau paman bisa urus." ucap Bima.
"Boleh, dari pada nganggur" jawab Aron setuju.
"Baiklah, nanti aku buatkan ya." ucap Bima lalu pergi.
"Dia sudah kembali ya sepertinya, lebih cerewet." ucap Aron tersenyum tipis.
"Aku juga merasa begitu." jawab Amon tersenyum senang.
Bika berjalan ke batu besar pinggir danau sebelumnya untuk bersantai, dan ternyata di sana masih ada Anubis dan Dewa Amral yang sedang memakan ikan hasil pancingan.
"Tuan mau ikan? masih hangat." tanya Anubis menawarkan.
"Tidak, aku mau ngopi saja." jawab Bima.
"Ohh, silahkan, ini ada air panasnya." ucap Anubis.
[Mereka ini benar-benar seperti sahabat sejati]
Bima membuat kopi, lalu duduk menghadap danau indah yang di tinggali berbagai ikan lezat, Bima membakar rokoknya lalu menyeruput kopinya.
"Kau mau melakukan apa setelah ini?" tanya Dewa Amral.
"Latihan paman, aku mau mencapai titik yang seperti dulu. Berhenti ketika sudah bosan berlatih dan mendapatkan sebuah kepuasan menjadi manusia yang mencapai titik tertinggi kekuatannya." jawab Bima.
"Bagus, yang terpenting adalah kau sudah punya tujuan. Tak perduli sereceh apa tujuanmu, yang penting kau ada tujuan untuk hidup." ucap Dewa Amral memberi apresiasi.
"Iya paman." jawab Bima.
"Jangan terlalu jauh mengambil langkah tuan, anda akan kewalahan jika semua langkah cadangan tidak sesuai ekspetasi, 5 atau 10 langkah kedepan itu sudah sangat baik." ucap Anubis.
"Terimakasih sarannya." jawab Bima menganggukkan kepala.
"Santai saja tuan." ucap Anubis memakan ikan bakar yang baru matang.
Mereka berbincang-bincang santai seperti saudara dekat, sangat akrab, bahkan Kong sampai iri dengan kedekatan mereka. Sampai jam makan malam pun datang, Bima di panggil sang ayah untuk segera makan malam.
__ADS_1
Bima pamit dengan keduanya dan pergi ke rumah untuk menemui keluarganya.
Bersambung....