
"Bercanda sayang, bunda udah senang kalau kalian bahagia bersama." ucap Aurora terkekeh geli.
Mereka tertawa geli melihat Bima dan Silvia yang salah tingkah dan malu malu.
"Kamu gak makan nak?" tanya Diana.
"Nanti aja, belum laper." jawab Bima menggelengkan kepala.
"Susah memang anak ini kalau di suruh makan." ucap Silvia sedikit kesal.
"Biarin aja, jangan di paksa, nanti kalau laper juga minta di suapin." ucap Aurora.
"Uhuk..uhuk.." Bima terbatuk dan memegangi dadanya yang terasa sangat nyeri.
[Apa bos? masa penyakitnya belum hilang?]
'Nyeri bodoh! kau pikir dadaku cuma ke gores pedang!' jawab Bima kesal.
[Santai bos! jangan ngegas!]
"Jangan banyak gerak, luka kamu masih basah." ucap Silvia mengelus punggung Bima yang juga banyak luka yang masih basah.
"Aduh duh.. jangan di elus, sakit." ucap Bima meringis kesakitan.
"Eh! maaf maaf..." ucap Silvia langsung menarik tangannya dengan cepat.
"Kau mau minum potion?" tanya Albert tanpa ekspresi.
"Gak mempan, ini luka dari ras Dewa, gak akan bisa di sembuhin pake potion. Harus alami atau pakai energi Dewa." jawab Bima.
"Ya udah istirahat aja, gak usah pecicilan." ucap Diana.
"Iyaaa.." jawab Bima malas.
Mereka lanjut berbincang-bincang mengenai hal lain, sampai akhirnya Bima meminta Silvia untuk menyuapinya karena sudah lapar.
Berminggu-minggu Bima di rawat di rumah sakit, sampai setelah genap 8 minggu, akhirnya Bima di perbolehkan untuk pulang dengan duduk di kursi roda karena kakinya yang masih belum boleh menopang beban.
"Cepat sembuh mas Bima." ucap Dokter menyalami Bima.
"Makasih dok." jawab Bima tersenyum menjabat tangan Dokter.
Setelah itu Bima di dorong menuju lobby rumah sakit, Bima menunggu kedatangan Jhon di lobby bersama Silvia dan Diana.
"Inget ya, jangan rewel makan! bunda gak mau kamu kekurangan nutrisi." ucap Diana.
"Iya bun." jawab Bima nurut.
"Awas kalau rewel!" ucap Silvia menunjukkan tinjunya.
"Iyaaaa!" jawab Bima merinding.
Tak lama kemudian Jhon pun berjalan menghampiri mereka, Bima di dorong menuju mobil oleh Jhon. Mereka pun pulang ke basecamp dengan terus ngobrol di sepanjang perjalanan.
Sesampainya di basecamp, Bima langsung dibantu duduk kembali ke kursi rodanya oleh teman-temannya. Mereka membawa Bima menuju ruang makan karena jam sudah masuk ke jam makan siang.
"Gimana makannya kalau gini?" tanya Bima dengan wajah datar menunjuk tangan kanannya yang masih terbungkus perban dan belum bisa di gerakkan.
"Sabar dong." ucap Silvia lembut.
Silvia mengambilkan makanan ke piring Bima dan mulai menyuapi Bima dengan sangat telaten.
'Estimasi berapa lama bob?' tanya Bima mengenai kondisinya saat ini.
[1 tahun bos, tapi kalau kau mau menggunakan energi Dewa, sekitar 6 bulan sudah sembuh total]
'Terpaksa aku pakai energi sialan itu!' ucap Bima kesal.
[Hahaha...demi kebaikan apa salahnya bos]
'Iyaa!' jawab Bima ketus.
Selesai makan, Bima di bawa Silvia ke taman supaya Bima bisa menikmati siang hari yang cerah.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Bima tiba tiba.
"Kenapa apanya?" tanya Silvia bingung.
"Kenapa kamu mau merawatku sampai segini telatennya?" tanya Bima.
"Kamu suami aku." jawab Silvia singkat, padat, dan jelas.
"Kamu masih anggap pria lumpuh seperti aku sebagai suami? apa tidak malu? apa tidak tersiksa?" tanya Bima tersenyum tipis dan menundukkan kepalanya.
"Mencintaimu adalah pilihanku, senang atau sedih itu urusanku karena telah mencintaimu sedalam ini." jawab Silvia berjongkok di depan Bima sambil tersenyum manis.
[Ya Tuhan! sisakan wanita sepertinya satu untukku!]
"Aku harap rasa ini tidak salah tempat lagi." ucap Bima lirih namun terdengar jelas di telinga Silvia.
"Aku akan menjaganya, jadikan aku tempat ternyaman di hidupmu." ucap Silvia memeluk Bima penuh kasih sayang.
Setelah itu mereka berbincang-bincang untuk mempererat hubungan. Di sore hari yang cerah, Bima masih di taman sendirian menatap langit sore yang indah dengan sebatang rokok menyala di jarinya.
Di mata Bima, dia melihat wajah sosok ayah yang sedang tersenyum lebar penuh kebanggaan di langit yang cerah. Bima tersenyum sendu, tak sadar air matanya menetes mengingat sosok ayahnya itu.
"Bibi! kenapa nangis?" tanya Silvia khawatir.
"Ahh, enggak, cuma kelilipan besi." jawab Bima mengelap air matanya.
"Ngawur! udah gak usah sedih lagi, sekarang ke kamar aja, mandi." ucap Silvia terkekeh.
"Iyaa." jawab Bima menurut saja.
'Kong, kalau matamu aku tancapkan besi apakah kau juga akan menangis?' tanya Zhong dengan polosnya.
'Menangis darah.' jawab Kong.
'Masuk akal juga, tapi kenapa bos malah mengeluarkan air mata?' tanya Zhong.
'Matanya dari baja.' jawab Kong.
'Wah! bos beda dari yang lain.' ucap Zhong.
Bima masuk ke kamar mandi dan mulai di mandikan oleh Silvia, perlahan seluruh bagian tubuh Bima di sabuni oleh Silvia yang hanya memakai pakaian dalam saja.
'Jangan berontak stepen!' teriak Bima dalam hati karena melihat pemandangan indah di depannya.
[Hahahaha...kau mesum bos! tubuhmu belum sembuh tapi tombakmu sudah berontak duluan!]
"Buka ya." ucap Silvia dengan tatapan genit.
"J-jangan." jawab Bima menutupi selangkangannya dengan tangan kirinya.
"Kenapa? kamu kan suami aku, jadi gak ada yang salah." ucap Silvia.
"Nanti aku bersihin sendiri." jawab Bima.
"Biar sekalian ih!" ucap Silvia langsung membuka celana Bima.
Keluarlah ular piton yang gagah dan berotot, Silvia yang melihatnya tentu saja langsung mengigit bibir bawahnya dan mengelus lembut ular piton itu.
"Gede punya bibi!" ucap Silvia menatap ular piton yang berdiri dengan gagahnya.
"Ah....jangan..." ucap Bima menahan kenikmatannya.
"Aku udah lama bi, aku mohon." ucap Silvia dengan wajah memelas.
"I-iya deh." jawab Bima akhirnya pasrah.
Langsung saja Silvia melahap ular piton itu dengan sangat rakus. Mereka berdua melakukan hubungan suami istri dengan Bima yang hanya bisa duduk di atas closet dan Silvia yang bekerja keras untuk melayani Bima serta menyalurkan hasrat yang telah lama terpendam.
"U-udah y-ya...." ucap Silvia dengan tubuh bergetar hebat merasakan kenikmatan yang telah lama tidak dia rasakan.
"I-iya." jawab Bima walaupun tanggung baginya.
"M-maaf aku tidak bisa memuaskan bibi." ucap Silvia menatap Bima penuh penyesalan.
__ADS_1
"Bisa lain kali." jawab Bima santai.
Setelah itu Silvia segera memandikan Bima dengan telaten, selesai mandi Bima langsung di pakaikan pakaian.
"Aku sayang banget sama bibi!" ucap Silvia mencium Bima dengan gemas.
"Aku juga." jawab Bima tersenyum tipis.
"Cepet sembuh ya!" ucap Silvia tersenyum manis.
"Kapan ini makannya? dah laper." tanya Bima menyadarkan Silvia yang sedang meracau tidak jelas.
"Aihhh! maaf ya bi! ayo kita makan malam!" jawab Silvia dengan semangat mendorong kursi roda Bima menuju ruang makan.
(Note: kamar Bima pindah ke lantai bawah)
Sesampainya di ruang makan, Bima langsung disambut dengan pemandangan Aulia yang sedang menyuapi seorang pria asing di sana.
"Kita makan di ruang TV aja ya bi! sambil nonton film! biar seru!" ucap Silvia.
"Oke aja." jawab Bima setuju.
"Sini aku bantu ke ruang TV, kakak ipar ambilkan makan untuk Bima saja." ucap Riski.
"Tolong ya." ucap Silvia.
"Iya kak santai saja." jawab Riski lalu mendorong kursi roda Bima menuju ruang TV diikuti Rizal dan Kevin.
"Siapa kau?" tanya Aulia menatap tajam Silvia.
"Apa pedulimu?" tanya Silvia cuek dan fokus mengambil makan untuk dirinya sendiri dan Bima sang suami.
Woshhh...
"Jangan berani berani menyentuh Bima atau mati!" ucap Aulia memamerkan aura Ratu Roh Sihir dan mata Tenseigan miliknya.
"Aku istrinya, kau bukan siapa siapanya sekarang. Jangan atur hubungan kami!" ucap Silvia pergi dengan santainya tanpa merasakan tekanan sedikitpun.
"Hilangkan auramu." ucap Zoya dingin.
"Cih! sialan!" ucap Aulia sangat kesal.
Di ruang TV, Bima sedang menonton film pilihan Riski dengan suapan makanan lezat dari tangan lembut Silvia.
"Bim, kemarin aku dijodohin sama ayahku cok! anjink! cantik banget lagi ceweknya! sialan!" ucap Riski heboh sendiri sampai ayamnya terjatuh.
"Mampus! makanya jangan pecicilan!" ucap Rizal.
"Yahh! gak papa lah belum lima tahun." ucap Riski memungut ayamnya dan lanjut makan.
"Terus kau mau? apa nolak?" tanya Bima.
"Maulah anjink! bodo banget cok kalau nolak! rejeki nomplok bro!" jawab Riski.
"Kapan nikah?" tanya Bima.
"Aku bilang ke ayah kalau mau nikah setelah kau sembuh total." jawab Riski.
"Lama bodoh!" ucap Bima kesal.
"Biarin, biar kita bisa pesta sama sama!" jawab Riski.
"Kan biar ada waktu buat pendekatan sama tau sifat satu sama lain bi, gimana sih!" ucap Silvia.
"Nahh! bener kata kakak ipar!" ucap Riski sangat setuju.
"Ayahmu terima terima aja gitu?" tanya Kevin.
"Iya, aku buka bukaan aja nih ya, sebenernya dia itu ngefans cok sama Bima! tapi karena gengsi jadi gak mau ngakuin! di kamar bekasku dulu aja sampe di jadiin ruangan khusus buat koleksi barang yang jadi ciri khas Bima! gila orang tua itu!" ucap Riski pelan.
"Dia bukan bangga sama anaknya malah bangga sama temen anaknya! hahahaha...." ucap Rizal tertawa geli.
"Nahh! kan bikin kesel cok!" ucap Riski kesal namun senang juga.
__ADS_1
Bersambung....