King Of Universe

King Of Universe
Bab 80


__ADS_3

Keesokan harinya, saat Bima bangun, dia kaget karena tiba tiba dirinya berpindah ke ruang tamu.


"Anjink! ngelindur aku semalem." gumam Bima kesal.


Setelah mengumpulkan nyawa, Bima pun pergi kembali ke kamarnya untuk mandi. Namun saat membuka pintu kamarnya, hati Bima benar-benar di buat hancur berkeping-keping.


Di atas ranjang terdapat tiga orang tanpa busana dengan saling berpelukan. Bahkan kelamin pria itu menancap di kelamin salah satu wanita di sana. Ternyata yang ada di kamarnya adalah Kevin, Silvia dan Abigail.


'Hahahaha.......' Bima tertawa di dalam hatinya.


Menahan rasa sakitnya, Bima memasuki kamar dengan mengendap-endap lalu pergi mandi. Selesai mandi Bima membereskan barang barangnya dengan wajah datar dan hati yang sudah hancur.


Mendengar suara grusak grusuk, Silvia terbangun dari tidurnya untuk mengecek apa yang sedang terjadi.


"Jangan temui aku lagi! bahkan kakakmu sekalipun! camkan baik-baik! akan aku bunuh semua Dewa Dewi di alam Semesta ini!" ucap Bima dengan God Of Eyes sudah aktif.


"I-ini b-bukan seperti yang kamu lihat bi!" ucap Silvia panik.


Bima hanya mendengus kesal lalu pergi dengan membanting pintu. Suara bantingan pintu itu tentu saja langsung membangunkan semua orang karena takut terjadi apa apa.


"Bima! kamu mau kemana nak?" tanya Diana panik.


"Bukan urusan mu!" jawab Bima dengan tatapan mata Rinne Sharingan.


"Kirim lokasi Bim! nanti agak siangan nyusul." ucap Riski.


"Ku tunggu!" ucap Bima lalu berjalan pergi.


"Bajingan itu berbuat apa lagi!" gumam Julian berjalan ke kamar Bima.


Brakkkk...


Julian yang melihat ketiga orang yang masih berpelukan mesra langsung naik pitam dan aura yang sangat kuat merembes keluar.


"Aku keluar!!!!" teriak Julian keras.


"Jul!" panggil Kevin kaget.


"Indah! bereskan barang barang!" teriak Julian berjalan memasuki kamarnya.


"I-iya..." jawab Indah langsung berlari mengikuti Julian.


"Sayang, ayo beres beres, di sini tidak bagus untuk kita." ajak Riski pada Lidia.


"Kamu yakin?" tanya Lidia ragu.


"Kalau kamu mau tinggal ya sudah tidak apa apa. Aku bisa pergi sendiri." jawab Riski berlalu begitu saja.


"M-maaf! aku ikut!" ucap Lidia langsung berlari mengikuti Riski.


"Ck! kenapa jadi gini anjeng!!!!!" teriak Rizal menendang sofa penuh amarah.


"Kita omongin sama om Andi Zal, gak bisa kita gini terus." ucap Doni.


"Kau telpon don! pusing aku anjink!" ucap Rizal ketus.


"Bentar." jawab Doni mengambil ponselnya.


Di Alam Surgawi, Bima saat ini sedang melamun di pinggir danau, menghiraukan semua omongan omongan orang-orang dan bawahannya di sana.


'Beginikah bob? beginikah nasibku?' tanya Bima dalam hati.


[Yaa mau bagaimana lagi bos, ini keluar dari rencana kita kan, kegagalan ke sekian kalinya bos]


'Aku benar-benar tidak bisa tertawa lagi bob.' ucap Bima sinis.


[Keluarlah dari jalan kebenaran bos, kau tunjukkan seberapa sakitnya kau ke seluruh alam semesta. Kalau kau terus diam begini, semua makhluk akan terus mempermainkanmu dan menganggapmu lemah]


'Belum waktunya bob.' ucap Bima masih tidak mau berjalan di atas jalan kesesatan.


[Baiklah kalau itu keputusan mu, aku hanya bisa ikut bos. Aku sudah anggap kau keluarga, bukan tuanku saja. Lebih tepatnya ujung tombak duniaku]


'Cih! sok dramatis! menjijikkan!' ucap Bima kesal.


[Hahaha....sekali kali bos]

__ADS_1


"Bob, bangun sutet Bob, biar aku bisa Internetan di sini." ucap Bima.


[Baiklah bos]


Booommm..


Sebuah sutet muncul di dekat pegunungan, Bima mengecek ponselnya dan kini sudah ada sinyal untuk berseluncur di internet.


"Kau ada rumah besar tidak Bob? berapapun harganya aku beli." ucap Bima.


[Ada bos, di dekat taman kota, cukuplah untuk 6 sampai 8 orang]


"Aku beli." ucap Bima.


[1M saja, ada diskon besar besaran]


"Murah, kau potong saja dari rekening ku. Aku mau ke sana." ucap Bima.


[Baiklah, kuncinya ada di inventaris ya]


"Oke." jawab Bima lalu pergi hilang begitu saja.


Bima muncul di depan sebuah rumah mewah yang lumayan besar, halaman depan yang luas, garasi luas, halaman belakang terdapat taman kecil, dan sebuah kolam ikan di dekat pohon mangga yang rimbun.


"Bagus nih." ucap Bima puas.


Bima berjalan ke halaman belakang, dia mencari tempat yang kosong untuk di buat gazebo yang sudah lengkap dengan bar kecil. Bima membeli bangunan itu dari sistem karena sedang malas menggunakan elemen kayunya.


Bima duduk di dalam gazebo, menyalakan rokoknya lalu login ke dalam game sambil menunggu Riski yang sedang otw. 30 menit kemudian bel rumah berbunyi dan terdengar sampai ke halaman belakang.


Bima bergegas pergi membukakan gerbang yang sudah ada Riski, Lidia, Julian, dan Indah.


"Kau ikut juga jul?" tanya Bima sembari mendorong gerbang.


"Gak boleh?" tanya Julian.


"Boleh aja, masuk dulu, parkirin mobilnya di garasi. Terus pilih kamar, aku udah ada kamar di atas, aku mau lanjut push rank di belakang." jawab Bima.


"Pergilah, nanti aku yang tutup gerbangnya." ucap Julian.


"Ohh ya udah kalau gitu." jawab Bima berlalu pergi ke halaman belakang melewati lorong samping rumah.


Tak berselang lama, keempat orang tadi datang menghampiri Bima.


"Kakak yang sabar ya." ucap Indah.


"Hem? iya, santai aja, aku dah biasa kok. Oh iya, jangan di ungkit ya, gak enak di hati soalnya hehehe..." jawab Bima.


"I-iya kak, maaf ya." ucap Indah.


"Santai, kalian bisa masak kan? kalau enggak bisa aku bisa panggil bi Siti ke sini. Mumpung dia lagi nganggur katanya." ucap Bima.


"Enggak terlalu jago sih, tapi lebih baiknya panggil bi Siti aja kak, biar kita sekalian belajar masak dikit-dikit." jawab Lidia.


"Ya udah nanti aku hubungi dia, sekalian Thomas lah. Paling besok bisa dateng, ntar beli aja buat makan malem." ucap Bima.


"Nanti aku pesenin deh." ucap Lidia.


"Kau mau bikin guild baru bim?" tanya Julian menyulut rokoknya.


"Hooh, aku ajak Riski kemarin, rencananya sih cuma isi empat orang." jawab Bima.


"Satunya?" tanya Riski.


"Carilah, besok kita ke Asosiasi, sekalian buat surat surat pengajuan pembuatan guild baru." jawab Bima.


"Ohh siap siap." ucap Riski.


Ting...tong...


Saat sedang asik asik ngobrol, tiba tiba bel rumah berbunyi.


"Siapa tu?" tanya Bima heran.


"Bentar, aku yang buka." jawab Julian bergegas pergi.

__ADS_1


Sambil menunggu Julian, Bima pun membuat kopi di bangunan kecil samping gazebo yang sudah tersedia coffee maker, blender, kulkas, rak minuman beralkohol, freezer berisi bermacam-macam buah buahan, dan masih banyak lagi.


"Anjayyy! ada bar cokk!" ucap Riski takjub.


"Yoiii! gak usah keluar duit kalau mau mabok!" jawab Bima.


"Boleh mabuk?" tanya Riski kaget.


"Secukupnya, jangan sampai teler, buat sekedar penenang diri aja. Gak boleh setiap hari, aku juga ada rencana mau buat arak kok." jawab Bima.


"Wesss! enak nih!" ucap Riski senang.


"Mau kumpul kumpul nyate atau BBQ an, aku ada alatnya! bro! komplit coyyy!" ucap Bima menunjuk gudang.


"Asekkkk!" ucap Riski.


Tak berselang lama, Julian datang dengan wajah yang aneh.


"Bim, Zoya bim! nangis *** dia! kau temuin dah buruan." ucap Julian.


"Lah, kok bisa tau dia?" tanya Bima kaget.


"Gak tau bang*at! kau temuin dulu sana!" jawab Julian kesal.


Bima nyengir lalu berlari menuju ruang tamu tempat Zoya sedang menunggu.


"Kenapa? kok nangis?" tanya Bima duduk di samping Zoya.


"Deni! Deni minta cerai hiks..." jawab Zoya semakin menangis.


"Lohh..kenapa? kalian berantem?" tanya Bima.


"Enggak! dia! dia selingkuh lagi! sekarang sampai selingkuhan nya hamil! hiks...Bima!!!" teriak Zoya memeluk Bima erat sambil menangis histeris.


'Ck! masalahku belum selesai malah tambah lagi! sialan!' batin Bima kesal.


"David dimana? kok kamu sendirian?" tanya Bima tidak melihat David di sana.


"M-masih sekolah, belum pulang." jawab Zoya sesenggukan.


"Terus kamu gimana? mau tetep cerai atau gimana?" tanya Bima.


"A-aku mau rujuk sama kamu." jawab Zoya langsung membuat Bima kaget.


"Waduhh!" ucap Bima spontan.


"Aku gak papa jadi yang kedua, asal sama kamu! aku gak bisa bim kalau jauh sama kamu! aku gak bisa!" ucap Zoya semakin menangis.


"Aku gak bisa, maaf." ucap Bima.


"Kenapa?" tanya Zoya menatap Bima dengan mata sembab.


"Aku...aku udah gak mau punya pasangan lagi, aku udah trauma parah. Baru tadi pagi aku lihat Silvia berhubungan intim sama Kevin, aku gak bisa maaf banget." jawab Bima


Zoya pun terdiam dengan air mata terus mengalir, dia tidak menyangka kalau nasib orang yang paling dia sayangi itu sesedih ini.


"Maaf ya, perasaanku udah mati dan gak akan bisa hidup lagi. Kalau kamu maksa, nanti malah kamu sakit hati sendiri. Aku gak mau kamu ngerasain itu." ucap Bima lagi.


"Terus aku gimana? David gimana? aku benar-benar sudah hilang arah. Aku gak tau harus kemana, tujuanku hilang." tanya Zoya menutup wajahnya.


"Apa aku harus kembali ke neraka saja?" tanya Zoya sudah putus asa.


"Jangan dong, gini aja, kamu tinggal di sini sama David, kamu jadi single mom aja. Nanti aku bantuin besarin David, jangan sampai kamu kembali ke masalalu." jawab Bima.


"Kalau kamu membolehkan, aku akan tinggal di sini." ucap Zoya.


"Silahkan, kamu bisa pilih kamarmu." ucap Bima tersenyum tipis.


"Terimakasih banyak." ucap Zoya.


"Sama sama, kalau gitu aku ke belakang dulu ya, mau lanjut nyantai." ucap Bima.


"Sekali lagi aku berterima kasih." ucap Zoya.


"Santai." jawab Bima beranjak pergi.

__ADS_1


Zoya pun pergi memilih kamar yang ada di lantai bawah, dia membersihkan kamar untuk dirinya sendiri dan kamar untuk David sang anak.


Bersambung....


__ADS_2