
Bima berjalan menuju halaman Asosiasi yang terdapat banyak hunter sedang berlalu lalang membawa senjatanya. Bima berdiri di tengah-tengah halaman dan melihat ke sekelilingnya.
"Keluar kalian." gumam Bima.
Woshhhh....
Booommm...
Benar saja, ratusan orang dengan topeng hitam dan pakaian hitam dengan jubah tentara bayaran dari instansi yang lumayan terkenal muncul mengepung Bima. Mereka mengarahkan senjatanya untuk mengancam Bima, mereka juga mengeluarkan aura yang sangat kuat untuk itungan tentara bayaran.
"Menyerahlah dan ikut kami!" teriak kepala pasukan yang berjalan dengan rokok cerutu di tangannya.
"Tentara bayaran dari Organisasi Mawar Hitam ya, wah wah wah! hebat sekali!" ucap Bima tersenyum.
"Jangan banyak bicara! angkat tanganmu! menyerahlah!" teriak kepala pasukan tegas.
"Ibarat sapi, jagal dulu baru sembelih!" ucap Bima langsung mengaktifkan mata Rinne Sharingan.
Booommmm....
"Kami para hunter Indonesia ada di pihak Tuan Bima! berani macam macam kami akan bunuh kalian!" teriak seorang wanita yang sangat Bima kenali.
"Tante Abigail, tidak usah berlebihan! pasukan pasukan rendahan ini bisa aku bunuh sendiri." ucap Bima langsung mengeluarkan Indra Susano'o yang ukurannya sangat besar dan kuat.
"Berani mengancam yang mulia, kubunuh kalian hari ini juga!" ucap Bima dengan suara berat.
[Cih! Drago caper!]
'Drago caper! huuu!' teriak Kong kesal.
Woshhhh...
Boommm...
Boommm...
Arghhhh...
Arghhhh...
Teriakan dari para tentara bayaran itu terdengar nyaring saat Bima menebas bagian tubuhnya. Hanya dalam 5 menit, semua tentara bayaran termasuk kepala pasukan tewas mengenaskan dengan bagian tubuh yang tidak lengkap.
"Sampah! kau pikir aku selembut itu?!" ucap Bima sinis.
"Balik bim! dah beres!" ucap Riski dengan santainya.
"Gas!" jawab Bima menghilangkan Susano'o nya dan pergi begitu saja.
"Terimakasih ya tante sayang!" ucap Kevin genit.
"Cih!" Abigail mendengus kesal saat mendengar ucapan Kevin.
"Ayo vin anjink!" teriak Julian kesal.
"Sabar saattttt!" jawab Kevin kesal.
Mereka pun pulang ke basecamp bersama-sama dengan kartu member sudah di tangan. Guild The Beast sudah sah menjadi pasukan khusus yang di naungi langsung oleh Asosiasi Hunter Indonesia maupun Internasional.
Berita itu langsung menjadi trending topic karena kehebatan Billy yang mampu membuat guild keras kepala seperti The Beast tunduk kepada mereka. Padahal kenyataan sebaliknya, Kevin dan Rizal sendiri yang memberikan syarat untuk kebebasan guild dan tidak mau di kekang sedikitpun.
Malah seolah olah guild lah yang menggerakkan Asosiasi, guild bisa bebas ambil job sesuka mereka dan melemparkan job sesuka hati mereka ke pasukan khusus lain.
__ADS_1
Sesampainya di basecamp, Bima langsung pergi mandi karena tubuhnya yang penuh darah manusia. Selesai mandi Bima langsung makan di ruang makan dengan di temani Silvia.
"Bibi nanti malam mau makan apa? mumpung di kulkas masih komplit." tanya Silvia.
"Apa ya? tongseng kambing aja." jawab Bima.
"Sama?" tanya Silvia.
"Tahu goreng gak papa, udah cukup." jawab Bima.
"Ya udah, nanti aku masakin." ucap Silvia menganggukkan kepala.
'Bos, masakan nyonya enak tidak?' tanya Kong penasaran.
'Enak, lebih enak dari masakan Zoya malahan. Sama persis kayak masakannya bunda Aurora! super nikmat!' jawab Bima.
'Zhong! ayo masak! aku jadi lapar!' ucap Kong memegangi perutnya.
'Baiklah, ayo Grock!' jawab Zhong.
'Ayo!' jawab Grock semangat.
"Enak gak bi?" tanya Silvia tersenyum melihat Bima yang makan sangat lahap.
"Enggak, ini ketolong laper aja." jawab Bima.
"Enggak kok sampe tambah tiga kali! dasar!" ucap Silvia ketus.
"Hahaha...uhuk..uhuk..." ucap Bima tersedak saat tertawa.
"Minum bi minum! makanya jangan ketawa waktu makan!" ucap Silvia memberikan segelas air putih.
"Ergghhhh...ahhhh! kenyang!" ucap Bima bersendawa.
"Jangan teh, enak kopi!" ucap Bima request.
"Iya deh, nanti aku buatin." jawab Silvia.
"Naahhh! ya udah aku ke depan dulu." ucap Bima mencium pipi Silvia lalu pergi ke ruang TV.
Bima duduk di ruang TV, menghidupkan TV dan membakar rokoknya dengan santai. Bima membuka channel yang memberikan berita terbaru di seluruh dunia.
Berita mengatakan kalau Indonesia memisahkan diri dari Perkumpulan Hunter Dunia dan mengatakan akan terus membela Bima sampai kapanpun.
Hal ini menimbulkan banyak sekali pro dan kontra, karena dengan keluarnya Indonesia dan berdiri dengan kakinya sendiri, maka pasokan bahan bakar dunia akan berkurang drastis.
Negara negara yang hanya memanfaatkan Indonesia juga di buat panik, mereka langsung menghubungi Presiden Negara Republik Indonesia dan Kepala Asosiasi Hunter Indonesia untuk membujuknya supaya tidak keluar dari PHD.
Namun percuma saja, keputusan kedua orang penting itu sudah bulat dan tidak akan pernah di tarik kembali. Apalagi dengan terbentuknya satu Guild raksasa yang berisi 8 monster penguasa.
Guild raksasa yang langsung di naungi oleh Asosiasi Hunter Nasional maupun Internasional. Dunia makin di buat segan terhadap Negara Adidaya ini, mereka sudah tidak berani lagi untuk menekan Indonesia dengan berbagai ancaman karena hutang Negara Indonesia sudah lunas semua.
Bima yang melihat itu pun tersenyum lebar, akhirnya Bima bisa bebas di mana mana dengan backing an dari Billy dan Andi secara langsung.
"Napa bim? kau gila ya sekarang?" tanya Riski duduk di samping Bima.
"Matamu!" ucap Bima kesal.
"Kau senyum senyum sendiri kayak orang depresi! mau tak anterin ke RSJ sekarang apa gimana?" ucap Riski.
"Kau gak ke rumah calonmu? besok kan acaranya." tanya Bima.
__ADS_1
"Iya, besok pagi." jawab Riski santai.
"Napa masih di sini cok?!" tanya Bima kesal.
"Heh anjink! gedungnya ada di deket sini blok! ngapain aku jauh jauh ke rumah Lidia kalau dari sini deket! blok gobl*k!" ucap Riski kesal.
"Nama calonmu Lidia? kayak pernah denger." ucap Bima.
"Siapa anjer! gak ada temen kita yang namanya Lidia!" ucap Riski.
"Bentar! aku inget inget dulu!" ucap Bima berpikir keras.
[Haihhh! wanita incaranmu dulu bos bodoh! waktu SMP!]
"Lidia yang SMP itu ya! cewek yang aku deketin dulu cok!" ucap Bima.
"Emang iya? gak mirip cok! lebih putih Lidia yang ini! badannya juga lebih berisi, beda anjirr!" ucap Riski.
"Liat besok aja!" ucap Bima.
Tak lama Albert datang membawa secangkir kopi dan sebungkus rokok Marlboro.
"Tumben gak tidur siang kau." ucap Bima.
"Mana ada aku tidur siang, aku main game di kamar." ucap Albert menyulut rokoknya.
"Kau kapan nikah?" tanya Bima.
"Ck! jangan bahas itu bodoh! aku benci dengar pertanyaan itu!" ucap Albert ketus.
"Kau sudah tua, jangan di tunda tunda." ucap Bima.
"Biarin!" jawab Albert ketus.
"Kau suka cowok ya?" tanya Bima curiga.
"Matamu! aku normal bodoh!" jawab Albert kesal.
"Mencurigakan." ucap Bima dengan tatapan menelisik.
"Diamlah!" ucap Albert fokus melihat berita.
Beberapa saat kemudian Silvia datang membawakan secangkir kopi untuk Bima.
"Makasih." ucap Bima mencium pipi Silvia.
"Aku ke kamar ya bi, mau istirahat." ucap Silvia mencium pipi Bima lalu pergi.
"Gak sabar aku cok! tiap pagi di bikinin kopi, kalau malem di kelonin! aihhhh! betapa indahnya!" ucap Riski membayangkan yang indah indah.
"Ethan kemana dah? kok aku gak pernah lihat." tanya Bima.
"Dia kan menjabat jadi presiden, makanya kita bisa bebas di sini. Bagus cok dia, adil dan tidak buta ke daerah pelosok." jawab Riski.
"Baguslah kalau gitu." ucap Bima lega.
"Ini pada kemana dah, tumben sepi." ucap Jhon yang baru pulang dari kantor guild The Destroyer.
"Entah, kayaknya pada tidur siang." jawab Bima.
"Ya udah, ayah makan dulu ya." ucap Jhon.
__ADS_1
"Iya yah." jawab Bima mengangkat jempolnya.
Bersambung....