King Of Universe

King Of Universe
Arc 2 Bab 117


__ADS_3

Malamnya, setelah makan malam Bima pergi ke gazebo untuk bersantai sambil menonton TV.


"Kaka Bima, tadi sudah ke Asosiasi ka?" tanya Arie menghampiri Bima dengan membawa secangkir kopi.


"Sudah, kenapa?" jawab Bima.


"Tidak, saya cuma tanya saja." ucap Arie.


"Kau kapan menikah rie? kau sudah keriput keriput gini." tanya Bima.


"Saya tidak tau, tidak ada yang mau sama saya juga. Sudahlah kaka Bima, tidak usah bicarakan masalah itu." jawab Arie.


"Jangan-jangan....." ucap Bima sambil sedikit mengambil jarak.


"Sembarangan! saya masih normal ya! sial!" ucap Arie kesal.


"Hahahaha....." Bima tertawa keras melihat wajah Arie yang sangat kesal.


Keduanya berbincang banyak mengenai berbagai topik, sampai akhirnya obrolan mereka terhenti karena ponsel Bima berdering keras.


"Halo, dengan siapa saya berbicara?" ucap Bima mengangkat telepon.


"Selamat siang tuan Bima, kami dari Asosiasi Hunter pusat ingin mengabarkan bahwa pengaktifan Guild The Devil's Crew akan di setujui dengan syarat semua anggota harus datang ke Asosiasi besok pagi. Ini permintaan langsung dari tuan Wilson sebagai Kepala Asosiasi Nasional dan Tuan Andi sebagai Kepala Asosiasi Internasional." ucap suara dari sebrang.


"Harus besok pagi ya?" tanya Bima agak keberatan.


"Maaf tuan, itu sudah permintaan dari tuan Andi dan tuan Wilson." jawab pegawai Asosiasi.


"Baiklah, besok jam 8 kami ke sana." ucap Bima.


"Kami tunggu kehadiran tuan tuan." ucap pegawai Asosiasi lalu menutup telepon.


Bima mengirim pesan di grup WA untuk segera berkumpul di ruang TV.


"Ayo ke ruang TV rie, rapat." ucap Bima mematikan TV.


"Baiklah." jawab Arie bergegas pergi mengikuti Bima.


Sesampainya di ruang TV, semua orang sudah berkumpul di sana sambil berbincang-bincang ringan.


"Dah ada topeng semua?" tanya Bima duduk di sebelah Henry.


Mereka menganggukkan kepala sambil menunjukkan topeng Hannya masing-masing.


"Jubah gimana ris?" tanya Bima.


"Minggu depan, agak antri soalnya. Aku juga pesen dua warna jadi agak lama pengerjaannya." jawab Riski.


"Besok pagi jam 8 kita ke Asosiasi, pakai jubah hitam polos, baju hunter, sama topeng." ucap Bima.


"Pagi banget cok!" ucap Riski.


"Mau gimana lagi anjink! pusat yang nyuruh!" jawab Bima.


Mereka terus berunding tentang beberapa hal mengenai guild, sampai Diana mengusulkan sebuah saran menarik pada mereka.


"Bunda ada saran nak, ini cuma saran ya, mendingan kamu sewa rumah yang lebih besar. Utamakan yang ada ruangan khususnya buat rapat kalian, kalau kayak ginikan gak enak." ucap Diana.


"Iya! rumah segini juga kerasa lebih sempit buat orang sebanyak ini." ucap Indah.

__ADS_1


"Uang yang dulu itu masih ada gak ya?" tanya Bima.


"Masih kak." jawab Lidia.


"Masih utuh?" tanya Bima.


"Betul! Suamiku setiap bulan ngurus di bank supaya uang tidak hangus kak." jawab Lidia.


"Ya udah, besok transfer 20M, nanti aku cariin Mansion yang besar." ucap Bima.


"Okee kak." jawab Lidia.


Setelah dirasa cukup, akhirnya Bima menyudahi rapat dadakan untuk besok. Mereka semua pun kembali ke kamar masing-masing untuk menyiapkan segalanya supaya besok tidak ricuh.


Bima setelah mengakhiri rapat langsung kembali ke gazebo untuk lanjut menonton TV. Bima masih sangat kepikiran dengan perasaan yang dia rasakan kemarin.


Bima benar-benar di buat takut dengan perasaan tersebut, dia sangat tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sebuah hal buruk dari yang terburuk dalam hidupnya.


"Bang*at." gumam Bima meremas rambutnya.


[Sudahlah bos, kalau kau pikirkan lebih dalam lagi, kau akan jadi overthinking. Itu sangat buruk untuk kehidupanmu]


"Aku mau tidur aja." ucap Bima mematikan TV lalu pergi.


Di kamar, Bima tidak banyak bicara, dia masuk kamar mandi untuk cuci muka dan cuci kaki lalu pergi tidur walaupun Jennifer terus berusaha mengajaknya ngobrol.


"Kamu kenapa sih buy? sakit? atau gimana? cerita dong sama aku." ucap Jennifer dengan suara selembut mungkin.


"Aku mau istirahat, besok harus bangun pagi juga." jawab Bima tanpa membuka matanya.


"Ya udah, selamat malam ya." ucap Jennifer tersenyum manis dan mencium pipi Bima.


Bima pun tertidur pulas walaupun pikirannya kemana-mana. Sedangkan Jennifer masih sibuk pada ponselnya karena di sana dia bisa mendapatkan banyak informasi mengenai tempat Adel di didik mulai besok senin.


"Ayah!" seru Adel berlari memeluk Bima yang sedang berjalan ke meja makan.


"Woahhh! sudah tambah besar ya!" ucap Bima menggendong Adel yang bertambah berat.


"Adel kan sudah masuk sekolah ayah! besok senin ayah harus antar Adel masuk sekolah pertama kalinya!" ucap Adel penuh semangat.


"Ayah tidak bisa janji nak, maaf ya." jawab Bima merasa tidak enak.


"Ayolah ayah! cuma mengantar Adel terus ayah boleh pulang! nanti Adel bisa di jemput ibu!" ucap Adel mencoba membujuk Bima.


"Baiklah, besok ayah antar ya." jawab Bima akhirnya setuju.


"Yeyyy!" teriak Adel heboh.


"Sudah sudah, ayo cepat sarapan, ayahmu harus pergi pagi ini." ucap Jennifer.


"Ayah mau kemana?" tanya Adel sembari turun dari gendongan Bima.


"Ke Asosiasi." jawab Bima tersenyum.


"Adel mau ikut!" ucap Adel penuh semangat.


"Tidak, Adel harus persiapkan barang barang untuk besok senin." ucap Bima.


"Ayolah ayah! sekali saja!" ucap Adel memasang wajah memelas.

__ADS_1


"Tidak." jawab Bima lalu lanjut makan tanpa memperdulikan rengekan Adel.


Selesai sarapan Bima kembali ke kamarnya untuk ganti baju, dia memakai baju hunter berwarna hitam, jubah hitam polos dan menenteng topengnya. Bima keluar kamar untuk menemui yang lainnya di ruang TV.


"Yang lain mana?" tanya Bima pada Julian yang sedang sibuk mengikat sepatunya.


"Di luar lagi foto foto." jawab Julian.


"Narsis banget anjink!" ucap Bima.


"Dah! ayok!" ucap Julian.


Keduanya menyusul yang lain di halaman basecamp, terlihat teman-teman Bima sedang sibuk berfoto ria dengan wajah bahagia dan penuh semangatnya.


"Kita langsung ketemu om Andi?" tanya Julian sambil berjalan membuka pintu mobil dan memanaskan mobil.


"Iya, langsung ketemu." jawab Bima sambil menyulut rokoknya.


"Mereka ini mau tekan kontrak pekerjaan seperti mau bertamasya." ucap Albert kesal.


"Masih muda bert, wajar." ucap Julian.


"Aku dulu tidak seperti ini." ucap Albert.


"Kita berbeda bodoh! mereka masih belum paham apa yang akan mereka hadapi kedepannya. Apa tahap tahap yang harus di lalui, dan yang lainnya." ucap Bima.


"Benar juga, aku dulu dari kecil sudah di doktrin ini itu oleh para tetua sekte." ucap Albert setuju.


"Ayah! ayo berfoto!" teriak Adel.


"Tidak!" jawab Bima menolaknya mentah-mentah.


"Untuk kenang kenangan ayah!" teriak Adel.


"No no no!" jawab Bima menggelengkan kepala.


"Ayah tidak seru!" teriak Adel kesal.


Setelah mereka puas berfoto, Bima pun segera mengajak mereka untuk berangkat.


"Ayo cium tangan ayahmu." ucap Jennifer.


"Hati hati ya ayah." ucap Adel mencium tangan Bima.


"Iya." jawab Bima tersenyum dan mencium pipi Adel.


"Hati hati." ucap Jennifer mencium tangan Bima lalu kedua pipi Bima.


Bima mengangguk dan membalas ciuman Jennifer. Setelah itu dia masuk ke dalam mobil yang di kendarai oleh Albert. Mereka pun berangkat bersama dengan 3 mobil secara beriringan.


"Habis ini kita bisa bebas kan?" tanya Riski yang satu mobil dengan Bima.


"Ya dan tidak." jawab Bima yang duduk di kursi depan.


"Maksudnya?" tanya Riski.


"Ya kalau kita tidak langsung mendapatkan panggilan, dan tidak kalau kita langsung mendapatkan panggilan." jawab Bima.


"Ohh! kalau itu aku tau!" ucap Riski sudah paham.

__ADS_1


"Baguslah kalau begitu." ucap Bima.


Bersambung....


__ADS_2