
Selesai mandi dan bersiap mengenakan pakaian rapi, Bima dan Silvia pun pergi ke dokter mengendarai mobil milik Berliana.
"Mampir ke supermarket ya bi pulangnya, aku mau beli susu." ucap Silvia.
"Yaa." jawab Bima fokus ke jalan.
Sesampainya di rumah sakit, Bima membawakan tas berisi berkas-berkas kehamilan Silvia dan berjalan santai menuju ruangan dokter kandungan tanpa mengantri karena sudah melakukan janji beberapa hari yang lalu.
"Gak ngantri yang?" tanya Bima bingung.
"Udah janji bi, aku juga udah daftar jadi pasien eksekutif." jawab Silvia menggandeng tangan Bima penuh kemesraan.
"Bisa gitu ya." gumam Bima tak menyangka.
Keduanya masuk ke ruang dokter kandungan dan langsung melakukan pengecekan pada perut Silvia. Bima memperhatikan dengan sangat serius setiap pengecekan dokter walaupun sama sekali tidak mengerti.
"Masnya siapa ya kalau boleh tau?" tanya Suster yang mendampingi dokter kandungan dalam setiap pengecekan pasien.
"Itu suami saya sus." ucap Silvia.
"Loh, yang sebelumnya siapa?" tanya dokter kaget.
"Kakak saya dok, suami saya lagi ada beberapa masalah di luar, jadi baru bisa temenin saya sekarang." jawab Silvia.
"Ohh, pantesan keliatan lebih cocok ya." ucap Dokter tersenyum.
"Ada keluhan dalam satu bulan ini mbak? mual? kurang nafsu makan? atau yang lain?" tanya Suster membuka buku pink milik Silvia.
"Gak ada sus, cuma agak sering ngidam aja belakangan ini." jawab Silvia.
"Wajar mbak." ucap Suster tersenyum.
"Sini mas, lihat kondisi janin istrinya." panggil Dokter.
Bima berjalan mendekati dokter yang berada di depan sebuah layar.
"Mas siapa sebelumnya?" tanya Dokter.
"Bima." jawab Bima singkat.
"Mas Bima, selamat sebelumnya, anda akan memiliki bayi kembar." ucap Dokter.
'Terus aku harus gimana bob?' tanya Bima kebingungan ingin bereaksi apa.
[Minimal tersenyum senang gitu bos! jangan datar! dasar bodoh!]
Bima tersenyum lebar, bukannya terlihat senang malah terlihat menyeramkan bagi dokter dan Suster.
"Maaf dok, sus, dia memang susah berekspresi." ucap Silvia tersenyum canggung.
Dokter dan Suster hanya tersenyum saja, mereka melanjutkan pemeriksaan. Mencatat semua perkembangan kandungan Silvia di buku nya lalu memberikan beberapa vitamin untuk penguat janin.
Setelah semua selesai mereka pun pulang, tak lupa mereka juga mampir di supermarket.
"Kamu mau beli apa bi? oh ya, nanti mau makan apa?" tanya Silvia mengambil dua kotak susu ibu hamil.
"Apa ya? bingung, kamu aja yang milih. Aku mau cari camilan aja." jawab Bima.
"Mau ikan aja?" tanya Silvia.
"Aku makan ikan teros yang waktu latihan, yang lain." jawab Bima.
__ADS_1
"Katanya terserah!" ucap Silvia kesal.
"Ya terserah, asal jangan ikan." jawab Bima.
"Ya udah ayam kecap aja, nanti ikannya buat aku aja." ucap Silvia.
"Yaa, itu aja." jawab Bima mengangguk cepat.
"Ya udah, kamu mau beli cemilan apa, cepet." ucap Silvia.
Bima berjalan menggandeng Silvia ke bagian camilan dan minuman berasa. Dia memasukkan beberapa jenis makanan ringan dan minuman ke dalam keranjang. Setelah itu segera membayarnya ke kasir yang kebetulan sedang sepi.
Selesai berbelanja, mereka pun langsung pulang ke basecamp. Sebenarnya Silvia mengajak Bima jalan-jalan ke beberapa tempat, tapi Bima menolak karena takut Silvia kecapean dan akan terjadi sesuatu pada janinnya.
Sesampainya di basecamp, Silvia langsung pergi ke kamar untuk istirahat. Begitupun Bima, dia ikut ke kamar untuk ganti baju dan istirahat sejenak.
"Bibi..." panggil Silvia manja dari atas ranjang.
"Kenapa lagi?" tanya Bima menoleh.
"Sini.." jawab Silvia merentangkan tangannya meminta di peluk.
Bima menuruti kemauan Silvia, dia ikut rebahan dan memeluk Silvia penuh kasih sayang.
"Aku pingin pipis bi." bisik Silvia menjilat telinga Bima.
"Ke kamar mandi lah" ucap Bima merinding.
"Bukan pipis itu!" ucap Silvia kesal.
"Lah! terus apa?" tanya Bima bingung.
"Aku mau pipis enak, boleh ya...udah tiga bulan lho bi. Aku udah gak tahan bi." jawab Silvia mengelus ular piton Bima dari luar.
[Pipis enak bos! ayolah! itu tidak akan membahayakan calon bayimu]
'Sialan! dasar cabul!' teriak Bima kesal.
[Hehehehe...aku juga mau ah! aku off dulu ya bos! istriku juga mau pipis enak! hahahahaha....]
'Memangnya AI bisa punya istri ya?' tanya Bima aneh.
[Aku istimewa bos! sudah! enakin ya bos! aku juga harus menciptakan penerus! bye!]
'AI sialan!' teriak Bima sangat kesal.
"Bibi! malah melamun! ayooo!" rengek Silvia.
"Capek yang." ucap Bima beralasan.
"Alasan! kalau kamu gak mau, kamu tidur di luar!" ucap Silvia merajuk.
"Ya udah iya!' ucap Bima kesal.
Silvia tersenyum penuh kemenangan dan langsung bangkit duduk di atas tubuh Bima. Keduanya pun melakukan hubungan suami istri yang sangat panas. Berkali-kali Silvia di buat muncrat dan bergetar hebat.
"Terus sayang....ahhh...buat aku lemas sayang..." ucap Silvia membuka lebar lebar kedua kakinya.
Bima terus menggenjot dengan kecepatan tinggi, sampai akhirnya dia menusuk sedalam mungkin dan memuntahkan seluruh cairan yang sudah dia tampung bertahun-tahun.
"Arghhh....panuhhh...." desah Silvia mendongak dengan mulut menganga.
__ADS_1
Bima ambruk di samping Silvia dengan nafas terengah-engah sambil memeluk istrinya dari samping.
"Kamu selalu hebat suamiku." ucap Silvia mengelus tangan Bima.
"Lega rasanya." ucap Bima sambil menghisap ** Silvia.
"Belum ada susunya sayang, hentikan." ucap Silvia meremas rambut Bima dengan lembut.
"Kenapa? kamu mau lagi? aku siap kok." tanya Bima meremas bemper Silvia.
"Di kamar mandi ya, sekalian mandi. Lebih enak di kamar mandi sayang." jawab Silvia kembali terpancing.
Bima langsung menggendong Silvia masuk ke kamar mandi dan melanjutkan ronde selanjutnya di sana sampai nafsunya benar-benar tersalurkan secara total. Silvia benar-benar di buat pasrah kali ini, dia sudah berkali-kali berteriak untuk berhenti namun malah semakin Bima gas sampai limit.
"Arghhhhhh...." teriak Bima mengeluarkan ****** ***** terakhirnya di sore itu.
"Kyaaa....." teriak Silvia dengan tubuh bergetar hebat merasakan kenikmatan yang sudah lama dia bayangkan.
"Kamu memang jago memuaskan sayang!" ucap Bima menahan tubuh Silvia supaya tidak ambruk.
"S-sudah y-ya bi...aku gak kuat lagi." ucap Silvia tergagap karena benar-benar lemas.
"Bersihin dulu." ucap Bima mengacungkan ularnya di depan wajah Silvia.
"Adik kecil yang nakal ini!" ucap Silvia menghisap ular piton yang sudah lemas di depan wajahnya dengan rakus.
Setelah sama sama puas dan sama sama bertenaga kembali, mereka pun mandi bersama. Selesai mandi mereka keluar dari kamar untuk beraktivitas kembali.
Silvia mencium bibir Bima sebelum pergi ke dapur untuk membantu memasak. Bima berjalan ke ruang TV dengan santai dan lega. Dia duduk di sofa, menghidupkan TV lalu menyulut rokoknya.
Bima membuka ponselnya dan melihat beberapa pesan dari Riski dua menit yang lalu. Riski meminta Bima untuk ke ruang rapat karena sedang terjadi perdebatan besar di sana. Bima dengan santai berjalan menuju ruang rapat, Bima mengetuk pintu dan langsung di bukakan oleh Riski.
"Habis ngapain hayoo?" tanya Riski cengengesan.
"Nyuci keris bro! dah lama gak ritual." jawab Bima masuk ke dalam ruang rapat.
"Anjink!" umpat Riski tertawa geli sambil menutup pintu.
Kedatangan Bima seketika membuat seisi ruangan yang tadinya sangat ribut berubah menjadi hening dan mencekam.
"Lidia, tunjukan rekaman misi dan job dari tim Junior dan Senior." ucap Bima duduk di kursinya.
"Baik kak." jawab Lidia langsung memutar video yang menunjukkan tim Junior sedang bertarung menyelesaikan portal break.
"Ini barusan banget kak, Asosiasi yang mengirim." ucap Lidia.
Bima menganggukkan kepala dan fokus menonton video di layar. Setelah tim Junior, Lidia lanjut memutar tayangan tim Senior saat mengambil job di luar negeri.
"Cukup." ucap Bima.
Lidia langsung mematikan video dan menggantikannya dengan rekapan keuangan guild.
Pyarrrr....
Bima melemparkan vas bunga yang menjadi hiasan meja ke arah layar.
"Sampah! menjijikkan!" teriak Bima penuh kekecewaan.
"Kalian latihan selama ini apa gunanya? hah! mahal mahal aku bayar tiga hewan dewa itu pakai monster tingkat tinggi! tapi hasilnya apa?! busuk!" teriak Bima.
"Sekarang sudah terkenal, jadi ngerasa tinggi ya. Kalian latihan serius biar gak di marahi kan? terus waktu ambil misi dan sebagainya kalian bergerak seenak jidat! karena apa? karena gak ada yang marahin kalian! jadi kalian ngerasa bebas! 'wah di sini gak akan mungkin di marahi! jadi kita bebas melakukan apapun biar terkenal! apa itu latihan! gak guna!' gitu kan!" teriak Bima marah.
__ADS_1
"Emang bener kata orang, anak muda gak akan pernah bisa di atur!" ucap Bima menggelengkan kepala.
Bersambung....