King Of Universe

King Of Universe
Bab 79


__ADS_3

Sorenya, Bima baru bangun dari tidurnya pada jam 4 sore, Bima bergegas untuk mandi. Selesai mandi Bima membeli makanan dari sistem untuk mengisi perutnya, setelah kenyang Bima pun keluar dari kamar untuk membuat kopi.


Saat sedang mengaduk kopinya, Bima di hampiri oleh Albert yang berwajah datar dan cool.


"Kak, ke ruang TV sebentar, bunda Aurora dan mama Berliana ingin berbicara." ucap Albert.


"Ya." jawab Bima singkat.


Bima membawa kopinya ke ruang TV mengikuti Albert. Di ruang TV sudah terdapat Kevin dan yang lainnya sedang menunggu Bima dan Albert.


"Duduk sayang." ucap Berliana.


Bima menurut saja dan duduk di samping Riski.


"Bunda merasa kalau rumah jadi sepi mulai kemarin, ini bukan rumah yang dulu. Rumah yang selalu ramai dan penuh canda tawa, kenapa? ada masalah apa?" tanya Aurora.


"Ini kan biar bunda bisa tenang dan pulih lebih cepat." ucap Riski.


"Enggak nak, bunda yakin bukan karena itu, jujur." ucap Aurora.


"Mereka berdua, mereka berdua sekarang bergerak bukan sebagai tim lagi. Tapi sebagai individu, kita yang sudah lama tidak bertarung pun di biarkan saja." ucap Kevin.


"Siapa juga yang mau berteman dengan sampah, ya gak ris." ucap Bima pelan.


"Yoiii!" jawab Riski menjabat tangan Bima erat.


"Kalian itu saudara, berkembang bersama, senang susah bersama, kenapa hanya karena masalah kecil jadi bubrah begini?" ucap Aurora.


"Sudah sudah, sekarang baikan, gak usah di permasalahkan. Kalian itu satu tim, jangan saling bermusuhan." ucap Berliana.


"Gak berbobot banget!" ucap Bima pergi membawa kopinya.


"Bibi! jaga sopan santun kamu!" teriak Silvia.


"Apa pedulimu!" jawab Bima tanpa berbalik.


"Bibi!!!" teriak Silvia sudah muak.


"Apaa!!!" jawab Bima dengan nada tinggi dan tatapan penuh amarah.


"Ususus...udah udah, gak usah ribut, gak enak di denger tetangga." ucap Aurora.


"Jangan bahas sopan santun kalau bicara dengan suami kau masih berteriak!" ucap Bima penuh penekanan lalu pergi.


"Hahhh...capek ya." ucap Riski menghela nafas berat.


"Capek kenapa nak?" tanya Diana.

__ADS_1


"Ya capek bun, capek pertahanin guild yang sebenarnya sudah hancur dari lama. Anggotanya yang gak tau diri, gerak seenak jidatnya sendiri, bicara omong kosong tidak tau diri, emang secapek ini ternyata yang di rasain Bima." jawab Riski berdiri.


"Kayaknya ajakan Bima kemarin ada benernya juga hahahaha....." ucap Riski berjalan pergi.


"Apa maksudmu?!" tanya Rizal tersinggung.


"Ya, Bima ngajak buat keluar guild dan bangun guild baru dengan orang baru! hahaha...ternyata sebegini sampahnya guild ini!" ucap Riski tertawa keras.


"Setelah kita bangun dari nol?" tanya Rizal tidak percaya.


"Kita? ha? gak salah denger aku? kau bilang kita? hahahahahaha....Bima aja kali! kita cuma numpang!" ucap Riski tertawa keras.


Jederrrr...


Bagai petir yang menyambar di siang bolong, Rizal langsung terdiam seribu bahasa mengingat perjalanan hidupnya sebagai hunter di guild ini.


"Dari basecamp, ilmu, kekuatan, senjata, dana buat guild, kostum, semua Bima Zal! dan kau masih bisa bangga dengan omongan bangun guild dari nol bersama?! tidak tau malu sekali!" ucap Riski sinis.


"Kalian berdua juga, kalian murid pertama Bima yang mampu mendapatkan sebuah title dewa! dan kalian masih merasa kalau itu pencapaian kalian sendiri?! hahahahaha... cacat!" ucap Riski.


"Pesta, pesta, pesta, dan pesta! itu yang hanya berputar di otak kalian! sampai sekarang sudah buta tentang betapa lemah dan sampah nya kalian! kalian pikir kemarin menjadi pahlawan di negri orang? hahahaha...tidak bodoh! hanya Bima yang menjadi pahlawan!" ucap Riski.


"Kalian? hah! bunuh satu monster saja tidak! asal kak Silvia tau ya! beban Bima sangat berat! banyak bisikan-bisikan sesat di otaknya! beban menanggung kebahagiaan sampah sampah ini, menanggung kebahagiaan orang tuanya, menanggung kebahagiaan kakak, belum lagi dia harus menjaga kita dari mara bahaya!" ucap Riski buka bukaan.


"Kakak pikir dunia Bima hanya untuk kakak saja? tidak! kekuatan besarnya apakah hanya untuknya sendiri? tidak! Bima memiliki tanggung jawab besar di seluruh Alam semesta! Dengan kakak yang marah, ngambek, berteriak di depannya, itu akan menambah masalahnya yang sudah menggunung sebelumnya!" lanjut Riski.


"Dan kalian masih tega menyalahkannya di masa masa saat ini? hahahaha...lihatlah kaca! lihat! betapa busuknya diri kalian sialan! lihat! buka matamu lebar lebar! cium bau badan kalian! apakah masih cocok berada di sisi Bima?! cium! apakah sudah sebusuk itu kalian!" teriak Riski melempar vas bunga penuh kekesalan dan kekecewaan.


"Join ngab!" ucap Riski berlari menghampiri Bima.


"Gas di gazebo kita!" jawab Bima.


"Yooo!" ucap Riski semangat.


Keduanya pun pergi ke gazebo untuk push rank, sedangkan di ruang TV, mereka semua terdiam mendengar ucapan Riski.


"Cih! omong kosong! kalau mau keluar ya keluar saja! kita masih bisa berdiri sendiri! dia pikir hanya Bima yang bisa membimbing!" ucap Kevin kesal.


Mereka tidak menanggapinya dan pergi begitu saja meninggalkan Kevin. Sedangkan Bima dan Rizal asik sendiri dengan gamenya di gazebo.


Karena sudah win streak 15 kali dan hari sudah malam, mereka pun beristirahat sejenak sembari mengisi saya ponselnya.


"Kau mau makan apa cok? aku pesenin lewat go pud." tanya Bima.


"Apa ya enaknya?" tanya Riski bingung.


"Bebek madura mau? apa iga bakar? atau tongseng? atau gurame saus padang?" tanya Bima bertubi-tubi.

__ADS_1


"Cok! semua aja! bang*at bingung!" teriak Riski kesal.


"Ya udah semua ya! kita mukbang di sini!" ucap Bima langsung memesan makanan yang tadi dia sebutkan.


Sambil menunggu makanan yang dia pesan, Bima masuk ke dapur untuk membuat es sirup sebagai minuman pendamping makan malam.


"Sini makan nak." ajak Aurora.


"Ah enggak bun, Bima udah pesen makanan banyak sama Riski, makasih." jawab Bima.


"Hargain lah! kau pikir di sini cuma kau yang paling penting!" ucap Kevin.


"Apa sih! ini kesenangan ku, bebas dong! kau juga siapa ku! kakak bukan! adek bukan! saudara bukan! kau gak ada kepentingan di hidupku! gak usah banyak bac*t! urusin hidupmu sendiri!" ucap Bima.


"Ohh! jadi gini kau sekarang ya! oke! oke!" ucap Kevin tidak menyangka.


"Oh ya! mulai detik ini aku bukan lagi anggota guild ataupun saudara kalian! cam kan itu! aku keluar! terserah kalian mau gimana! bukan urusanku!" ucap Bima lalu pergi membawa teko berisi es sirup.


"Mulutmu pembawa petaka vin ngent*t!!" teriak Rizal.


"Apa?! itu maunya sendiri kok! bukan gara gara aku!" ucap Kevin tidak merasa bersalah.


"Sudah! makan! gak usah banyak omong! ribut aja dari tadi!" teriak Aurora marah.


Mereka pun terdiam dan lanjut makan malam, sedangkan Bima di gazebo juga sedang asik makan berbagai macam makanan.


"Cokk! tiap hari gini bisa gendut aku!" ucap Riski menggelengkan kepala.


"Hahahaha....kita puas puasin!" ucap Bima tertawa keras.


Malam itu mereka berdua benar-benar berpesta dengan makanan nikmat dan seteko sirup segar.


"Ergghhhh...arghhhh! kenyanggg!" teriak Riski kekenyangan.


"Gak sanggup lagi aku cok!" ucap Bima terduduk sambil menggelengkan kepala berkali-kali.


"Aku ke kamar dulu cok! ngantuk banget!" ucap Riski.


"Duluan aja, aku masih kekenyangan!" jawab Bima.


"Aku buang in sampah sekalian lah." ucap Riski membawa kresek hitam besar berisi sampah.


Setelah membuang sampah Riski pun pergi ke kamarnya untuk tidur. Sedangkan Bima tepar di gazebo dengan perut sangat kenyang.


"Mabok makanan aku sialan!" gumam Bima kesal.


Saking kenyangnya, Bima pun tertidur pulas di sana, sampai akhir pada jam 1 malam Bima terbangun karena kedinginan. Bima mengelap ilernya lalu berjalan masuk ke dalam rumah, Bima berjalan menuju kamar, namun saat melewati ruang TV, dia melihat Silvia masih belum tidur dan sedang menonton TV.

__ADS_1


Bima tidak perduli sama sekali, Bima lanjut berjalan menuju kamar. Sesampainya di kamar Bima langsung ambruk di atas kasur dan kembali tertidur pulas.


Bersambung....


__ADS_2