
"Wuihh, berani banget ya sekarang." ucap Bima tersenyum.
"Kapan aku takut?" tanya Aulia percaya diri.
"Kemarin? kamu aja geter ketakutan kok, hahaha...lupa." jawab Bima tertawa geli.
Aulia yang teringat kejadian kemarin pun langsung menutup wajahnya karena malu.
"Pertahanin sifat kamu yang kayak gini, aku suka, tegas tapi di waktu yang tepat." ucap Bima memeluk Aulia.
"Kamu sayang gak sama aku?" tanya Aulia menatap mata Bima dalam dalam.
"Aku sayang banget sama kamu, jangan pergi ya." jawab Bima tersenyum manis menatap mata indah Aulia.
"Aku gak akan pergi, asalkan kamu gak berubah. Aku mau kamu kayak gini, penyayang, nurut, jujur, dan menghargai aku sebagai istri." ucap Aulia tersenyum manis, senyuman indah yang sangat Bima sukai itu membuat hatinya luluh.
"Kalau itu mau kamu baiklah, aku bakalan kayak gini." ucap Bima mencium kening Aulia.
"Sini aku cium!" ucap Aulia gemas.
Aulia mencium pipi Bima berkali kali sebagai tanda kasih sayangnya yang sangat besar pada Bima.
"Dah! udah!!" teriak Bima mencoba lepas.
"Kamu selalu gini! ishh! kesel!" ucap Aulia cemberut.
"Jijik tau gak." ucap Bima mengelap wajahnya.
"Jijik? jijik ya? iya?" tanya Aulia menatap tajam Bima.
"Jijik buanget!" jawab Bima nyengir.
"Oooo! gitu!" ucap Aulia langsung menerkam Bima dan kembali menciumi wajah Bima berkali-kali.
"Ampun! ampun yang! ampun!" teriak Bima memejamkan matanya.
"Gak akan aku ampunin!" jawab Aulia terus mencium Bima.
Terus saja mereka bergulat di atas ranjang, sampai akhirnya Aulia capek sendiri dan menghentikan kelakuannya. Aulia berganti menindih Bima, memeluknya dan diam tidak melakukan apapun.
'Bos, kau masih mau mati ya?' tanya Kong tiba tiba.
'Ya.' jawab Bima singkat.
'Setelah nona melakukan ini semua?' tanya Kong.
'Iya.' jawab Bima.
'Bodoh.' ucap Kong singkat.
"Aku mau tidur, capek." ucap Bima mencoba memindahkan tubuh Aulia.
"Tidur tinggal tidur kok repot! aku masih mau gini!" jawab Aulia ketus.
"Sesek yang." ucap Bima.
"Diem! ish!" ucap Aulia ketus.
"Yaaa..." jawab Bima pasrah.
Bima tidak bisa tidur karena nafasnya yang sesak, akhirnya Bima pun terpaksa harus bengong merasakan dua bola kenyal yang menekan dadanya.
"Kamu sayang gak sama aku?" tanya Aulia tiba tiba.
"Iya, aku sayang sama kamu." jawab Bima walaupun agak aneh.
"Kalau aku cariin obat buat kamu, kamu ijinin gak?" tanya Aulia yang membuat Bima kaget.
"Gak!" jawab Bima cepat.
"Tapi aku sayang sama kamu." ucap Aulia menengok.
"Sayang sih sayang, tapi jangan sampai berbuat bodoh! kalau kamu sampai nekat, aku pastiin kamu gak akan pernah lihat wajahku di hidupmu." jawab Bima.
"Aaa! enggak! enggak mau!" ucap Aulia merengek.
"Dah diem! gak usah di bahas." ucap Bima.
Hening....
"Aku mau masak, kamu istirahat aja." ucap Aulia setelah beberapa puluh menit menindih tubuh Bima.
"Yaaa..." jawab Bima menurut.
Aulia pergi mandi setelah selesai mandi baru dia turun ke bawah untuk membantu masak makan malam.
'Gak laper ***! mau turu juga gak ngantuk, gabut banget anjink!' batin Bima tolah toleh dengan wajah bingung.
'Datang ke sini, ayah mau bicara.' ucap Adrian.
"Yaaa..." jawab Bima beranjak dari tempat tidur lalu hilang masuk ke dalam Alam Surgawi.
__ADS_1
Bima muncul di tempat biasanya, lalu berjalan menghampiri Adrian dan Smith yang memegang banyak buku kuno.
"Ada apa yah?" tanya Bima.
"Ini, baca ini semua, kitab kitab yang menjelaskan semua ritual yang mau kamu lakukan esok." jawab Adrian memberikan banyak buku tebal.
"Terimakasih." ucap Bima tersenyum.
"Kamu harus taati syarat syaratnya, dengar, kamu harus suci lahir batin, netralisir energi negatif, tubuh dalam kondisi energi yang penuh, buka semua segel kekuatan, dalam wujud asli, jangan wujud dewa. dan pikiran kamu harus fokus ke satu tujuan, yaitu lahir kembali dengan wujud yang sama." ucap Adrian.
"Maksudnya wujud asli?" tanya Bima aneh.
"Wujud seorang dewa kamu, wujud asli jiwa kamu, kalau pakai raga ini, kamu akan gagal dan mati." jawab Adrian.
"Maksudnya apa sih bob? aku tidak paham!" tanya Bima kebingungan.
[Wujudmu saat kau bertemu dua Dewa Dewi waktu itu!]
"Ooooo! ya! aku paham! wujud Ashura ya?!" ucap Bima paham.
"Ya." jawab Adrian.
"Baca dengan teliti, jangan sampai ada yang terlewat, kamu harus sediakan barang barang untuk ritual. Jangan lupa sembahyang sebelumnya, kamu bisa sembahyang sebelum perang, atau sesudah perang." ucap Smith.
"Baik baik!" jawab Bima menganggukkan kepala.
[Aku akan membantumu]
"Kalau tidak ikhlas tidak usah." ucap Bima.
[Siapa? aku selalu ikhlas membantumu]
"Ikhlas apanya! kau saja terus meminta pajak setiap tahun! sialan!" ucap Bima kesal.
[Itu pungutan keamanan bos]
"Cih! keamanan katanya!" ucap Bima kesal.
[Sudahlah! cepat baca!]
Bima duduk di sebuah batu besar dan mulai membaca kitab kitab kuno itu dengan sangat teliti.
"Hey! potong kuku kalian semua! ini untuk syarat ritual!" teriak Bima pada para beastnya.
"Baiklah.." jawab mereka menurut saja.
Kemudian Bima lanjut membaca, terdapat beberapa persembahan untuk kesempurnaan ritual, seperti minyak bau melati, darah seluruh bawahan untuk di jadikan altar, bunga kamboja, lilin, dan lain sebagainya.
[Ada, untuk darah bawahan kau bisa panggil mereka saat akan melakukan ritual, biar segar]
"Ini harus ada darah Albedo juga yah?" tanya Bima pada Adrian.
"Iya, itu bentuk kalau kamu sudah berhasil mengalahkan musuh terbesar kita. Sebenarnya tidak harus Albedo nak, bisa darah iblis lain juga." jawab Adrian.
"Supaya beda, kamu pakai darah Kaisar Iblis saja." ucap Smith.
"Baiklah.." jawab Bima paham.
Karena takut Aulia mencarinya, Bima pun melanjutkan bacaannya di luar alam Surgawi. Bima berjalan keluar kamarnya, ternyata hari sudah gelap dan yang lain sudah memulai makan malam di ruang TV.
"Kamu kemana sih?!" tanya Aulia marah.
"Ambil buku di perpustakaan alam Surgawi hehehe..." jawab Bima nyengir.
"Sini makan!" ucap Aulia tegas.
"Nanti aja, belum laper." jawab Bima tidak nafsu makan.
"Kamu cuma makan pagi loh! siang aja cuma seuprit! ayo makan!" ucap Aulia.
"Nanti aja kalau udah nafsu, aku mau ke belakang dulu." jawab Bima.
"Bima! nurut!" ucap Aulia penuh penekanan.
"Ayolah! cuma makan cokk!" ucap Doni.
"Nanti, ntar agak maleman biasanya udah laper." jawab Bima.
'Makanlah, kalau kamu kekurangan nutrisi batuk darahmu semakin parah nak.' ucap Adrian.
"Kita udah masakin banyak loh bim, masa kamu tega sih?" ucap Zoya.
"Lauk apa tu?" tanya Bima menengok.
"Ada semur daging buatan Aul, ayam, cah kangkung, sayur toge, ikan bandeng goreng, telur dadar balado, sambel terasi, tahu tempe goreng, sama sop iga. Cepet makan, keburu dihabisin temen temen kamu." jawab Berliana menyebutkan menu makan.
'Kayaknya enak tu.' batin Bima tergiur.
"Sini aku suapin." ucap Aulia.
"Ayo aja aku mah!" jawab Bima langsung luluh.
__ADS_1
'Liat? manja sekali dia!' ucap Kong kesal.
'Ini teknik bodoh! kau bisa gunakan ini kalau bersama istrimu yang sangar itu.' ucap Bima.
'Hey! Nina itu sangat cantik! dia pujaan hatiku! jangan sembarangan kau bos! sialan!' ucap Kong tidak terima.
'Hahahaha....emang boleh sepujaan hati itu Kong?' tanya Dexter tertawa terbahak-bahak.
'Hahahaha.....' Bima tertawa geli mendengar ucapan Dexter.
'Cih! kalian tidak bisa melihat kecantikannya! dasar!" ucap Kong kesal.
"Dasar!" ucap Aulia kesal.
"Manja sekali dia, lihat wajahnya! rasanya ingin ku pukul!" bisik Riski pada Kevin.
"Bagaimana? kita pukuli saja atau gimana?" tanya Kevin berbisik.
"Nanti kita buat rencana yang matang!" bisik Riski.
"Kau baca apa tu bim?" tanya Julian kepo.
"Kitab kuno." jawab Bima sembari memakan makanan yang di suap Aulia.
"Kitab tentang apa?" tanya Julian sangat penasaran.
"Tentang apa hayoo?" ucap Bima terkekeh.
"Di tanyain beneran malah kek gitu! sialan!" ucap Julian kesal.
"Lagian kepo amat! dah habisin aja makananmu." jawab Bima terkekeh geli.
"Perkiraan mu kapan portal iblis meledak?" tanya Rizal.
"Masih lama itu, paling 3 atau 4 minggu lagi, masih ada waktu buat evakuasi warga." jawab Bima santai.
"Apa aku bilang? ayah ngeyel!" ucap Andi.
"Iya iya!" jawab Billy ketus.
"Makanya kalau di kasih masukan di dengerin! aku udah teliti ke berbagai buku masih di diemin! huh!" ucap Andi kesal.
"Ssttt! lanjut makan! banyak protes!" ucap Billy kesal.
"Cih! tidak mau salah! dasar orang tua!" gerutu Andi kesal.
"Pindahkan semua orang kek, ledakan portal bakalan meluluhlantakkan semua bangunan, makhluk hidup, dan properti yang ada di benua itu. Bahkan kemungkinan besar akan ada Tsunami besar di beberapa negara." ucap Bima.
"Iya, kakek paham." jawab Billy.
"Jangan sampai ada hunter yang masuk sebelum ledakan, kalau masih nekat jangan salahkan aku kalau mereka mati jadi debu." ucap Bima.
"Sedahsyat itu bim?" tanya Riski kaget.
"Iya, aku aja bisa mati." jawab Bima santai.
"Uihh! ngeri!" ucap Riski merinding.
"Makanya latihan mulai sekarang, aku gak mau kalian mati sebelum aku. Aku besok gak akan bisa perhatiin kalian, aku ada musuh sendiri, jadi kalian bertarung dengan kekuatan masing-masing." ucap Bima.
"Oh iya, dari kabar yang aku dengar, sisi lain benua Eropa muncul satu portal lain yang tidak kalah kuat. Apa benar itu?" tanya Kevin.
"Ya, portal warna biru muda yang auranya sangat kuat, beberapa bangunan di buat hancur karenanya. Dari buku yang aku baca sih, namanya portal Dewa Indra, tapi entah betul atau salah." jawab Andi.
"Hah? ada fotonya paman?" tanya Bima kaget.
"Ini, coba kamu lihat." jawab Andi menyodorkan ponselnya.
Bima melihat cuplikan video yang menunjukkan sebuah portal biru muda yang di kelilingi aura berwarna biru tua dan emas.
[Tak salah lagi bos, itu portal yang akan di gunakan pewaris Dewa Indra untuk mengajakmu duel]
'Kenapa bisa berbarengan begini?!' tanya Bima heran.
[Entah, aku juga tidak paham bos]
"Kenapa sayang?" tanya Aulia heran dengan ekspresi Bima.
"Portal rival." jawab Bima mengagetkan Aulia.
"Maksud kamu pewaris Dewa Indra?" tanya Aulia.
"Iya." jawab Bima singkat.
"Apa maksudmu?" tanya Kevin aneh.
"Santai aja, gak bahaya kok, cuma Dewa biasa." jawab Bima santai.
"Gak mungkin anjink! ekspresimu beda!" ucap Kevin tak percaya.
"Itu urusanku, dah makan aja." ucap Bima mengembalikan ponsel Andi.
__ADS_1
Bersambung...